
Mobil yang berwarna putih itu melaju begitu cepat dan kencang, pria yang memegang sabuk pengaman nya dan masih mengotak-atik ponsel nya sembari sesekali melihat ke arah tuan nya yang tampak seperti tak bisa di ajak berbicara saat ini.
"Ck!" pria itu berdecak, mobil yang ia ambil berbeda dengan mobil mahal yang biasa ia miliki karna sulit untuk di kendarai.
"Sudah temukan IP nya?" tanya nya pada Nick yang berusaha melacak ponsel nya untuk menemukan di mana gadis yang sudah melaju kencang itu.
"Belum tuan, sedikit lagi." jawab Nick yamg semakin mempercepat jemari nya.
...
Sementara itu.
Kaki mungil gadis kecil itu mulai lelah, ia keluar dengan merangkak ke arah pintu seperti tempat masuk hewan itu karna pagar utama dari belakang mansion itu tak di buka.
"Myy? Bau nya usuk!" kesal nya pada sang ibu dari sambungan telpon.
"Sekarang sudah di luar?"
Mata coklat itu melihat ke arah sekitar nya, ia memang sudah tampak di luar namun tak melihat jalan raya.
"Udah Myy, tapi gak ada jalan nya! Lumput semua Myy..." jawab nya pada sang ibu sembari terus memegangi ponsel yang jug tampak kotor itu.
"Cari jalan raya yang besar, tau kan? Jalan aspal."
Gadis kecil itu bisa mengerti jalan namun tidak dengan jalan yang beraspal.
"Aspal itu apa Myy?" tanya nya pada sang ibu dengan bingung.
"Jalan! Yang penting jalan yang besar!"
Terdengar suara yang tampak tak ingin menjelaskan pertanyaan remeh itu selain hanya mengarahkan kemana ia ingin menggiring gadis kecil itu untuk pergi.
2 Jam kemudian
Kaki kecil itu mulai merasa lelah, ia belum makan atau minum kecuali hanya menangis seharian mencari sang ayah.
"Myy? Kaki Bian sakit..." ucap nya yang lelah pada sang ibu dari sambungan telpon.
Ia menemukan jalan nya, dan berjalan dengan kaki mungil nya sembari sesekali duduk di atas aspal hitam dan keras itu atau bersembunyi di balik semak-semak.
...
Mansion Alex
Prang!
Semua terdiam, tak ada satupun yang berani bersuara ketika pemilik mansion itu sangat marah saat ia kembali dan tau sandera ekslusif nya telah hilang.
"Dasar manusia bodoh!"
"Menjaga seperti itu saja tidak bisa!"
Ucap nya yang marah dengan cukup keras dan membuat semua nya terdiam.
"Cambuk tiga pelayan tidak berguna itu sampai mati!" perintah nya pada para penjaga nya untuk para pengasuh Bianca.
"Tuan! Ampuni kami tuan..."
"Ampuni saya tuan..."
"Maaf Tuan..."
Suara tangisan dan histeris seketika keluar saat perintah keji itu turun.
Alex tak mendengarkan, rencana nya bisa rusak jika gadis kecil itu pergi.
"Tuan! Kami menemukan nya!" seorang pria yang memakai jas hitam dengan pakaian tegap itu menghampiri nya.
Alex mengernyit, ia melihat ke arah cctv mansion nya yang memperlihat gadis kecil itu awal nya bermain di balik gorden lalu merambat sampai mengambil ponsel.
"Ponsel siapa itu?" tanya nya yang melihat ada ponsel yang di ambil.
"Po...ponsel sa..saya tuan..." jawab salah satu penjaga dengan lirih karna takut.
Alex mendekat, dan...
Plak!
Tamparan kuat melayang mengenai pengawal tersebut, ia merasa geram karna kecerobohan pengawal itu kini gadis itu bisa lari.
