
Gadis itu mendorong kuat hingga pria itu melepaskan ciuman nya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Louise yang langsung meninggikan suara nya sembari menutup bibir basah nya dengan punggung tangan nya.
"Aku memakai kesempatan ku lagi kali ini, jadi apa aku tidak bisa melakukan nya?" tanya pria itu menatap ke arah gadis itu.
"Kau kesal karna aku mengambil data mu?!" wajah yang tampak kesal itu terlukis jelas.
"Kau marah karna aku mencium mu? Atau kau sekarang lebih suka kalau dia yang mencium mu?" tanya pria itu dengan memandang lurus.
Louise tersenyum tipis mendengar nya, "Lalu kau? Apa yang kau suka dari ciuman dengan ku? Kau juga pasti sering melakukan nya dengan wanita lain kan?"
Pria itu tak menjawab, ia memang pernah berciuman dengan banyak wanita sebelum nya. Yah tapi itu pun juga sudah cukup lama.
"Waktu aku dengan mu aku tidak pernah melakukan hal itu," ucap nya dengan nada yang lebih rendah.
Louise hanya tersenyum pahit mendengar nya.
Untuk apa mengatakan itu sekarang?
"Waktu kau mengurung ku, kau juga masih berhubungan dengan wanita itu kan? Lalu kenapa kalian tidak jadi menikah? Kau sudah beli cincin untuk nya." ucap gadis itu sembari melirik ke arah laci tepat di mana ia pernah menemukan cincin.
James terdiam lagi, ia berpikir beberapa kata untuk bisa menjawab ucapan gadis itu yang tepat sasaran.
"Aku bilang kalau cincin itu bukan untuk nya kan?" ucap pria itu sekali lagi.
"Sekarang? Kau baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari dulu?" tanya gadis itu menggeleng dengan menatap nanar.
Ia ingat sekali bagaimana pria itu yang kembali memaksa nya berhubungan setelah tubuh nya mulai pulih dari operasi ceasar untuk anak pertama nya.
Dan setelah itu?
Cincin yang tampak indah itu terlihat di mata nya, pertanyaan yang tak pernah di jawab dan jawaban dengan situasi yang tentu akan membuat siapa saja salah paham.
"Kau melakukan nya untuk menyakiti ku, kan?" tanya Louise pada pria yang masih terdiam itu.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia tak bisa mengatakan satu pun pembelaan sama sekali.
"Kau sudah mengirim data nya ke kakak mu?" tanya pria itu yang mengalihkan pembicaraan nya.
Louise mengangguk kecil mendengar nya, ia merasa pria itu kini sedang mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Kau tidak takut kalau aku berikan ini ke musuh mu? Kau tau aku membenci mu kan?" tanya gadis itu menatap dengan menunggu jawaban.
"Lalu sekarang kau semakin membenci ku?" tanya James karna kini gadis itu tau semua pekerjaan nya.
"Hm, kau lebih brengsek dari yang ku kira." jawab Louise membuang wajah nya.
Narkotika, obat-obatan terlarang, perdagangan manusia dan organ nya serta beberapa data yang menunjukkan pembunuhan untuk petinggi-petinggi.
"Tidak ada guna nya menjadi orang baik," jawab pria itu berbalik untuk mengambilkan minuman.
Pintu yang terbuka itu membuat langkah nya terhenti, gadis kecil itu mendongak ke atas menatap sang ayah yang lebih tinggi dari nya.
"Daddy?"
Suara yang menggemaskan itu memanggilnya.
"Sudah lama di sini?" tanya pria itu yang membungkuk dan menggendong tubuh mungil itu.
Bianca menggeleng, ia melihat ke belakang sang ayah dan menatap ke arah wanita yang membuang wajah nya namun ia tau siapa benar itu.
__ADS_1
Namun ia tak bertanya apapun ia, menatap sang ayah dan hanya memeluk nya dengan erat.
"Mommy di sini?" tanya Bianca mulai berbicara walau sang ayah sudah menggendong nya menjauh agar tak bertanya tentang ibu nya dulu saat ini.
"Iya, Bian kangen Mommy?" tanya pria itu pada putri cantik nya.
"Bian mau Daddy," jawab Bianca sembari memeluk sang ayah dengan erat karna takut di pisahkan.
"Iya, Daddy di sini..." jawab pria itu sembari mengusap punggung mungil putri nya dengan lembut.
...
Louise yang mulai menyadari jika ponsel nya tak ada itu mulai kebingungan.
Namun ia tak menunjukkan nya dan masih bisa bersikap tenang sembari duduk di sofa yang menghadap ke taman terbuka pria itu.
Sedangkan James pergi untuk menyiapkan sesuatu karena sudah membawa gadis itu.
Bagi nya setiap sudut mansion mewah itu terasa pengap, walaupun sangat besar tatap saja ia seperti tak bisa bernapas di dalam nya.
Kaki mungil itu mengintip di balik meja dari jarak yang cukup jauh dan tak mendekat.
Memang jika di suruh memilih ingin ikut siapa ia pasti akan menjawab dengan cepat dan tanpa ragu untuk ikut ayah nya namun bukan berarti ia tak memiliki rasa penasaran sama sekali tentang ibu nya.
Prang!
