
Mansion Dachinko.
Mata bulat coklat itu melihat ke arah pria di depan nya, ia menatap dengan sinis karna ingat dengan apa yang terjadi sore sebelum nya.
"Bianca? Kenapa? Dari tadi sinis banget lihat nya sama kakak nya?" tanya Louise saat merasakan tatapan tajam putri nya di sepanjang sarapan.
"Myy? Dia bisa di usir aja ga sih?" tanya nya dengan mata yang kesal.
"Bianca?" wanita itu memanggil lirih ke arah putri nya seperti memberi isyarat jika tidak boleh berbicara kasar.
"Beneran Myy! Masa kemarin tuh dia masuk ke kamar aku loh! Padahal aku lagi ga pakai baju!" ucap nya yang mengadu pada ibu nya.
"Daddy kan sudah bilang harus pakai baju minimal pakaian dalam kecuali di kamar mandi," ucap James yang langsung menghentikan sendok nya dan menatap ke arah putri nya lalu melihat ke arah putra angkat nya itu dengan tatapan tajam.
"A.. aku salah kamar, kan be.. belum begitu hafal letak mansion nya..." ucap Arnold yang menjelaskan mengapa ia bisa salah masuk ke dalam kamar.
"Kalau begitu hapal dengan lebih baik, dan Bianca karna wilayah kamar mu terserah mu tapi setidak nya kau harus belajar mengunci nya." ucap James yang berbicara dengan kedua anak nya itu.
Arche melihat dengan mata bulat nya yang berwarna hijau itu, secara bergantian melirik wajah permusuhan kakak perempuan nya dan kakak laki-laki yang baru ia dapatkan.
"Hayoo.. kena marah..." ucap nya yang malah menambah suasana panas dan kompor menyala.
"Arche? Hush!" ucap Louise yang ingin membuat putra nya itu diam.
Bianca tak mengatakan kalimat sanggahan lagi, ia memang terkadang memberi perlawan pada ucapan ibu nya namun tidak bisa dengan sang ayah.
Karna entah mengapa walupun sang ayah sangat menyayangi nya namun sikap tegas itu tak bisa ia kutik.
......................
Skip
Sekolah.
Sylviana mendengarkan dengan seksama tentang cerita teman nya yang tampak kesal.
"Jadi dia lihat kamu ga pakai apa-apa?" tanya nya yang tampak begitu penasaran.
"Iya Syl! Kesel kan? Masa dia bisa lupa mana kamar dia! Sengaja itu!" ucap Bianca yang penuh semangat saat ia merasa begitu kesal.
Sylviana mengangguk, ia menepuk punggung teman nya dan memberikan minuman kaleng yang dingin agar bisa lebih tenang.
Bel mulai berbunyi, murid sekolah menengah atas itu pun langsung beranjak kembali ke kelas nya.
Sylviana mendekat ke arah teman nya dan berbisik, "Bi? Kayak nya kak Darren suka sama kamu deh." ucap nya yang melihat tatapan kakak kelas nya yang begitu erat pada teman nya.
Ia tau teman nya memiliki paras yang cantik dan prestasi yang menonjol bahkan di bidang non akademik, namun beberapa tatapan seperti ingin menguliti nya.
"Iya tau, kemarin kan dia ngajak pacaran." jawab Bianca dengan acuh tak acuh dan tetap berjalan.
__ADS_1
"Eh? Kapan? Kamu kok ga ada bilang!" ucap Sylviana yang menatap teman nya dengan wajah cemberut.
"Kenapa? Kamu suka sama dia?" tanya Bianca yang menatap ke arah teman nya.
"Engga sih, tapi kan kalau kamu pacaran nanti kurang waktu main nya sama aku..." ucap Sylviana yang begitu bergantung pada teman nya.
"Yaudah kamu dulu yang pacaran," ucap Bianca yang tertawa kecil mendengar suara manja teman nya.
...
Suara helaian napas berat terdengar, gadis itu pulang terlambat lagi karna ada urusan osis di sekolah nya dan tentu teman nya sudah pulang lebih dulu karna ia yang menyuruh nya.
"Apa naik taksi aja ya?" gumam nya lirih yang juga jengah menunggu bus yang hari ini terlambat datang tak seperti biasa nya.
Langkah kaki nya pun sedikit mendengar ke pinggir jalan dan menghentikan taksi yang lewat.
Walaupun ia bisa saja menelpon supir untuk menjemput namun ia suka dengan kemandirian seperti itu.
Bianca mulai memasuki taksi nya, ia duduk di bangku belakang dan menyebutkan alamat mansion nya.
Sang supir taksi mengangguk dan mulai mengemudikan mobil nya, mata coklat itu menatap ke arah jalanan yang tampak berbeda dari tempat tinggal nya.
