(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Truth or Dare


__ADS_3

Kediaman Rai


Louis menghela napas nya, ia sudah tau apa yang terjadi di kencan yang ia atur untuk saudari kembar nya saat teman nya menelpon dan menceritakan semua nya tanpa di kurangi dan di tambahi.


"Ck! Kenapa anak itu?" gumam nya yang merasa kesal dan bingung pada adik nya.


Tentu sebagai satu-satu nya keluarga yang tersisa ia ingin yang terbaik untuk saudari nya.


Dari mulai benda, makanan, perhiasan bahkan pasangan hidup. Ia ingin yang terbaik dari yang terbaik.


Dan untuk melepaskan satu-satu nya keluarga yang sangat ia sayangi pada pria yang bahkan hampir membunuh nya membuat nya tak mempercayai pria itu sedikit pun.


Ia menunggu di ruang tengah, melihat ke arah jam tangan yang masih terpakai.


Pukul 10.30 pm, dan saudari nya belum kembali.


Pintu utama rumah nya terbuka, mata hijau itu memandang ke arah gadis yang masuk itu.


"Kau di rumah?" tanya Louise menghentikan langkah nya karna sebelum nya ia tau sang kakak tak akan pulang malam ini.


"Tadi Jeff menelpon ku, dia menceritakan bagaimana kencan kalian." ucap nya yang menatap ke arah sang adik yang membatu tak lagi menggerakkan langkah nya.


Lousie tak mengatakan apapun, ia diam tak memberikan komentar sama sekali atau mengatakan kalimat sanggahan.


"Kalian tidur bersama?" tanya Louis dengan nada berat yang sangat ingin mendengar jawaban 'Tidak' dari sang adik.


"...."


Hening, tak ada jawaban sama sekali dengan wajah datar dan mata yang tak melihat ke arah seseorang yang bertanya pada nya.


"Berapa kali? Kalian, sudah berapa kali melakukan nya?" kali ini ia kembali bertanya, saat seseorang diam tanpa niat membantah sama sekali dan memberikan pembenaran sama saja kejujuran yang di selingi dengan rasa bersalah.


"...."


Masih tak ada jawaban atau suara gadis itu yang terdengar, Louis menarik napas nya dengan berat.


"Aku tau ini pertanyaan yang tidak sopan, tapi aku harap kau menjawab nya." ucap nya sekali lagi yang ingin mendengar jawaban adik nya.


"Tiga..." suara lirih yang terdengar sayup dan mata yang tak bisa melihat ke arah saudara nya yang kehabisan kata-kata.


Louis memejam, ia menarik napas nya agar menetralkan emosi nya. Entah itu perasaan marah atau kecewa serta bingung melihat adik nya.


"Kau tidak tidur dengan nya waktu Zayn masih ada kan?" tanya Louis lagi pada adik nya.


"...."


Kembali tak ada jawaban yang bisa ia dengar, dan kali ini pria itu tak mau mengartikan perkiraan nya, walau ia dapat mengetahui dari sorot mata dan mimik wajah yang di berikan oleh sang adik.


"Waktu ke Paris beberapa Minggu yang lalu kau juga pergi dengan nya?" tanya nya lagi pada saudari nya.


"...."


Tak ada jawaban sama sekali, setiap pertanyaan yang akan menyakiti hati dari sang kakak membuat bibir nya bungkam tak lagi bisa mengatakan apapun.


"Kau tidak hamil kan?" tanya Louis yang menarik napas nya dengan berat.


"Tidak," jawab Louise yang kali ini bisa mengatakan nya karna ia memiliki jawaban yang ingin dengar oleh sang kakak.


Louis mengangguk, "Bagus, jangan sampai hamil." ucap nya lirih yang tak ingin sang adik memiliki ikatan yang kembali terhubung.


"Ya," jawab Louise lirih dengan suara yang hampir menghilang.


Ia menjawab demikian karna ia pun memang tak ingin hamil untuk saat ini, rasa takut dan ingatan yang masih membekas pada diri nya di saat kehamilan.


Louis membuang napas nya, ia beranjak dan bangun ingin meninggalkan adik nya.


"Tapi dia..."


Pria itu menghentikan langkah nya, ia menoleh saat mendengar adik nya yang sedang ingin membicarakan sesuatu.


"Kau tidak bisa sedikit memaafkan nya?" tanya Louise lirih yang menatap ke arah sang kakak.


Mata yang tampak tak suka saat mendengar nya itu melihat ke arah saudari nya yang tampak gugup.


"Kau gila, bukan. Kalian sudah gila." ucap Louis pada adik nya dan ingin kembali melanjutkan langkah nya.


"Dia akan melakukan apapun yang kau minta kalau kau setidaknya memberikan sedikit kesempatan." ucap nya pada sang kakak.


