
Gadis itu tampak tak fokus sama sekali, calon ibu mertua nya tengah berbicara sedangkan ia yang terdiam tak mengatakan apapun dan tampak memikirkan hal lain.
"Louise?" suara wanita yang lembut itu memanggil nya sembari menyentuh lengan nya.
Gadis itu menoleh, ia menatap ke arah wanita yang baru saja memanggil nya itu, "Iya? Bi?" sahut nya seketika.
"Panggil Mama dong, biar ga kebiasaan!" ucap Larescha tersenyum.
Ia tak pernah membayangkan putri sahabat nya itu akan menjadi menantu nya, karna tanpa gadis itu masuk ke keluarga nya pun ia sudah menyayangi seperti pada putri kandung nya sendiri.
"I..iya..." jawab Louise dengan senyuman tipis.
Zayn diam tak mengatakan apapun tentang sikap gadis itu, Louise terlambat 45 menit dari waktu yang di janjikan sebelum nya dan saat ia temui gadis itu tampak tak seperti biasa nya dan tak mengatakan apapun pada diri nya.
Louise kembali fokus mendengarkan pembicaraan tentang pernikahan nya itu.
Membatalkan nya?
Berapa banyak harapan yang akan ia hancurkan jika ia membatalkan nya sepihak?
"Suka kan nak?" tanya Larescha yang ingin tau pendapat menantu nya itu.
Louise tersenyum, ia mengangguk dan menyukai apa saja yang di pilih oleh calon ibu mertua nya itu.
......................
Mansion Dachinko
Suara ketukan terdengar, gadis kecil itu menoleh dan melihat ke arah seseorang yang datang.
"Mommy malah sama Bian?" tanya Bianca pada sang ayah.
James menarik napas nya dan duduk di samping putri nya yang tampak lesu itu.
"Kenapa Bian potong kucing nya?" tanya nya sembari mengusap kepala gadis kecil itu.
"Miaw nya nakal, Mommy main sama Miaw tapi ga sama Bian..." ucap nya yang menunjukkan kecemburuan pada hewan yang menggemaskan dan berakhir tragis di tangah mungil nya.
James tak mengatakan apapun, ia tak pernah menyalahkan putri nya walau senakal apa gadis kecil itu.
"Mommy malah?" tanya nya lagi pada sang ayah.
"Terus kenapa Bian taruh di kulkas? Kan bisa ketauan Mommy?" tanya pria itu pada putri nya.
"Kalna kan bial ga ketahuan kalau di kuyas..." jawab nya yang mengira kucing sang ibu akan sama seperti daging potong lain nya.
"Bian? Tau ga? Kalau Bian mau buat sesuatu yang ga boleh ketahuan, Bian juga harus sembunyi dari itu?" ucap nya yang menunjuk ke arah kamera pengawas di kamar putri nya.
Ia meletakkan kamera pengawas itu untuk bisa selalu memantau apa yang di lakukan putri kecil kesayangan nya.
Karna memang gadis kecil itu sudah belajar tidur sendiri saat menginjak usia satu tahun.
"Itu apa?" tanya Bianca menatap bingung.
"Itu kamera ajaib seperti bola ajaib peramal," jawab James yang tak ingin rumit menjelaskan pada putri nya.
"Ohh..." Bianca mengangguk, dan ia pun kembali menoleh ke arah sang ayah.
__ADS_1
"Mommy malah?" tanya nya yang ketiga kali nya.
James membuang napas nya, memeluk putri kecil nya yang begitu ia sayangi itu.
"Mommy ga marah kok, tapi lain kali Bian ga boleh ketahuan lagi. Kalau ada sesuatu yang buat Bian terganggu kasih tau Daddy," ucap nya pada putri kecil nya.
Ia menyayangi, memanjakan, dan merawat putri kecil nya itu dengan cara nya sendiri.
Pria itu tak tau apa yang ia lakukan itu benar atau tidak untuk pembuatan karakter putri kecil nya yang ia tau ia hanya memiliki kasih sayang buta yang membuatkan gadis kecil itu melakukan apa saja asalkan senyuman terukir di wajah menggemaskan itu.
......................
Apart Sky Blue
Zayn menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terdengar guyuran air itu.
Mata nya pun teralihkan dengan ponsel tunangan nya, perasaan nya gugup saat ia mengambil ponsel gadis itu seperti ingin mencuri nya.
Membuka pesan dan membaca nya, chat di hari-hari sebelumnya telah terhapus dan hanya ada chat di hari itu.
Deg!
Ia tersentak, gadis itu terlambat tadi pagi karna mengunjungi ke ke tempat mantan kekasih nya.
Riwayat panggilan telpon di hari yang sama pun masih tercatat.
Memang sebagian besar berisi tentang pembicaraan anak namun beberapa hal bukan pembicaraan tentang anak sama sekali.
Suara air yang berhenti membuat pria itu langsung meletakkan kembali ponsel tunangan nya.
Louise keluar, ia pun membasahi wajah nya dengan perawatan malam dan membaringkan tubuh nya di atas ranjang pria itu.
Zayn tak mengatakan apapun, ia memilih untuk bungkam sekali lagi.
