(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Ajari aku


__ADS_3

Mansion Dachinko


"Daddy!"


"Daddy!"


"Tunggu dulu! Daddy kan belum jawab!"


Ucap gadis itu yang berusaha mengejar sang ayah yang malah tak mengatakan apapun pada nya hingga melanjutkan kembali mobil nya.


"Daddy!"


Bianca kali ini memanggil dengan menyentak hingga membuat sang ayah menoleh ke belakang dan melihat ke arah nya.


"Kau tau siapa dia? Kau tau siapa yang kau mau untuk jadi milik mu itu?" tanya James pada putri kesayangan nya.


"Tau, dia bilang dia kenal sama Daddy Mommy." jawab Bianca yang menatap ke arah sang ayah.


"Lalu hanya itu?" tanya James lagi yang menelisik pada putri nya.


"Dia bilang hampir jadi Daddy sambung aku juga," jawab Bianca dengan wajah yang tampak sama sekali bukan masalah.


"Kau sudah tau tapi masih mau dia? Banyak laki-laki lain! Lagi pula usia kalian juga jauh, dia itu hampir seumuran Mommy mu, kau mau baru nikah sudah jadi janda?" tanya James yang berusaha memutar kata-kata nya agar putri nya tak lagi mengatakan hal aneh itu.


"Terus? Bisa aja yang mati duluan," jawab Bianca enteng pada sang ayah.


"Astaga! Anak ini!" James merasa kesal namun ia tak bisa melakukan apapun pada putri nya.


"Lagi pula kenapa ga boleh sih Dad? Dulu tuh kan masih calon Daddy sambung nah sekarang calon Sugar Daddy buat aku." jawab Bianca menatap kesal namun terlihat di ujung bibir nya sedikit senyuman.


"Sugar Daddy mata mu Sugar!" ucap James yang kesal pada putri nya.


"Ih! Pokok nya ga mau tau! Bian itu udah harga mati sama Paman Zayn!" jawab Bianca yang kemudian berbalik ke kamar nya.


Tentu saja gelora remaja dan emosi yang masih tak imbang membuat nya kekanakan dan sedikit egois.


"Coba saja terus begitu! Aku akan mengirim mu keluar negeri!" ucap James yang setengah berteriak pada putri nya.


...


Bianca membuang napas nya kesal dan menjatuhkan diri nya ke atas ranjang.


"Daddy kenapa sih ga setuju banget! Padahal kan biasa nya selalu boleh aja!" gerutu nya yang kesal karna kali ini sang ayah tak menyetujui keinginan nya.


......................


Skip


Sekolah


Langkah nya berlari cepat, biasa nya teman nya itu masuk pagi namun kini?


Ia tak bertemu dan juga berita yang beredar di televisi sejak pagi itu melibatkan seseorang yang ia kenal.


"Syl belum datang?" tanya nya yang menatap ke arah seluruh teman sekelas nya.


Para remaja itu pun menggeleng melihat nya, tak ada yang tau.


Bianca berbalik, ia mengeluarkan ponsel nya dan berulang kali menelpon teman nya itu.


"Astaga Syl! Angkat!" ucap nya lirih yang tak bisa masuk ke kelas nya dan malah menunggu di luar.


Tak ada satupun panggilan nya yang di jawab, Bianca pun segara keluar dari wilayah sekolah nya dan memanggil taksi.


...


Gadis itu berdiri di depan pintu pagar teman nya, tak ada yang menjaga dan tak ada juga yang membuka nya.


"Apa aku tanya sama pos penjaga?" gumam Bianca karna ia tau teman nya itu tinggal di perumahan kalangan elit.


Namun begitu ia bertanya, bukan jawaban yang ingin ia dengar yang di dapatkan.


"Pindah? Kapan?" tanya nya yang tak menyangka.


"Kemarin," jawab pos penjaga yang mengatur perumahan itu.


Gadis itu terdiam beberapa saat, teman nya hilang kontak bagai di telan lautan.


......................


Sementara itu.


Ruang tahanan.


Para tahanan masih dapat berkomunikasi satu sama lain dengan keluarga nya.


"Bawa Sylviana ke luar negeri, mereka akan menyita aset dan juga firma hukum mu untuk ganti rugi." ucap pria itu pada sang istri.


"Keluar negeri? Rumah kita saja sudah di sita!" ucap wanita itu yang tak habis pikir mengapa suami nya bisa gelap mata dan menerima suap dari banyak perusahan dan kasus besar lain nya.

__ADS_1


"Kau tau pondok kecil kita? Kalau kita liburan setahun sekali di gunung? Di bawah nya ada brangkas dan surat properti atas nama orang lain tapi itu milik ku. Kalian bisa gunakan itu untuk hidup beberapa tahun di luar negeri dan soal yang di sini aku yang akan mengurus nya." ucap nya yang tentu ingin mengajukan banding untuk kasus nya agar dapat keluar lebih cepat.


