
Mata coklat itu melihat ke arah langit-langit hotel yang bewarna putih dan memiliki lampu yang cantik.
Ia masih mengatur napas nya, bibir nya terdiam dan masih memegang selimut yang menutupi tubuh nya.
"Mau ku pesan kan makan malam?"
Mata nya menoleh ke arah pria yang terlihat menatap nya dengan senang karna di penuhi sinar di setiap netra nya.
"Jangan anggap berlebihan yang tadi," ucap nya sembari langsung membelakangi pria itu dengan wajah nya yang memerah.
Louis diam mendengar nya, "Kenapa?" tentu ia bertanya-tanya kenapa wanita itu seakan meminta untuk melupakan hal yang barusan mereka lakukan.
"Tidak ada alasan, La..lagi pula ini kan hal yang biasa untuk orang dewasa." ucap nya sembari mulai memungut pakaian nya yang berantakan.
"Kau biasa seperti ini di sana?" tanya pria itu langsung mengernyit.
"I...iya..." jawab Clara yang terdengar gugup.
Pria itu tersenyum dengan smirk nya saat mendengar nya, ia bisa langsung merasakan apakah wanita itu sedang berbohong atau tidak.
"Sungguh?" tanya pria itu mendekat dan mengkaitkan bra yang tengah ingin di pakai oleh mantan istri nya itu.
Clara tersentak, ujung jemari pria itu menyentuh punggung nya yang terasa begitu halus tersebut.
Kuduk nya kembali meremang, ia merinding dan semakin gugup merasakan nya.
"Kenapa dengan reaksi mu? Kau mau lagi?" ucap nya dengan mendekat ke telinga wanita itu.
Clara langsung berbalik melihat nya, "A..aku tidak!" sanggah nya seketika.
"Oh iya tadi kau bilang kau juga sering seperti ini kan?" tanya nya lagi saat melihat mantan istri nya itu menjauh dan mencari pakaian nya.
"Iya," jawab Clara sembari membuang pandangan mata nya.
"Terus tadi kenapa meringis? Harus nya kan tidak? Kau bilang kau juga sering? Tadi juga kau kelihatan sa- Humph!"
"Hush! Jangan di bahas lagi!" ucap Clara yang langsung datang dan menutup mulut pria itu dengan kepalan tangan kecil nya.
Pria itu tersenyum, walaupun pengalaman nya hanya sebatas dengan wanita di depan nya saja namun ia juga pasti merasakan jika tubuh wanita itu tidak lagi tersentuh cukup lama.
Louis menurunkan tangan yang menutup mulut nya, menatap netra coklat yang melihat nya dan kemudian membuang pandang nya lagi.
"Uang tunjangan itu cukup untuk mu?" tanya nya membuka suara.
"Cukup, kau memberi ku banyak uang." jawab Clara yang ia rasa tak perlu menutup mulut pria di depan nya.
"Benarkah? Padahal aku lebih suka memberi mu uang bulanan bukan tunjangan perceraian." ucap nya mendekat ke arah wanita itu.
Clara tak mengatakan apapun, ia hanya terlihat menjadi kikuk menatap ke arah pria di depan nya.
"Kau tidak mandi lebih dulu? Bukan nya di situ akan sedikit lengket nanti?" tanya nya sembari menunjuk dengan dagu nya.
Mata Clara langsung mengernyit dan menutup apa yang di lihat di mata mantan suami nya itu.
"Mes*m!" ucap nya seketika.
Louis hanya tertawa mendengar nya, ucapan nya memang tak salah namun terdengar begitu vulgar jika di katakan secara lugas.
......................
Sementara itu.
Suara tarikan napas yang terdengar di ujung tenggorokan, hembusan oksigen yang terasa akan habis.
"Kau punya ginjal yang sehat?" tanya pria itu sembari berjongkok dan menginjak tangan yang terlihat gemetar itu.
Ekhhh!!!
Tak ada jawaban sama sekali, hanya terlihat mata yang berkaca seperti memohon ampun.
Kalau gitu Daddy latihan senyum aja
Ucapan yang tiba-tiba terngiang di kepala nya mengingat apa yang di katakan oleh putra angkat nya.
"Kau mau hidup lebih lama?" tanya nya lagi.
Mengejar orang-orang yang berusaha mencuri milik nya apalagi salah satu yang termasuk ke dalam uang dan materi tentu akan ia kejar sampai ujung dunia pun.
Mata pria yang tengah melatah di tanah dengan tubuh yang sudah terluka itu terlihat menatap nya dengan berharap.
Wajah dingin yang terlihat tak memiliki rasa ampun itu serta mata tajam yang seperti pisau itu tiba-tiba berubah.
"Apa kau takut kalau melihat ku seperti ini?" tanya nya sembari berusaha tersenyum.
Mata pria itu terlihat membulat semakin takut, melihat seseorang yang memegang pistol tersenyum cerah pada nya.
Senyuman itu jatuh kembali saat melihat tubuh orang yang di tanya semakin gemetar ketakutan.
"Hehe? atau Hihi? Haha?" tanya nya lagi.
