
Kediaman Rai
Pria itu menunggu di ruang tengah, tentu ia tak ingin ada kejadian buruk yang terulang pada sang adik membuat nya lebih waspada dengan memberikan pengawal tersembunyi untuk gadis itu.
Dan kali ini ia mendapatkan informasi tentang kemana dan dengan siapa sang adik pergi. Seseorang yang membuat nya sangat marah karna ia tau orang itu juga yang menyakiti adik nya.
"Dari mana?" tanya pria itu ketika sang adik baru saja memasuki pintu utama.
Louise mengernyit, wajah dan suara ketus sang kakak membuat nya bingung, "Kenapa?"
"Tadi dari mana?" tanya Louis sekali lagi dengan wajah yang terlihat kesal pada sang adik.
Louise diam, memang nya ia harus bilang dari mana dan dengan siapa pada sang kakak yang saat ini sedang sangat sensitif.
"Memang nya aku harus bilang dari mana saja?" tanya Louise mengernyit dan mengelak dari pertanyaan sang kakak.
"Jawab saja jangan mengelak," ucap Louis sekali lagi.
"Aku bukan anak kecil Louis..." ucap nya sekali lagi pada sang kakak dan ingin beranjak pergi.
"Kau pergi dengan dia kan?" ucap Louis saat melihat saudari kembar nya itu pergi ke arah kamar nya.
Langkah Louise terhenti, ia menoleh menatap sang kakak dan diam tak menjawab apapun.
"Kau tidak waras lagi?!" tanya Louis sembari berjalan mendekati sang adik.
Louise masih diam, ia tak bisa mengatakan tau menjawab apapun.
"Kau mau menikah sebentar lagi tapi pergi dengan pria lain?!" tanya pria itu yang masih menatap sang adik dengan penuh amarah dan khawatir.
"Aku gak buat apa-apa sama dia!" jawab Louise yang kali ini menggeluarkan suara nya.
"Tidak ada? Yakin?" suara yang terdengar seperti menyindir.
Louise berdecak ia pun kembali memutar langkah nya dan ingin segera pergi.
"Zayn, kau tau kalau yang kau lakukan sekarang akan menyakiti dia?" tanya Louis yang membuat gadis itu menghentikan langkah nya.
"Aku bahkan tidak tidur atau melakukan sesuatu yang kelewat batas," lagi-lagi ucapan bantahan yang keluar dari bibir gadis itu mencari pembenaran.
"Baik, kalau begitu di putar saja situasi nya. Kalau kau lihat tunangan jalan dengan wanita lain kau bagaimana?" tanya Louis pada gadis itu.
"Kau ini kenapa sih? Aku baru pulang udah di marahin!" ucap Louise yang tak ingin mendengar apapun.
Mungkin ucapan dan nasehat sang kakak untuk tak lagi mendekat pada api yang sama memang benar tapi sekarang bahkan gadis itu tak ingin melihat kebenaran.
Antara mau dan tidak, ingin atau tak menginginkan. Tak ada jawaban untuk itu.
Louise kali ini mempercepat langkah nya menuju kamar yang ia miliki.
......................
Sementara itu gadis cantik dengan wajah seperti boneka itu memakan makanan yang seperti kapas dan lenyap begitu memasuki mulut nya serta meninggalkan rasa yang manis.
"Paman?"
Mata coklat itu melihat ke arah paman-paman yang tadi nya bersikap sangat ramah kini tampak diam dan menyeramkan.
"Paman? Kita mau kemana?" tanya Bianca lagi sembari memegang tangan pria itu.
Tak ad jawaban lagi namun mata pria yang di senggol oleh Bianca melihat ke arah rekan nya seperti sedang berbicara dengan pandangan.
"Minum ini, kau haus kan?" ucap nya sembari memberikan air putih yang di berikan obat bius.
Bianca beranjak mengambil nya, memang benar jika ia merasa haus.
"Bukain," ucap nya dengan mata polos dan memberikan botol minuman pada pria di samping nya karna ia belum sanggup membuka nya.
Pria itu membuka nya, dan memberikan pada gadis kecil itu.
Tanpa merasa curiga dan takut Bianca meminum nya hingga dahaga hilang.
Mata coklat itu mulai sayup dengan cepat, memang obat bius lebih sensitif pada anak-anak.
"Paman nanti bangunin kalau uda sam..." ucap Bianca yang tak bisa melanjutkan kalimat nya dan langsung terjatuh tertidur.
Setelah gadis kecil itu memejam ke empat pria di dalam mobil berbentuk Van itu mulai bicara.
"Cantik nih anak, mau di jual atau minta tembusan?" tanya pria yang duduk di sebelah kanan Bianca.
