(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
B'Day


__ADS_3

Suara alat yang saling menyahut satu sama memenuhi ruangan tersebut.


Cairan merah kental itu pun menyembur karna mengenai titik di mana saluran darah tersebut mengalir.


Peluru yang beroleskan darah itu kini sudah di angkat, perdarahan nya masih sama namun para dokter itu segera mencari titik di mana menghentikan nya.


Suara napas lega yang terdengar lirih melihat dan menekan ke arah titik perdarahan, alat yang memonitoring tubuh yang masih lemah itu tentu nya masih berbunyi bersahutan satu sama lain.


Sementara itu


Derap langkah yang berlari dengan cepat memenuhi lorong rumah sakit besar itu, napas nya terdengar tak beraturan dan wajah yang terlihat gugup.


"Louis?"


Pria itu menoleh, ia tau jika kabar tentang sang adik pasti sudah sampai pada sahabat nya.


"Kondisi nya menurun tapi dia mendapatkan darah jadi bisa di operasi saat ini." jawab Louis lirih dengan nada tak semangat.


"Dia akan baik-baik saja," Zayn pun tak tau apa yang akan terjadi namun ia hanya mengatakan sesuatu yang menjadi harapan nya.


"Ya, tentu..." gumam Louis tersenyum lirih.


"Zayn?" ia memanggil pria yang duduk di samping nya menunggu kabar dan berharap dengan harapan yang sama pula.


"Kau masih menyukai Louise? Atau kasihan?" tanya pria itu lirih, wajah nya tak menggambarkan apapun dengan mata yang menatap kosong.


"Itu konyol," jawab nya pada pertanyaan yang tak ingin ia jawab.


"Kau tau kan? Mungkin dia tidak akan sama seperti dulu lagi," sambung Louis pada pria itu.


Bukan nya ia yang ingin langsung menikahkan adik nya namun ia takut ia malah memberi teman hidup yang membuat sang adik semakin menderita.


"Tidak sama? Apa dia akan mati lalu ada arwah orang lain yang masuk ke tubuh nya?" jawab pria itu dengan senyuman getir.


Louis menoleh, ia menatap ke arah wajah yang menyandarkan kepala nya ke dinding dan memejam.


"Kau tau bukan itu maksud ku kan?" ucap Louis sekali lagi.


Walaupun nada bicara nya terdengar tenang namun ia tanpa sadar mematahkan salah satu kuku nya karna begitu gugup untuk mendengar kabar operasi yang akan keluar nanti nya.


"Bukan nya kau juga begitu? Maksud ku tentang Clara, dia juga tidak sama seperti dulu kan? Apa kau tidak menyukai nya lagi?" Zayn yang mengembalikan pertanyaan sabahat nya itu.


Walaupun ia tak sampai tau sebanyak apa yang terjadi dalam rumah tangga teman nya namun ia mengetahui garis besar nya, tentang kecelakaan dan juga luka apa yang membekas pada mantan istri teman nya itu.


"Itu berbeda, kalau Clara aku memang melakukan kesalahan, aku yang buat dia jadi seperti itu tapi Louise?"


"Kau tidak melakukan apapun pada nya, bukan kau juga yang menganjurkan..." ucap Louis lirih.


"Lalu?" pria itu menoleh menatap dengan mata yang tidak terlihat ragu.


"Kau takut aku mempermasalahkan kekurangan nya?" tanya nya menebak.


Louis diam, memang kalau ia pikir lagi jika pun nanti sang adik akan kembali sehat seperti sebelum nya dan memiliki pasangan hidup ia ingin seseorang tak mengetahui banyak tentang masa lalu yang pernah di alami.


Ia tak tau dan tak bisa menebak apa yang sudah di lakukan pada pria yang menculik adik nya dengan membawa dendam, ia bahkan tak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi, selain wajah cantik dan kekayaan saudari kembar nya memiliki luka yang cukup besar.


"Kau membuat nilai untuk adik mu sendiri?" Zayn yang kembali bertanya.


"No, I'm just afraid she won't be happy..." ucap nya lirih.


"Kau masih cinta dengan mantan istri mu?" Zayn menarik napas nya begitu mendengar jawaban dari teman nya itu.


"Kau tau ini bukan perta-"


"Cukup jawab saja," ucap pria itu memotong.


"Ya," jawaban yang cukup singkat namun merangkum semua nya.


"Kenapa?" tanya Zayn pada pria itu.


