
Universitas Ludwig Maximilians, München, Jerman.
Pria itu menyusun buku nya, sekarang ia sudah menjadi pengajar di salah satu universitas yang cukup terkenal di negara itu.
"Sir?"
Seseorang memanggil nya setelah kelas berakhir, ia menoleh dan menatap ke arah gadis dengan rambut hitam yang mengkilap panjang itu.
"A.. ada yang ingin saya tanyakan, sa.. saya boleh temui di jam luar pembelajaran?" tanya nya lirih dengan gugup dan bahkan menoleh ke arah lain tak bisa melihat ke arah pengajar nya.
Pria itu tersenyum, ia masih memegang buku nya dan melihat ke arah gadis yang sangat pemalu itu.
"Kalau kau mau, kau bisa tanyakan apapun di luar pelajaran tapi ketika aku berada di universitas ini." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
Mata yang berwarna coklat itu itu langsung membulat dan menoleh seketika, "Eh? Bo.. boleh?" tanya nya yang terkejut dan langsung menoleh kemudian menunduk sekali lagi.
Satu anggukan tampak dan tawa kecil melihat gadis yang terus tergagap dan tak bisa melihat wajah nya dengan benar bahkan saat menjawab pertanyaan yang ia berikan.
Gadis itu memang menjawab pertanyaan dengan begitu baik namun ia gugup dan tak bisa melihat ke arah sang pengajar.
"Apa aku terlihat menyeramkan? Kau bicara pada ku tapi melihat ke lantai?" tanya pria itu sekali lagi.
"I.. iya, berarti saya boleh ke ruangan anda? Atau saya boleh ke perpustakaan?" tanya gadis itu lirih.
"Ya.."
"Asalkan kau tetap menemui ku saat berada di universitas aku akan membantu mu jika bisa, dan lagi nama mu mahasiswi Sylviana Angelica?" ucap nya yang menyebut nama gadis itu dengan lengkap.
"Eh? I.. iya benar Sir..." jawab nya lirih yang selalu terdengar gugup.
"Jangan terlalu takut pada ku, aku tidak akan memakan mu." ucap nya yang tersenyum dan kemudian beranjak pergi.
Gadis itu diam beberapa saat, wajah nya memerah dan kemudian menjadi panas.
"Astaga! Aku gugup sekali!" gumam nya lirih yang berteriak dalam diam.
......................
Ottawa Macdonald-Cartier Internasional Airport.
Pria itu menyeret koper nya, seseorang sudah menunggu nya karna ia terlebih dulu memesan jemputan.
Mata nya memandang lirih ke arah jendela yang menampilkan bangunan yang tinggi itu saat ia sudah berada di dalam mobil.
Sudah lama ia tak ke tempat itu dan kini ia ke sana lagi setelah sekian tahun.
Mata nya melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan, "Apa ini benar?" gumam nya lirih yang tak yakin apa yang sedang ia lakukan sekarang.
...
Sedangkan di tempat lain.
Rumah besar yang tampak berantakan, dokumen yang di ambil dan file yang telah di pindahkan ke arah flashdisk yang sudah berada di tangan nya.
"Hey? Ck! Tadi aja bicara nya besar, baru di tembak sekali udah mati." ucap gadis itu yang berdecak dan kemudian keluar dengan melengang santai.
"Bakar kebun nya, sudah kau lakukan?" tanya nya pada pria yang datang sembari memberikan sapu tangan untuk menghapus darah yang mengotori tangan nya.
"Sudah nona," ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
"Tunggu ya, aku Poto mereka dulu biar bisa kirim sama Daddy," Ucap nya yang kemudian memfoto semua yang ia lakukan lalu mengirim nya pada sang ayah.
......................
Skip
Mansion Dachinko
Ting!
James menoleh, ia menatap ke arah ponsel nya yang berbunyi dan sebuah notifikasi pesan yang masuk.
Misi sukses!
Ini ujian yang terakhir kan? Berarti aku sekarang udah bebas mau ngapain aja kan Dad?
Janji itu hutang loh!
Pria itu tak membalas nya, ia menarik napas nya dan kemudian menutup ponsel nya.
