
James membuang napas nya dengan kasar, ia bingung bagaimana memperlakukan gadis pucat di depan nya.
Ia tidak mau gadis itu hidup bahagia tapi ia juga tidak bisa membunuh nya sama sekali, ia khawatir saat melihat gadis itu terluka.
Tangan nya bergerak perlahan meraih wajah pucat itu dan mengelus nya perlahan.
Wajah cantik yang pucat itu mengernyit, dan terbangun saat merasakan belaian di wajah nya dengan perlahan.
Tak!
Ia langsung menepis tangan yang mengelus nya dan beranjak bangun walaupun kondisi nya masih tidak memungkinkan.
Kepala nya terasa berputar dan sangat berat, perut nya mual dan seluruh tubuh nya terasa begitu tak nyaman.
"Pergi," ucap nya saat melihat pria itu di depan nya.
Ia pun beranjak bangun dan berjalan keluar, langkah berat dan pandangan yang berputar membuat nya hilang keseimbangan nya dan jatuh.
"Tidak usah bersikap pura-pura kuat, kau terlihat menyedihkan." ucap James sembari beranjak ingin mengangkat tubuh gadis itu.
Louise mengepal mendengar nya, "Memang nya aku minta bantuan mu?" tanya nya sembari menepis tangan pria itu.
Ia pun beranjak bangun lagi, ia tak tau mau kemana namun yang jelas nya ia tak mau berada di satu ruangan tertutup dengan pria itu.
"Nona? Anda seharusnya tidak berada di sini!" ucap Chiko yang terkejut melihat gadis itu keluar dan berjalan karna ia yang paling tau tentang kondisi kesehatan gadis itu saat ini.
Deg!
Louise tersentak, tadi nya bahkan sebelum nya ia bertatapan dan bersentuhan dengan James ia masih baik-baik saja.
Namun kenapa semua itu tidak berlaku untuk pria lain nya juga.
"Anda seharusnya belum keluar, suhu tubuh nona bisa meningkat!" ucap Chiko mendekat dan menyentuh dahi gadis itu.
Louise tersentak, ia membatu tak bergerak, tangan besar yang hangat membuat nya ingat dengan sentuhan yang memaksa nya.
Langkah nya memundur kecil perlahan ke belakang, "Ja-jangan sentuh..." ucap nya lirih dengan suara gemetar.
Chiko mengernyit melihat wajah gadis itu yang seperti terkejut dan terguncang melihat nya, "Nona?"
Akh!
Teriakan yang melengking dan langsung membuat tubuh tersebut jatuh.
James terperanjat ia langsung mendekat dan melihat gadis itu yang jatuh terduduk di lantai, "Ada apa?" tanya nya sembari melihat Chiko.
Chiko menggeleng dengan wajah bingung melihat tubuh gemetar yang terlihat takut tersebut.
"Louise?" panggil James sembari mendekat ke arah gadis itu.
"Pergi," ucap nya lirih sembari menutup telinga dan mata nya dengan rapat.
Tes...
Cairan merah kental yang kembali jatuh di sela-sela hidung mancung gadis itu membuat James kembali membulatkan mata nya.
"Penenang," ucap nya sembari melihat Chiko dan mengisyaratkan agar pria itu menyuntikkan obat penenang nya.
Chiko mengerti ia pun langsung beranjak memberikan suntikan penenang dan kembali memberikan obat untuk gadis itu.
James memegang tubuh yang mulai jatuh itu saat semua cairan yang mampu membuat nya tertidur itu telah habis.
"Priksa dia lagi," ucap pria itu sembari membawa tubuh gadis itu kembali ke dalam kapal.
"Kau bawa baju ganti ku? Bawa juga," ucap nya sebelum masuk pada Nick.
"Baik tuan," jawab pria itu.
...
Chiko tak mengatakan apapun, ia hanya melihat tuan nya yang tidak beranjak sedikitpun dari tempat yang sama.
"Kalau anda khawatir kenapa tidak mengatakan nya saja?" tanya Chiko sembari melihat tuan nya.
"Khawatir? Aku tidak khawatir! Aku hanya..." ucap nya lirih yang tak bisa mengatakan sebenarnya ia sedang apa.
