
Dua hari kemudian
Kediaman Rai
Liburan telah selesai dan saat nya kembali pada aktivitas yang menjadi rutinitas. Tak ada yang mengatakan apapun tentang apa yang terjadi pada gadis itu di pantai sebelum nya.
"Kau mau ke dalam lagi?" tanya Louise sebelum ia turun dari mobil yang di kemudikan tunangan nya.
Zayn tersenyum tipis ia menarik tengkuk gadis itu dan mengecup bibir muda itu sekilas.
"Tidak, aku pulang saja." ucap nya setelah mengambil kecupan di bibir tunangan nya.
Louise tersenyum kaku namun ia turun dari mobil tersebut dan memasuki kediaman nya.
Tak ada saudara nya di kediaman mewah itu, ia tak melihat bayangan ataupun mendengar suara nya sama sekali.
"Louis di mana?" tanya nya pada salah satu pelayan di kediaman nya.
"Tuan pergi tadi malam dan belum kembali," jawab sang pelayan dan kemudian ia menggerakkan tangan nya memberi isyarat agar pelayan tersebut bisa melanjutkan lagi pekerjaan nya.
"Aku tidak boleh pergi dan pulang malam tapi dia malah menginap di luar," ucap nya sembari menggeleng.
......................
Hotel.
Suara shower terdengar dari sudut pintu buram, pria yang masih memakai piyama hotel berwarna putih itu menunggu di ujung ranjang.
Klek
Pintu buram tersebut terbuka di ikuti dengan suara shower dan air yang sudah tak ada lagi, tubuh yang harum rambut yang basah wajah yang terlihat segar dan memakai mantel handuk yang sama seperti pria yang menunggu nya.
"Sekarang kau mau bilang apa lagi? Kesalahan?"
Suara yang membuat langkah wanita itu terhenti, ia menatap ke arah pria yang mendekat padanya.
"Kita tidak berhenti permainan berlari ini saja?" tanya pria itu mendekat sembari menyentuh dagu wanita di depan nya.
Pandangan mata nya terkunci seperti tak dapat melihat ke arah lain lagi, iris pria itu turun ke arah lengkung leher jenjang yang penuh dengan bekas kemerahan yang baru saja ia buat tadi malam.
"Ini cuma cinta satu malam, dan setelah itu kita selesai," jawab nya sembari membuang pandangan nya ke arah lain.
"Yakin? Kau mau seperti ini terus?" tanya pria itu sembari menyudutkan langkah wanita di depan nya.
"Seperti ini? Kita baru dua kali!" ucap Clara mengelak.
"Dua? Tapi kita melakukan nya berulang kali tadi malam." jawab pria itu yang kini sudah mengunci tubuh kecil wanita itu.
"Berhenti membahas hal ini," ucap nya lirih yang tak ingin menatap mata hijau pria itu lagi.
Pria itu tak mengatakan apapun namun ia menatap ke arah mata wanita itu, menarik dagu nya dan mentautkan bibir nya seketika.
Humph!
Netra nya melebar dengan mata yang membulat saat bibir nya kembali tertaut, tangan nya dengan refleks mendorong kuat dada bidang pria itu.
Ia tak bisa mengatakan apapun ketika lidah nya terbelit hingga membuat suara nya bungkam.
Netra hijau itu terbuka, ia melihat wanita yang berusaha meloloskan diri dari nya hingga membuat nya melepaskan nya perlahan.
"Kita baru selesai!" sentak wanita itu dengan kesal, baru saja ia selesai mandi dan pria di depan nya ingin melahap nya kembali.
"Lalu? Kalau kemarin kau sebut hanya cinta satu malam berarti hari ini bisa jadi cinta dua malam kan?" bisik nya mendekat di telinga wanita itu.
"Apa yang kau mau dari ku?" seluruh kuduk nya meremang mendengar bisikan pria itu, pria yang menguras habis tenaga nya dari malam hingga pagi.
"Kau tau kan? Kenapa tanya lagi?" jawaban yang membuat Clara memejam.
__ADS_1
"Kau sendiri yang bilang aku tidak akan hamil lagi," suara nya bergetar ketika menyebutkan kalimat yang keluar dari bibir nya.