__ADS_1
"Cari ponsel nya sekarang juga untuk di lacak!" perintah nya sembari menatap beberapa pengawal.
"Terima hukuman mu nanti! Dan cari marmut itu sekarang!" sambung nya seketika.
"Marmut?" para pengawal itu terlihat sedikit bingung.
"Iya! Anak nakal yang seperti marmut itu! Cari sampai dapat!" ucap yang merasa semakin kesal.
Hewan kecil yang terlihat menggemaskan sekaligus sering membuat nya jengkel adalah marmut.
Dan bagi nya gadis kecil itu pun seperti marmut versi manusia yang menyusahkan namun memiliki wajah yang begitu menggemaskan.
...
Louise melihat ke arah titik merah yang di hubungkan sang kakak pada nya, cukup jauh ternyata dari tempat yang awal nya ia berada ke titik yang di tuju walaupun ia sudah melaju secepat mungkin yang ia bisa.
"Mommy sebentar lagi sampai," ucap nya pada putri kecil nya itu.
Memang tak jauh lagi antara ia dengan titik di mana gadis kecil itu berada.
"Kamu di mana?" tanya nya lagi yang sudah seharusnya berada namun tidak melihat ada orang lain di pinggir jalan itu.
"Di dalam lumput Myy,"
"Keluar, cepat!" ucap nya dengan segera agar gadis kecil itu keluar.
Tak lama kemudian, tubuh mungil yang tampak dekil dan kotor itu keluar dari semak-semak.
"Myy! Mommy!" suara gadis kecil itu begitu nyaring melihat ke arah arah mobil yang ia kenali sebagai milik sang ayah.
"Naik! Cepat!" Louise langsung memarkirkan mobil nya tepat di depan gadis itu berdiri agar lebih cepat untuk naik.
Bianca kesulitan untuk naik dengan cepat karna tubuh dan kaki nya yang masih pendek.
Greb!
Tangan nya langsung menarik tangan mungil itu agar lebih cepat untuk naik.
"Sakit Myy..." keluh Bianca ketika sang ibu menarik tangan mungil nya begitu saja.
Louise tak mendengarkan, ia malah dengan cepat memakai kan sabuk pengaman untuk di kenakan gadis itu.
...
"Tuan! Kami sudah dapat!" ucap salah satu pengawal pria itu yang datang dengan iPad yang menunjukan IP ponsel pengawal yang sebelum nya di pakai oleh gadis kecil itu.
Mata nya mengernyit melihat ke arah titik yang masih tidak jauh dari mereka.
"Kejar! Mereka masih di sekitar sini!" perintah Alex pada pengawal nya.
Seluruh pengawal pria itu pun langsung keluar dan menghidupkan mobil nya untuk dengan cepat menyusul ke arah titik di mana marmut kecil itu berada.
...
Apart
"Louise? Kau masih mendengar suara ku?" tanya nya Louis saat mendengar sang adik tak bersuara lagi.
"Masih! Aku memutar mobil nya! Kalian sudah di mana?"
"Titik nya menjauh, jangan putar mobil mu!" jawab Louis yang sudah berada di mobil dan mengejar ke arah panggilan telpon sang adik yang menghubungkan dengan ponsel saudari kembar nya itu.
"Tambahkan kecepatan nya lagi," ucap Louis yang buru-buru melajukan mobil nya.
......................
"Myy? Jangan cepet-cepet Myy..."
"Bian takut..." ucap nya pada sang ibu yang mengingat jika mereka pernah jatuh bersama ketika mobil yang di kendarai melaju begitu kencang.
Gadis itu mengernyit, terlihat beberapa mobil mulai tampak di belakang nya.
"Louis? Kalian sudah sampai?" tanya nya pada sang kakak.
"Kami? Belum? Dari titik mu dan dari sini sekitar satu jam lagi kalau di percepat mungkin bisa 40 menit!"
Mendengar jawaban itu Louise kembali melihat ke arah mobil yang mengejar nya.