"Jual aja, mata sama organ nya masih bagus tuh! Kalau ada yang mau adopsi buat pr*stit*si juga banyak." jawab pria yang duduk di samping pengemudi.
__ADS_1
"Tapi masih terlalu kecil kalau mau di jual untuk bekerja yang begitu," bantah si pengemudi.
"Tapi kan kalau anak yang di besarin dari kecil tau masih per*wan atau tidak nya, Hahaha!" sahut pria yang berada di sisi kiri gadis kecil itu sembari melihat wajah cantik yang bagaikan boneka itu.
"Iya juga!" sambung si pengemudi dengan tawa kekeh.
Awalnya ke empat pria itu membawa narkotika namun karna sudah memperhatikan gadis kecil itu yang berkeliaran sendiri membuat nya ia ingin mendapatkan lebih banyak keuntungan dari barang haram yang di bawa.
"Kalau mau minta tembusan memang tau ini anak siapa? Udah, mending di jual aja." sahut salah satu pria dan di angguki dengan rekan-rekan nya yang lain.
...
Mata coklat itu mulai terbuka, lantai yang berdebu dan lebih mirip dengan tanah yang tampak sangat kotor.
"Hum?" Bianca mengusap mata nya.
Kali ini ia terbangun di tempat yang begitu asing dan sangat kotor, seperti bangunan dan gudang yang tak lagi terpakai.
"Kok Bian belum pulang?" tanya nya yang mulai bangun dan membangunkan pria yang berjaga di tempat nya saat ini.
Tak ada ke empat pria seperti yang ia lihat sebelum nya, hanya satu pria yang tertidur dengan alkohol dan kacang di samping nya.
"Paman? Paman? Paman!" ucap nya berteriak dan mengejutkan pria itu.
"Haish! Sial!" ucap pria itu yang terkejut dan langsung mendorong tubuh mungil yang membangunkan nya.
"Aduh!" Bianca langsung terduduk dan terjatuh.
Ia menatap dengan wajah cemberut dan kesal karna masih sangat tidak tau apapun tentang situasi nya.
"Bian kok belum pulang?" tanya nya menatap ke arah pria itu.
"Berisik! Tidur lagi sana!" ucap pria itu pada gadis kecil yang tampak cantik itu.
Bianca tak menjawab namun wajah nya menatap ke kesal.
Wajah kesal itu perlahan hilang seketika ketika melihat pistol yang bersama dengan pria yang berjaga agar ia tak kabur itu.
"Paman? Paman suka main piuw! piuw! juga?" tanya nya dengan mata yang tampak tertarik dengan benda yang biasa ia lihat di mansion nya itu.
Pria itu melihat ke arah pandangan mata gadis itu yang menatap binar ke arah pistol milik nya.
"Hey nak? Ini bukan mainan," ucap nya melihat ke arah anak kecil yang tampak polos dan begitu tertarik dengan senjata nya.
Pria itu tertawa, memang nya tau apa anak-anak tentang pistol?
Ia pun memberikan nya, dan tentu setiap pistol memiliki kait kunci yang harus di setel terlebih dahulu sebelum di pakai dan ia yakin gadis kecil itu tak akan tau.
"Kau mau?" tanya nya yang masih terkekeh dan meminjamkan pistol tersebut.
Bianca mengambil dengan wajah yang tersenyum cerah, ia membawa nya sedikit menjauh dan duduk ketika menemukan tempat yang lebih bersih.
Melihat gadis kecil itu yang kembali tenang ketika mendapatkan mainan baru membuat pria itu kembali memakan kacang kulit di samping nya.
"Paman?" panggil Bianca sesaat ketika melihat ke arah pistol yang ia pegang.
Tak ada jawaban namun pria itu melihat ke arah anak kecil yang tampak asik bermain dengan senjata nya.
"Paman gak sikat gigi? Mulut paman bau loh," celetuk gadis kecil itu yang jujur.
"Anak sialan! Kalau kau bukan ladang uang, sudah ku hajar kau!" ucap pria itu yang membanting kulit kacang nya dan menatap dengan kesal.
"Paman? Bian piuw! piuw! paman yah!" ucap Bianca dengan senyuman polos nya sembari mengarahkan mata pistol ke arah pria itu.
Sang ayah selalu memberitahu nya untuk tak pernah mengarahkan pistol ke arah nya sendiri dan harus ke arah lawan.
Karna ia terlalu banyak dan sering mendengar nya tentu ia sudah hapal.
Pria itu menganggap remeh, ia tau gadis kecil itu tak akan tau bagaimana cara menggunakan nya, ia kembali memakan kacang nya dan meminum alkohol.
Bianca tersenyum, ia pikir kali ini pistol kosong seperti yang ia biasa di boleh sang ayah untuk ia pegang.
