(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Coklat


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Mansion Dachinko


Louise membuang napas nya, sejak beberapa waktu terakhir suami nya itu sangat sensitif dengan tempat tinggal putra angkat nya.


"James? Sebenarnya ada yang belum kau beri tau pada ku kan?" tanya Louise yang kali ini mengajak suami nya bicara lagi.


"Aku sudah beri tau semua, tapi..." ucap pria itu menggantung.


"Bagaimana kalau kita kirim Bianca ke sekolah di luar negeri? Ku dengar teman nya pindah sekolah, bukan nya dia sangat dekat dengan teman nya?" ucap James yang memberikan usulan agar rengekan putri nya tak lagi ia dengar.


Bukan meminta barang mewah atau mobil namun gadis remaja itu meminta pria!


Terlebih lagi pria yang tak ia sukai, lebih tepat nya pria yang akan membuat nya selalu was-was.


"Tapi anak itu mau nya di sini, kau ini kenapa sih?" tanya Louise yang berdecak kesal.


"Padahal aku tadi mau pakai ini, tapi ga jadi!" ucap nya yang melempar pakaian d*lam yang baru ia beli dan tentu memiliki design yang mengundang.


James terdiam sejenak dan melihat ke arah sang istri yang sudah masuk ke dalam selimut dan memainkan ponsel nya.


"Pakai, aku mau lihat." ucap nya yang mendekat ke arah wanita itu.


"Males, pakai aja sendiri!" jawab wanita itu ketus sembari membalik tubuh nya membelakangi sang suami yang duduk di pinggir ranjang.


Pria itu membuang napas nya lirih dan memeluk wanita yang membelakangi nya sembari main ponsel.


"Louise? Sayang?" bisik nya pelan di tengkuk wanita itu.


"Ga ada sayang-sayang! Lagi males! Kalau yang gini aja cepet! Kalau di tanya lama!" jawab Louise yang sudah kehilangan mood untuk melakukan nya.


James tak menjawab, ia mengecup telinga dan leher jenjang wanita itu berulang kali. Menghujani nya dengan hisapan kecil dan meraba lembut perut rata itu dari balik piyama tidur.


Louise awal nya membiarkan nya dan mencoba mengabaikan nya sembari terus memainkan ponsel nya, namun ketika kecupan itu sampai di bibir nya.


Humph!


Ponsel nya tak lagi berada di tangan nya, ia sibuk dengan lum*tan yang menghanyutkan nya itu.


James melepaskan sejenak, ia menatap ke arah wajah yang masih kesal dengan nya itu dan mengecup dahi nya sekilas sembari membuka piyama panjang yang di kenakan sang istri.


...


"Kau mau mandi?"


Tanya pria yang terlihat mengambil handuk untuk di lilitkan di pinggang nya itu.


"Lagi mau marah!" jawab Louise ketus yang baru sadar jika ia tak mendapatkan jawaban tapi malah melakukan sesuatu dengan suami nya hingga menjelang pagi.


James tersenyum kecil, ia mendekat dan berbisik ke arah sang istri.


"Manis nya, kenapa istri ku sangat menggemaskan..."


"James! Auch!"


Louise langsung menoleh, dan kemudian meringis setelah nya.


"Kenapa?" tanya pria itu yang mendekat dan langsung memegang pinggang yang ramping itu.


"Di tanya lagi! Dia yang bikin sakit!" ucap Louise yang mendengus kesal.


Pria itu tertawa kecil, ia beranjak menggendong tubuh istri nya dan membawa nya untuk mandi bersama.


......................


Skip


JBS Hospital


Arnold sekarang sudah masuk sebagai dokter magang di rumah sakit ibu angkat nya itu, atau ibu tiri?


"Tampan sekali, kalau ada sesuatu kau bisa mencari ku." ucap Louise yang menatap ke arah pria itu.


Dan tentu nya Arnold pun tak pernah mengatakan apapun tentang tingkah aneh putri wanita itu.


"Kak?" panggil nya sejenak yang menatap ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Kakak ga pernah datang ke rumah ku, padahal dulu waktu di Australia sering datang." ucap Arnold yang menatap ke arah wanita itu.


Louise diam sejenak, tempat tinggal putra angkat nya itu sama dengan tempat tinggal seseorang yang sangat ia kenal dulu nya.


"Nanti kalau sempat aku ke sana," jawab Louise dengan senyuman tipis.


Ia masih tak tau apakah mantan tunangan nya itu sudah kembali atau belum. Tak ada yang memberi tau nya sama sekali.