Alasan ia menanyai orang yang sekarat adalah karna ia berpikir seseorang yang akan mati tak mungkin berbohong namun ia tidak peka dengan situasi nya.
Masalah nya orang yang ia tanya adalah seseorang yang akan ia bunuh juga dengan nyawa yang di ujung tarikan jemari nya.
Pria itu semakin gemetar, bukan lagi Monster menyeramkan yang ia hadapi melainkan Monster gila yang bertanya tentang tawa dan senyum yang lebih bagus.
__ADS_1
"Tu..tuan?"
James langsung menoleh ke arah pria yang memanggil nya.
"Anda sedang apa?" tanya Nick melihat ke arah tuan nya.
Wajah yang tadi nya membuat suatu tawa itu langsung kembali datar tak memiliki ekspresi.
"Tidak ada," jawab nya singkat dan berbalik.
Mana mau pria tampan itu mengaku tengah berusaha memiliki ekspresi yang senyum agar tidak di takuti putri nya lagi.
"Urus dia, jual apa yang bisa di jual." perintah nya sembari berlalu pergi.
Nick hanya menarik napas nya, mata nya mengandar pada orang-orang yang sudah terjatuh dan mungkin sebagian tak lagi bernyawa.
......................
Dua hari kemudian.
Apart Blue sky
Gadis itu terlihat tertawa sembari memegang gitar milik tunangan sekaligus sahabat nya itu.
"Jangan ketawa Louise," ucap Zayn yang protes melihat ke arah gadis itu.
"Kenapa? Bagus kok?" tanya Louise langsung.
Awal nya ia membongkar buku-buku yang ada di apart mewah itu sembari mencoba gitar yang ada namun ia malah melihat buku catatan kecil milik sahabat nya itu.
Catatan yang berisi tentang jurnal harian nya saat masih anak-anak dulu dan sama sekali belum hilang atau di buang.
"Ya ampun aku mau sedih tapi malah ketawa, Haha!" ucap Louise dengan riang.
Mungkin dulu buku tersebut seperti diary namun sekarang seperti kelakuan aneh dan aib masa kecil yang membuat perut nya terguncang karna tawa.
"Aku pesan makanan," ucap nya dengan kesal karena gadis itu tak berhenti menertawai catatan absrud masa kecil nya.
Louise menarik napas nya melihat pria itu pergi ia mengatur kembali tawa nya dan mulai tenang namun wajah nya masih terlihat tersenyum.
Tubuh nya kembali berdiri dan melihat-lihat ke arah kumpulan buku yang masih akan di atur ulang di rak nya tersebut.
Greb!
Mata gadis itu membulat sejenak merasakan pelukan di pinggang nya dari belakang yang tengah mendekap nya.
Hembusan napas hangat yang tertiup di telinga nya serta aroma parfum manis membuat nya langsung tau siapa yang memeluk nya.
"Padahal tadi aku mau memarahi mu tapi kenapa jadi memeluk mu?" tanya pria itu lirih sembari menyandarkan kepala nya di tengkuk gadis itu dari belakang.
"Manis nya, kau sangat menyukai ku ya?" goda gadis itu tertawa.
"Hm..."
"Louise?" panggil nya lirih.
"Ya? Kenapa?" tanya gadis itu yang tak melepaskan pria yang memeluk nya dari belakang melainkan malah memegang erat tangan yang melingkar di pinggang nya.
"Kita akan menikah kan?" tanya pria itu sembari menghirup aroma parfum yang melekat pada tubuh gadis di depan nya.
Senyuman gadis itu perlahan turun, bibir nya bungkam sejenak menatap ke arah buku-buku yang tersusun di depan nya.
"Louise?" panggil Zayn lagi.
"Tentu, kita akan menikah..." jawab nya lirih dengan nada berat.
"Kau masih tidak menyukai ku?" tanya pria itu lagi dan melepaskan pelukan nya.
Louise berbalik menatap ke arah wajah pria yang terlihat menatap nya dengan penuh harap.
Lidah nya terasa kelu jika harus mengatakan sesuatu yang akan menyakiti pria tampan di depan nya itu.
"Tentu aku menyukai mu, kalau aku tidak suka dengan mu tidak mungkin aku tunangan dengan mu kan?" tanya nya dengan tersenyum.
"Bukan sebagai teman tapi pria." ucap Zayn lagi.
"Tentu saja aku juga suka, siapa yang tidak akan menyukai pria seperti mu?" tanya nya sembari memegang rahang pria itu.
Zayn menyandarkan wajah nya pada tangan yang lembut dan halus tersebut.
Cup!
Ia memegang dan mencium telapak tangan yang terasa halus tersebut.
"I love you," ucap nya lirih sembari menatap hangat ke arah gadis itu.
Louise hanya tersenyum ia masih ragu menjawab nya namun ia tak menolak nya sama sekali.
......................
Mansion Dachinko.
Wajah gemas itu cemberut melihat ke arah sang ayah yang datang.
__ADS_1
"Daddy udah gak kesulupan lagi kan?" tanya nya menatap ke arah sang ayah yang sesekali terkadang tersenyum pada nya.
