(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Trauma


__ADS_3

Ottawa, Kanada


Sinar hangat yang masuk dengan cerah melalui jendela yang terbuka itu memberikan siklus udara bersih untuk masuk.


Bunga-bunga yang cantik itu terendam dalam vas putih bening yang berisi air es, aroma harum memenuhi ruangan tersebut.


"Louise?"


"Mau sampai lama kau tidur? Hm?"


Pria itu menyentuh dan perlahan menggenggam tangan gadis yang semakin kurus tersebut.


Ia tau, gadis di depan nya bukan nya ingin tidur dengan sengaja namun mendapatkan sesuatu yang juga tak ia inginkan sama sekali.


Sudah beberapa bulan ia berada di tempat tersebut, bahkan mungkin orang-orang yang berada di rumah sakit itu mulai berpikir jika ia adalah pemilik baru nya karna memiliki otoritas yang tinggi selain pemilik asli nya.


"Di luar cerah, kau suka makan es krim kan kalau di cuaca seperti ini?" tanya nya lagi yang terus berinteraksi pada gadis yang tak mendengar suara nya sama sekali.


"Banyak yang menunggu mu untuk bangun..."


"Jadi ku mohon..."


Gumam nya lirih yang berharap gadis yang ia cintai itu segera sadar.


......................


Sementara itu.


Wanita itu terlihat gelisah, ia merasa kesal karna tak bisa menemui putra nya untuk menanyakan apa yang di maksud dengan 'adik' yang di ucapkan sebelum nya.


"Kau tidak bisa tenang? Kau bersikap seperti wanita gila," ucap Alex berdecak melihat raut wanita di depan nya.


"Ini karna mu!" balas wanita yang memiliki tubuh cantik itu menatap tajam dan sinis.


Tak ada balasan, pria tampan itu hanya memutar mata nya dengan malas begitu mendengar nya.


Alasan ia masih bertahan dan bermain dengan wanita yang sudah kehilangan kasih sayang dari musuh nya itu hanya merasa ia masih bisa menggunakan nya.


"Mungkin itu hanya kecelakaan, lagi pula tidak mungkin dia bisa tidak tidur dengan wanita sampai selama itu kan?" tanya Alex dengan nada yang tak begitu peduli.


"Tapi kenapa bisa sampai punya anak? Dia mengkhianati ku!" ucap Bella yang benar-benar kesal setiap kali ia mengingat nya.


Jika tidur dengan wanita sampai sampai hamil berarti pria itu memang niat dari awal dan itu lah yang membuat nya merasa semakin kesal.


Alex tertawa mendengar nya, "Kau juga kan? Padahal kau selaku berisik saat berada di bawah tubuh ku," ucap nya dengan mata yang menatap merendahkan.


Bella membuang wajah nya dengan kesal, memang benar namun tetap saja ia tak mau ada seseorang yang menggeser posisi nya.


......................


3 Bulan kemudian.


JBS Hospital


Pekerjaan yang semakin menumpuk itu seakan membuat pria itu tak bisa bernapas dengan lega.


Setiap hari ia selalu menantikan kabar agar sang adik bisa selamat namun tak ada balasan sama sekali.


Tak ada lagi yang bisa ia keluhkan, semua nya sudah berjalan dengan usaha terbaik nya, operasi yang berjalan lancar walaupun memiliki kendala serta pengobatan terbaik dan juga pengawasan terbaik pun sudah di lakukan.


Kondisi yang sudah stabil namun adik cantik dan manja kesayangan itu masih belum bangun ataupun memberikan respon apapun tak ada ubahnya dengan seseorang yang koma.


"Presdir?"


Panggilan yang membuyarkan lamunan nya sejenak, menatap ke arah wajah yang menatap nya.


"Ada apa?" tanya nya sembari membuang napas nya.


"Anda lupa rapat anda?" ucap Michael yang terlihat habis berlari ke ruangan tersebut.


Louis terlihat melupakan sesuatu namun wajah nya terlihat santai sama sekali tak merasa bersalah ataupun panik.


"Kau kan bisa menelpon ku? Kenapa malah lari ke sini?" tanya nya dengan mengernyit.