"Sentimen publik sangat buruk pada mu," ucap wanita itu yang menghela napas nya.


"Iya, aku tau maka nya aku mau kau bawa Sylviana pergi lebih dulu. Lagi pula otoritas ku juga masih berjalan di sini."


"Tapi untuk sanksi sosial tidak bisa ku kendalikan," ucap pria itu yang tentu ingin anak dan istri nya aman lebih dulu.


"Baik, lalu kau bagaimana? Aku perlu mengirim pengacara untuk mu?" tanya wanita itu.


Walaupun ia juga pengacara namun menurut hukum yang berlaku ia tak boleh menjadi pengacara untuk keluarga sendiri ataupun pembela keluarga sendiri.


"Tidak perlu, aku akan mengurus nya. Kau bawa saja Sylviana agar dia tenang." ucap pria itu yang tentu mengkhawatirkan putri nya.


"Ya, sekarang kami pindah ke apart." ucap wanita itu yang mengangguk dan kemudian beranjak.


......................


Tiga hari kemudian.


Cafetaria


Gadis itu terdiam, ia menatap ke arah teman nya yang menatap tajam dengan mata bulat yang berwarna coklat itu.


"Ma.. maaf..." ucap nya lirih yang menunduk ketika bicara.


"Untuk? Kenapa kamu yang sembunyi? Memang nya kamu salah apa?" gadis itu langsung mendekat dengan mencondongkan diri nya yang duduk bersebrangan dengan teman nya.


"Aku malu..." gumam Sylviana lirih.


"Memang nya kamu yang salah? Kamu yang punya kasus? Kan engga!" ucap Bianca yang pada teman nya yang hilang kontak selama beberapa hari.


"Maaf," Sylviana tak mengatakan apapun lagi.


"Sekarang bagaimana?" tanya Bianca yang menatap ke arah teman nya.


"Kasus nya masih jalan, putusan nya belum keluar tapi..." ucap Sylviana lirih.


"Ada apa?" tanya Bianca yang mengernyit mendengar ucapan yang sepotong itu.


"Aku bakal ke Paris Minggu depan," ucap gadis itu yang menatap ke arah teman nya.


"Paris? Kenapa tiba-tiba?" tanya Bianca yang tak mengerti.


"Papa yang suruh kami pindah, jadi nanti aku sama Mama bakal ke Paris." ucap gadis itu lirih.


"Syl?" panggil nya lirih yang tak jadi kesal lagi sekarang.


Gadis itu menoleh, ia menatap ke arah teman nya.


"Dulu kamu bilang mau jadi pengacara kan?" tanya Bianca pada Sylviana.


Satu anggukan menjadi jawaban namun wajah yang tampak sendu itu seakan mengatakan hal yang lain.


"Tapi aku juga bingung sekarang," ucap nya lirih.


"Kalau gitu kamu jadi pengacara aku aja? Karna mungkin aku di masa depan butuh pengacara dan tentu harus yang pinter dong!" ucap Bianca dengan senyuman tipis.


Sylviana diam sejenak, ia masih diam tak mengatakan apapun.


"Memang nya aku boleh?" tanya nya lirih.


"Kenapa engga? Memang nya kalau kamu nanti ke Paris kamu ga mau temenan sama aku lagi?" tanya Bianca yang menatap ke arah teman nya.


"Bukan nya ga mau, tapi kamu memang nya ga malu temenan sama aku? Papa aku kan..." ucap nya lirih yang sadar semua makian untuk sang ayah yang tersebar di internet.


"Kan yang salah Papa kamu bukan nya kamu, lagi pula kamu juga ga ada sangkut paut nya kan?" tanya Bianca sembari mulai meminum milkshake.


"Bian..." ucap nya lirih yang kemudian pindah tempat duduk ke samping teman nya.


Greb!


Ukh!


"Syl! Aku tersedak tau!" ucap Bianca yang terkejut karna teman nya tiba-tiba memeluk nya dengan erat.


"Berarti aku boleh hubungin kamu lagi dong?" tanya nya yang memeluk teman nya itu.


"Iya, jangan lupa ya? Kamu kan mudah dapat teman." jawab Bianca yang meletakan milkshake nya dan menepuk teman nya yang menempel itu.


"Tapi temen aku cuma kamu, I luv you Bian! Honey Bunny Cherry aku..." ucap gadis itu yang senang karna ia tak di jauhi.


"Haha..."


"Se.. sekarang bisa di lepas dulu ga Syl?"


Bianca tertawa kecil, suara teman nya yang bersemangat haru itu membuat beberapa orang menoleh ke arah nya.


"Tapi aku masih mau peluk!" ucap gadis itu yang terharu untuk hal remeh karna memang sifat nya yang lembut dan rapuh.

__ADS_1


"Tapi kita bisa di kira pacaran Syl! Oy! Aku masih suka yang batang tau ga? Kalau Paman ganteng aku lihat gimana?" ucap Bianca pada teman nya.