Guci mahal dengan bentuk yang terlihat seperti berlian itu jatuh berserakan di lantai. Tentu nya suara itu langsung membuat Louise menoleh.
Bianca tersentak, ia langsung berjongkok agar menyembunyikan tubuh mungil nya dari pandangan sang ibu.
Louise menggenggam tangan nya dengan erat, ia membalik wajah nya dan bersikap seperti tak melihat putri kecil nya itu.
Bianca kembali berdiri, sang ibu bergeming sedikit pun untuk nya. Ia ingin beranjak pergi namun tersandung kaki nya sendiri.
Bianca meringis, lutut dan tangan nya terluka karena pecahan guci yang ia jatuhkan. Mata coklat nya mulai berair ketika merasa perih.
"Heuk!"
"Hiks, Daddy..."
Tangis nya lirih yang memanggil sang ayah ketika ia merasa sakit dan takut.
Gadis itu diam sejenak, ia mendengar tangisan lirih itu namun ia masih duduk di tempat yang sama walaupun ia mulai tak tahan mendengar nya lagi.
"Daddy, huhu..." tangis gadis itu yang semakin bersuara dan terdengar sendu.
"Hum?" tangisan itu berhenti sejenak
Heels tinggi yang berwarna peach dengan kaki jenjang yang putih dan mulus itu berhenti tepat di depan nya.
"Kalau tau luka harus nya bangun bukan nya nangis,"
Ucapan yang masuk ke dalam telinga serta merasa tubuh nya terangkat ke atas.
Ia tak berbicara apapun, tak ada pertanyaan ataupun omelan dan rengekan seperti sebelum nya.
Louise menarik napas nya, ia menatap dengan bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan pada makhluk mungil yang cantik seperti boneka itu?
Kalau tidak bisa jadi ibu setidaknya ia bisa melakukan sesuatu yang sedikit cocok untuk profesi nya kan?
"Tetap di sini sampai aku kembali," ucap nya yang berbalik mengambil P3K di mansion itu dan ia pun menang sudah tau di mana letak nya karna tinggal cukup lama di tempat mewah itu.
__ADS_1
Bianca berusaha diam walau ia terlihat masih menahan tangis nya. Ia menunggu tanpa beranjak sampai wanita itu kembali lagi.
Sementara itu James melihat ke arah ponsel yang ia ambil tadi, ponsel yang terus bergetar dengan nama yang memanggil dan iapun tau siapa jelas siapa yang memanggil ya.
Tangan nya menggeser ke arah tombol merah dan menolak panggilan itu. Panggilan yang berasal dari tunangan gadis itu.
"Sa..kit... Bian mau Daddy..." tangis nya lirih saat luka nya terkena antiseptik.
Tak ada balasan apapun dari Louise, namun ia tau gadis kecil itu mengalami bekas luka yang cukup banyak sampai membuat nya belum hilang walaupun sudah hampir sebulan.
"Bianca?" panggil nya melihat ke arah mata coklat yang menangis meminta ayah nya itu.
Iris coklat itu menatap nya, pipi yang bulat dan wajah yang cantik namun memerah kran menangis.
"Mau lihat sihir?" tanya nya pada gadis kecil yang masih tak tau apapun itu.
"Silil?" tanya nya dengan penyebutan yang salah.
"Hm,"
"Ongkat nya?" tanya nya dengan wajah polos yang masih mempercayai hal seperti itu.
Louise menggeleng, "Tidak ada," jawab gadis itu singkat.
"Tik Tik Tik," Louise membuat langkah di jemari nya berjalan dari sepatu mungil putri nya.
Dan tentu perhatian anak berumur tiga tahun itu langsung teralihkan, ia menggunakan cara yang mirip dengan dokter nya dulu ketika ia menjalani terapi saat masih kecil dulu.
Menuangkan antiseptik dan memberikan pembalut luka yang lucu secara cepat agar gadis kecil itu tak sempat protes.
"Dor!" ucap nya yang mengeluarkan benda merah berbintik di balik kepala gadis itu.
"Tongkat sihir nya berubah jadi buah," ucap nya sembari menyundul stroberi yang ia ambil di atas meja itu ke pipi bulat itu.
Mata coklat itu berbinar, ia tak tau apapun dan tentu masih menganggap dunia itu seperti khayalan dalam negeri dongeng.
"Hihi," suara tawa kecil terdengar.
Tawa yang sebelum nya sempat hilang tak ada di mansion itu.
Louise tersenyum tipis melihat nya, stoberi yang berada di tangan nya kini sudah termakan oleh anak cantik itu.
Deg!
Ia tersentak, wajah yang merah karna baru menangis itu entah mengapa tampak pucat.
Dan ia tau jika itu bukanlah wajah gadis kecil itu melainkan wajah yang selama ini masih membayangi nya.
Ia pun beranjak ingin bangun dan segera meninggalkan tempat itu.
"Myy?" panggil Bianca lirih sembari memegang tangan sang ibu.
Tak!
Louise menepis dengan kuat, tubuh mungil itu terjatuh seketika dan meringis.
Ia tampak bingung melihat ke arah anak manis yang terlihat kesulitan itu, sejenak ia ingin membantu namun wajah pucat dari bayi mungil nya tampak lagi.
Tidak apa-apa...
Kali ini akan baik-baik saja...
__ADS_1
Tapi...
Tapi aku tidak bisa melihat nya...