(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Aku tidak ingat


__ADS_3

"Ketangkep! Hihi!"


Gadis kecil yang terlihat seperti boneka hidup itu terlihat tertawa sembari berhasil meraih sang ibu yang hampir kehabisan napas karna memang tak bisa berlari.


"Astaga!" Louise terpekik saat tangan mungil itu sudah meraih nya.


Tak!


Secara refleks tentu ia menepis nya jika terkejut, namun untuk tubuh anak kecil yang akan menginjak usia 4 tahun nanti nya itu tak akan kuat jika di tepis tiba-tiba.


Bruk!


"Aduh!"


Tubuh nya langsung terjatuh, tangan mungil nya menyeret pada balok yang kotor dan berpasir tersebut.


Louise tersentak, ia tak sengaja menepis hingga membuat tubuh mungil itu terpental.


"Bisa bangun? Maaf, makanya jangan buat aku terkejut." ucap nya yang langsung membangunkan gadis kecil di depan nya dan membersihkan pakaian yang terkena pasir itu.


"Tapi Mommy kok kelas banget dolong Bian..." ucap nya lirih dengan bibir mengerucut melihat lecet di tangan mungil nya.


Mata hijau itu memejam mendengar nya, lagi-lagi gadis kecil itu memanggil nya dengan sebutan 'Ibu' sedangkan ia sendiri tak merasa pernah tidur dengan pria ataupun hamil.


"Nama mu siapa?" tanya nya lagi sembari membersihkan kotoran di telapak tangan yang lecet tersebut.


"Bianca, Bianca Anastasya Da-"


"Nona!"


Louise langsung melihat ke arah pria yang memakai stelan jas rapi yang mendatangi nya dengan berlari begitu juga Bianca yang langsung menoleh pada seseorang yang memotong ucapan nya itu.


"Dia anak mu?" tanya Louise mengernyit.


Pria yang bertugas sebagai supir sekaligus penjaga itu kehilangan jejak nona kecil nya karna keluar begitu saja dari mobil nya.


Ia terlihat cukup terkejut melihat gadis yang sudah menghilang cukup lama itu kini berdiri dengan sehat di depan nya.


"Bukan saya penjaga nya," jawab pria itu.


"Myy? Mommy?" panggil Bianca yang mendekat dengan mata binar nya sembari menunjukkan jika telapak tangan nya sakit.


Louise mengernyit, gadis kecil itu terus mendekat dan terlihat ingin memeluk nya namun juga bukan seperti mau sebuah pelukan.


"Gendong?" tanya nya menebak.


"Iya, Hihi!" Tanpa di minta atau izin lebih dulu tangan mungil dan tubuh yang terlihat seperti menempel seketika.


"Mommy kan doktel jadi halus obati tangan Bian," ucap nya yang langsung bergelantung di tubuh sang ibu.


Louise diam sejenak, mata nya mengernyit tak suka jika ia terus di panggil 'Mommy' saat sama sekali tak merasa pernah merasa memiliki anak.


"Iya, aku akan mengobati mu tapi berhenti memanggil ku 'Mommy' aku bukan ibu mu." ucap nya pada Bianca.


Bianca menatap dengan bingung, ia tak pernah mendapat penolakan dan ia tak mengerti maksud tidak boleh memanggil 'Ibu'


"Kenapa?" tanya nya dengan bingung.


"Kalau kau terus seperti aku panggil dokter lain untuk mengobati mu," jawab Louise langsung.


Mata coklat itu tampak sendu mendengar nya, namun ia melingkar tangan nya memeluk leher wanita itu.


Louise membawa nya ke ruangan nya, memberikan antiseptik dan obat untuk luka lecet tersebut.


"Sudah selesai, sekarang kau boleh pulang." ucap nya sembari menatap ke arah mata pria yang juga ikut pada nya.


"Gak mau!" tubuh mungil itu langsung melompat dan memeluk dengan erat wanita di depan nya.


Iris hijau itu terperanjat, ia langsung tersentak dan mendorong tubuh mungil yang seperti perangko lengket yang sangat sulit di lepaskan.


"Kau bisa bawa dia?" ucap nya pada penjaga gadis kecil itu untuk mengambil nya.

__ADS_1


"Nona? Kita pulang yah? Nanti tuan mencari nona," ucap si penjaga sembari menarik tubuh mungil yang lengket dengan tubuh ibu yang baru pertama kali ia lihat.


"Gak mau! Mommy ikut!" teriak nya yang tak mau melepaskan pelukan pada leher wanita di depan nya.


"Ukh!"


"Mommy mu yang mana? Aku bukan Mommy mu dik!"