Pria itu pun diam tak lagi bertanya pada tuan nya, ia hanya menatap ke arah pria yang masih menunggu gadis yang tak sadar itu.
"Sepertinya dia melakukan sesuatu, padahal tadi baik-baik saja." gumam nya saat ingat wajah ketakutan dan tubuh yang gemetar gadis itu tadi siang.
"Anda menyukai nya, kalau anda menyakiti nya sama saja anda menyakiti diri anda sendiri." gumam Chiko lirih.
"Omong kosong," decak pria itu saat mendengar nya, ia tak mau mengakui ataupun menerima perasaan nya.
James pun memilih berbalik dan pergi keluar, langit sudah mulai gelap, ia memang bisa kembali lebih dulu namun ia tak ingin meninggalkan gadis itu sendirian ataupun membawa nya, maka dari itu memilih menunggu hingga kakak gadis itu menemukan tempat mereka saat ini.
__ADS_1
...
Mata yang menerjap bangun dan terbuka, tubuh yang sulit bergerak dan terasa begitu berat membuat gadis itu hanya berada di tempat itu saja.
"Anda sudah bangun nona?" tanya Chiko yang masuk ke dalam namun tak mendekat ke arah gadis itu.
Louise melihat nya sekilas dan memejam, "Jangan mendekat," ucap nya lirih karna ia tau batas nya sampai di mana ia merasa takut.
"Saya memiliki pertanyaan," ucap Chiko saat melihat gadis itu.
Louise tak menjawab ia hanya melihat ke arah pria itu yang berdiri dari jarak cukup jauh di mana ia tengah berbaring.
"Anak itu milik tuan?" tanya nya lirih.
Deg!
Mata sayu itu membulat mendengar nya, tangan nya langsung refleks menyentuh perut nya secara tak sadar.
"A-apa yang kau bicarakan?" tanya nya gugup, ia tak ingat jika sempat sadar sebelum nya dan bahkan melarang pria itu memberi tau.
"Saya sudah tau, sekarang anda bisa mengatakan nya? Oh iya saya belum ada memberitahu tuan tentang masalah ini," ucap nya lagi.
Louise terdiam mendengar nya, "Lalu apa dia baik-baik saja?" tanya nya lirih.
Ia tak bisa memastikan kondisi nya sendiri karna ia juga sangat lemah saat ini.
"Tidak, secara medis nona harus segera keluar dari sini dan mendapat perawatan yang memadai untuk anda dan juga anak anda," jawab Chiko menggeleng dan terus menatap gadis itu menunggu jawaban.
"Dia anak ku, hanya anak ku tidak ada kaitan nya dengan pihak mana pun..." jawab Louise lirih.
Chiko membuang napas nya pelan, gadis itu tak mengatakan jika itu adalah anak pria lain dan memilih mengatakan anak itu milik nya.
"Sebaiknya anda beri tau tuan," ucap nya lirih.
"Lalu dia akan membunuh anak ku juga?" tanya Louise tersenyum pahit.
"Anda kan tidak tau apa yang akan terjadi? Kenapa tidak mencoba nya?" tanya Chiko mengernyit.
"Dia saja membenci ku, menurut mu dia akan senang hati menerima ini anak nya?!" tanya Louise yang mulai kesal, ia ingat pria itu yang mengatakan tak mengharapkan ataupun menginginkan anak nya.
"Jangan bicarakan hal ini lagi, seperti yang ku bilang tadi, anak yang berada di tubuh ku milik ku! Jadi jangan ikut campur!" Jawab nya lirih.
Tak ada pembicaraan lagi hingga James datang dan melihat suasana yang tampak keruh dan tak bersemangat di dalam nya.
Chiko pun keluar saat melihat tuan nya datang sedangkan Louise tak bisa bergerak dengan bebas karna kondisi tubuh nya.
Louise langsung menepis tangan yang datang pada nya, "Kenapa membantu ku? Harus nya kau biarkan saja kan?" tanya nya sembari melirik tajam.