Sylviana langsung melepaskan teman nya dan menatap dengan mata nya yang jernih itu.


"Oh iya? Gimana tuh sama Paman itu? Udah dapat nomor nya?" tanya nya yang langsung antusias.


"Belum dapat sih, dia ga mau kasih. Tapi aku udah sering ke apart nya! Tau ga Syl? Kemarin tuh waktu aku ke sana dia abis mandi, wangi banget!" ucap Bianca yang bersemangat.


"Dia respon nya gimana sama kamu?" tanya Sylviana dengan mata antusias.


"Dia kayak anggap aku anak-anak..." ucap Bianca lirih dengan wajah yang sedikit kesal.


......................


Mansion Dachinko


Bianca tersentak, gadis itu menghentikan langkah nya saat mendengar pembicaraan kedua orang tua nya tanpa sengaja.


"Eh? Itu kan apart nya Arnold?" gumam nya yang tanpa sadar mulai menguping.


Ia tak mengerti namun nama tempat tinggal kakak baru nya itu di sebut, tentu ia tertarik mendengar nya karna ia peduli dengan tetangga kakak nya itu.


"Astaga! Bukan anak mu? Lah? Kalau bukan anak Daddy bukan anak Mommy terus dia anak siapa? Anak setan?" gumam nya.


"Kak?"


Gadis itu tersentak, panggilan sang adik membuat nya langsung menoleh dan terkejut.


"Heh! Hush!" ucap nya yang menutup mulut adik laki-laki nya dan membawa nya pergi.


......................


Dua hari kemudian.


Apart Sky Blue.


"Kau makan dulu di sini, nanti di kira si tetangga ga pernah ku masih makan karna selalu minta sama dia." ucap Arnold pada adik nya itu.


"Ar? Kau bukan kakak kandung ku kan? Dalam kata lain anak angkat?" tanya Bianca yang bukan nya menjawab ucapan sang kakak yang meminta nya untuk makan.


Ting!


Sendok yang tengah menata salad itu terjatuh saat mendengar pertanyaan yang baru saja terdengar di telinga nya. Arnold begitu terkejut.


Bianca mendekat ke arah pria itu, ia bersandar di meja masak tempat sang kakak tengah menata makanan nya.


"Iya kan? Kau itu kenapa bisa jadi anak nya Mommy sama Daddy? Padahal ga ada hubungan apapun,"


"Iya sih? Kamu juga kan mirip sama Daddy, tapi kok bisa ya?"


Arnold masih terdiam, ia menatap ke arah gadis dengan tubuh mungil dan wajah yang cantik itu.


"Lalu? Apa yang kau mau? Dengan mengatakan itu pada ku?" tanya Arnold yang menatap ke arah gadis itu.


Bianca tersenyum, ia sebenarnya tak begitu memperdulikan jika orang tua nya mengangkat anak lain.


"Kenapa serius sekali? Aku malah suka kalau kau bukan saudara kandung ku, jadi berarti Daddy ga punya anak lain selain dari Mommy." ucap Bianca yang tertawa kecil.


Arnold masih diam dan menunggu gadis itu mengatakan apa yang ia inginkan.


"Sudah pernah pacaran?" tanya Bianca dengan mata nya yang penasaran.


"Untuk apa pertanyaan itu?" tanya Arnold mengernyit.


"Ajarin!" ucap Bianca yang menatap dengan mata nya yang bersinar.


"Apa?" Arnold mengernyit mendengar nya.


"Ajarin! Cara nya ciuman, pacaran, sekalian step biar bisa tidur bareng! Jadi nanti kalau-"


"Tunggu! Apa yang kau bicarakan!" ucap Arnold yang terkejut.


Bianca terdiam sejenak karna ucapan nya di potong, yang ia sukai pria dewasa yang mungkin sudah memiliki pengalaman dengan banyak wanita sedangkan diri nya?


Jauh dari tipe ideal yang di inginkan pria itu dan tentu ia hanya seperti bayi jika di mata pria yang ia sukai.


Mencari pengalaman dengan sembarangan pria tentu akan menyusahkan, jadi kenapa tidak mencari pria yang bisa ia kendalikan.


Bianca tertawa kecil sejenak, ia mendekat dan menatap ke arah pria itu.


"Masa ga tau sih? Ciuman?" ucap Bianca mengulang sembari mengusap bibir pria itu.


Arnold terdiam, ia tak terbiasa dengan bersentuhan dengan wanita secara intens karna selama di Australia ia hanya belajar dan satu-satu nya yang dekat dengan nya pun hanya ibu dari gadis nakal di depan nya.


Tak!


"Aku anggap tidak dengar," ucap nya yang pergi dengan wajah memerah dan panas.


"Tapi kan udah dengar!" ucap Bianca yang melihat pria itu pergi dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2