"Siapa?" tanya Louise yang menatap ke arah sang suami.
"Tidak ada," jawab James yang tentu tak mungkin mengatakan kelakuan putri nya.
Louise mengernyit, ia menatap ke arah ponsel yang berada di atas meja dan kemudian ingin mengambil nya namun dalam sekejap ponsel tersebut sudah di ambil oleh seseorang.
"Kau? Kau selingkuh ya?" tuduh Louise dengan kesal menatap ke arah pria itu.
"Selingkuh! Selingkuh sama siapa? Kau pernah lihat aku dengan wanita lain?" tanya James yang menyimpan ponsel nya karna di pesan yang di kirimkan putri nya ada beberapa foto mayat yang sudah mati.
"Kalau selingkuh yah pasti di belakang lah, mana mungkin aku lihat kalau di belakang?" tanya Louise yang kesal.
"Belakang apa? Sudah, makan saja." ucap James yang masih tak bisa menunjukkan ponsel nya.
Louise menatap kesal, ia meletakan sendok nya dan kemudian pergi lebih dulu.
"Makan aja sendiri!" ucap nya yang menatap kesal ke arah sang suami.
James menarik napas nya, "Anak ini! Kenapa dia kirim pesan sekarang?!" gumam nya lirih yang kesal dengan putri nya karna membuat kesalahpahaman yang tak perlu.
...
"Mommy!"
Louise tersentak, seseorang memanggil nya dan membuat nya menoleh ke arah sumber suara.
"Aldrich? Ada apa?" tanya nya yang langsung lembut walaupun awal nya ia sedang kesal dengan sang suami.
"Ga ada, cuma mau manggil Mommy aja," jawab Aldrich tersenyum.
Louise tersenyum kecil, memang terkadang ada pertengkaran yang bisa di padamkan dengan seseorang yang membuat nya tenang.
"Mommy beli ikan hias, kamu mau lihat? Kalau ada yang suka nanti bisa kamu bawa pulang." ucap nya yang merangkul bahu putra nya yang tak tinggal dengan nya itu.
"Boleh? Mau! Mama suka pelihara ikan juga sekarang!" ucap nya yang bersemangat.
"Oh ya? Nanti Mommy ke rumah kalian deh," ucap Louise yang memang saat ini ia banyak waktu senggang karna sudah pensiun dari jabatan wakil Presdir.
"Kapan? Sering ke rumah Myy! Mommy jarang ke rumah," ucap Aldrich yang menatap ke arah ibu kandung nya itu.
"Iya, nanti Mommy ke sana." ucap Louise yang menatap ke arah putra nya.
Mata hijau itu melihat ke arah ikan yang berenang dengan warna yang cantik itu, "Ih mau satu Myy!" ucap nya yang tampak senang.
Louise mengusap kepala putra nya dengan tawa kecil.
"Arche mana? Biasa nya kamu sama dia?" tanya Louise yang menatap ke arah putra nya.
"Aku tinggi Myy, buat kesel dia!" ucap Aldrich yang tentu nya sedang kesal lagi.
"Bertengkar lagi? Nanti kalau Arche nya pergi di tanyain terus?" ucap Louise tertawa.
"DORR!"
__ADS_1
Buk!
"Aduh!" Arche mengusap kepala nya saat ia mendapatkan pukulan dari saudara kembar nya.
"Mommy! Aku di pukul!" ucap nya yang mengadu pada sang ibu karna saudara kembar nya memukul nya saat refleks ketika ia datang dan mengejutkan.
"Maka nya jangan jahil!" ucap Louise yang menatap ke arah putra nya itu.
"Ih! Mommy ga mau belain aku!" ucap Arche yang menatap ke arah sang ibu.
Louise hanya menggeleng menatap ke arah putra nya itu, "Kamu nginap di sini nanti?" tanya Louise yang menatap ke arah putra yang tak tinggal dengan nya itu.
Aldrich menggeleng, "Aku pulang aja deh Myy,"
......................
Kediaman Rai.
Clara melihat ke arah sirip yang berkibas di dalam akuarium itu.