Louise mendorong tubuh mungil yang membuat nya tercekik itu, walaupun ia suka anak kecil namun bukan berarti ia suka di panggil ibu saat tidak tau apa-apa.


"Hey? Panggil orang tua nya ke sini saja." ucap nya yang lelah dengan tarik-tarikan sampai rambut nya juga ikut tertarik karna tangan mungil itu berusaha menggenggam apa saja yang ada di tubuh nya agar tidak bisa di lepaskan.


"Tapi kan anda juga orang tu- Baik saya akan panggil orang tua nya." ucap si penjaga yang memilih mengganti perkataan karna melihat mata tajam yang menatap nya.


......................


Sementara itu pria yang terlihat turun dari mobil nya itu dan menekan tombol bel di depan pintu rumah seseorang terlihat tersenyum.


"Kenapa ke sini?!" tanya Clara yang langsung terkejut.


"Kau menolak panggilan ku tiga kali, bukan nya aku sudah bilang kalau kau menolak panggilan ku tiga kali berarti kau minta untuk di datangi?" tanya nya dengan tersenyum sembari memberikan buket nya.


"Nak? Siapa itu?" tanya Freya saya melihat putri yang berbicara di ambang pintu.


Clara melihat ke arah mobil yang sudah terparkir memasuki halaman pagar di dalam rumah nya.


"Lou- Rai Mah..." ucap nya lirih.


Mana ia tau jika pria yang menjadi mantan suami nya itu berani datang ke rumah nya lagi, rumah yang ia tinggali bersama dengan kedua orang tua nya.


"Rai? Oh iya..." tentu saja Freya merasa bingung melihat mantan suami putri nya datang setelah perceraian selama kurang lebih tiga tahun itu.


"Saya juga bawa ini untuk anda Ma- ya ampun maaf karena saya masih merasa anda ibu saya..." ucap nya lirih.


"Ya ampun nak..."


"Tidak apa-apa, panggil senyaman mu saja." ucap Freya yang tak tega melihat wajah murung itu.


Ia pun mengambil barang bawaan dari tangan pria itu agar menghilangkan sedikit suasana canggung dan kikuk.


Ia tak tau alasan perceraian putri nya, tak ada jawaban pasti dan ia juga masih tidak tau apapun tentang identitas mantan suami putri nya dan masih berpikir seperti yang sebelum nya.


"Muka dua," decak Clara yang tersentak melihat pria itu mampu bersikap seperti pria yang sangat baik di depan ibu nya.


"Iya, aku memang lagi cari muka untuk bujuk mertua," jawab nya enteng tanpa beban.


"Mana tau mereka nanti paksa kau nikah lagi dengan ku?" sambung Louis tersenyum simpul yang sangat berbeda dengan wajah murung di depan mantan ibu mertua nya itu.


"Kalau mereka tau kau itu seperti juga pasti bakal langsung di usir dari sini," ucap Clara yang masih dengan suara pelan berbisik-bisik.


"Kalau begitu beri tau, kau kan punya banyak kesempatan untuk memberi tau nya." jawab Louis yang masih tersenyum seperti tak terganggu sama sekali.


"Aku cuma lupa!" jawab Clara langsung sembari membuang pandangan mata nya.


"Yakin?" goda Louis sekali lagi pada wanita itu.


"Ten-"


Humph!


Mata nya membulat seketika, bukan di tempat lain melainkan di rumah nya sendiri namun bibir nya tuba-tiba terhisap oleh pria yang telah menjadi mantan suami nya itu.


Ia mendorong tubuh bidang itu karna takut ibu atau ayah nya kembali dan melihat nya.


"Rai? Teh nya habis jadi Mama buatkan kopi."


Suara yang langsung membuat lum*tan itu terlepas seketika.


Clara masih membatu Karan terkejut dan tak lama kemudian sang ibu datang pada ke arah ia dan pria di samping nya.


"Tidak apa-apa, Tapi Pa-"

__ADS_1


"Oh, kau mencari Papa nya? Dia masih keluar sebentar lagi kembali." jawab Freya pada sembari melihat ke arah putri nya yang terdiam dan menyentuh bibir nya.


"Cla? Kenapa nak?" tanya nya menatap ke arah putri nya.


"Gak apa-apa Ma," jawab Clara yang terlihat terkejut dan melirik ke arah pria yang tersenyum dengan wajah tak berdosa.


......................


JBS Hospital.


Mata yang terlihat begitu terkejut itu menatap ke arah pria yang datang pada nya.


"Kau ayah anak ini?" tanya Louise terkejut.


