(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Apapun keinginan mu


__ADS_3

Kediaman Rai


Udara malam yang dingin, wine yang manis dengan aroma yang begitu harum.


Bungan Lily putih yang berada di dalam vas kaca yang penuh dengan batu es itu masih memberikan aroma harum.


Suara helaan napas terdengar, gadis itu terdiam beberapa saat tanpa menonton televisi ataupun memainkan ponsel nya.


"Dia tidak benar-benar menyukai ku ya?" gumam nya lirih dengan wajah yang tampak kesal.


Pembahasan sebelum nya habis, lebih tepat nya di hentikan sepihak dengan jawaban mutlak yang tak bisa berubah.


"Louise,"


Tubuh gadis itu tersentak, ia terkejut mendengar nama nya di panggil. Kepala nya langsung memutar ke arah dalam kamar nya karna saat ini ia sedang duduk di balkon kamar.


"Kau pulang?" tanya nya yang berbalik ke arah taman di kediaman nya lagi.


Biasa nya jika sang kakak sudah bersama dengan wanita nya maka kemungkinan besar saat malam pria itu tak kembali dengan berbagai alasan.


Pria itu mendekat, ia beranjak duduk di samping adik nya.


"Tumben? Suasana nya seperti lagi patah hati?" tanya pria itu yang melihat gelas berisi wine di atas meja dan beranjak meminum nya.


"Itu kan punya ku," ucap Louise pada sang kakak yang meminum minuman nya begitu saja.


"Pelit," ucap Louis sembari melirik ke arah sang adik.


Louise tak menjawab, ia hanya melihat ke arah taman yang berada di depan nya.


"Oh iya, tentang laporan yang kau letakkan di meja ku tadi aku sudah lihat. Di bagian produksi nya ada salah satu perusahaan cabang yang lebih mahal?" tanya pria itu pada sang adik yang menemukan salah satu yang mengganjal.


Memang saat ini pembicaraan tentang pekerjaan lebih mudah karna mereka masih tinggal di satu atap yang sama. Terlebih lagi sekarang adik nya juga sudah ikut membatu dalam urusan bisnis keluarga yang memang hanya tinggal mereka karna kedua orang tua nya sama-sama anak tunggal.


"Iya, kayak nya di sana ada yang korup. Jadi bisa di tindak nanti. Besok aku juga mau ke sana buat lihat." jawab Louise pada sang kakak.


Louis mengangguk kecil, "Louise?" panggil nya dengan nada yang ragu pada sang adik.


"Hm?" gadis itu menyahut tanpa menoleh.


"Tadi waktu kau meletakkan laporan nya, kau..." ucap Louis yang sedikit menggantung.


"Oh tadi? Lain kali kalau mau yang begitu di hotel, jangan keseringan di ruangan mu. Kalau yang dengar karyawan mu gimana? Terus Bianca juga sekarang sering ke JBS kan? Kalau dia yang masuk tadi gimana?" ucap Louise yang membuat sang kakak langsung terdiam.


"Iya iya! Ga usah terlalu di perjelas," ucap nya pada saudari nya.


"Lagi pula kalian kapan mau nikah nya?" tanya Louise yang kali ini menoleh pada sang kakak.


"Pernikahan mu sudah batal hampir tiga bulan yang lalu kan? Mungkin sekitar tiga bulan lagi aku mau lamar dia." jawab Louis.


Louise mengangguk, ia tau sang kakak sedang membuat jarak dari pembatalan pernikahan nya dengan pernikahan yang akan kembali di laksanakan nanti.


"Zayn ada kasih kabar?" tanya nya saat saudara kembar nya menyinggung tentang pembatalan pernikahan nya.


"Hm, dia bilang ikut club renang di sana." jawab Louis pada adik nya.


"Nomor ku di blokir," ucap Louise membuang napas nya lirih.