"Anda tidak mengangkat satupun telpon dari saya," jawab Michael dengan wajah kesal nya melihat reaksi atasan nya yang tak merasa melakukan kesalahan apapun.


"Oh," jawaban singkat tanpa beban.


"Anda hanya menunggu telpon dari Kanada saja?" tanya Michael saat atasan itu mulai berjalan di samping nya.


"Hm," jawaban singkat yang mengiyakan pertanyaan dari bawahan nya itu.


Michael tak bertanya ataupun melakukan komplain apapun lagi karna ia tau suasana nya akan berubah menjadi biru jika bos itu ingat dengan kondisi adik nya.


"Saya yakin nona Louise akan segera sadar," ucap nya pada saat berjalan berdampingan.


Louis menghentikan langkah nya sejenak, ia tak mengatakan apapun namun tertawa lirih mendengar nya, ia juga mengharapkan hal yang sama namun setiap hari bagaikan jump scare untuk nya karna mungkin kondisi sang adik bisa membaik atau malah memburuk dan mendapatkan kemungkinan yang paling fatal.


"Hampir setahun..." gumam nya lirih.


"Bukan, lebih tepat nya sudah setahun lebih kan? Dia masih belum bangun sama sekali..." ucap nya sembari menoleh ke arah sekertaris nya dan kembali melanjutkan langkah nya.


Michael tak bisa mengatakan apapun pada pria yang terlihat tengah sendu itu.


......................


Apart.


Di umur nya yang beranjak enam tahun anak lelaki tampan dan menggemaskan itu mulai dapat mengerti situasi, ia tau seseorang yang biasa ia panggil 'Daddy' ternyata bukan lah ayah nya yang sesungguhnya namun ia masih hidup di bawah perlindungan orang tersebut.


"Terus Daddy Al siapa?" gumam nya lirih yang bersembunyi di sudut tempat tidur nya sembari memeluk kedua lutut nya.

__ADS_1


Tak ada yang menyakiti ataupun memukul nya, bahkan semua kebutuhan terpenuhi dengan sangat cukup.


Pelayan yang ramah dan segala yang di butuhkan ia dapatkan dengan mudah kecuali kasih sayang kedua orang tua yang ia dambakan.


Ucapan orang dewasa yang tak ia mengerti dan di dengar berulang kali membuat nya mau tak mau menjadi tau dengan sendiri nya.


......................


Satu bulan kemudian.


Mansion Dachinko.


James menghela napas nya, lagi-lagi Nick menyebutkan nama yang hampir ia lupakan walupun sebagian besar uang nya mengalir untuk nama tersebut.


James?


Kenapa seperti itu? Kalau kau bisa melupakan anak itu, apa kau juga akan melupakan anak ku?


Suara yang kembali berdenging di telinga nya padahal di depan nya tengah berada seseorang.


"Aku belum memberi tau mu tentang dia?" gumam nya lirih.


Ia ingat jika gadis itu masih belum tau jika ia bukan lah ayah kandung biologis anak manapun kecuali dari putri kecil yang berada dalam pangkuan nya saat ini.


"Maaf, tuan?" tanya Nick yang bingung melihat seakan tuan nya tengah berbicara dengan sendiri.


James tak mengatakan apapun, ia hanya menarik napas nya sehingga membuat Nick kembali berbicara.


"Dia ingin bertemu dengan tuan, bukan nya anda sudah terlalu lama mengenakan nya?" tanya Nick lirih pada tuan nya yang tengah menggendong malaikat kecil seperti boneka di pangkuan nya itu.


"Bawa dia kesini besok," jawab nya singkat dan beranjak pergi membawa putri nya yang sudah menggeliat dari tadi karna ingin di turunkan dari gendongan.


...


Arnold menatap gugup pada pria di depan nya, ia menunduk merasa takut melakukan kesalahan.


Antara ingin di sayang dan takut di buang secara bersamaan.


"Tidak ada yang ingin kau katakan?" suara yang terdengar dingin dan tak memiliki emosi itu tentu dapat membuat anak-anak menjadi takut.


"Da..Daddy..." gumam nya lirih hampir tak bersuara.