"Kau lelah?" tanya nya dengan lembut sembari mengusap rambut gadis itu.
"Iya, aku tidur dulu ya." jawab Louise lirih yang merasakan penat setalah seharian mengurus acara pernikahan yang akan di lakukan sebentar lagi itu.
"Ya, selamat malam." ucap Zayn sembari mengecup dahi gadis itu sekilas.
Lalu beranjak, Louise tak mencegah pria itu karna ia memang sangat membutuhkan istirahat segera. Ia pun segara jatuh tertidur.
......................
Ke esokkan hari nya.
Cafe
Kedua pria yang saling memandang tanpa mengatakan apapun itu.
Melihat satu sama lain namun tak ada satupun yang memulai pembicaraan selama beberapa waktu.
"Kenapa kau mengajak bertemu?" salah satu nya bersuara.
Hal pertama yang ia tanyakan adalah mengapa pria itu ingin menemui nya dari pada dari mana nomor telpon nya di dapatkan.
"Kalian sering bertemu? Selain masalah Bianca?" Pria itu bertanya sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan yang lontarkan pada nya.
__ADS_1
"Kenapa tidak tanyakan pada dia saja? Kenapa tanya aku soal itu?" ucap James yang enggan memberi komentar.
Zayn diam, "Bukan nya seharus nya kau menjauhi nya?" tanya nya pada pria itu.
James diam, ia tak menjawab ataupun menyangkal dan mengiyakan nya.
"Aku tau kalian punya anak tapi tetap saja dia akan menikah dengan orang lain, jadi kalau dia tidak tau batasan nya kau bisa menarik nya lebih dulu." sambung pria itu walau pernyataan nya masih belum ada komentar.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa di hindari," jawab James sembari membuang wajah nya ke arah lain.
"Bukan nya tidak bisa, tapi kau tidak mau." Zayn yang langsung mematahkan ucapan ptia itu.
"Kau terlihat gelisah," ucap James yang kembali melihat ke arah pria itu.
Zayn diam sejenak, "Seharusnya kau manfaatkan kesempatan dulu waktu dia masih bersama mu, tapi sekarang dia tidak lagi dengan mu."
James menarik napas nya dengan berat, ia tau kesalahan nya namun ia tak bisa memutar waktu kembali.
"Sadarlah, dia bukan wanita yang akan kau nikahi tapi wanita yang akan ku nikahi. Jangan merebut milik orang lain." ucap nya pada pria itu.
Memang benar jika ia kini yang lebih memiliki hak tentang gadis itu, walaupun pria di depan nya adalah ayah dari putri tunangan nya, namun tetap saja yang akan menikahi gadis itu adalah dirinya.
Dan ia pun tak memulai hubungan nya dengan gadis itu dengan cara berselingkuh atau pun merebut nya dari mantan kekasih gadis itu sendiri.
Ia memulai hubungan saat pria itu seperti tak lagi menginginkan gadis yang sangat ia cintai, dan sekarang?
Pria itu ingin merebut sesuatu yang dulu ia campakan?
James terdiam, walaupun ia mencoba sepenuh hati untuk rela namun tetap saja dada nya bergemuruh tak terima jika gadis itu akan menikah dengan pria lain.
"Batasan? Kau minta aku untuk menarik batasan?" tanya nya dengan senyuman simpul.
Semencoba apapun ia berusaha namun ia tak bisa menghentikan diri nya menjadi pengganggu hubungan orang lain.
"Bagaimana kalau kami sudah melewati batasan itu?" ucap James yang tanpa sadar memprovokasi pria di depan nya dengan niat mengacaukan pernikahan yang tinggal kurang dari dua Minggu itu.
Zayn diam, ia mengernyit dengan hati yang semakin gusar.
"Kau tau? Kami sudah melewati batasan yang kau bicarakan, dengan kata lain kami sudah tidur bersama." sambung dengan senyuman simpul pada pria itu.
Deg!
Zayn terdiam, sesuatu yang meluap di perut nya naik ke dada nya hingga membuat nya merasa sesak.
Tenggorokan yang tercekat membuat nya tak bisa berkata-kata.
"Sekarang kau sudah tau? Dia tidak menginginkan mu sama sekali. Kalau dia memang mencintai mu dia tidak akan tidur dengan pria lain padahal tunangan nya sedang mencari nya nya kan?" ucap James sekali lagi.
Ia tak tau kenapa ia bersikap kekanakan dengan mengadu dan mengatakan sesuatu yang memprovokasi seseorang namun jika itu berhubungan dengan gadis yang sudah begitu masuk ke dalam hati nya ia sering kehilangan akal.
BUGH!
Satu pukulan keras melayang, orang-orang di sekitar pun langsung berteriak terkejut.
James bangun, sudut bibir nya pecah akibat pukulan keras yang baru ia dapatkan tanpa persiapan itu.
"Tutup mulut mu!" suara yang terdengar gemetar akibat ketidakstabilan emosi yang meluap itu.
__ADS_1
Mata yang tertuju dengan suara bisikan yang berisik tetap membuat suasana yang tegang itu belum terhentikan.