"Ku rasa itu bagus, dia jadi bisa melupakan mu lebih cepat." ucap pria itu yang tak menyalahkan mantan tunangan adik nya sama sekali.


"Hm, tapi aku kehilangan teman ku." Louise membuang napas nya lirih.


Jujur saja ia sedikit kehilangan mantan tunangan nya itu, pria yang tumbuh dengan nya sejak kecil dan menjadi teman main nya.


Ia berharap penuh jika teman nya itu bisa memiliki wanita yang lebih baik dari diri nya karna ia tak bisa membalas perasaan nya.


Namun tetap saja, walaupun ia tak memandang sebagai 'pria' namun ia tetap saja sudah terbiasa pada pria yang sudah seperti nya keluarga bagi nya.


"Kau kehilangan teman mu dan dia kehilangan hati nya," jawab Louis saat mendengar adik nya bergumam.


Louise tak mengatakan apapun, ia menarik napas nya dan menegakkan punggung nya.


"Tapi ku rasa ini tetap yang terbaik, kalau dia tetap bersama ku dia jadi kehilangan untuk bertemu dengan wanita yang baik kan?" tanya nya yang walaupun merasa kehilangan sahabat nya namun tidak akan ada perasaan yang di tekan satu sama lain.


"Kau memang nya wanita jahat?" tanya Louis mengernyit menatap adik nya.


Louise tersenyum kecil, "Iya, tapi ku rasa aku lebih dekat ke wanita yang gila?" jawab nya dengan memiringkan kepala nya.


Memang cocok, bukan?


Wanita yang masih menyukai pria yang merusak nya habis-habisan dan menolak pria yang begitu menyayangi nya dengan perhatian yang lembut.


"Ya, ku rasa juga begitu. Adik ku seperti nya sudah sedikit gila." ucap Louis yang memegang pundak adik nya sembari mengangguk.


"Tapi kenapa waktu kau yang bicara rasa nya jadi menyebalkan?" tanya Louise yang merasa kesal dengan ekspresi sang kakak yang setuju dengan ucapan nya.


"Ku rasa aku lapar, aku turun dulu." ucap Louis yang langsung menarik tangan nya dan pergi sebelum adik nya terlihat semakin kesal.


......................


Satu Minggu kemudian.


JBS Hospital


Setelah rapat yang melelahkan gadis yang memakai blazer hitam dengan kemeja putih di dalam nya dan mengenakan celana panjang yang di lengkapi dengan sepatu heels hitam sepadan dengan setelan yang terlihat cocok untuk nya.


"Kau bisa pulang," ucap nya pada sekertaris baru nya yang saat ini sudah ia dapatkan.


Walau tak sebagus mantan tunangan nya namun ia tau pria itu memiliki potensi yang besar untuk lebih baik di kemudian hari.

__ADS_1


"Baik nona," jawab sekertaris Eric pada atasan baru nya.


Louise merenggangkan otot di tubuh yang terasa kaku, ia pun kembali ke ruangan nya karna ada beberapa hal yang harus ia periksa ulang sebelum kembali pulang.


Louis sudah menyuruh nya untuk pulang dan mengerjakan nya di rumah saja, namun ia masih sedikit keras untuk menyelesaikan nya saat itu juga.


....


James melihat ke arah ponsel nya, pesan dan panggilan nya masih belum di balas sama sekali.


Dan tentu hari ini ia memutuskan untuk langsung menemui nya. Saat ini tengah menunggu seseorang yang ia sendiri tak tau kapan orang yang ia tunggu akan keluar.


"Kau sudah berapa lama di sini?" tanya Louise saat melihat pria yang berada di lantai bawah rumah sakit nya sedangkan ia saat ini lembur.


Dan ia tak tau sudah betapa lama pria itu menunggu nya.


"Kau marah pada ku?" tanya nya James sembari melihat ke arah gadis itu.


Louise diam sejenak, sebenar nya tak ada alasan untuk ia marah karna ia juga saat ini berada dalam hubungan yang ambigu.