"Kau bisa makan lebih dulu, kalau ada yang mau kau katakan, kau bisa menemui ku di ruang kerja." ucap James yang melihat anak kecil di depan nya tak mengatakan apapun dan terus menunduk.


"Da.."


"Tuan!" ucap nya yang berteriak dengan nyaring saat melihat pria tegap itu membalikkan punggung nya.


Langkah James terhenti, ia mengernyit mendengar nya terasa sedikit aneh jika anak yang belum genap berusia enam tahun itu memanggil nya seperti ia adalah majikan nya.


"Kenapa kau memanggil ku begitu?" tanya nya yang langsung berbalik.


"Pa..paman Nick juga memanggil begitu..." gumam nya lirih dengan takut.


"A..Al tau kalau Al bu..bukan anak..." ucap nya lirih dan terbata.


"Ma..makanya Dad- bukan tu..tuan benci Al kan?" sambung nya lirih dan langsung menangis.


Sudah setahun lebih ia menunggu kehadiran sang ayah namun tak pernah sekalipun keinginan nya terwujud.


Pria itu mendekat, kalau ia benci mana mungkin ia harus melakukan hal yang merepotkan dengan membiayai dan juga mengurus hak asuh nya agar bisa ia rebut.


"Aku tidak membenci mu," ucap nya yang mendekat dan menghapus air mata pria kecil di depan nya.


Awal nya ia memang merasa kesal namun sebelum ia tau semua kebenaran jika anak kecil di depan nya bukan lah darah daging nya ia sudah sempat menaruh kasih sayang pada anak tersebut.


"Ta..tapi kenapa Al di tinggalin? Al kan uda ja..jadi anak baik..." ucap nya yang tak lancar karna tangisan nya.


"Kau sudah tau kan? Aku bukan ayah biologis mu, kau pasti bisa mengerti apa yang ku katakan nanti jika sudah semakin dewasa tapi walaupun aku bukan ayah biologis mu aku tetap sudah jadi wali mu," ucap James yang tak menjawab pertanyaan Arnold secara langsung.


"Te..terus Daddy Al siapa?" tanya nya lirih dengan mata berair.


James tak mengatakan apapun, mana ia tau ayah siapa dari anak yang bukan dari benih nya.


"Lalu kau mau kembali pada Mommy mu?" tanya James.


Arnold tak menjawab, terakhir kali berjumpa dengan sang ibu walaupun ia senang namun tetap saja tangan nya membiru, ia takut jika ia akan di pukuli seperti sebelum nya namun ia juga merindukan kasih sayang orang tua nya.


"Jangan buang Al..."


"Al gak tau harus ke mana, hiks..."


ucap nya lirih dengan segugukan pada pria di depan nya, wajah menangis yang terlihat polos dan hanya mendambakan perhatian itu membaut James tak mengatakan apapun.


"Aku tidak membuang mu, kau juga bisa tetap memanggil ku seperti yang sebelum nya karna aku adalah wali sah mu,"


"Tapi kau juga harus tau aku tidak bisa memberikan semua nya pada mu, aku memiliki sesuatu yang lain yang harus ku perhatikan." sambung nya lirih.


"Addy! Addy ana?"


Suara yang menggemaskan itu terdengar, bayi lucu dengan bando dan jalan yang berulang kali terjatuh terduduk itu mencari seseorang yang biasanya selalu bersama nya.


James memutar kepala nya menatap ke arah putri nya yang mulai aktif berjalan dan beberapa pengasuh yang menjaga di belakang nya.


Ia langsung berbalik, mengangkat tubuh gempal itu dalam gendongan nya.


"Kau belum lihat dia kan? Dia adik mu," ucap nya sembari membawa putri nya.


Al diam tak mengatakan apapun, walaupun ia melihat pria itu menatap dengan tanpa emosi namun ia dapat merasakan kasih sayang yang diberikan pada anak perempuan yang belum bisa bicara ataupun berjalan dengan jelas itu.


"Kau bisa minta apa yang kau inginkan, aku bisa penuhi kebutuhan mu tapi kau tau kan ada beberapa hal yang tidak akan bisa ku berikan pada mu..." ucap pria itu sekali lagi.