"Tidak? Mana ada hantu yang berani dekati Daddy," ucap nya pada putri kecil nya.
"Kenapa? Belalti Daddy lebih selem dali hantu?" tanya nya dengan bingung.
Pria itu mengernyit mendengar ucapan polos putri nya, kalau ia bilang hantu takut dengan nya berarti secara tidak langsung ia memang lebih mengerikan dari hantu.
"Mungkin bisa di bilang begitu..." ucap nya yang juga terdengar bingung.
Bianca pun hanya mengerucutkan bibir nya dan turun dari pangkuan sang ayah. Kaki kecil nya langsung berlari keluar mencari permainan lain lagi.
Tak lama kemudian Nick pun datang sembari membawa map di tangan nya.
Di hari pria itu bertemu lagi dengan gadis nya ia langsung mencari tau, bahkan menempatkan seseorang untuk memantau kediaman gadis itu selama 24 jam.
"Dia menyembunyikan nya dengan baik, jadi selama ini dia ada di mana kau masih belum menemukan nya?" tanya nya lagi.
Informasi yang di dapatkan adalah informasi terbaru yang sangat minim namun karna sudah terlihat oleh nya jadi ia lebih mudah menemukan nya.
"Anda..."
"Tidak akan mengurung nona Louise lagi kan?" tanya Nick dengan ragu.
Pria itu tak menjawab melainkan hanya tersenyum simpul mendengar nya.
......................
Cafe.
Gadis itu melirik ke arah pria yang menatap nya terus menerus.
"Ada apa?" tanya Louise lirih dengan mengernyit.
"Kau benar-benar tidak mengenal ku?" tanya pria itu lagi.
Gadis itu menggeleng, ia mengernyit berusaha mengingat wajah pria di depan nya namun tetap saja ia tidak mengingat apapun.
"Mungkin anda salah orang," ucap nya sekali lagi.
"Louise..." ucap pria itu lirih.
Mata hijau itu mengernyit menatap pria yang memanggil nama nya tersebut.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak ingat aku, sekarang kau kan bisa kenal aku lagi?" tanya nya mendekat pada gadis itu.
"A...aku tidak mau tuh!" ucap Louise yang langsung menyangga dan bangun dari duduk nya.
"I love you," ucap pria itu sebelum ia beranjak menjauh.
Louise memutar tubuh nya menatap ke arah pria asing yang tanpa sadar tersenyum saat melihat nya.
"Gila," ucap nya dengan wajah tak percaya yang terlihat bingung sekaligus.
Tak ada jawaban pria itu hanya menatap nya tanpa menggubris ucapan nya.
"Aku tadi belikan ini, kau pasti suka." ucap pria itu yang membuang napas nya dan mengambil pesanan nya yang sudah selesai.
Macaron cantik yang masih dan memiliki rasa stroberi itu di berikan ke tangan nya.
"Tenang saja tidak ada racun nya, kau lihat dia baru saja mengantar nya kan?" tanya pria itu tersenyum sembari membuat tangan nya gadis itu memegang macaron yang sudah terbungkus rapi itu.
"Kau jelek! Aneh!" ucap Louise seketika.
"Ha?" pria itu terkejut dan tak lama kemudian gadis itu langsung berbalik pergi dengan cepat dari nya.
......................
Kediaman Rai.
Tangan nya dengan gatal tanpa sadar memakan macaron yang ia dapatkan dari pria yang asing yang tiba-tiba mengatakan menyukai nya itu.
"Enak," ucap nya lirih yang memang macaron tersebut sesuai dengan lidah nya.
"Ck! Dia siapa sih?!" decak nya sembari memakan macaron manis berwarna merah muda itu.
Ia merasa tak nyaman dan ingin kabur jika pria itu mendekat pada nya, seperti alarm dalam dirinya menyala dan meminta nya untuk lari menjauh.
...
Mansion Dachinko.
James terlihat menatap wajah nya di cermin terus menerus, apa wajah nya terlalu kaku atau benar-benar sudah jelek sekarang.
Melihat ke arah mata dan juga mencubit wajah nya sendiri untuk memastikan ucapan gadis itu.
Bagi nya semua perkataan gadis itu menjadi sangat sensitif untuk nya, bukan membuat nya sakit hati namun ia yang ingin kembali membuat gadis itu menyukai nya.
"Aku jelek?"
"Apa karna sudah semakin tua?" ucap nya lirih yang bertanya-tanya.
Di tengah kebingungan nya itu memikirkan apa ia sudah tidak masuk kriteria yang di sukai gadis nya lagi ia malah tiba-tiba teringat dengan wajah gadis itu secara detail.
__ADS_1
"Ck! Aku ingin mencium nya," ucap nya yang kesal dan tak sabar menunggu waktu berlalu agar bisa menemui gadis itu lagi.
Ingin rasa nya ia kembali menculik dan mengurung gadis itu di mansion nya namun jika ia benar-benar melakukan nya ia tak tau apa yang harus ia katakan jika putri kecil nya bertanya tentang apa yang ia lakukan.