
Dua Minggu kemudian.
Kali ini gaun dengan design yang indah terlihat cocok untuk tubuh ramping yang tinggi itu.
"Apa kita perlu ganti untuk bagian bawah nya?" tanya Louise sembari berbalik memutar di depan cermin.
"Tidak, ini juga sudah cantik." pria itu tersenyum.
Pancaran mata yang tampak tulus dan hangat membuat nya memalingkan wajah nya tak ingin melihat harapan dari seseorang yang begitu dalam.
"Aku pesan Villa di Belanda, tempat nya bagus dan udara juga bagus." ucap Zayn tersenyum, memang ia mengatakan memesan nya namun kenyataan nya ia membeli nya sekaligus.
"Villa?" tanya Louise mengernyit.
"Hm, kita perlu ke suatu tempat setelah menikah kan?" tanya pria itu yang menyinggung soal bulan madu nya.
"Ah iya..." Louise membuang napas nya lirih, ia tak bersemangat dengan pernikahan nya namun juga tidak tega untuk membatalkan nya.
Tak hanya tentang dirinya namun juga tentang orang-orang di sekitar nya, kakak nya yang berharap pada nya serta tunangan yang sangat mencintai nya dan orang tua dari pria itu yang juga sangat menginginkan nya dan memperlakukan nya dengan baik.
Cup,
Pria itu mengecup bibir gadis yang masih kalah tinggi dari nya dan menatap dengan senyuman lembut.
Louise tak mengatakan sepatah kata pun lagi, padahal ia tempo hari baru saja bertemu dan makan malam dengan pria lain karna pria itu menggunakan 'kesempatan' yang ia berikan.
Sedangkan pria itu kini mulai mengetahui siapa yang di temui tunangan nya di belakang nya, namun ia menutup mata nya seperti tak melihat apapun agar tetap membuat wanita itu berada di sisi nya.
......................
Mansion Dachinko
Tak menemukan apapun tentang seseorang yang menelpon nya, memang nomor tersebut terlacak namun tidak dengan pemilik asli nya.
"Apa yang baru kau buat?" tanya James mengernyit saat datang ke tempat bawahan nya yang selalu saja mencoba membuat sesuatu yang gila.
"Racun!" jawab Chiko dengan semangat.
"Banyak racun yang sudah ada, jadi apa istimewa nya ini?" tanya James mengernyit dan menatap ke arah pria.
"Ini tidak ada penawar nya dan tidak akan bisa di selamatkan," ucap nya sekali lagi dengan senyuman puas saat sudah membuat salah satu alat pembunuh yang mematikan.
"Membuat racun tanpa penawar itu seperti pistol dengan dua mata arah," ucap James yang membuang napas nya lirih.
Chiko tersenyum mendengar nya, "Tidak ada untuk di pasarkan tapi kita punya." ucap nya dengan senyuman.
"Maksud mu?" James mengernyit, ia tak sampai memikirkan hal yang rumit karna masalah nya saja sudah rumit.
"Ini bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak jika sudah dua hari, dan orang yang terkena racun ini akan mati setelah tiga hari kalau tidak dapat penawar dari kita." ucap nya menerangkan.
"Jadi maksud mu kau berencana menjual racun nya saja tanpa penawar nya?" tanya pria itu yang setidak nya menangkap apa yang di pikirkan oleh bawahan nya.
"Yap! Racun yang tidak akan terdeteksi dan membuat waktu yang mati tepat di 72 jam kemudian! Pasti akan banyak yang beli," ucap nya dengan semangat.
"Hm, kau bisa melakukan nya." James menarik napas nya.
Racun atau sejenis bahan berbahaya lain nya memang sudah ia edarkan sejak awal namun yang berbeda adalah produk lain nya.
Masa depan tidak ada yang tau dan seperti apa, pria itu hanya bersikap seperti biasanya dengan tanpa sadar membangun bom waktu nya sendiri.
..
"Daddy?"
Suara yang imut menggemaskan itu tiba-tiba datang di balik pintu kamar pria itu.
James menutup buku nya dan melihat ke arah wajah kecil yang tampak ingin mendekat ke arah nya.