"Bagus kan Ma? Tadi aku minta sama Mommy!" ucap nya yang menatap ke arah sang ibu.
"Bagus! Nah sekarang kita ke taman, Papa udah siapin buat barbeque kita." ucap Clara yang beranjak merangkul putra nya yang kini sudah mulai tinggi dan hampir menyamai tinggi tubuh nya walaupun masih berusia 14 tahun.
"Yey! Aku makan semua sosis nya!" ucap nya yang menatap ke arah sang ibu.
"Lama sekali?"
Ucap Louis saat melihat ke arah istri dan putra nya yang sudah ia sangat ia sayangi walaupun bukan putra kandung nya.
"Sosis nya Papa habisin! Kamu ga boleh makan," sambung nya sekali lagi.
"Ih Papa!" Aldrich langsung mendekat dan menatap ke arah panggangan.
"Makanya kalau di panggil itu cepat datang," ucap Louis yang menatap ke arah putra nya.
"Iya! Iya!" jawab nya singkat pada sang ayah.
Clara hanya tersenyum, walaupun ia tak bisa memiliki anak biologis sampai sekarang namun ia sudah merasa seperti memiliki keluarga yang lengkap.
Putra yang menyayangi nya dan bahkan sangat ia sayangi, suami yang sekarang sudah tak lagi menyakiti nya dan ia yang sudah berdamai dengan masa lalu nya.
......................
Mansion Dachinko.
"Liburan? Kau mengajak ku liburan karna ketahuan selingkuh?" tanya Louise yang menatap dengan sinis.
"Astaga! Mau mau berapa kali ku bilang?" tanya James yang tentu sudah mengatakan semua alasan.
"Nanti aja kalau mau selingkuh nya tunggu aku mati!" ucap Louise yang masih kesal walaupun ponsel itu sudah ada di tangan nya.
"Kau ini bilang apa? Jangan bilang mati dengan mudah!" ucap James yang menatap ke arah sang istri.
Louise membuang pandangan nya, dan pria itu hanya bisa menarik napas nya kini.
"Kalau aku selingkuh kau bisa menggunakan sesuatu di balik buku ketiga di rak sebelah kanan," ucap James yang memang menyimpan senjata di kamar nya sebagai simpanan jika ada kemungkinan terburuk.
"Maksud mu aku boleh membunuh mu? Ga usah di ajarin sih, kalau kau selingkuh ya udah pasti mau aku bunuh sekalian sama selingkuhan nya!" ucap Louise yang masih kesal.
James hanya menarik napas nya, "Maldives, kita sudah lama kan tidak ke sana? Mungkin sudah dua tahun?" tanya James yang menatap ke arah sang istri.
Louise menoleh, ia masih cemberut namun tak menolak nya karna ia memang suka berada di tempat itu.
"Sea of stars," ucap Louise yang mengatakan tempat yang ingin ia datangi.
"Ya, kita akan ke sana." ucap James yang langsung setuju dan mengangguk.
...
"Jangan lupa bawa oleh-oleh buat aku ya! Jangan bawa adik baru tapi!" ucap Arche yang tersenyum sembari menatap ke arah kedua orang tua nya.
"Hush! Anak ini!" ucap Louise yang tentu tak ingin hamil lagi dan juga sang suami yang sudah melakukan vasektomi.
"Nanti Daddy buat adik nya aja tapi ga jadi, maka nya jangan ganggu kalau memang ada hal yang mendesak, okey?" ucap James yang mendekat ke arah putra nya.
"Okey! Kiriman lancar kan?" tanya Arche yang tak menganggu asalkan tawaran sang ayah mengiurkan.
"Iya!" jawab James yang tau tabiat putra nya.
"Bye Dad! Bye Mom!" ucap Arche yang melambaikan tangan nya pada kedua orang tua nya yang beranjak pergi menggunakan mobil itu.
......................
Hotel in Banff, Kanada
Ukh!
Gadis itu menarik napas nya lirih, tangan kecil yang mencakar punggung pria yang berada di atas tubuh nya.
"Sakit?"