"Aku juga ingin melakukan nya tapi aku masih ingin melihat mu hidup lebih lama jadi aku bisa tetap membenci mu," Jawab James sembari melihat wajah yang pucat tersebut.
"Membenci ku? Memang nya apa yang sudah ku lakukan pada mu?" tanya nya dengan iris bergetar pada pria itu.
"Kau tidak pernah berpikir kalau mungkin saja eksperimen manusia yang di lakukan ayah mu karna mu? Dan untuk menutupi nya dia melakukan apapun, hanya untuk hidup putri nya dan membuat hidup orang tidak berharga?" tanya pria itu mendekat.
"Lalu kau harus nya membunuh ku saja kan? Semua nya akan berakhir, tidak sulit untuk orang seperti mu melakukan nya," ucap Louise tertawa pahit.
James diam tak membalas, ia sudah pernah mencoba melakukan nya namun tak bisa sama sekali.
Louise membuang mata nya, ia beranjak bangun dan berdiri diatas kedua kaki nya, rasa nya enggan tak ingin bersama di tempat tertutup dengan pria itu seperti sebelum nya.
James hanya melihat gadis itu yang keluar dengan langkah tertatih, sudah hari ke lima mereka hilang dan menunggu kakak gadis itu datang setelah di berikan petunjuk.
Ia pun mengikuti langkah gadis itu hingga sampai di luar, "Oh ya, tadi kau bilang mungkin saja karna aku kan? Tapi kurasa orang tua mu juga tidak sebaik itu? Keadilan? Kau yakin hanya itu?"
James mengernyit, sedangkan Chiko dan Nick yang tak jauh dari mereka mengernyit melihat nya, ia tau tuan nya sangat sensitif dengan apapun yang berhubungan dengan orang tua nya.
Tangan Louise mengepal, ia memang tak membenarkan perbuatan ayah nya namun bukan berarti ia akan suka mendengar sang ayah yang terus di bicarakan dengan buruk.
"Apa maksud mu?" tanya James lagi.
"Kalau di pikir lagi bukan karna ayah ku orang tua mu meninggal, variabel utama? Walaupun benar tapi musuh orang tua mu sendiri yang melakukan nya," jawab Louise tersenyum.
"Kalau dia memang orang yang baik, dia tak akan memiliki banyak musuh kan?" sambung nya lagi.
James memanas mendengar nya, ia tau bagaimana keluarga mereka saat kedua orang tua nya masih hidup, ia juga tau ayah nya selalu menjadi jaksa yang jujur dan tak pernah menerima suap.
"Berhenti bicara, kau tau? Aku sangat ingin menembak kepala mu sekarang," ucap nya dengan penuh penekanan.
"Kalau begitu lakukan? Kau membenci ku kan? Tapi kau tidak bisa menembak ku," ucap nya nya tersenyum getir.
Ia tau ucapan nya memprovokasi pria itu, dan bahkan balikan fakta dari yang ia ucapkan tentu nya membuat pria itu geram karna dari sisi manapun tetap ayah nya yang bersalah.
James tertawa getir melihat keberanian gadis itu, ia juga merasa geram sekaligus tangan nya dengan cepat mengambil pistol yang berada di tangan Nick.
Louise tak bergerak, ia tak beranjak sedikit pun dari tempat ia berdiri walaupun pria yang berada di depan nya menyodorkan pistol ke arah nya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Kalau kau menarik pelatuk nya balas dendam mu tetap berjalan kan? Kau bilang karna ku? Kalau begitu lakukan," ucap nya lirih dengan suara tercekat.
"Nona!" ucap Nick yang terlihat gelisah saat gadis itu terus memprovokasi tuan nya.
"Tuan, jangan lakukan." ucap Chiko berusaha mendekat, ia tau tentang kandungan gadis itu dan takut tuan nya menyesali sesuatu yang bahkan belum ia ketahui.
James tak bisa menarik pelatuk nya walaupun ia sangat marah, ia tak bisa benar-benar menembak gadis itu.
"Kau tau apa yang kau katakan?" tanya nya sembari menatap mata yang terlihat sayu di depan nya.
"Kau hanya melihat luka mu," jawab Louise dengan suara tercekat.