"Lalu?" mata hijau pria itu mengernyit mendengar nya.
"Kau mau menikah kembali dengan wanita yang sudah jelas tidak akan memberi mu keturunan?" tanya Clara.
"Ya, lalu kenapa? Kita juga sudah pernah menikah kan?" Louis juga sama heran nya, kenapa alasan seperti itu di jadikan batu sandungan.
"Kau bicara sangat mudah? Atau kau punya wanita yang akan di nikahi dan juga wanita yang akan memberi mu anak?" tuduh nya pada pria di depan nya.
Tak mungkin pria yang memiliki kedudukan tinggi tak ingin memiliki keturunan ataupun penerus sama sekali. Jika kasus perselingkuhan dan perceraian banyak terjadi bahkan di kalangan bawah karena wanita tidak bisa memberi keturunan apa lagi kalangan atas dari yang teratas?
Louis berdecak, ia menatap ke arah wanita di depan nya, "Pewaris maksud mu?"
Clara diam, tebakan yang sesuai dengan jawaban nya.
"Dengar? Aku tidak sendirian, lagi pula masih ada Louise kan? Anak dia atau anak ku juga kan sama saja." ucap nya sembari memegang kedua pundak wanita itu.
"Lalu garis darah mu akan terputus?" tanya Clara dengan menatap tak percaya.
"Lalu maksud mu karna dia bukan anak ku tidak akan ada garis keturunan dari keluarga ku? Kalau dia masih anak adik ku berarti dia juga punya darah yang sama dengan ku kan?" jawab Louis.
Ia tau maksud perkataan wanita di depan nya, jika memiliki keturunan maka harus arah dari sang ayah akan tetap ada namun jika adik nya yang memiliki nya pasti akan memiliki garis darah dari pria yang akan menjadi suami adik nya kelak.
Dan hal seperti itu banyak tidak di inginkan, ia juga tau rasa khawatir pada wanita di depan nya.
"Apa aku terlihat seperti akan selingkuh?" tanya nya mengernyit.
Netra bening wanita itu menoleh kembali ke wajah yang lebih tinggi dari nya.
"Katakan saja seperti itu, lalu..."
"Bagaimana dengan Reno?" tanya nya lirih mengungkit nama dari mantan kekasih nya yang telah tiada.
Dan alasan mengapa mantan kekasih nya itu meninggal adalah karna pria di depan nya.
"Kecelakaan itu karna mu kan? Dan karna itu dia meninggal? Menurut mu aku bisa senang begitu saja kalau kau melamar ku lagi?" tanya nya dengan bimbang.
"Lalu? Aku tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati! Dan aku juga yakin kalau dia mau melihat mu bahagia," jawab pria itu segera.
"Bahagia? Apa aku bisa bahagia dengan mu?" tanya Clara yang membuat bibir pria di depan nya terkatup.
"Setidaknya aku akan berusaha untuk itu," jawaban yang terdengar singkat namun sungguh-sungguh.
......................
Mansion Dachinko.
Mata cerah itu menatap dengan tersenyum ketika tawa kecil nya habis, pakaian yang memiliki corak kuning dan juga rambut yang di ikat satu ke atas membuat nya terlihat menggemaskan.
"Daddy mau kemana?" tanya nya saat melihat sang ayah seperti bersiap untuk pergi.
"Keluar sebentar," jawab pria itu pada putri nya yang menggemaskan.
"Kemana? Mau jemput kakak?" tanya nya lagi dengan tatapan yang sudah jelas ingin ikut.
"Bukan," jawab nya singkat dan berjongkok agar dapat memiliki pandangan mata yang sama seperti putri cantik nya.
"Telus? Mau kemana?" tanya Bianca mengulang dengan bingung.
"Coba tebak?" tanya pria itu dengan smirk nya.
"Mau ketemu Mommy?" gadis kecil itu menatap dengan mata nya yang penasaran apakah sudah menjawab dengan benar.
"Ya," jawaban singkat dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Ikut! Bian ikut!" ucap nya dengan semangat dan tersenyum cerah.