Pria yang mengatakan mencintai nya di tiga kali pertemuan bahkan di pertemuan terakhir berhasil mencuri ciuman nya.


"Daddy!" Bianca yang melihat sang ayah langsung turun dari gendongan Louise tanpa dipaksa dan beranjak ke sisi sang ayah.


"Hm," jawaban yang begitu singkat.


Tempat yang memungkinkan untuk nya bertemu dengan banyak orang yang mengenali nya.


Dan lagi jika saudara kembar gadis nya tau tentang anak yang bersama nya mungkin urusan nya akan sedikit lebih rumit nanti nya.


"Kau sudah punya keluarga tapi masih mengganggu orang lain?" tanya Louise dengan wajah tak percaya karna ia mengira pria di depan nya sudah berkeluarga.


"Mommy? Mommy nanti ikut pulang juga kan sama Bian?" tanya Bianca yang sudah berada di sisi sang ayah.


Louise memejam mendengar nya, mana mau ia mengakui anak kecil di depan nya sebagai putri nya jika ia sendiri tak pernah merasa punya anak?


"Kau bisa ajarkan putri mu untuk tidak memanggil orang lain sembarangan?" tanya nya menatap ke arah pria di depan nya.


"Tapi dia memang anak mu," jawab James pada gadis itu.


"Anak ku? Kapan? Dengan siapa?" tanya Louise tertawa mendengar ucapan yang bagai kan lelucon itu.


"Dia berumur tiga tahun sekarang, dan tentu nya anak mu dengan ku." jawab James dengan wajah datar nya namun terlihat jika ia sedang serius.


"Dengan mu? Aku saja tidak pernah tidur dengan mu, jadi bagaimana bis- Ck! Sudah lah. Apa ini jenis penipuan baru?" tanya nya mulai kesal mendengar perkataan yang seperti omong kosong itu.


"Kau bisa lakukan tes DNA untuk tau ini penipuan atau tidak, tapi kau memang ibu nya." ucap James lagi.


Louise tertawa mendengar nya, mungkin wajar jika seseorang lupa pernah tidur bersama namun bagaimana dengan kehamilan?


"Baik, katakan kita pernah terjadi 'kecelakaan' yang tidak ku ingat dan kemudian aku hamil."


"Tapi yang hamil itu aku! Bukan kau! Jadi maksud mu aku lupa kalau aku hamil sembilan bulan? Lalu aku lupa aku melahirkan anak? Aku tidak mungkin hamil dan mengeluarkan nya dalam sehari kan?" tanya nya langsung yang seperti tak masuk akal.


"Kalau posisi kita yang terbalik dan aku yang jadi pria mungkin aku bisa lupa karna bukan aku yang kandung tapi kan aku sekara- Sudahlah, jangan mengatakan yang tidak masuk akal di sini." sambung nya yang tak harus pikir.


Ia bahkan tak begitu memperhatikan wajah yang mirip dengan nya itu karna merasa terganggu.


"Walaupun di sayangkan tapi kau memang melupakan nya," jawab James pada gadis itu.


Louise diam dan melihat tidak percaya, jika memang putri nya pasti sang kakak akan berusaha merebut dan mengambil hak asuh putri nya.


"Dia bukan anak ku dan aku bukan ib-"


"Louise!" Nada pria itu meninggi, ia merasakan tangan mungil yang terkejut dan gemetar mendengar ucapan wanita yang ia tak ia mengerti itu.


"Bicara nanti tapi dia masih di sini," ucap nya yang kembali menurunkan nada suara nya.


Netra coklat itu tampak memiliki kaca tebal dan gemetar, bukan karna takut namun jelas karna tubuh mungil itu sudah mau menangis.


"Dan, kalau kau mau kau bisa lakukan tes DNA untuk tau apa aku penipu atau tidak." ucap James sembari mulai menggendong Bianca yang terdiam.


Louise diam, ia merasa tak nyaman dan merasa bersalah melihat gadis kecil itu menangis namun ia juga sama sekali tidak mengingat apapun tentang anak itu.


Tidak mengingat pernah tidur dengan pria di depan, tidak ingat pernah mengandung selama berbulan-bulan dan bahkan tak pernah ingat pernah melahirkan nya.


"Tidak perlu, aku hanya mau tidak bertemu dengan mu lagi dan jangan datang menganggu ku." ucap nya yang membuat langkah pria itu berhenti.

__ADS_1


Ia tak mau menimbulkan masalah padahal dalam waktu beberapa bulan lagi ia akan segera menikah.


"Entah lah, aku tidak bisa janji untuk hal itu." jawab nya sembari berbalik dan menatap ke arah Louise.


__ADS_2