"Daddy liat apa?" tanya nya mendekat.
"Kenapa belum tidur? Nanti Bian gak tinggi-tinggi loh, mau?" tanya nya pada putri kecil nya.
Gadis kecil itu menggeleng, "Tadi waktu Bian, Bian mimpi selem..." ucap nya pada sang ayah.
James menarik napas nya, "Mau tidur sama Daddy? Ke sini," ucap nya sembari menepuk sisi ranjang nya agar putri kecil nya naik.
Bianca memanjat ranjang yang tinggi itu dan duduk di samping sang ayah.
"Daddy? Mau liat silil lagi," ucap nya pada sang ayah.
"Silil? Silil apa?" tanya James dengan bingung menatap ke arah putri kecil nya yang menatap nya dengan binar mata yang bulat dan cerah itu.
"Dual! Telus kelual selobeli dali belakang," ucap nya pada sang ayah.
Pria itu mengernyit namun ia beranjak mencubit pipi bulat itu dengan pelan.
"Bian tau dari mana?" tanya nya pada putri kecil nya.
"Dali Mommy!" ucap nya pada sang ayah dengan suara yang menggemaskan itu.
Senyuman tipis tampak di wajah tampan itu, ia menidurkan putri nya setelah memberikan bantal yang nyaman.
__ADS_1
"Sekarang Bian tidur dulu, besok Daddy minta ajari Mommy buat tunjukin sihir nya." ucap nya yang tau apa yang di minta putri nya.
"Janji?" ucap Bianca sembari menatap sang ayah.
Pria itu mengecup dahi putri nya dan mengusap kepala kecil itu, "Daddy kan gak pernah bohong sama Bian..." ucap nya yang membuat tenang gadis kecil itu.
Puk puk lembut dari sang ayah membuat mata nya kembali mengantuk. Ia memang sesekali terbangun dan mencari sang ayah ketika malam.
......................
2 Hari kemudian
Mansion Dachinko
"Kali ini kau sudah bisa bertemu dengan nya?" tanya pria itu saat sudah lewat beberapa Minggu.
"Kau mau gunakan kesempatan itu untuk nya?" bukan nya menjawab Louise malah bertanya kembali.
"Hm," jawaban singkat yang menjawab semua nya.
"Tidak perlu pakai kesempatan itu, hari ini aku memang berencana menemui nya." ucap nya pada pria di samping nya.
James mengernyit ia menatap ke arah gadis itu dengan tak percaya.
"Kenapa? Lagi pula nanti aku juga akan menemui nya?" Louise menatap ke arah pria yang melihat nya dengan curiga.
"Aku mau bawa dia keluar hari ini," ucap nya lagi pada pria itu.
"Kemana?" tanya James sembari menatap ke arah gadis itu.
"Daddy!"
Suara yang membuat pertanyaan itu tak terjawab serta langkah kecil yang menggemaskan itu berlari ke arah nya.
Mata coklat yang bulat itu mengintip di balik kaki sang ayah dan melihat wanita yang merupakan ibu nya itu.
Louise berjongkok, terapis nya memang menyuruh nya untuk mencoba bersama dengan putri nya saat ini dan ia pun yang juga memang menerima perawatan secara rutin membuat nya setidaknya mulai membaik walau masih tak pulih seutuhnya.
"Hari ini mau pergi sama Mommy tidak?" tanya pada gadis kecil yang bersembunyi di balik ayah nya itu.
Bianca tak beranjak, ia meremas celana sang ayah dan menengandah menatap wajah ayah nya.
"Kita main terus makan es krim, ada permen kapas juga sama Coklat." ucap Louise lagi pada gadis kecil itu.
"Sama Daddy?" tanya nya yang mulai tertarik namun ia masih menginginkan sang ayah ikut.
Louise menggeleng, "Hanya kita." ucap nya pada gadis kecil itu.
"Ini permainan anak perempuan, anak laki-laki gak boleh ikut." ucap Louise pada gadis kecil yang masih belum mengerti laki-laki dan perempuan.
"Daddy kan bisa jadi anak pelempuan juga, iya kan Dad?" tanya nya dengan mata dan tatapan yang polos.