Arnold menangguk, Louise pun berbalik dan pergi meninggalkan pria yang saat ini memiliki profesi dokter magang di rumah sakit nya.


Pria itu tak mengatakan apapun, namun pandangan nya tak bisa ia lepaskan untuk beberapa saat ketika melihat wanita itu.


Terkadang rasa suka dan rasa kagum begitu mirip hingga membuat seseorang mudah keliru.


......................


Skip


Dua hari kemudian


Apart Sky Blue


Ting!


Pintu lift itu terbuka, saat naik dan sampai di lantai tempat seseorang yang ingin ia kunjungi.


Namun langkah nya terhenti sejenak, ia belum beranjak sama sekali dan membeku untuk beberapa saat ketika melihat sosok yang sudah lama menghilang.


Tak hanya diri nya, pria itu pun masih mematung. Melihat satu sama lain untuk beberapa saat dengan keheningan dan waktu yang sekaan berhenti untuk beberapa saat.


"Paman! Tungguin!"


Gadis remaja itu mengekor, lebih tepat nya ia seperti anak ayam yang selalu mengikuti induk nya.


Keheningan itu pecah seketika, suara yang ia kenali berserta dengan tangan yang langsung meraih dan merangkul lengan pria itu.


"Bianca?"


Gadis itu masih tersenyum sampai mata nya menoleh ke arah seseorang yang berada di lift.


"Mommy!"


Pekik gadis itu yang begitu terkejut melihat sang ibu yang tiba-tiba datang.


Louise keluar dari lift itu sebelum pintu tertutup lagi dan pria yang berada di depan nya tak jadi masuk.


"Kau..." Louise mengernyit melihat putri nya yang menempel seperti kadal itu.


"Eh? Iya? Apa Myy?" jawab Bianca yang tersenyum sembari melepaskan rangkulan nya.


Louise tak mengatakan apapun, ekor mata nya melirik sejenak ke arah pria yang masih berada di tempat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Jujur saja ia merasa begitu canggung dan mungkin sedikit malu?


Seperti di pertemukan lagi dengan seseorang yang ia sakiti dan ia sebagai pelaku nya.


Zayn mengepalkan tangan nya tanpa sadar, bukan amarah namun perasaan yang sedikit tak tenang dan gugup.


Tentu ia pun juga merasa begitu canggung hingga tak bisa mengatakan apapun.


...


Cafetaria


Bianca melihat dengan mata coklat nya yang tajam itu dari jauh bersama dengan seseorang yang terlihat begitu santai di samping nya.


"Mereka bicara apa sih? Dengar tidak?" tanya Bianca pada Arnold.


Arnold mengendikkan bahu nya sembari memakan camilan yang di sediakan di cafe tersebut.


"Ih! Lihat yang bener!" ucap Bianca yang menggoyangkan bahu pria di samping nya karna ingin mengetahui pembicaraan ibu nya dengan paman tampan nya itu.


Sementara itu, kedua orang itu masih saling diam. Suasana yang begitu canggung itu menggelitik dan membuat suasana menjadi hening.


"Bagaimana kabar mu? Ka.. kau membuat lukisan?" tanya Louise yang mencoba membuka suara lebih dulu dan senyuman yang tampak kaku.


Zayn masih terdiam, setelah 12 tahun lebih tak ada komunikasi sama sekali. Semua yang berhubungan dengan wanita di depan ia blokir untuk tak mengetahui kabar nya.

__ADS_1


"Baik," jawab pria itu dengan anggukan kecil.


Ia masih sulit mengatur emosi nya namun setidak nya ia tak merasa sesak napas atau pun panik saat melihat cinta pertama nya yang memberikan luka terbesar untuk nya itu.


Walau pun masih sedikit merasa sulit untuk bernapas atau menghadapi nya.


Louise kembali membatu, ia tak tau jika ternyata hubungan nya akan menjadi seburuk ini. Padahal dulu begitu dekat dan bahkan tumbuh besar bersama.


Tapi bukankah ini sudah masuk ke dalam perhitungan nya?


"Kau sendiri?" tanya Zayn yang kali ini bersuara karena melihat wanita itu yang gugup dan terus menunduk seperti seseorang yang berbuat salah.


"Ah? Ya?" Louise menengadah melihat ke arah pria itu dan menatap nya sekali.


"Bagaimana kabar mu?" tanya nya sembari melirik sejenak ke arah tangan yang memasang cincin di jari manis nya.


Louise tersentak, secara refleks ia langsung menggenggam tangan nya dan menutup cincin nikah nya.


"Ma.. Maaf..." satu kata yang tetap sama seperti 12 tahun yang lalu saat terakhir kali mereka bertemu.