Suara pria itu berbisik, wajah yang mengernyit dengan tatapan yang meringis menggeleng saat mendengar nya, tangan nya menarik pundak yang kekar itu dan kemudian dapat mencium aroma yang lebih jelas dari pria yang bersama nya saat ini.
"Aku berhenti saja?" tanya nya yang mulai beranjak bangun, karna ia juga tidak tau bagaimana cara menghadapi gadis yang memiliki pengalaman pertama.
"Eh? Jangan!" ucap Bianca yang menekan pinggul pria itu dengan kaki nya.
Auch!
Ia meringis seketika, saat merasakan sesuatu yang sakit menembus nya.
Pria itu terdiam, beberapa saat membiarkan gadis itu menyesuaikan bentuk nya terlebih dahulu.
"Aku bergerak?" tanya nya yang berbisik di telinga gadis itu.
Ia tak merasa sakit sama sekali, namun tentu untuk seseorang yang baru pertama kali melakukan nya akan merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa.
40 Menit kemudian
Gadis itu berkeringat di tempat yang dingin itu, mata nya menatap sayup dengan wajah yang terlihat letih.
Ia memejam, saat tangan yang besar itu mengusap wajah nya.
"Kau yakin tidak akan menyesal nanti?" tanya pria itu yang menatap ke arah mata coklat yang sayup itu.
Senyuman tipis dengan tawa kecil terlihat, "Sekarang Paman harus nikahin aku!" ucap nya yang tampak semnagat walau dengan suara yang habis.
Pria itu tertawa kecil mendengar nya, ia menatap ke arah gadis itu dan mengecup dahi nya.
"Tapi tadi aku ga berdarah?" tanya gadis itu yang melihat ke arah di balik selimut nya.
"Tapi aku belum pernah kok! Terus ju-"
"Iya, aku kan tidak ada bilang kau pernah melakukan nya? Lagi pula tidak semua wanita berdarah saat pertama kali melakukan nya," potong pria yang tersenyum itu saat ia melihat wajah yang sedikit panik itu.
Karna walaupun ia bukan seorang wanita namun hal seperti itu adalah pengetahuan dasar, dan ukuran keper*wanan bukan ada tidak nya darah di saat pertama kali melakukan nya.
Banyak gadis yang tak memiliki darah di pengalaman pertama nya dan bahkan ada sekitar 2 % dari anak perempuan yang di lahirkan tanpa sel*put dara.
Gadis itu tersenyum, ia perlahan memejam saat merasa kantuk dan rasa nyeri yang masih terasa di bagian inti nya.
__ADS_1
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, mengusap punggung putih gadis itu dan dengan lembut sampai tertidur dan kemudian menatap ke arah wajah yang memejam itu.
Apa yang ia lakukan sekarang sudah benar?
Atau akan menyesali nya?
Apa yang akan terjadi sekarang? Atau ke depan nya?
"Ku harap kau selalu tersenyum dan bahagia..." bisik nya lirih.
Walaupun ia tak tau jika hari ini akan terjadi hal bahkan apa yang baru saja ia lakukan sekarang tidak ia rencanakan sebelum pergi.
"Uhh..."
Gadis itu tampak tak nyaman dengan alis yang mengernyit sesaat ketika seseorang masih terus mengusap kepala atau punggung nya dengan lembut.
"Sstt..." pria itu berbisik seperti sedang menenangkan dan terus mengusap nya.
......................
Sea of Stars, Maldives
Wanita itu tersenyum, melihat ke arah kaki nya yang basah dan pasir yang bersinar di bawah air yang menyapu di pinggiran pantai yang indah itu.
"James? Ke sini," ucap nya yang menarik tangan sang suami yang mengikuti nya dari belakang.
Ia meletakkan kaki nya di atas pasir yang bersinar itu dan kemudian membuat jejak nya.
Pria itu tersenyum tipis saat melihat ke arah wanita yang tampak senang itu.
"Menurut mu sudah berapa tapak kaki yang berada setelah milik kita?" tanya James yang melihat ke arah kedua kaki berbeda yang berdekatan itu.