__ADS_1


Arnold tak mengatakan apapun, ia diam. Kini ia mengetahui apa perbedaan nya antara ia dan putri kandung pria itu.


Melihat tak ada reaksi dari Al yang sudah berhenti menangis James hanya menatap tak melakukan apapun.


*Dia seperti akan menangis


Kau sangat dingin pada nya, dia kan tidak salah apapun*


Pria itu menatap kosong di depan nya, wajah kesal dari gadis cantik itu terlihat di balik iris nya.


Ia memejam beberapa saat untuk menghilangkan bayangan yang terus muncul di balik netra nya.


Tap,


Satu usapan lembut mendarat di atas puncak kepala anak lelaki itu.


"Ku harap kau juga menyayangi dia..."


"Kau anak baik kan?" tanya nya yang membuat Al kembali membatu sejenak.


Satu tepukan yang membuat nya hangat dan kembali berharap pada kasih sayang pria itu lagi.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Jemari lentik itu perlahan bergerak, iris hijau itu mulai terlihat saat kelopak mata yang tak pernah terbuka selama setahun lebih itu mulai merenggang.


"Louise?"


"Louise!"


Ia mendengar nama yang di ucapkan namun hanya suara samar yang masuk ke dalam telinga nya.


Tak lama kemudian semua nya menjadi berisik, merasakan sesuatu yang menyentuh tubuh nya dengan suatu alat yang terasa dingin.


Suara yang semakin berisik dengan alat yang dan juga orang-orang yang terus berbicara di dekat diri nya.


...


Kediaman Rai.


Setelah mendapat telpon tentang kondisi sang adik pria itu langsung berangkat menuju Kanada tempat di mana sang adik berada.


Ia merasa gugup takut dan senang di saat bersamaan.


"Akhirnya dia bangun..." ucap nya bernapas lega namun ia tak tau jika semua harapan nya tak berjalan dengan mulus.


...


Deg!


Deg!


Deg!


Pria itu membatu melihat tubuh gemetar dari gadis di depan nya, menatap nya dengan takut saat tangan nya menyentuh dan bahkan tak bisa memeluk nya.


"Louise?" panggil nya lirih.


Ia tak bisa langsung menemui karna kondisi gadis itu yang perlu di pulihkan beberapa hari setelah bangun agar bisa berbicara dan merespon dengan baik.


Tangan nya kembali mencoba menyentuh tubuh adik nya, ingin rasa nya ia memeluk dan merengkuh tubuh yang terlihat begitu kurus itu sejenak.


Tak!


"Jangan..."


"Kau tidak bisa berhenti..."


Gumam gadis itu lirih, tubuh kurus nya gemetar, air mata nya luruh dan menundukkan pandangan nya dengan takut.


"Ini aku..."


"Louis, kakak mu...." ucap nya lirih yang berjongkok agar dapat melihat wajah adik nya.


Gadis itu tak merespon ucapan yang ia dengar, seperti tak bisa mengerti namun ia menatap pria di depan nya.


"Apa tidak bisa berhenti dengan ku saja?"


"Jangan..."


"Jangan kakak ku juga..."


Deg!


Pria itu tersentak, sudah jelas sang adik menatap wajah nya dan melihat ke arah nya namun ia gadis itu malah seakan tak mengenal nya sama sekali.


"Aku..."


"Aku ingin menemui nya sekali saja..."


"Aku mau melihat kakak ku sekali lagi..."


Buliran bening yang jatuh dari iris hijau gadis itu membasahi pipi nya, tubuh yang gemetar dengan ingatan yang acak dan kewarasan yang hampir hilang membuat nya berada dalam kurungan memori yang menyakitkan.


Tes...


Tangan pria itu ikut gemetar, tanpa sadar ia juga menjatuhkan bulir bening yang sama seperti di mata saudari kembar nya.


"Aku kakak mu..."

__ADS_1


"Kau tidak mengenal ku?"


Suara gemetar dan terdengar tercekat di tenggorokan itu membuat Louis sulit menelan saliva nya, perasaan nya terasa remuk ketika melihat sang adik yang bahkan tak bisa mengingat wajah nya.


__ADS_2