"Boleh, tapi Bian harus ikuti apa yang Daddy bilang." ucap nya dengan senyuman kecil yang penuh dengan arti.
Mata coklat itu tak mengerti, ia bahkan tak mengerti jika sang ayah mengajari nya hal yang salah.
...
Mata hijau gadis itu membulat sempurna, melihat pria yang datang dengan anak kecil di tangan nya secara terang-terangan ke tempat nya.
"Gila! Mau apa lagi dia?!" gumam nya yang langsung ingin pergi namun,
Greb!
Entah sejak kapan pria itu sudah berada dekat dengan nya dan gadis kecil yang cantik itu sudah duduk di gendongan sang ayah.
"Mommy!" seru nya dengan semangat dan mata yang cerah, walaupun ia pernah marah dan di kecewakan namun hanya dengan kebohongan kecil ia sudah tertipu dan luluh.
"Mau apa lagi?! Lepas!" sarkas Louise sembari berusaha melepaskan tangan nya.
Pria itu tersenyum simpul, senyuman yang memiliki sejuta arti.
"Hum?" Louise tersentak namun karna begitu cepat ia bahkan belum memproses untuk menolak ketika pria di depan nya menyodorkan anak yang di gendong pada nya.
"Jaga dia, kau ibu nya kan?" ucap pria itu dengan smirk nya.
"Ha? Apa?" Louise terkejut dan dalam hitungan detik gadis kecil itu sudah beralih ke dalam gendongan nya.
"Jaga dia sebentar, kau juga tau kan kau itu seperti apa dan kalau dia anak mu dia kemungkinan juga akan seperti mu," jawab James dan langsung berbalik pergi dengan cepat.
"Tunggu! Anak mu bagai-" suara nya terputus menatap ke arah pria yang sudah pergi tak terlihat dengan cepat.
"Myy? Mommy kenapa?" tanya nya dengan mata polos yang jernih menatap sang ibu.
"Mommy? Mommy siapa? Jangan panggil Mommy lagi," ucap nya dan langsung menurunkan putri kecil nya yang tidak ia ingat itu.
Bianca cemberut melihat sang ibu menurunkan nya, sedangkan mata nya masih melihat ibu yang tak ingin ia panggil sebagai ibu selayaknya.
Namun ia ingat dengan ajaran sesat ayah nya yang menyuruhnya melakukan sesuatu jika sang ibu nanti mengusirnya.
"Mommy? Kepala Bian pusing..." ucap nya yang meraih tangan sang ibu sembari menatap nya.
"Wajah mu tidak kelihatan kesakitan tuh," ucap Louise menatap ke arah anak kecil didepan nya.
Bianca diam sejenak dan kemudian,
Bruk!
"Loh? Anak ini kenapa? Hey bangun!" ucap Louise yang terkejut.
Tubuh mungil itu langsung terjatuh seketika, Louise tersentak. Jujur ia terkejut dan teringat dengan perkataan yang baru ia dengar.
Jaga dia sebentar, kau juga tau kan kau itu seperti apa dan kalau dia anak mu dia kemungkinan juga akan seperti mu
"Apa dia juga punya penyakit yang sama dengan ku?" gumam nya lirih namun belum beranjak mengambil gadis kecil yang mulai risih ingin bangun lagi.
"Tunggu! Dia kan bukan anak ku," sanggah nya melihat gadis kecil itu dan mulai tak tega.
Mommy lama banget angkat Bian, mau belsin! Bian pula-pula tidul nya sampai kapan?
Akting yang masih begitu buruk namun sudah lebih baik saat latihan di mobil dengan sang ayah yang mengajari nya berbohong untuk pertama kali.
Louise menarik napas nya, dan mulai mengajar gadis kecil itu dan menggendongnya seperti bayi koala.
Mata Bianca terbuka saat sudah berada dalam gendongan sang ibu dan di bawa. Ia langsung mencari keberadaan sang ayah dan mata nya menangkap pada pria yang berada di lantai atas yang melihat nya dari atas.
Ia tersenyum melihat sang ayah yang memperhatikan nya dari jauh dan memberi nya pujian dengan mengancingkan jempol serta membalas senyuman nya dengan senyuman simpul yang tipis.
__ADS_1