Louis diam sejenak, aneh kan? Bicara soal masalah nya saat menunggu kabar tentang hidup adik nya.


"Karna dia Clara," ucap nya singkat namun tetap menjawab nya.


"Sama," sambung Zayn seketika, "Aku juga suka Louise karna dia Louise."


Louis diam tak mengatakan apapun lagi, bahkan pembicaraan itu tak lagi berlanjut dan kini hanya menunggu kabar tentang operasi gadis cantik itu.


......................


Greb!


Bocah laki-laki itu hampir terjatuh di lantai mall yang dingin keras dan tersebut.


"Mo..mommy?" gumam nya lirih menatap sang ibu dan juga tangan yang terasa sakit karna genggaman yang kuat.


Netra yang terlihat marah dan geram itu memejam seketika dan mengatur kembali ekspresi nya.


Tak!


Tangan wanita itu langsung di tepis dengan salah satu pengawal yang sedang menemani anak kecil itu belanja mainan kesukaan nya.


"Apa yang kau lakukan? Aku mau bicara dengan anak ku!" ucap nya ketus pada pria bertubuh tegap itu itu.


Tak ada jawaban, hanya tatapan tajam yang melihat ke arah nya dan membuat harga diri nya turun ketika orang-orang yang berada di dalam mall melihat nya.


"Al? Ini Mommy nak? Kamu kenapa? Hm?" suara lembut yang memanggil anak berumur lima tahun yang tengah bersembunyi di balik kaki pengawal nya.


Arnold tersentak, ia menatap ke arah ibu yang melihat nya dengan mata lembut dan suara yang lembut.


Anak kecil tetap lah anak kecil yang menginginkan kasih sayang orang tua nya dan juga sifat polos dan naif yang mudah tertipu.


"Mo..mommy..." gumam nya lirih yang melewati kaki pengawal nya dan dan langsung memeluk wanita itu.

__ADS_1


Walaupun ia dulu nya pernah di pukuli namun setidaknya sang ibu akan memperhatikan nya sedikit.


Bagi anak yang tidak tau apapun itu lebih baik di pukuli dan kemudian di sayangi di bandingkan di abaikan namun terlindungi.


Ya! Itu wajar karena ia masih anak-anak yang tak bisa menggunakan pemikiran nya yang belum dewasa.


"Al? Mommy kangen sama Al..." ucap Bella sembari membalas pelukan putra nya itu.


...


Ya, kini walaupun dengan pengawasan wanita itu dapat makan bersama putra nya yang hampir setahun tak pernah bertemu dengan nya lagi.


"Al? Al mau ikut dengan mommy lagi?" tanya nya dengan senyuman.


Al langsung menoleh, tangan yang penuh dengan krim itu menatap sang ibu dengan mata berbinar.


"Mau! Tapi Daddy bakal ikut gak Mom?" tanya nya dengan nada yang terlihat sedih saat menyebutkan tentang ayah nya.


"Al tau Daddy ada di mana sekarang?" senyuman yang licik itu tak bisa di baca oleh anak berumur lima tahun yang polos tersebut.


"Daddy di rumah sama adik Al," celetuk nya polos.


Deg!


Mata wanita itu langsung membuat mendengar kata 'adik' dari bibir putra nya.


Wanita jal*ng mana lagi yang bersama nya?!


"Mommy?" panggil Al dengan mata yang berbinar saat melihat wajah sang ibu berubah.


"Al punya adik sekarang? Al tau dari mana?" tanya nya lagi yang kembali mengalihkan fokus nya kembali pada putra nya.


"Al kan lihat! Daddy sama ka-"


Mata yang berbinar itu membulat, ia hampir mengatakan sesuatu yang tak boleh ia katakan, karna ia ingat sang ayah menyuruhnya untuk tak memberi tau jika 'kakak baik' nya tinggal dengan sang ayah.


"Daddy sama siapa?" tanya Bella yang langsung ingin mendesak putra nya.


Al menggeleng saat ibu nya bertanya, ia bingung bagaimana harus menjawab nya.


"Al?" panggil Bella lagi sembari memegang tangan putra nya dengan kuat.


"Sa..sakit Mom..." ucap nya lirih sembari mendorong tangan sang ibu dengan tangan nya yang mungil itu.


Tak!


"Kami harus kembali," ucap si pengawal yang langsung menepis tangan Bella karna melihat kini bocah itu mulai tak nyaman.


