(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Kapan nikah nya?


__ADS_3

JBS Hospital


Zayn kembali setelah membasuh wajah nya, ia melihat semua pengawal mulai berdatangan walau sebelum nya tak ada yang datang.


Ia membuka pintu yang tadi tak sempat ia masuki, "Louise?" panggil nya menatap ke arah gadis yang sudah sendirian dan duduk di atas ranjang pasien nya itu.


Louise menengadah, para pengawal itu sudah selesai mengecek kondisi nya yang tidak terjadi apa-apa dan tentu pria yang bersama nya tadi sudah pergi lebih dulu.


"Seperti nya tadi sedikit terjadi keributan," ucap nya sembari tersenyum cnggung pada tunangan nya itu.


Zayn terdiam, ia melangkah mendekati ke arah gadis itu. Mencoba tak pernah melihat apapun dan bersikap seperti tidak terjadi apapun.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya nya pada gadis itu.


Louise mengangguk, memang tak ada terjadi apapun pada diri nya.


Pria itu tersenyum seperti biasa dan mengusap kepala nya, "Kalau begitu kau tidur. Kau juga baru sadar kan?" tanya nya pada gadis itu sembari kembali menidurkan nya.


Ia menaikkan selimut nya dan memegang tangan gadis itu.


"Zayn? Kau baik-baik saja?" tanya nya pada pria itu lirih.


Zayn tersenyum dan mengangguk, "Memang nya aku kenapa?" jawab nya dengan senyuman dan tatapan yang lembut pada gadis itu.


Louise beranjak menyentuh helaian rambut pria itu, "Rambut mu basah," ucap nya lirih.


Zayn tak mengatakan apapun, ia beranjak memegang tangan gadis itu dan mencium telapak tangan nya.


Louise diam, ia tak mengatakan apapun lagi. Hanya saja memang sedikit memberatkan dengan apa yang ia inginkan dan situasi apa yang ia hadapi.


...


Dua hari kemudian


Perkembangan nya semakin membaik, walaupun belum pulih namun Louise sudah bisa beraktivitas normal walau masih terbatas.


"Sekarang jangan keluar dari rumah lagi, jangan kabur terus! Udah mau nikah," ucap Louis mengomentari adik nya.


Louise yang tadi nya santai memakan apel kini tampak terdiam, ia menoleh ke arah sang kakak.


"Kak?" panggil nya lirih.


Louis menoleh, memang terkadang adik nya itu memanggil nya 'kakak' dan terkadang hanya memanggil nya nama.


"Hm? Kenapa? Mau ku kupaskan lagi apel nya?" tanya Louis sembari mengambil satu apel besar itu dan mulai kembali mengupas kulit nya.


Louise diam tak mengatakan apapun untuk beberapa saat.


"Kalau misal nya aku ga jadi nikah sama Zayn kakak marah?" tanya nya lirih dengan tatapan yang menginginkan jawaban sekaligus tampak menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa?" Louis langsung mengernyit, ia menatap dengan tatapan yang tentu tak menginginkan pertanyaan itu.


"Tidak apa-apa, aku kan cuma tanya. Lagi pula ini kan pernikahan ku kenapa kau yang semangat sekali." ucap nya pada pria itu yang mengalihkan topik nya langsung.


Louis membuang napas nya, "Karna aku kakak mu maka nya aku mau yang terbaik untuk mu, bagi ku kau itu lebih baik di cintai dari pada mencintai." ucap nya pada saudari kembar nya.


Memang ia terkesan egois karna memaksa adik nya untuk menikah dengan pasangan yang ia pilih.


Namun itu semua ia lakukan juga karna sangat menyayangi adik nya, bagi nya lebih baik adik nya hidup di zona aman dan di penuhi cinta dari pasangan nya.


Keinginan yang tentu di miliki setiap anggota keluarga yang memiliki kasih sayang yang tulus.


"Kau tidak terpengaruh hanya karna beberapa hari dengan nya kan?" tanya nya pada adik nya sekali lagi karna ia tau selama adik nya menghilang di laut beberapa hari gadis itu bersama dengan pria yang menciptakan kekacauan ini.


"Ha?" Louise tersentak, entah apa yang ada di pikiran nya namun ia terlihat sedang tak begitu mendengarkan sang kakak.


"Louise? Kali ini saja, turuti kemauan ku. Aku tidak pernah minta kau untuk lakukan apapun sebelum nya, jadi ku mohon hanya sekali ini saja..." ucap nya sembari memegang tangan adik nya.


Ia tau adik nya keras kepala dan selalu bersikap seperti sesuai kemauan nya tapi ia juga sangat tau adik nya lemah dengan permohonan yang sungguh-sungguh.


Louise diam sejenak, memang permintaan saudara kembar beda beberapa menit nya itu hanya satu.


Namun satu permintaan itu adalah untuk sepanjang hidup nya!


Karna menikah bukan permainan yang bisa cerai dan rujuk dengan mudah seperti tak ada ikatan.