"Oh ya? Kalau aku membunuh nya kau tidak akan masalah? Mungkin dengan cara itu aku bisa memaafkan nya," ucap Louis pada adik nya.


Louise terdiam sejenak, ia tak bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Tapi aku tidak akan membenci mu, kau tau itu..." ucap Louise pada sang kakak.


Louis mengangguk, setidak nya ia tau rasa untuk nya lebih berat dari pada pria yang di cintai adik nya.


......................


Mansion Dachinko


James mengernyit, ia menatap ke arah layar ponsel nya yang memberikan notifikasi dari pesan yang masuk.


"Dia mau bertemu?" guaman nya lirih saat membaca jika saudara kembar gadis nya meminta bertemu.


Tempat dan waktu pun sudah tertulis sehingga ia tak perlu menanyakan apapun lagi.


"Daddy!"


Suara menggemaskan dari makhluk kecil yang terlihat memeluk kaki nya secara tiba-tiba membuat pria itu meletakkan ponsel nya.


"Ya? Bian belum tidur?" tanya James yang melihat ke arah putri nya dan mengangkat nya dalam gendongan nya.


Gadis kecil yang cantik itu menggeleng pada sang ayah.


"Daddy main sama Bian!" ajak nya yang ingin sang ayah bermain dengan nya lebih dulu.


James membawa putri kecil nya itu ke kamar nya, Bianca pun meminta turun di atas karpet bulu nya yang tebal dan ingin mengambil boneka nya.



"Kita main di sini Daddy, ambil Pinky sama Mochi." ucap nya yang meminta sang ayah mengambil kedua boneka yang sudah memiliki nama itu.


James menurut, tuan putri nya ingin ia mengambil boneka maka ia akan melakukan nya.


......................


Skip


Villa


Pria itu turun dari mobil nya, tempat yang tenang dengan hamparan rumput yang luas.


Tanah dan rumah yang tampak dekat dengan peternakan kuda dan jauh dari khalayak umum.


Ia bahkan menempuh perjalan selama tiga jam dengan mobil nya untuk sampai ke tempat itu.


"Kau benar-benar datang?"


Suara yang menyambut nya begitu ia memasuki villa yang berdiri sendiri di tengah keheningan itu.


"Duduk," ucap nya yang menyuruh pria itu untuk duduk.


James melangkah dan mendudukkan diri nya tepat di depan pria yang sedang menunggu nya.


Mata nya menoleh ke arah satu pistol dengan satu peluru yang berada di atas meja, tak ada teh atau pun camilan yang di suguhkan pada nya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya nya yang menatap ke arah wajah yang tak bisa memberikan emosi apapun itu.


"Kau mau bermain satu permainan? Aku akan mengatakan sedikit kecurangan di permainan ini." ucap Louis yang menatap ke arah pria di depan nya.


"Apapun yang terjadi, aku yang akan di untungkan di sini. Jadi kau bisa memikirkan nya apa ingin melakukan nya atau tidak." ucap nya pada pria itu.


"Kalau aku ikuti, kau akan memberi ku kesempatan? Dan tidak mendorong adik mu pada pria lain lagi," ucap nya pada pria itu.


"Ya, akan ku pertimbangkan." ucap Louis pada pria yang berada di depan nya.


"Baik, aku akan ikuti. Apa itu?" jawab James pada pria yang memanggil nya.


"Truth or Dare, kalau kau tidak bisa menjawab atau melakukan tantangan yang kau pilih aku akan menembak mu, dan satu pistol berisi satu peluru dan yang bisa menembak hanya aku." ucap nya pada pria itu.


"Dan aku tidak tau tembakan mana yang berisi dengan peluru." sambung nya pada pria itu.


"Baik," ucap nya pada pria itu.


Louis tersenyum, ia meletakan satu peluru di dalam pistol yang ia pegang.


"Sekarang kita mulai," ucap nya pada pria itu dan memegang pistol nya.


"Truth or Dare?" tanya nya pada pria yang duduk di depan nya.


"Truth," jawab James pada pria itu.


"Kau sejak awal berniat menghancurkan pernikahan Louise?" tanya Louis yang menyebutkan satu pertanyaan.

__ADS_1


James diam sejenak, ia memang ingin gadis itu batal nikah karna ia belum bisa melepaskan nya.


"Ya," jawab singkat pada pria itu.


Louis tak mengatakan apapun, "Truth or Dare?" tanya nya yang mulai permainan selanjutnya.


"Dare," ucap James singkat yang tentu ia tak bisa selalu memilih truth.


"Jangan mengubungi Louise lagi untuk masalah apapun," ucap nya yang mengatakan tantangan yang harus di berikan.


James diam, jawaban yang tak memiliki keinginan untuk ia jawab.


Pria itu menarik pelatuk nya, ia tak tau mana yang berisi peluru di dalam pistol dengan tempat kosong itu.