Sedang tak berpacaran ataupun berteman, lalu apa?


Selama beberapa hari ia berpikir, ia sadar jika ia juga bukan siapa-siapa untuk menyuruh pria itu melakukan dan merubah sesuatu yang sudah seperti menjadi darah di dalam tubuh nya.


"Aku ingin makan, kau punya rekomendasi restoran?" tanya Louise yang tak menjawab namun memberikan isyarat agar segera keluar dan bicara di tempat lain.


"Ya," jawab James singkat, ia mendekat satu langkah dan,


Greb!


Mata hijau itu membulat, ia menatap ke arah pria yang berjalan di samping nya dengan menggenggam tangan nya.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Louise yang terkejut dan tentu merasa was-was jika sang kakak akan melihat nya.


Pria itu bergeming, ia tetap diam dan hanya berjalan ke jalan yang ia tuju tanpa peduli dengan pasang mata yang mungkin melihat nya atau gadis di samping nya yang tampak gelisah.


......................


Restoran


Makanan dan minuman telah tersedia, mata coklat yang memandang lurus ke arah gadis di depan nya.


"Kau marah? Sejak kau kembali malam itu kau tidak membalas pesan ku sama sekali." ucap nya pada gadis yang tengah duduk di depan nya.


Louise menarik napas nya, ia menatap ke arah pria yang terlihat menunggu jawaban nya itu. "Aku memang nya punya hak untuk marah?" tanya nya yang lebih tenang setelah beberapa hari.


Ia memang tak menyukai pekerjaan pria di depan nya. Memang memiliki banyak kekayaan dan tentu materi yang berlimpah namun di balik itu semua seperti siksaan neraka untuk sebagian orang.


"Kenapa kau bicara begitu?" tanya James yang mengernyitkan dahi nya melihat ke arah gadis itu.


"Kita..."


James menarik napas nya, ia langsung menyentuh ujung kepala nya saat ia menyandarkan siku nya ke atas meja.


"Dari mana pikiran mu itu? Kenapa kau selalu berpikir seperti itu? Tentu saja kau itu sangat memiliki arti untuk ku." ucap nya yang kembali menoleh ke arah gadis di depan nya.


Louise diam sejenak, "Bukan nya itu wajar? Kau dulu membuat ku dalam situasi seperti ini untuk waktu yang lama kan?" tanya Louise yang tentu bisa menggunakan alasan yang tak akan bisa di sanggah.


James menarik napas nya, memang benar saat ini ia seperti memiliki hubungan ambigu dengan gadis itu.


Tidak sedang menjalin hubungan kekasih dan juga tidak berteman sama sekali.


"Kalau begitu, kau mau menikah dengan ku?" tanya nya yang memberi kan lamaran pernikahan.


"Menikah?" tanya Louise yang memperjelas apa yang di dengar nya.


"Ya, kita sudah saling mengenal jadi bisa lewatkan tahap perkenalan untuk pacaran kan? Dan lagi aku..." ucap nya lirih yang tak bisa mengatakan perasaan takut nya akan kehilangan gadis itu lagi.


Louise diam sejenak, ia tak mengira pria itu akan mengatakan hal tersebut secara tiba-tiba.


"Kau butuh waktu untuk berpikir?" tanya James saat melihat gadis itu terdiam.


Louise masih tak menjawab apapun, ia menarik napas nya dan seperti tak bisa menjawab penolakan atau menerima nya.


"Ya, ku rasa aku membutuhkan nya." jawab nya yang kali ini membuka suara dan kemudian melihat ke arah gelas keramik kecil yang merupakan tempat teh yang ia pesan.


"Aku mencintai mu," ucap pria itu yang langsung membuat mata hijau yang jernih itu menoleh kembali.


"Apa?" ucapan yang keluar dengan spontan saat mendengar pernyataan cinta yang tiba-tiba itu.