"Kau mau membawa nya kemana?" tanya pria itu yang mulai bersuara.
"Taman bermain," jawab Louise singkat.
"Jangan keluar dari mansion, di luar bahaya." ucap nya pada wanita itu karna ia baru saja mendapatkan panggilan ancaman beberapa waktu lalu.
"Tidak apa-apa dia kan pergi dengan ku, lagi pula kau juga tau ada yang mengikuti ku selain dari kakak ku kan?" tanya Louise yang merujuk pada pengawal yang berasal dari pria itu.
James diam tak mengatakan apapun, namun ia berjongkok di depan putri nya dan menatap gadis kecil itu.
"Bianca mau pergi?" tanya nya pada sembari melihat mata coklat bulat yang menatap nya.
Bianca tak menjawab atau memberikan anggukan dan gelengan, ia hanya melihat sang ayah dengan ragu.
"Kalau mau pergi sama Mommy boleh, Daddy izinin." ucap nya pada putri kecil nya.
"Boleh?" mata coklat itu langsung menatap dengan berbinar.
Ia tertarik dengan semua ajakan manis dari ibu nya karna ia memang masih anak kecil berusia tiga tahun yang bahkan belum bisa membaca.
"Tapi Daddy ikut kan?" tanya pada sang ayah.
James tak menjawab namun ia melihat ke arah Louise.
Louise menggeleng, "Kalau Louis lihat aku dengan mu lagi dia tidak akan membiarkan ku keluar lagi."
"Daddy hari ini gak bisa ikut, Bian sama Mommy berdua mau?" tanya nya yang mengerti mengapa wanita itu tak bisa membawa nya juga.
Awal nya ia memang ragu karena mendapat ancaman namun ia juga memang menempatkan beberapa orang untuk mengikuti wanita itu selain dengan pengawal yang di berikan oleh saudara kembar wanita itu sendiri.
Bianca diam sejenak namun ia perlahan berjalan ke arah ibu nya dengan langkah yang ragu karna sang ayah tidak ikut.
"Akan ku telpon nanti," ucap Louise sembari memegang tangan mungil itu.
"Louise," panggil nya sebelum wanita itu sempat pergi.
Langkah Louise terhenti, ia menatap ke arah pria yang memanggil nya.
Pria itu bukan nya berbicara pada nya namun malah berjongkok lagi di hadapan putri nya.
__ADS_1
"Bian ga cium Daddy dulu?" tanya nya sembari menyodorkan pipi nya.
Cup!
Gadis kecil itu langsung mencium pipi sang ayah yang di tumbuhi janggut halus itu.
James tersenyum, ia bangun dan menatap ke arah wanita itu, "Mommy ga cium Daddy juga?"
"Ha? Apa?" Louise menatap ke arah pria itu dengan terkejut, "Kau gi-"
"Jangan bicara kasar di depan anak kecil," ucap nya dengan suara berbisik dan menggerakkan bibir nya sesedikit mungkin.
Bibir wanita itu langsung terkatup dan terdiam tak jadi mengumpat pria di depan nya.
"Mommy kenapa ga kiss Daddy? Daddy kan wangi?" tanya Bianca dengan mata yang polos.
Ciuman orang dewasa dengan anak kecil seperti nya tentu berbeda, tak ada pikiran rumit di kepala gadis kecil itu.
Pria itu tersenyum tipis, ia beranjak mendekat dan mengecup bibir wanita itu dengan singkat.
"Hum?" memang tak akan ada pikirin aneh jika anak kecil itu melihat kecupan bibir singkat.
"Daddy kok gak kiss Bian juga?" tanya nya dengan bingung dan mata yang menatap sendu.
Pria itu pun menunduk mengecup sekilas dahi putri nya dan mengusap kepala nya.
"Have a nice day," ucap nya sembari mengacak rambut Bianca.
Sedangkan iris hijau itu menatap nya dengan tajam.
"Setidaknya kau bisa terlihat memiliki hubungan yang baik dengan ku, kan? Kalau kau peduli dengan nya." ucap pria itu mendekat ke arah telinga wanita yang memegang putri nya itu.
Louise tak mengatakan apapun lagi, ia pun berbalik dan membawa anak kecil yang terlihat menggemaskan seperti boneka itu.