Al diam saja saat ia di bawa pergi, tak memberontak ataupun meminta bersama sang ibu.


Pergelangan tangan nya yang mungil itu terlihat membiru namun ia tak menangis dan hanya menggenggam dengan tangan mungil nya yang lain menutupi memar tersebut.


......................


Louis membuang napas nya lirih, ia memang mendengar beberapa kondisi yang tengah di alami adik nya.


Namun setidaknya kini sang adik tak lagi berada di dalam kotak kaca berwarna putih itu, ia bisa menggenggam tangan lembut itu dengan tangan nya.


"Louise? Bangun ya? Kau pasti bisa kan?" tanya nya lirih sembari menggenggam tangan sang adik.


"Jangan pergi kemanapun, di sini rumah mu..." ucap nya sembari mencium punggung tangan yang terlihat lebih kurus tersebut.


"Atau kau marah karna aku tidak menjemput mu? Karna aku tidak tau?" tanya lagi lagi pada gadis yang tak mungkin menjawab pertanyaan nya.


"Maaf..."


"Aku benar-benar terlambat..." gumam nya lirih yang terus menatap ke arah gadis itu.


...


Sesuai rencana awal, Louis ingin memindahkan sang adik ke Kanada setelah operasi, tentu nya ia melakukan hal tersebut karna ingin adik nya tetap terlindungi dari jangkauan pria itu.


Ia tak bisa melupakan hari di mana ia memeluk tubuh saudari nya yang penuh dengan darah.


"Kau mau membawa nya ke Kanada?" tanya Zayn mengulang.


"Hm, aku tau ini sedikit kurang sopan setelah pertanyaan ku waktu itu tapi apa kau-"


"Aku ikut," jawab pria itu cepat sebelum teman nya menyelesaikan pertanyaan.


"Hm, aku akan mengurusnya dalam bulan ini dan setelah masalah penelitian darah nya keluar." ucap Louis pada Zayn.


Ia memang menyusahkan sedikit darah yang di dapatkan untuk melakukan penelitian seperti apa yang ia bilang pada asosiasi agar tak membuat darah itu seakan untuk hidup adik nya.


......................


Mansion Dachinko.


"Tidak ada kabar apapun?" James yang kali ini lebih dulu bertanya karna begitu ingin tau.


"Mereka membayar imbalan dan juga benar-benar melakukan penelitian tuan," jawab Nick lirih sembari memberikan beberapa dokumen yang berada di dalam map coklat itu.


"Penelitian..." James hanya bisa bergumam dan kembali meletakkan dokumen di depan nya.


Tak ada jawaban yang ia inginkan, ia pun menyuruh Nick untuk meninggalkan tempat nya saat ini.


Ia memejamkan mata nya sejenak, tak ingin melihat ke arah dokumen di depan nya.


Kau tidak makan belakangan ini?


James membuka mata nya, suara gadis itu kembali di telinga dan berbicara pada nya.


Kenapa terus menekuk wajah mu?

__ADS_1


Ia diam, tak mungkin ia menjawab pertanyaan yang sebenarnya tak ada tersebut.


*Kau kan tidak mencintai ku, kenapa bersikap seperti itu?


Jangan bersikap seperti aku yang melukai mu*...


Gadis itu seakan berbisik pada nya, suara lembut yang terdengar seperti peringatan dan juga mengingatkan pria itu kembali.


"Aku mencintai mu..."


"Aku ingin mengatakan nya," gumam nya lirih yang ingin menyentuh bayangan yang langsung memudar dan hilang jika ingin ia sentuh.


...


4 bulan kemudian.


Baby Bianca tersenyum dan tertawa melihat cake di depan nya, cake pertama yang ia dapatkan dengan bentuk cantik yang di berikan dekor bunga.


Anak menggemaskan itu kini sudah bisa duduk dan berdiri lalu berjalan beberapa langkah di tahun pertama nya.


"Bian? Lihat Daddy?" panggil pria itu pada putri nya.


"Nya! Addyy..." jawab nya sembari mencomot kue di depan nya dengan tangan mungil nya dan langsung memakan nya.



Pria itu hanya memberikan senyuman tipis pada putri nya yang terlihat menikmati cream yang memiliki rasa manis itu.


"Suka?" tanya nya sembari mendekat setelah memotret putri kecil nya.


Memang ada beberapa momen yang tak bisa di lewatkan begitu saja termasuk ulang tahun pertama darah daging nya itu.