"Aku mencintai mu," jawab pria itu dengan ucapan yang sama dan senyuman kecil.


Louise berkedip dengan wajah yang bingung, "Kenapa tiba-tiba kau bilang begitu?" tanya nya yang merasa heran.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengatakan nya saja." ucap nya yang tersenyum kecil.


Dulu saat ia kehilangan gadis di depan nya, ia tak bisa mengatakan satu kalimat dengan tiga kata itu.


Dan ia begitu menyesali nya, kalimat yang mudah namun sangat sulit ia ucapkan. Kali ini ia akan mengucap kan nya sebanyak mungkin sebelum ia kehilangan kesempatan itu lagi.


"Kenapa tiba-tiba? Kau mengatakan nya supaya aku menerima lamaran mu kan?" tanya Louise yang menatap dengan curiga.


James hanya tersenyum mendengar nya, "Aku mengatakan nya karna aku ingin mengatakan nya, dan aku akan memberi mu lebih banyak cinta sekarang." ucap nya yang kali ini tersenyum.


"James? Itu..." ucap Louise yang sedikit tak terbiasa dengan sikap manis yang seperti itu.


"Ya?" tanya James yang pada gadis di depan nya.


"Kau tidak kesurupan kan?" tanya Louise yang memiringkan kepala nya melihat pria yang tampak cerah itu.

__ADS_1


"Ku rasa begitu, seperti nya dewa cupid yang merasuki ku." ucap nya pada gadis itu.


Louise terdiam, "Kami juga punya banyak psikiater. Kau mau coba layanan rumah sakit kami?" tanya Louise yang kehabisan kata-kata dengan ucapan pria di depan nya.


"Mau, kalau kau dokter nya." jawab James pada gadis itu.


"James!" panggil Louise yang melihat sikap pria itu.


James tertawa kecil melihat nya, ia hanya sedikit menggoda dengan rayuan kecil yang memang ia sendiri jarang merayu seseorang.


"Kalian memang ibu dan anak," ucap saat tertawa dan langsung teringat wajah putri nya.


"Jangan menggoda ku," ucap nya pada pria itu.


James kembali tenang, tawa nya sudah berangsur menghilang namun wajah nya masih terlihat berseri.


"Ajakan tadi bukan candaan, ku harap kau bisa segara menjawab ku." ucap nya pada gadis itu.


"Ya," Louise menjawab dengan singkat pada ucapan pria itu.


"James? Sebentar lagi bukan nya ulang tahun mu?" tanya nya yang melihat ke arah pria itu dengan obrolan yang berbeda.


Dulu ia sempat merayakan nya sekali saat masih berpacaran namun di tahun berikut nya ia bahkan tak menginginkan untuk ingat dan peduli karna ia saja sudah terkurung.


"Ahh..." James membuang napas nya dengan panjang saat mendengar nya.


Louise mengernyit, dulu pun pria itu juga seperti terlihat tidak menyukai hari ulang tahun nya.


"Kenapa kau selalu terlihat begitu?" tanya Louise yang menatap bingung ke arah pria itu.


"Sebenarnya aku bukan ulang tahun di tanggal 30 November," ucap nya pada gadis itu.


Louise mengernyit mendengar nya, seingat nya keterangan diri pria itu memang menyatakan tanggal yang seperti itu.


"Lalu? Kapan?" tanya nya mengulang.


"Tanggal 25 Desember," jawab pria itu singkat.


"Kau tidak pernah beri tau aku sebelum nya, berarti dulu yang aku rayakan bukan sesuai ulang tahun mu?" tanya nya pada pria itu.


"Itu ulang tahun ku juga, Ulang tahun Athan James Dachinko." ucap nya yang dulu ikut mengubah tanggal lahir nya saat ia mengubah nama nya.


"Lalu tanggal 25 Desember? Xavier?" tanya nya yang ingat dengan nama asli pria di depan nya karna tato di tangan nya masih belum hilang.


