
Louise POV
Rasanya seluruh tubuh ku kebas hingga tak bisa ku gerakan sama sekali, lidah ku Kelu tak bisa mengeluarkan suara.
Rasanya terlalu dingin sampai aku tidak bisa membuka mata ku, lalu anak ku?
Bagaimana dengan anak ku?
Dingin sekali, tolong keluarkan aku dari sini...
Aku tidak tau tapi aku mulai merasa sedikit hangat, seperti sedikit semut yang menggelitik ku padahal sampai saat ini rasanya begitu kebas.
Rasanya mulai menghangat dan merambat ke setiap kulit ku, sedikit nyaman.
Apa aku sudah pulang?
Roti panggang yang lembut dan secangkir coklat panas seperti nya itu yang ku inginkan saat kembali.
Mungkin aku rasa aku sudah pulang, aku mengantuk lagi.
Rasanya nya nyaman.
Louise POV end.
...
Siluet tubuh yang terlihat berbeda dari sebelum nya, pria itu mencium dan menyapu lembut tubuh yang sedingin es itu.
Seluruh sel sensorik nya seakan tersetrum saat ia mulai menuju puncak aksi nya.
Apa aku sudah terlalu lama tidak melakukan nya?
Batin nya yang seperti merasakan sesuatu yang melahap nya dan membuat nya terbakar.
Ia memangut bibir lembut di depan nya lagi sembari sesekali mengusap telinga nya, ia juga melihat ada bekas kemerahan di dada gadis itu.
Ia tidak tau sejauh mana pria yang menculik gadis itu sudah menyentuh nya namun ia merasa sesak dan marah sekaligus saat melihat nya.
Tubuh yang menyatu dan bergerak perlahan serta memberikan usapan dan helaan lembut membuat James semakin berpacu dan sampai di mana titik akhir nya.
Shh...
Ia mendesis pelan sembari memperdalam gerakan nya di hentakan terakhir dengan lembut.
Mata nya melihat ke arah gadis itu yang masih terpejam dan ia pun masih merengkuh tubuh yang tengah tertaut pada nya.
Tungku api yang di samping nya dan ia juga yang membuat tempat untuk gadis itu bisa mendapatkan rasa hangat.
Malam yang panjang saat ia bukan nya yang menghangatkan namun ia sendiri lah yang seakan terbakar hingga membuat nya lupa sejenak dan terus melahap tubuh gadis itu.
...
James diam sejenak, ia mengatur napas nya dan berguling di samping tubuh gadis itu lalu kembali melilitkan kain agar tubuh gadis itu lagi dan memakaikan kemeja yang bersih dan kering guna menutup tubuh yang tengah tak memakai apapun itu.
Ia memijat pelipis nya, ia seharusnya tidak meniduri ataupun menyelamatkan gadis itu.
Tapi kenapa?
Kenapa ia tak bisa membiarkan nya saja dan pasti semua keinginan nya terwujud, jika gadis itu mati lebih dulu karna memiliki fisik yang lemah pasti saudara kembar gadis itu akan terguncang dan lebih mudah baginya untuk menghabisi nya.
"Kenapa kau putri nya? Hm? Kalau kau bukan putri nya mungkin kita..." tanya nya sembari mengusap rambut basah gadis itu.
Apa kita bisa bersama? Apa semua akan baik-baik saja? Kalau semua akan baik-baik saja aku ingin kembali pada mu lagi...
Ia merasa kelelahan dan sejenak memikirkan sesuatu yang tak masuk akal jika saja rasional nya kembali.
Namun malam ini ia malah menyingkirkan semua rasa di dalam hati nya dan memeluk erat tubuh ramping itu yang kini semakin berisi.
...
Ruang gelap, suara rintihan serta lantai basah yang berawarna merah menjadi pijakan pria itu.
Ia merasa ada yang aneh, tangan nya tak sebesar yang seperti biasanya namun seperti tangan anak kecil.
"Aku di mana?"
Itulah yang ada di pikiran nya hingga suara yang memanggil nya membuat nya menoleh.
"Xavier?"
__ADS_1
Ia mencari suara tersebut hingga berjalan pada titik di mana ia berhenti, wajah yang cantik dan lembut ibu nya yang tersenyum pada nya membuat nya langsung ingin menggapai dan memeluk nya.
"Mamah?" panggil nya dan langsung berlari menghampiri wanita itu.
Wanita itu menangkap nya dan memeluk nya, "Xavier sayang Mamah kan?"
"Sayang! Xavier kangen Mamah..." jawab nya yang menangis tanpa sadar seperti anak yang kehilangan permen nya.