"Ya, aku kan cuma tanya..." jawab Louise yang pada akhirnya tetap menuruti permintaan saudara kembar nya.

__ADS_1


Ia tau sang kakak tak mungkin menjerumuskan nya, dan juga pernikahan nya bukan hanya tentang keinginan nya namun keinginan semua orang yang berada di sekeliling nya.


Louis tersenyum seketika, ia kembali mengupas apel dan memberikan nya pada adik nya.


......................


Mansion Dachinko


Gadis kecil itu sudah kembali dekat dengan sang ayah, hanya menemani nya bermain selama beberapa hari sudah menghilangkan semua rasa kesal nya.



"Nyonya Dipsy nya mau minum loh Daddy, kok ga di kasih minum?" ucap nya sembari berpura-pura menuangkan teh ke cangkir boneka dinosaurus nya.


James tersenyum, ia memang tak mengerti cara main putri kecil nya namun ia menurut saja dan duduk di depan gadis kecil itu.


"Daddy nya ga di kasih minum juga?" tanya nya pada putri kecil nya itu.


Bianca menoleh, menatap dengan mata coklat nya yang bulat pada sang ayah.


"Daddy haus juga? Ini deh, jangan ambil teh Nyonya Dipsy." ucap nya yang memberi nama setiap boneka nya.


Gadis kecil itu bersikap seperti tengah menuang teh padahal tak ada air nya sama sekali.


"Yang ini buat Daddy," ucap nya yang menuangkan air halusinasi pada cangkir kecil mainan yang di berikan nya untuk sang ayah.


"Yang ini buat Mommy," ucap nya yang ikut menuangkan air halusinasi nya di cangkir satu lagi, "Eh? Tapi kan Mommy ga main sama kita?" ucap nya pada sang ayah.


James diam sejenak, mata coklat bulat dari putri nya itu bertanya.


"Daddy? Mommy mana? Masa dia ga pelnah datang? Kata nya sayang Bian?" Bianca yang kembali bertanya tentang ibu nya.


James diam sejenak, ia hanya melihat wajah cantik yang menggemaskan itu tampak bingung dan menginginkan jawaban nya.


Pria itu menarik napas nya, ia beranjak mengambil ponsel nya dan tentu menelpon seseorang.


Bianca diam melihat sang ayah pergi bertelpon, tak lama kemudian pria itu kembali dan menggendong putri kecil nya.


"Kita jumpa Mommy ya?" tanya nya sembari mengecup pipi putri nya.


Bianca tersenyum cerah, memang yang anak-anak butuhkan adalah kasih sayang dari orang-orang yang ia sayangi.


......................


"Paman Uwis?" panggil nya pada seseorang yang pernah membawa nya dulu.


James menurunkan gendongan nya, ia berjongkok sembari merapikan rambut yang tergerai dan hampir di makan putri nya itu.


"Bian jangan nakal, nanti paman Louis yang bawa Bian ketemu Mommy." ucap nya sembari mengecup pipi bulat putri nya yang lembut.


"Daddy ga ikut?" tanya Bianca dengan wajah yang bingung.


Pria itu hanya tersenyum tanpa menjawab, ia melihat ke arah seseorang yang menunggu nya.


"Nanti malam Daddy jemput," ucap James sembari mengusap kepala putri nya.


Ia pun berbalik, seseorang yang ia telpon tadi tentu saudara kembar gadis nya karna ia tau akses yang masuk tanpa sembunyi-sembunyi adalah pada pria itu.


"Bianca sini sayang?" ucap Louis sembari menggendong bayi kecil itu yang menggemaskan itu.


Bianca menoleh, kali ini ia sudah di gendong dengan seseorang yang berbeda.


"Daddy kenapa ga ikut?" tanya nya dengan mata yang tampak tak semnagat karna sang ayah tidak ada.


"Daddy lagi ada kerjaan, jadi Bianca di sini dulu sama Paman sama Mommy." ucap nya pada keponakan kecil nya yang cantik itu.


Bianca mengangguk, ia tak mengerti apapun dan ia memang masih hanya mengikuti apa yang di katakan oleh orang dewasa di sekitar nya.


...


"Mommy!"


Louise tersentak, ia yang tengah berlatih untuk membiasakan syaraf motorik nya setelah bangun dan pemulihan dari racun nya langsung menoleh mendengar suara gadis kecil yang menggemaskan itu.


"Bian?" Louise bingung bagaimana putri nya bisa masuk ke ruangan tersebut.


Namun rasa bingung nya terpecahkan saat sang kakak masuk ke dalam kamar nya juga.

__ADS_1


"Dia dengan mu dulu, aku nanti ke sini lagi." ucap Louis yang memang masih memiliki banyak pekerjaan untuk di lakukan.


Louise mengangguk dan melihat sang kakak keluar dari ruangan nya. Sedangkan putri kecil nya menatap ke arah nya dengan jutaan protes.