"Nya!" tangan kecil itu menyodorkan cream yang berada dalam genggaman nya pada mulut sang ayah.


James tak mengatakan apapun walaupun putri nya membuat wajah nya penuh cream dan membuat pakaian nya kotor.


"Mommy kamu juga suka cake," ucap nya sembari mengusap wajah belepotan tersebut dengan tissu secara lembut.


"Ammy? Ammy uca cek," jawab nya yang masih tak pandai berbicara.


"Iya..."


"Mommy kamu juga suka..." jawab nya lirih sembari melihat pada bayangan kosong di depan nya.


Di balik iris nya saat ini ia melihat gadis itu yang ikut duduk di depan nya, menatap dengan tersenyum ke arah putri nya.


Hanya dia? Aku tidak di berikan cake nya juga?


Pria itu tertawa lirih menatap bayangan yang ia ciptakan dengan mata nya sendiri.


"Seharusnya kau juga di sini..." gumam nya lirih dengan suara yang tercekat walaupun harus nya ini menjadi hari yang menyenangkan untuk nya karna merupakan ulang tahun putri nya.


Semua orang yang berada di sekeliling nya mengatakan waktu dapat menyembuhkan segala hal termasuk rasa sakit namun bagi nya waktu yang semakin berjalan membuat rasa sakit nya semakin besar.


Momen pertama yang bagi nya berharga untuk ia dan putri nya entah mengapa membuat nya merasa tak nyaman saat ia gadis itu tak ada, dan alasan mengapa gadis itu tidak ada adalah karna ia sendiri.


"Addy? Ncah!" ucap nya polos dengan bahasa yang tak bisa di mengerti dan wajah yang mengernyit menggemaskan saat mengambil cream yang ia serakkan di wajah sang ayah dengan tangan mungil nya.


Tuan putri kecil itu mana tau rasa nya air mata seseorang jika ia sendiri pun bahkan belum mengenal rasa asin yang tercampur dengan cream nya yang manis itu.


James kembali menoleh, ia hanya tersenyum kecil melihat ke arah wajah putri nya yang terlihat lucu, ia pun mengarahkan tangan mungil itu ke cake bulat yang cantik itu lagi.


Baby Bianca pun langsung mencomot dengan dua tangan nya dan kembali memasukkan nya ke dalam mulut nya yang masih di isi dengan beberapa gigi susu itu.


James tak mengatakan apapun ia mengusap wajah nya yang penuh dengan cream dan juga beberapa buliran bening yang jatuh tanpa ia sadari sama sekali.


Tangan nya memeluk tubuh mungil putri nya, memangku nya sembari mengecup puncak kepala putri kecil nya beberapa kali.


"Ammy cek! Addy cek!" celoteh bayi mungil yang tidak di ketahui apa yang ia bicarakan itu sembari menyodorkan tangan nya penuh dengan cream dan kue yang bercampur padu menjadi satu.


"Iya, ini untuk Mommy sama Daddy cake nya?" tanya pria itu sembari mengambil cream yang hancur lebur di tangan putri kecil nya.


Baby Bianca tak menjawab ia hanya melengos dan kembali memakan cake nya setelah memberikan dua genggaman cake yang ada di tangan nya sebelum nya.


🌸🌸🌸


🌸🌸


🌸


Pijakan berwarna putih dan ruangan tak berujung, aku sendiri tapi aku tidak merasa kesepian sama sekali.


Setiap langkah yang ku lalui tak merasakan rasa sakit sama sekali, tentu aku mencoba nya.


Aku berlari sekencang mungkin saat tubuhku terasa ringan, aku bisa bernapas!


Tidak ada sakit di dada ku, aku bahkan tidak perlu meminum obat apapun.


Aku benci sendirian tapi entah kenapa sekarang walaupun aku sendiri di tempat yang tidak aku tau, aku tidak membenci nya sama sekali.


Di sini cukup tenang, tak ada suara berisik ataupun yang menganggu ku.


Tapi aku penasaran...


Mata ku terus menoleh ke belakang, aku ingin sendiri tapi aku aku merasa aku juga ingin kembali.


Apa tidak apa-apa?


Aku tidak tau apa yang akan menunggu ku nanti nya...


Aku juga tidak tau apakah akan baik-baik saja nanti...


Aku juga bingung, kenapa aku berada di tempat di tempat ini sendirian, padahal ku pikir aku bisa menemui Mama Papa...

__ADS_1


Atau memang aku harus nya tidak di sini?


__ADS_2