James tersenyum tipis mendengar nya, nama yang begitu jarang ia dengar karna tak ada lagi yang memanggil nya dengan demikian dan ia juga sudah nyaman dengan nama baru nya.


"Hm, ulang tahun Xavier sama dengan hari peringatan meninggal orang tua ku." ucap nya yang memberi tahu gadis itu sedikit tentang diri nya.


Louise terdiam, wajar jika pria itu memang tak menyukai ulang tahun nya sendiri jika di hari yang menyenangkan juga di hiasi dengan kenangan duka.


"Kalau begitu kunjungi orang tua mu di hari ulang tahun Xavier dan kali ini aku akan merayakan nya di ulang tahun Xavier juga bukan James." ucap nya yang seperti mengatakan tentang dua orang yang berbeda.


"Kenapa?" tanya James mengernyit.


"Karna Xavier harus mengingat hal yang manis di ulang tahun nya," jawab Louise pada pria itu.


Memang bukan ia yang membunuh orang tua pria itu dan juga ayah nya yang tidak terlibat secara langsung.


Namun dalam masalah paralel, tetap saja sang ayah yang membuat pria di depan nya kehilangan segala kehidupan manis nya.


"Hal yang manis?" tanya James mengernyit.


"Iya," jawab Louise dengan di iringi anggukan di kepala nya.


"Kau akan melakukan apa nanti?" tanya pria itu yang penasaran.


"Entahlah, kau mau aku melakukan apa? Untuk hari itu aku akan mengikuti semua yang kau minta." ucap nya pada pria di depan nya.


"Semua nya? Semua yang ku minta?" tanya James mengulang.


"Iya, lagi pula kau tidak akan minta aku untuk bunuh orang atau pun menikah dengan mu secara paksa kan?" tanya Louise pada pria itu.


"Bukan, tapi kau yakin aku bisa minta apapun?" tanya James sekali lagi yang tampak membutuh kan konfirmasi yang berulang kali.


"Iya, kan aku sudah bilang kalau aku akan sedikit mengubah kenangan di tanggal itu kan?" ucap Louise yang masih tetap tak berubah.


James tersenyum kecil mendengar nya, satu-satu cara yang bisa mengubah kenangan di tanggal itu adalah berdamai dengan masa lalu nya.


Dan ia sudah mencoba nya sekarang, memang terkadang ia masih di hantui perasaan yang seperti hari itu dan memang tak semudah yang di pikirkan.


Namun ia tak ingin kehilangan apapun untuk sesuatu yang juga tak akan bisa kembali pada nya.


"Kau mengatakan itu dengan sungguh-sungguh tanpa tau pikiran ku..." gumam nya lirih yang tentu ia ingin meminta sesuatu yang sekarang sangat sulit ia dapatkan.


"Apa? Kau bilang apa?" tanya Louise yang mendekat dan menatap ke arah pria yang terdengar berbicara namun ia tak bisa mendengar nya.


"Tidak, hanya saja karna kau sudah berjanji jangan ingkari nanti." ucap James pada gadis itu.


"Memang nya kau mau minta apa? Kau juga tidak akan minta satu ginjal ku kan?" tanya nya Louise saat melihat senyuman yang menyimpan maksud dari pria itu.


"Tidak, kedua ginjal ku masih sehat." jawab James yang memberikan potongan daun bawang di atas sup yang di pesan oleh Louise.


"Okey, kau bisa minta apapun nanti." ucap Louise sekali lagi yang mulai memakan sup nya.


James tersenyum mendengar nya, kata 'apapun' memiliki banyak arti dan tentu akan ada beberapa hal yang ia inginkan.


"Baik, jangan menolak nya dan jangan mengeluh nanti." ucap nya pada gadis itu.


Louise mengangguk mendengar nya, ia Menag tak berniat untuk kabur atau pun mengingkari ucapan nya.

__ADS_1


__ADS_2