Tak!


James memejam, namun tak ada suara tembakan yang keras sama sekali karna tempat pertama merupakan peluru yang kosong.


"Truth or Dare?" tanya Louis lagi untuk permainan selanjutnya.


"Truth," jawab James yang tetap kembali melanjutkan permainan tanpa meminta berhenti walau ia yang di rugikan dalam segi apapun.


Louis memberi pertanyaan lagi, permainan yang memainkan nyawa sebagai taruhan itu terus berlanjut.


Satu demi satu pertanyaan yang bisa di jawab dan tak bisa di jawab, tantangan yang bisa di lakukan dan tak bisa di lakukan.


Semua itu sudah menghabiskan tarikan 7 pelatuk kosong.


"Ku rasa ini bisa jadi permainan untuk penutup, Truth or Dare?" tanya Louis saat ia tau pistol yang berisi 8 peluru itu pasti menyisakan satu tempat yang berisi peluru nya.


"Dare," ucap James pada pria itu.


Tak semua yang tantangan yang di berikan tak bisa ia lakukan, ada yang bisa ia lakukan seperti untuk tak menyentuh gadis itu lagi sampai ia memiliki hubungan yang jelas.


"Jangan temui Louise lagi dalam rangka apapun, Lupakan dia." ucap Louis yang memberikan satu tantangan tersulit.


James diam sejenak, setiap kali ia mendapat pertanyaan atau tantangan yang tak bisa ja jawab dan penuhi ia selalu diam.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan nya. Melupakan atau tidak menemui nya lagi." ucap nya yang kali ini mengatakan nya.


"Aku sudah bilang kalau ini permainan yang hanya menguntungkan ku, iya kan?" tanya pria itu yang berdiri dari duduk nya sekali lagi.


Mata pistol yang di arahkan tepat di depan kepala pria yang duduk dengan tenang tanpa ekskresi apapun itu.


Tak ada wajah yang memohon ampun ataupun meminta untuk menghentikan.


Tidak takut dan tak menunjukkan kecemasan walau jujur saja di hati terkecil nya rasa takut akan kematian pasti ada saat ia memiliki sesuatu yang berharga untuk ia tinggalkan.


Pria itu memejam sekali lagi setiap kali Louis mengarahkan mata pistol nya.


DOR!!!


Suara yang begitu besar dari senjata api itu memecah keheningan di tempat yang tenang dengan udara yang bersih itu.


Tes...


Cairan yang merah dan kental itu mulai jatuh, aroma yang dapat di rasakan oleh pria yang berada di tempat itu.


Iris coklat itu kembali terbuka, rasa perih dan suara yang begitu keras melewati telinga nya yang hampir membuat nya merasa peka.


"Kau tidak menghindar?" tanya nya yang menurunkan tangan nya yang tengah memegang pistol tersebut.


"Aku bisa lakukan apapun kalau kau mempertimbangkan hubungan ku," jawab nya dengan tetesan darah yanng mengalir di telinga kiri nya.


Rasa sakit?


Terkejut?


Tentu ia juga merasakan nya karna bukan lah robot yang hanya memiliki sistem buatan, namun ia bisa menahan luka seperti itu kapan pun selagi ia bisa mendapatkan kembali sesuatu yang bagi nya sangat berharga.


"Aku mungkin akan benar-benar menembak kepala mu tadi," ucap Louis pada pria yang menengandah melihat ke arah nya.


"Beri aku satu kesempatan untuk mendekati adik mu, aku akan lakukan apapun. Bahkan untuk mu." ucap James yang memulai untuk membentuk aliansi nya.


"Oh ya? Apa yang bisa kau lakukan untuk ku?" Louis tersenyum miring melihat ke arah pria yang kukuh tak ingin meninggalkan adik nya walau hampir mati di tangan nya.


Dengan jarak sedekat itu, peluru yang menembus kepala dan tempat yang jauh dari rumah sakit tentu akan memilik resiko kematian yang begitu besar hingga mungkin tak akan ada kesempatan untuk selamat.


"Aku akan lakukan pekerjaan kotor untuk mu, kau pasti memerlukan seseorang untuk membuat tangan mu tetap bersih kan? Aku bisa melakukan nya, kau bisa manfaatkan hal itu dari ku." ucap nya yang tau pria di depan nya memiliki pekerjaan yang berbeda dari nya.


Jika Louis melakukan sesuatu yang legal dan menyembunyikan semua tindak ilegal untuk membuat nama rumah sakit dan grup nya tetap bersih, ia adalah seseorang yang bekerja di tempat yang di bawah dengan segala hal yang kotor atau tak lain tindakan kriminal dan ilegal yang tak tercium dengan hukum.

__ADS_1


"Biarkan aku mendekati nya," ucap nya sekali lagi.


__ADS_2