Memang mansion nya sedikit jauh dari pusat kota karna bukan apartemen melainkan tempat dengan tanah yang luas.
Tapi ini bukanlah jalan menuju ke tempat nya.
"Tunggu! Ini kan bukan alamat yang aku kasih tau! Balik!" ucap nya yang langsung protes namun tak ada jawaban.
Klek!
Klek!
"Astaga..." Bianca hanya membuang napas nya dengan kasar. Padahal ia sudah janji tak akan buat masalah lagi namun takdir berkata lain.
Gadis itu pun kini memilih diam dan kembali duduk dengan tenang. Ia mencoba membuka ponsel nya namun supir itu langsung dengan cepat mengambil dan membuang nya ke jalan.
"Itu mahal loh, harus ganti pakai mata yah nanti." ucap Bianca yang tampak kesal saat ponsel nya di ambil paksa.
Ia tak mengatakan apapun lagi dan kali ini benar-benar duduk dengan tenang tanpa wajah yang panik sedikit pun.
"Sejak kapan pak jadi supir gadungan? Oh iya yang marak perampokan di taksi itu, taksi yang ini ya? Jawab dong pak? Punya mulut ga sih? Nanti ku cabut lidah nya nangis." celoteh gadis itu yang merasa bosan saat ia tak tau ke mana akan di bawa.
Masih tak ada jawaban sampai mobil tersebut terparkir dan berhenti di tempat yang cukup jauh dari jalan raya.
Tanah yang tampak kasar dengan tumbuhan yang mirip seperti gandum di bawah mentari.
"Eh? Bagus nih pemandangan nya, padahal dekat kota ya kan?" ucap Bianca yang tak peduli dengan supir taksi yang menculik nya.
"Lepaskan jam tangan dan semua yang berharga!" ucap pria yang memakai masker itu sembari menodongkan pisau.
__ADS_1
Bianca tersenyum, tangan nya menepis dengan cara memegang pergelangan tangan nya dan memutar nya secepat kilat agar pisau itu segera jatuh.
"Mau keluar dulu! Panas! AC nya mati!" ucap Bianca yang menekan control di pintu pengemudi dan berusaha keluar.
"Hey! Kesini!" ucap sang supir taksi sembari menarik rambut gadis itu yang ingin keluar saat pintu nya terbuka.
"Si*l! Padahal aku lagi baik hati!" ucap nya yang mengumpat saat ia hari ini sedang tak ingin mengacaukan makhluk hidup.
Sementara itu.
Seniman tetaplah seniman dan tempat yang bisa di gunakan sebagai referensi ide dari karya tentu akan di buru.
Mata nya mengernyit menatap ke arah mobil yang bergoyang itu, secara samar ia melihat kaki wanita yang kecil dan putih di timpa dengan seorang pria dan tampak bergerak dengan mencurigakan.
Bukan suatu hasrat mau sama mau yang ingin di lakukan di tempat terbuka.
Sedangkan yang terjadi adalah...
Gadis itu menaikkan smirk nya, pisau yang berada di tangan supir gadungan itu bersama dengan nya.
Ukh!
Pria itu tersentak, ia berusaha melepaskan diri dari gadis yang menahan tubuh nya agar tetap di atas namun menikam nya dari bawah dan memutar pisau nya.
"Kau pikir pisau itu anjing? Dia tidak kenal pemilik nya," ucap nya dengan senyuman kecil, "Dan juga, memberikan orang lain pisau berarti kau juga siap untuk di tikam." ucap nya yang tersenyum.
"Mosnt-"
Brak!
Deg!
Mata coklat itu tersentak, ia langsung mencabut pisau nya seketika dan tak lama kemudian pria itu pun seperti di tarik di atas tubuh nya.
"Hey? Kau baik-baik saja?"
Tangan yang langsung menarik nya dan membawa nya keluar dari mobil taksi itu.
"Astaga kau berdarah," ucap nya yang terkejut melihat seragam penuh cairan merah kental itu.
"Ih ganteng..." ucap gadis itu yang tentu memiliki selera yang sedikit tak biasa karna di kelilingi dengan para bawahan sang ayah yang tampan dan juga ayah nya yang memiliki wajah yang tampan.
Sedangkan untuk yang seumuran dengan nya?
Itu malah hanya akan mengingatkan nya dengan adik-adik nya yang menyebalkan.
"Hey? Nak? Kau terluka cukup parah!" ucap pria itu yang tentu tak tau darah siapa yang di miliki.
"Luka? Aku ga lu-" ucap Bianca yang kemudian berubah pikiran.
__ADS_1
"Aduh! Sakit!" ucap nya seketika yang mengganti kalimat nya.