"James, tanya dia..." ucap nya lirih.
__ADS_1
"Apa?"
"Tanya dia! Apa dia yang ada di belakang ku atau tidak!" ucap nya pada sang kakak sembari semakin melakukan mobil nya dengan kecepatan yang lebih kencang.
"Myy..."
"Bian takut..."
Ucap nya yang mulai menangis takut karna sang ibu terlalu membawa dengan cepat mobil nya.
DOR!
Akh!
Bianca berteriak tak terkecuali gadis yang tengah mengendarai mobil nya itu.
"Bukan, bukan dia..." gumam nya yang tau jika yang berada di belakang mobil nya bukanlah pria itu melainkan seseorang yang menculik putri nya.
Ia melakukan mobil nya lebih cepat lagi sampai tak terlihat dan tertinggal namun ia yakin jika mobil tersebut akan segera menyusul.
Perlahan rem nya ia turunkan, pintu mobil di sebelah putri nya ia buka.
"Myy..." panggil Bianca lirih sembari melihat sang ibu.
Louise mengernyit melihat ke arah ponsel yang masih di pegang gadis mungil itu.
"Apa mungkin..."
Ya!
Ia sendiri menggunakan ponsel untuk melacak di mana putri kecil nya dan bukan tak mungkin mereka melakukan yang sama.
"Pegang ini! Dan turun!" ucap nya yang membuat mobil nya semakin lambat dan memberikan ponsel nya.
Jika ia meninggalkan putri kecil nya sendirian dan setelah itu pergi membawa mobil nya maka seluruh yang mengejar nya hanya akan memburu nya tanpa tau jika gadis kecil itu itu sudah turun.
Bersikap seperti umpan sesungguh nya agar gadis kecil itu bisa keluar.
Sedangkan ponsel James sendiri terlihat sudah mati karna kehabisan daya.
"Tapi Myy..." jawab Bianca ragu yang untuk turun walaupun mobil itu tak melaju kencang namun tetap saja masih melaju.
Louise dengan cepat mengambil ponsel di tangan gadis itu dan menukar nya.
"Kak! Kirim juga lokasi ku sama dia! Karna aku pakai mobil nya sekarang! Dan..."
"Jemput Bianca," ucap nya sebelum memberikan menukar ponsel nya pada putri kecil nya.
"Paman atau Daddy mu bakal jemput sebentar lagi! Jangan lepaskan ponsel Mommy terus..."
"Sembunyi!" ucap nya yang mendorong tubuh mungil itu keluar.
Tubuh kecil itu tersungkur dan menggelinding di atas tanah yang sembab karna Louise memang mencari tanah yang tidak keras agar gadis kecil itu tak merasa begitu kesakitan.
"Huhu..."
"Mommy jahat..."
Tangis Bianca yang bahkan tak tau jika sang ibu meninggalkan nya untuk diri nya sendiri.
"Louise!"
"Paman? Daddy?" panggil Bianca dengan suara yang serak karna tangis.
Sementara itu
Mobil awal nya tadi tertinggal kini mulai terlihat kembali, benar saja tak lama ia kembali melajukan mobil nya setelah meninggalkan putri nya, mobil-mobil tanpa plat berwarna hitam itu sudah menyusul nya.
DOR!
CKIT!!!
Kali ini mobil silver milik pria itu hampir terguling karna tembakan yang tepat mengenai ban membuat nya tak lagi bisa melajukan mobil nya.
"Sial..."
"Setidaknya aku tidak membuat anak ku mati lagi kan?" gumam nya yang melepaskan stir nya karna tau jika mobil nya tak akan lagi bisa di kendarai dan yang mengejar nya akan sampai pada nya.
Kematian?
__ADS_1
Tentu ia takut jika sesuatu terjadi pada nya, namun ia terlalu sering menghadapi sesuatu yang membuat nya memancing malaikat maut untuk membuat list.