"Tapi kenapa?" tanya wanita itu dengan suara serak dan mulai berat.
Ia berhenti menangis sejenak dan merasakan tubuh sang ibu mulai mengeluarkan cairan berwarna merah yang berbau amis.
KENAPA KAU MEMBIARKAN ANAK ITU HIDUP!
KARNA DIA KAMI DI BUNUH!
Akh!
Ia menjerit sekeras-keras nya begitu mendengar suara mengerikan dari sang ibu bahkan wajah yang tadinya cantik dan lembut kini penuh dengan darah dan luka.
Duk!
Ia memundur saat kaki nya terbentur sesuatu, jeritan nya semakin menjadi saat melihat bola yang datang pada nya berubah menjadi seperti kepala ayah nya.
"Mamah? Papah? Huhu?"
Tak ada yang bisa ia katakan suara dan tubuh nya mengecil dan hanya bisa menangis sama seperti dulu.
"Kak? Kak Xavier?" panggil suara kecil yang menggemaskan membuat nya menoleh.
Tangan nya di gapai paman, bibi, dan sepupu nya yang lucu seakan memeluk nya dan menghibur nya.
Namun pelukan hangat itu seakan ingin terbang saat perlahan tubuh paman, bibi, dan sepupu nya melayang dan tergantung di udara.
Ia kembali melihat tangan nya yang mulai beranjak besar seakan mulai remaja, ia pun berlari menembus ruangan gelap tanpa ujung hingga membuat nya berdiri di satu titik.
Tangan nya kembali seperti saat ini, namun di penuhi dengan darah.
Senyuman gadis yang melihat ke arah nya dengan lembut dan membuat nya tenang namun menginjak seluruh mayat keluarga nya.
"Jangan berdiri di atas mereka!"
Suara nya tak keluar sama sekali, ia ingin mencegah namun tak bisa bergerak ataupun mengeluarkan suara nya.
Eksperimen itu untuk nya, ayah nya menutupi hal itu untuk nya!
Hanya dia yang punya penyakit seperti itu! Jangan memaafkan nya! Dia juga bersalah!
Mereka semua bersalah!
Kepala nya ingin pecah mendengar nya, dada nya sesak hingga membuat nya tak menarik napas.
....
Deg!
Suara ombak menyapu yang terdengar, langit malam kini sudah tak ada lagi bahkan bulan pun sudah redup terkena sinar mentari yang berganti.
Tubuh nya berkeringat begitu banyak napas nya bahkan masih tersenggal-senggal hingga membuat nya langsung duduk.
Ekor mata nya melirik ke arah gadis yang masih terlelap di samping nya.
"Apa yang ku pikirkan?! Aku pasti kacau sekali sampai ingin melupakan semua nya?!" gumam nya yang berdecak dan langsung bangun.
Ia memeriksa ponsel nya namun masih belum menemukan sinyal untuk bisa mengubungi siapapun sedangkan Nick masih belum menemukan nya yang masih entah berada di laut bagaian mana.
Louise mulai terbangun dari tidur nya tubuh nya pegal namun suhu nya sudah kembali normal tak sedingin es sebelum nya.
"Sekarang di mana?" gumam nya sembari masih merasakan sakit di seluruh tubuh nya.
Ia pun beranjak bangun dan melihat ia yang hanya memakai kemeja longgar, ia diam sejenak sampai akhirnya memproses yang berada di pikiran nya.
Ia menyadari apa yang terjadi pada dirinya karna ia yang tau bagaimana rasa nya setelah di tiduri dan tidak.
"Aku? A-aku..." gumam nya panik dan langsung melihat ke sekeliling nya dan ingin berlari keluar dari tempat yang asing itu karna belum mengetahui jika ia masih terjebak di tengah laut.
Bruk!
Pijakan nya masih goyah dan ia dengan segera hampir terjatuh namun tubuh nya tak sampai menyentuh dasar.
__ADS_1
"Ceroboh!"
Suara yang sangat ia kenal dan membuat nya menoleh.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Louise mengernyit.
"Tadi aku mau melihat mu mati tapi kau masih hidup!" ucap nya mengelak tak ingin mengatakan jika ia jauh-jauh datang dan berkelahi hanya untuk menjemput gadis itu.
"Kau melakukan nya?" tanya Louise lagi langsung ke inti nya.
"Apa itu pertanyaan mu?" tanya James yang langsung melepaskan nya dan beranjak pergi.