"Mommy kenapa di lumah sakit? Mommy sakit? Padahal Bian mau malah loh! Masa Mommy buang Bian! Bian di tinggalin! Di lempal juga! Liat nih!" omel gadis kecil itu yang langsung mengomentari sang ibu dan menunjukkan luka nya yang sudah hilang bahkan terkesan tak memiliki bekas luka lagi.


Louise menarik napas nya, begitu banyak pertanyaan dari mulut kecil yang cerewet itu seperti sekarang wartawan.


Tak ada yang bisa ia katakan, ia memilih berjongkok dan memeluk tubuh mungil yang penuh dengan protes itu.


"Maaf, Bian sakit karna Mommy ya?" tanya nya dengan suara yang lembut dan usapan halus di punggung kecil putri cantik nya.


Balita yang cantik itu pun luluh, suara lembut sang ibu membuat nya tak banyak protes namun tetap saja tak bisa mengentikan mulut cerewet nya.


"Tapi Bian sakit tau! Nih luka nih!" ucap nya dangan wajah yang cemberut namun terlihat semakin menggemaskan.


"Iya, Mommy minta maaf ya?" ucap Louise lagi sembari memberikan kecupan di atas kulit yang sudah kembali mulus itu.


Anak kecil yang masih berumur tiga tahun itu mana tau jika sang ibu lebih merasakan sakit dari pada diri nya.


Bianca masih merajuk namun tubuh kecil nya melekat pada sang ibu seperti minta di gendong.


Louise diam sejenak, ia tau jika ia sedang tak memiliki tenaga untuk mengendong gadis kecil itu.


"Bian bisa ambilin Mommy apel? Sama pisau nya?" tanya nya yang membuat Bianca langsung menoleh ke arah buah-buah yang tersusun rapi di keranjang itu.


Bianca tak menjawab namun ia menurut saat di suruh ibu nya, Louise pun langsung beranjak duduk ke sofa dan gadis kecil itu mengikuti nya.


"Sini, Mommy pangku." ucap nya yang memiliki tenaga untuk sekedar memangku.


Bianca naik, walau ia kecil dan mungil namun akal nya tak sangat besar sampai ia bisa memanjat dan akhirnya duduk di pangkuan ibu nya.


Louise tersenyum tipis, ia mengucapkan apel dan membentuk telinga kelinci di kulit nya.


"Ini apel kelinci, ini telinga nya." ucap nya sembari menunjukkan pada gadis kecil itu.


"Wah!" Mata coklat itu berbinar, ibu nya memang memiliki sesuatu yang tidak bisa di berikan oleh sang ayah.


"Mommy pintel deh! Eh? Bian kan lagi malah sama Mommy!" ucap nya membuat sang ibu ingin tertawa.


Putri nya yang menggemaskan dan putri nya yang juga sangat ingin ia hindari.


"Mommy?" panggil Bianca sembari memakan apel yang di berikan sang ibu.


"Ya?" Louise menoleh pada gadis kecil itu.


"Daddy kenapa ga ikut sama kita Myy? Kalau ada Daddy kan selu? Mommy ga suka Daddy?" tanya nya pada sang ibu.


Memang anak kecil tak mengetahui apapun namun ia juga memiliki hati yang sensitif dengan sekitar nya.


Apa lagi gadis kecil itu yang sadar jika setiap kali ia bersama ibu nya maka sang ayah akan tidak ada dan begitu juga sebaliknya.


Louise diam sejenak, ia menatap ke arah mata bulat yang coklat itu mirip dengan ayah nya.


"Bian? Kalau Bian punya dua Daddy gimana?" tanya nya pada anak kecil yang tak mengetahui apa arti nya memiliki dua ayah.


Bianca menatap bingung namun tiba-tiba wajah cantik tersenyum riang.


"Belalti Daddy jadi dua?" tanya nya yang membayangkan sang ayah akan dua duplikat.


Yang satu bisa bekerja dan yang satu bisa bermain dengan nya tanpa ia tau jika dua ayah berarti memiliki ayah yang berbeda.


Louise tersenyum tipis, ia tak tau putri kecil nya menangkap maksud nya atau tidak namun yang jelas nya anak kecil menggemaskan itu tengah tersenyum.


Bianca kembali menonton televisi yang terputar itu sembari duduk di pangkuan sang ibu dan memakan apel.


Mata nya melihat ke arah kartun hewan beruang yang menikah itu dan di rayakan oleh hewan lain nya.


Dan yang ia tau arti nya menikah adalah tinggal dengan orang yang di sukai, maka dari itu kepala kecil nya ingin menikahi setiap orang bahkan setiap boneka yang ia sayangi.


"Mommy?" panggil nya pada ibu nya.


"Hm?" Louise menjawab sembari terus mengupaskan apel pada putri nya yang ternyata makan banyak itu.


"Mommy sama Daddy kapan nikah nya?"


Pertanyaan kecil yang di lontarkan dengan suara menggemaskan itu membuat nya terdiam.

__ADS_1


Sementara itu pria yang baru saja memasuki ruangan kamar tunangan nya itu pun dapat mendengar pertanyaan dari suara menggemaskan khas anak-anak itu.


__ADS_2