......................
Taman hiburan
Iris coklat itu membesar menatap ke arah sekelilingnya. Baru kali ini ia melihat keramaian dan juga permainan yang bahkan tak pernah ia lihat sebelum nya.
Permen kapas yang lembut dan manis berada dalam pegangan nya dan kaki yang tak menginjak tanah karna di gendong seseorang.
"Bianca? Jalan sendiri ya?" ucap Louise yang mulai tak tahan menggendong gadis kecil itu terlalu lama karna ia memiliki fisik yang lebih lemah dari kebanyakan orang lain nya.
"Masih mau di gendong!" ucap gadis kecil yang tak mau turun dan malah memeluk leher sang ibu. Ia sudah lama ingin di gendong juga seperti miaw yang di bawa ibu nya waktu itu.
Gulungan permen kapas yang besar itu langsung mengenai wajah Louise, "Astaga anak ini!" gerutu nya yang kesal namun tenaga makhluk mungil itu kuat sekali saat melekat pada nya.
Ia pun mencari bangku taman yang tersedia dan duduk sedangkan putri kecil nya langsung terduduk dalam pangkuan nya.
Bianca melepaskan pelukan erat di leher wanita itu dan melihat permen kapas nya yang melekat di wajah dan rambut ibu nya.
"Mommy kok makan pelmen kapas Bian?" tanya nya dengan polos karna melihat permen kapas yang berkurang akibat bentuk yang menyusut dan berserakan di wajah sang ibu.
Louise menatap dengan kesal pada wajah polos yang tak tau apapun itu, sudah sulit berjalan, wajah di tampar makanan manis yang lengket dan leher yang tercekik karna gadis kecil itu tak mau turun dari gendongan nya.
"Mommy makan nih, makan semua nya!" ucap nya yang langsung mengumpulkan permen kapas yang mengembang itu dan memasukkan ke dalam mulut nya dalam sekejap.
Bianca terdiam melihat permen kapas nya habis dalam sekejap bahkan ia belum mengedip sedikit pun, sedangkan wanita yang memangku nya terlihat tersenyum puas.
"Habis kan?" tanya nya dengan senyuman yang tak tau rasa nya menganggu anak kecil ternyata menyenangkan.
Wajah imut yang terlihat terkejut itu masih memproses sampai...
"HUA!!!"
"Huhu!"
"HUA!!!"
Tangisan yang langsung menggelegar karna melihat permen kapas nya habis dalam sekejap.
"Loh? Malah nangis? Bian?" Louise langsung tersentak dan gelagapan mendengar suara tangisan yang begitu kuat hingga membuat beberapa orang di sekitar nya menoleh ke arah nya.
"Kita beli yang baru! Beli yang baru!" ucap nya yang langsung membawa gadis kecil itu lagi ke arah penjual permen kapas lagi.
Sekarang lebih baik, tak ada tangisan yang menggelegar pada anak mungil itu namun wanita itu tampak mulai mual.
"Kita turun yah?" tanya Louise sembari melihat ke arah putri yang sudah tenang memakan permen kapas di tangan nya.
Bianca menggeleng, wajah dan mata nya masih memerah sembab namun ia masih ingin menaiki komedi putar itu bersama ibu nya.
"Nanti Myy," ucap nya sembari menoleh ke belakang menatap sang ibu yang sudah lemas.
"Nanti kapan? Ini uda putaran ke 25!" ucap Louise pada gadis kecil itu.
Mata coklat itu mulai berair lagi mendengar suara sang ibu yang mulai meninggi.
"Tu..tunggu! Jangan nangis lagi! Satu kali lagi kan?" Wanita itu langsung menutup mulut putri nya yang seperti ingin berteriak menangis lagi.
Memang dulu nya gadis kecil itu tak mudah menangis atau takut, namun karna ia yang masih dalam tahap penyesuaian setelah trauma nya membuat nya lebih sensitif untuk sementara waktu.
__ADS_1
Rasa nya memang melelahkan dan juga merepotkan, namun kali ini ia tak melihat bayangan wajah mungil yang pucat di balik cerah yang cantik menggemaskan itu.