DOR!!!
Suara tembakan yang terkena tepat mengenai bahu pria yang tengah berjaga itu hingga membuat nya terkejut.
Argh!
"Anak setan! Sini kau!" ucap nya dengan marah sembari mulai berjalan mendekati.
DOR!!!
__ADS_1
DOR!!!
"Hehe!" Bianca tertawa, tubuh kecil nya terdorong ketika peluru itu keluar dari pistol yang ia pegang menembaki pria yang mendekat ke arah nya hingga tumbang.
"Hum?" gadis kecil itu tampak bingung.
Mengapa pria itu tak bangun lagi dan malah tertidur?
"Paman bangun? Main lagi yuk sama Bian?" ucap nya yang membangun dan mengajak pria itu untuk bermain piuw! piuw! lagi.
"Malah tidul," ucap nya kesal namun darah dari pria yang telungkup itu mulai mengalir.
Gadis itu tak asing lagi dengan cairan merah kental yang anyir dan amis itu karna ia sudah terbiasa melihat sang ayah kembali dari situ tempat dalam keadaan berlumuran darah.
Tangan mungil nya mulai membuat gambar dengan darah yang menggenang itu dan bermain seperti permainan biasa di samping mayat.
Senyuman cerah dan tawa cantik terdengar, gadis kecil itu menggambar lantai kotor itu dengan jemari mungil nya yang di berikan tinta darah dari pria yang tertembak dan sudah mati itu.
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka gadis kecil itu langsung menoleh sedangkan tubuh dan jari-jari nya penuh darah dari mayat pertama yang ia bunuh dengan tidak sengaja.
Deg!
Ketiga pria itu tersentak begitu melihat nya, "Apa-apaan ini?!" ucap salah satu pria itu dengan tercengang.
Gadis kecil itu tertawa dengan polos dan menatap ke arah pria yang datang dengan nya.
Salah satu pria itu pun memeriksa rekan nya, "Dia mati."
Yang lain pun langsung terkejut dan kembali menatap ke arah anak kecil yang tampak polos dan seakan tak mengerti apapun itu.
"Seperti nya kita salah ambil anak, ini anak setan!" ucap nya salah satu pria itu yang begitu kesal melihat rekan dalam pekerjaan buruk nya itu mati.
Plak!
Bianca langsung terhuyung, tubuh mungil nya langsung terjatuh ke lantai dan ia yang langsung terkejut.
"Sa..sakit..." ucap nya yang ingin menangis begitu mendapatkan pukulan pertama nya.
Bugh!
"Mati kau, anak setan!" pria itu tampak begitu emosi dan melihat dengan kesal sembari mulai memukuli dengan membabi buta.
......................
Mansion Dachinko
Sangat sulit untuk melacak di mana putri kecil nya hilang, namun setidaknya ia mendapatkan titik terang tentang toko roti yang sempat di masuki oleh putri kecil nya.
Tempat yang sangat jauh dari tempat yang di katakan oleh putra angkat nya untuk mencari adik nya yang hilang.
"Tuan, tadi saya mendapatkan laporan tentang anak yang ingin di jual dan ciri-ciri..." ucap Nick menggantung.
James mengernyit, "Priksa siapa yang mengajukan nya dan lanjutkan pencarian di area itu!" perintah nya yang beranjak ke arah bawahan nya itu mendengar tentang perdagangan yang biasa ia lakukan.
"Jangan sampai ada anak perempuan yang terjual di bawah umur lima tahun, dan periksa semua anak-anak yang di kirimkan!" perintah nya ketika mendengar laporan yang di berikan oleh bawahan nya.
......................
Sementara itu, suara tangisan tak lagi terdengar. Tubuh kecil dan mungil itu meringkuk dengan luka robek dan memar yang cukup banyak di sekujur tubuh nya.
"Anak itu mati?" tanya rekan pria itu yang menghentikan rekan nya untuk terus memukuli gadis kecil itu.
"Kita sudah bilang akan jual anak ini! Sial! Jadi rugi dua kali kalau dia mati!" ucap nya salah satu pria itu tampak frustasi.
"Masih hidup, apa kita jual cincang aja? Sebelum mati total," sahut salah satu pria.
Menjual cincang dalam artian menjual organ nya saja tanpa menjual manusia utuh yang masih hidup.
Sedangkan mata coklat itu tampak sangat sayup, pandangan nya gelap dan kabur serta merasakan rasa sakit yang tak pernah ia rasakan.
Jangan sampai terluka, di jewer atau di marah saja gadis kecil itu tak pernah mendapatkan.
Sakit...
Daddy mana?
Jemput Bian...
Kakak juga...
Katanya tadi mau balik...
__ADS_1
Paman nya jahat...