"Mungkin 4 tapi yang pertama tidak dengan kita," jawab Louise yang menghitung kaki anak-anak yang sudah ia lahirkan.
James tersenyum kecil mendengar nya, ia seharusnya sudah memiliki 4 pasang tapak kaki yang lain walaupun salah satu di antara nya sudah tidak ada.
Pria itu melirik ke sebelahnya, menatap ke arah wanita yang terlihat senang dengan liburan nya.
Humph!
Louise tersentak sejenak saat pinggang ramping nya di tarik dan bibir tipis nya yang di lum*t.
Namun ia tak menolak nya sama sekali, tempat yang bersinar dengan langit yang bertabur bintang.
Hawa yang sejuk dan tempat yang cocok untuk menunjukkan kasih sayang.
Selepas ciuman manis itu Louise tertawa, ia berbalik dan berjalan menelusuri pinggir pantai yang bersinar itu.
James tak mengatakan apapun, ia hanya ikut tersenyum dan mengikuti jejak wanita itu dari belakang.
Wanita yang mungkin bukan cinta pertama nya namun menjadi cinta terakhir untuk nya, putaran dari benang yang berbelit dan rusak itu kini sudah di gulung bersamaan dengan benang yang baru.
Yang rusak tak hilang namun sudah tertutup, kembali pada putaran yang seharusnya.
Mungkin sesuatu yang kecil tak akan mengubah dunia namun dunia seseorang bisa berubah.
...****...
...Aku tidak tau kalau aku pada akhirnya akan sampai di sini......
...Dengan seseorang yang ku pikir tidak bisa bersama ku......
...Dekat namun membangun tembok nya......
...Mata dan wajah dingin yang bahkan dulu tak pernah mengatakan kalau dia mencintai ku......
...Dan saat ku pikir aku satu-satu nya wanita bodoh yang berharap pada seseorang yang tidak mencintai ku dia datang......
...Kedatangan nya memang terlambat......
...Tapi aku tidak tau akan ada banyak tiket yang tetap datang untuk nya......
...Aku tidak tau kalau dia pada akhirnya tetap bersama ku......
...Karna ku pikir aku sudah menyerah......
...Tapi......
...Pada akhirnya perasaan ku tetap sama......
...Aku masih menjadi wanita yang bodoh karena aku tetap jatuh cinta lagi......
...Pada nya......
^^^~ Elouise Steinfeld Rai^^^
...****...
...Mungkin benar......
...Cinta dan benci itu persamaan yang tipis karna kedua nya memusatkan perhatian pada sesuatu dengan lebih....
...Aku tidak tau kalau aku mencintai nya sampai aku kehilangan nya......
...Ku pikir aku bisa melakukan semua nya......
...Ku pikir aku adalah seseorang yang memegang kendali penuh atas sesuatu......
...Tapi aku salah......
...Aku kehilangan sesuatu yang ternyata lebih berharga dari apa yang ku bayangkan saat aku berpikir angkuh seperti itu....
...Mungkin memang benar kalau egois hanya di iringi dengan kebodohan......
...Aku tidak akan jatuh ke tempat yang sama, aku tidak ingin jatuh ke dalam lautan tanpa air yang membuat ku tidak bernafas lagi......
...Aku membutuhkan udara......
...Dan dia adalah udara ku......
...Oksigen yang ku miliki dan aku tidak menyadari nya dulu......
...Aku mencintai nya, dan aku akan terus mengatakan nya sekarang......
...Nanti......
...Di masa depan......
...Atau di masa yang mungkin tak akan tersentuh dengan seseorang......
...Aku akan tetap mencintai nya dan aku akan mengatakan nya ratusan bahkan ribuan kali jika dia menginginkan nya......
...Aku akan menunjukkan jika aku lebih mencintai nya dari pada dia mencintai dirinya sendiri......
...Aku tidak ingin mengulangi kebodohan ku lagi......
...Karna dia adalah udara untuk ku, selalu ada bersama ku sampai aku tidak bisa menghirup apapun lagi......
^^^~ Athan James Dachinko / Xavier Haider Dachinko ^^^
...The END...
__ADS_1