Luka yang hanya di rasakan pria itu tanpa pernah berpikir jika ia juga sudah memberikan banyak luka untuk orang lain, jika balas dendam yang ia lakukan juga sudah melangkah sangat jauh namun masih belum berhenti.
DOR!!!
Suara tembakan yang membuat mereka terkejut, James melepaskan pistol di tangan nya, cairan merah kental mulai mengalir.
"Lindungi tuan!" ucap Nick saat pengawal yang lain nya juga mengerubungi pria itu.
Sedangkan Louise tersentak dan terkejut, Ia langsung menoleh ke arah sumber tembakan.
"Louis?" gumam nya melihat dan menyipitkan mata nya pada pria yang menembak tangan yang menodongkan pistol ke arah nya.
Senjata api yang saling berhadapan satu sama lain dan tatapan yang tajam terlihat seperti sama-sama ingin memangsa.
Greb!
Pria itu langsung menarik tangan pucat saudari nya dan membawa nya ke sisi nya, sedangkan ekor mata gadis itu melihat ke arah tangan pria yang terluka karna peluru sang kakak.
"Jangan! Kita kembali saja!" ucap nya sembari mencegah tangan sang kakak.
"Kau gila?! Kit-"
"Pulang, bawa aku kembali, ku mohon..." ucap Louise lirih sembari meremas lengan sang kakak.
Wajah pucat yang terlihat lebih memerlukan bantuan medis di bandingkan hujanan peluru yang tak ada habis nya membuat nya pria itu tak melakukan apapun dan hanya membawa adik nya.
"Ini belum berakhir," ucap nya sembari melirik tajam sebelum pergi.
James tersenyum melihat nya, darah yang mengalir di lengan nya tak begitu terasa bagi nya.
"Ini memang belum berakhir," gumam nya sembari menatap mereka pergi menjauh.
......................
JBS Hospital
4 Hari kemudian.
Louise yang kembali jatuh tak sadarkan diri membuat sang kakak panik dan langsung memberikan semua bantuan medis saat sampai di rumah sakit.
Gadis cantik itu tak sadar selama beberapa hari, kandungan yang melemah dan hampir keguguran karna kondisi tubuh sang ibu yang terus mengalami penurunan membuat dosis obat nya semakin di tinggi kan.
"Sekarang kau sudah bisa bilang apa yang terjadi?" tanya Louis hati-hati pada sang adik.
Hening tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut gadis itu.
"Aku sangat ingin membunuh nya!" decak Louis yang merasa kondisi adik nya saat ini karna pria itu.
"Jangan, kau tidak boleh melakukan nya." ucap nya yang mulai membuka suara.
"Tidak boleh? Kenapa?" tanya Louis yang langsung mengernyit mendengar ucapan sang adik.
"Apa tidak bisa di selesaikan tanpa membunuh satu sama lain?" tanya Louise lirih.
"Menurut mu dia bisa? Dia saja mengarahkan pistol nya pada mu!" ucap Louis pada adik nya.
"I know but I love him," jawab gadis itu lirih.
...****************...
Sebelum nya othor mau bilang maaf karna up nya lama banget, tapi seperti yang pernah othor bilang kalau othor lagi sibuk banget sekarang yah karna semester akhir.
Dan memang waktu othor sendiri aja uda kesusahan ngatur nya, jadi othor mohon maaf sekali lagi.
Alasan dengan kesibukan pribadi othor itu yang no satu dan yang alasan yang kedua karna kondisi kesehatan othor, othor dari sakit sampe sekarang belum ada istirahat nya sama sekali dan alhasil juga ga bener-bener fit sampe sekarang walaupun udah ga sedemam seperti sebelum nya.
Jadi mohon maklum yah, othor nya juga ga minta tapi memang ini yang terjadi...
Sebenernya othor juga ada mau othor hiatuskan sampai bulan 9 di dua nopel othor tapi kelamaan juga, jadi ttp othor usahain up walaupun seminggu sekali karna kesibukan dan satu lagi kondisi kesehatan othor yah,
Okey sampai di sini pemberitahuan nya, salam cinta dari othor💕💕💕
Happy Reading💕💕💕
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya❣️❣️❣️