"Ku tanya apa kau melakukan nya?! Hubungan kita sudah berakhir dan kau tidak punya hak menyentuh ku!" ucap Louise yang entah mengapa ada rasa marah di dalam diri nya.
Tatapan yang dingin, wajah yang datar dan pria itu yang mengatakan tak pernah mencintai nya namun tetap meniduri nya, entah mengapa hal itu membuat nya tak nyaman.
"Lagi pula kau itu juga bukan perawan kan?! Kenapa repot sekali?!" tanya James mengernyit.
Louise menggeleng, "Kau bicara seperti bukan yang mengambil nya?!" tanya nya sembari meraih dan mencegah tangan pria itu.
James diam sejenak mendengar pertanyaan tersebut.
Ia sadar jika ia yang menjadi pria pertama dan membuat gadis naif itu mengenal dunia orang dewasa.
Ctak!
James menepis tangan gadis itu dengan kasar "Lepas!"
Louise diam sejenak, "Kau bilang tidak mencintai ku kan? Jadi kenapa masih meniduri ku?" tanya nya dengan suara bergetar.
Entah mengapa setiap kali ia berada di samping pria itu ia tak memikirkan trauma ataupun ingatan masa kecil nya seperti masalah itu hilang sejenak dan terganti dengan masalah yang baru.
"Memang nya tidur dengan mu perlu cinta! Yang ku pakai kan cuma tubuh mu!" ucap nya dengan tajam.
Deg!
Louise tersentak mendengar pria itu bicara seakan tubuh nya hanya seperti barang yang bisa di pakai dan buang kapan pun.
"Kalau kau terus melakukan nya bagaimana kalau aku hamil? Hm? Kau tidak berpikir?" tanya Louise dengan suara serak dan tanpa sadar membuat kaca bening di mata nya.
James diam sejenak, ia mengernyit dan memgingat siluet tubuh gadis itu yang berbeda, ia pun berbalik dan mencengkram bahu Louise.
"Kau hamil?" tanya nya menelisik.
Louise diam sejenak, iris nya membesar mendengar suara yang menampilkan rasa gelisah, mata yang dingin dan tajam, wajah yang datar dan sikap yang terus mendorong nya menjauh.
Gadis itu tak bisa membaca apa yang ada di pikiran pria itu.
Ia tak mengerti namun entah kenapa lidah nya begitu kelu untuk menjawab dan takut mendapatkan reaksi setelah jawaban nya.
"Louise!" panggil James lagi dengan nada tinggi membuat nya hampir terkejut.
"Kalau aku hamil memang nya apa yang akan terjadi?" tanya nya lagi dengan suara tertahan di tenggorokan nya.
"Entahlah tapi aku tidak mengharapkan nya," jawab James yang bingung jika hal itu benar-benar terjadi.
Setelah itu apa yang akan ia pilih tetap membunuh gadis itu dengan keturunan nya ataupun melupakan semua nya.
Rasa bersalah yang terus menggerogoti nya karna ia hidup sendiri saat semua keluarga dan orang yang ia sayangi mati di depan mata nya.
Dan ia tak pernah melupakan hal itu sama sekali dan saat ia ingin melupakan nya pun mimpi buruk nya datang lagi.
Mungkin keluarga nya tak akan ada yang ingin ia menjadi seperti sekarang, membalas dendam dan membunuh orang lain, namun tak ada yang bisa mengatakan hal itu pada nya.
Ia larut dalam kesedihan nya dan tenggelam dengan semua kenangan buruk nya hingga membuat satu titik hitam di hati nya.
Deg!
Hati gadis itu seperti tercabik mendengar nya.
Tidak mengharapkan nya? Seperti berjalan di atas es tipis dan berada di puncak jurang entah kenapa ia kembali terjatuh ke dasar.
"Aku tanya sekali lagi! Kau ha-"
"Tidak," jawab nya singkat tanpa sadar sembari menjatuhkan cairan bening dari mata nya.
Ia tak tau mengapa bibir nya tanpa sadar berbohong, namun apa bisa ia mengatakan nya setelah mendengar pria itu tak mengharapkan nya.
James membuang napas nya dengan lega, ia memang takut jika gadis itu benar-benar hamil ia tak tau akan sebingung apa nanti nya.
__ADS_1
Louise tak bisa menahan air mata nya,semua nya luruh begitu saja dan membuat nya semakin terluka hingga sulit untuk bernapas saat wajah pria itu seakan lega mendengar jawaban nya.
"Kau br*ngsek! Benar-benar baj*ngan!" ucap nya sembari menjatuhkan air mata nya yang tak bisa ia hentikan.