Zayn diam sejenak mendengar nya, tidak dulu ataupun sekarang wanita itu masih merasa bersalah.


"Kenapa minta maaf, kau tidak salah apapun." ucap nya menghela napas.


Sekarang setidaknya ia sudah lebih bisa mengendalikan rasa tenang nya.


"Ya?" Louise menatap dengan mata hijau nya yang jernih itu.


"Lalu sekarang kau bahagia? Dulu aku tidak melepaskan mu untuk melihat kau terus merasa bersalah." ucap Zayn yang menatap wanita itu.


"Tidak! Aku..." ucap Louise tak bisa mengatakan apapun saat isi kepala nya seperti di restart ulang.


"Kau terlihat baik sekarang, jadi jangan terlalu merasa bersalah karna kau memang tidak salah apapun, aku yang memutuskan untuk mengakhiri nya dulu." ucap Zayn yang menatap ke arah wanita itu.


Tak ada balasan dari wanita itu, ia hanya terdiam dengan lidah yang kelu. Memang benar jika pria itu yang lebih dulu meminta pembatalan pernikahan.


Tapi itu juga seperti diri nya yang ketahuan selingkuh, tidur dan ciuman dengan pria lain saat masih memiliki hubungan pertunangan dengan sahabat masa kecil nya itu.


Seperti ketahuan berbuat salah dan ia sendiri pun tau kalau sedang melakukan hal yang salah dulu namun tak bisa berhenti.


"Kau bisa membenci ku, Itu..."


"Lebih baik..." ucap Louise lirih pada pria yang masih saja berbicara lembut pada nya setelah sekian tahun dan tak pernah menyalahkan nya untuk apapun.


"Kenapa aku harus membenci mu, aku tidak punya alasan untuk itu. Louise?" panggil nya yang menatap ke arah wanita itu.


"Menurut mu berapa lama kita berteman? Ku rasa hampir 30 tahun kan? Dan menghancurkan hubungan pertemanan selama hampir 30 tahun untuk waktu tiga bulan, ku rasa itu tidak sebanding." ucap nya yang mencoba mengingat.


Setidak nya mereka masih tumbuh bersama dan berteman hampir 30 tahun bersamaan dengan hubungan pertunangan yang di jalin selama satu tahun lalu berhenti kemudian bertunangan lagi selama dua tahun dan mulai memburuk ketika tiga bulan mendekati pernikahan.


"Aku memblokir mu karna benci, aku butuh waktu untuk diri ku sendiri dan karna sekarang aku sudah lebih baik jadi aku pikir tidak ada yang perlu di sesali dari kita. Kau bahagia dengan hidup dan aku..."


"Aku juga..." sambung nya dengan senyuman tipis walaupun sedikit tersendat karena ia sendiri masih belum tau cara menemukan kebahagiaan nya.


Louise tak mengatakan apapun, ia masih terdiam untuk beberapa saat.


"Bianca sudah besar sekarang, dia sedikit mirip dengan mu. Dia jahil." ucap Zayn yang mencoba mengatakan hal lain.


Memang perasaan nya masih campur aduk namun tetap saja melihat wajah yang murung dan merasa bersalah itu membuat nya tak tega.


Louise masih diam tak mengatakan apapun.


"Kalau kau memang sangat merasa bersalah kau bisa melakukan sesuatu untuk ku," ucap Zayn.


"Apa?" sahutan yang cepat langsung menyambar.


"Tersenyum, dan bersikap seperti biasa saja pada ku. Aku kan sudah bilang kalau kau tidak melakukan kesalahan apapun." ucap nya sekali lagi yang menekankan setiap kata-kata nya agar masuk ke dalam isi kepala wanita itu.


"Tapi kalau memperlakukan mu seperti biasa, aku seperti tidak tau malu." ucap Louise yang tentu tak bisa menepis perasaan nya bersalah nya itu.


Tak ada jawaban melainkan hanya senyuman tipis yang juga tampak masih kaku.


"Kira-kira sudah berapa lama ya? 11 tahun? 12 tahun? Atau 13 tahun? Tapi kau tidak berubah sama sekali? Dasar manja!" ucap nya yang mencoba mengatakan hal lain untuk mencairkan suasana yang membeku itu.


"Zayn!" Louise mengernyit mendengar nya, baik dulu maupun sekarang ia tak pernah melihat pria itu marah atau pun menyalahkan nya untuk sesuatu.


Bukan hanya ia tak berubah, namun pria di depan nya pun sama. Masih menjadi pria coklat yang manis dan lembut.

__ADS_1


__ADS_2