
Mansion Dachinko.
Bibir mungil itu tampak belepotan, ia melihat ke arah sang ibu yang masih makan di samping.
"Mommy tidul di sini?" tanya nya yang menoleh ke arah sang ibu.
Louise langsung melihat ke arah putri nya, "Mommy pulang nanti, habis makan malam Mommy nanti pulang." ucap nya pada gadis kecil yang terlihat cantik itu.
"Yah..." wajah yang tampak lesu itu tak bersemangat melihat makanan nya kembali.
"Nanti Mommy ke sini lagi, kita main bareng lagi." ucap nya pada putri kecil nya yang tampak kecewa.
Mata coklat yang bulat itu kembali melihat ke arah sang ibu, ia berseri dan tentu menantikan apa yang di janjikan sang ibu.
...
Makan malam itu telah usai, makanan yang di hidangkan memiliki berbagai jenis masakan itu kini sudah termakan sebagian dan bahkan ada yang sudah habis.
Anak kecil yang terlihat menggemaskan itu pun kini kembali pergi, setelah tidur dari sore dan terbangun saat malam tentu ia akan kembali bermain lagi sampai mengantuk.
"Kau mau pulang sekarang?"
Suara pria itu memecah keheningan, Louise menoleh menatap ke arah wajah yang terlihat memiliki mood yang lebih baik walau ia masih memberikan wajah yang tak memiliki ekspresi.
"Yang jatuh tadi gimana? Kalau ada yang bersihkan nanti..." ucap Louise dengan suara kecil yang menutup wajah nya karna malu.
"Aku bisa tumpahkan makanan di atas nya jadi tidak akan terlihat," ucap James pada gadis itu.
Ia pun beranjak mendekat ke arah gadis itu, "Aku yang antar pulang?" tanya nya mendekat dengan senyuman tipis.
Tidak memiliki penghalang yang besar dan mendapatkan sesuatu yang tak bisa ia lakukan sebelum nya.
"Aku pulang sendiri saja," ucap nya yang membuka tangan yang menutupi wajah nya.
"Kenapa? Kau takut kakak mu akan marah?" tanya nya pada gadis itu.
Louise tak mengatakan apapun, namun diam nya seakan menunjukkan dan mengatakan segala nya.
"Sudah malam, akan berbahaya untuk mu." ucap nya sekali lagi pada seseorang yang bisa menjadi sasaran kejahatan jika pulang malam.
"Masih jam 8 malam, lagi pula yang paling bahaya kan kau." ucap Louise pada pria itu.
James tersenyum, ia menatap ke arah gadis itu tanpa merasa terluka akan ucapan yang di lontarkan untuk nya.
"Kau benar, ku rasa aku cukup bahaya karna aku ingin terus mengigit mu." ucap nya pada gadis itu.
Louise diam, ia tak mengatakan apapun dan membuang wajah nya saat melihat senyuman yang tipis namun wajah pria itu berseri.
"A..aku pulang se..sekarang! Aku mau mandi dulu," ucap nya yang langsung bangun.
"Aku antar ke depan," ucap James yang mengikuti langkah kaki gadis itu.
Louise mengambil tas dan barang-barang nya, ia pun menemui putri nya dan mengecup nya sebelum pulang.
"Aku?" bisik pria itu mendekat saat Louise mengecup pipi bulat putri nya.
Gadis itu tak mengatakan apapun, ia terlihat cemberut saat mendengar nya dan tentu pria itu malah tertawa kecil.
"Daddy kenapa ketawa?" tanya Bianca yang melihat sang ayah.
Pria itu menunduk melihat ke arah putri kecil nya, tangan nya mengusap kepala yang bulat dan kecil dengan rambut yang halus itu.
"Karna Daddy senang," jawab nya singkat pada putri nya.
Louise masih diam tak mengatakan apapun, ia kembali tersenyum ke arah putri nya dan beranjak pergi.
James melihat ke arah mobil yang mulai melaju dan meninggalkan mansion nya, ia pun tentu menyuruh bawahan nya untuk mengikuti gadis itu sampai selamat ke rumah nya.
......................
Kediaman Rai
Gadis itu membuang napas nya, ia berendam dengan tubuh nya yang penuh bekas kepemilikan itu.
Melepaskan rasa penat nya sejenak, baru kembali dari Korea setelah perjalanan bisnis, menjemput dan bermain dengan putri nya lalu saat malam juga :bermain' sebentar dengan ayah putri nya.
"Astaga Louise..." ucap nya yang memanggil nama nya sendiri dengan lirih.
Gadis itu sudah meminum pil kontr*sepsi nya agar benih yang masuk tadi tak jadi kehidupan.
Louise merenggang tubuh nya, ia memilih tidur di air hangat yang memiliki aroma yang wangi itu.
Sedangkan gelas wine berada di samping bath up nya untuk ia, nikmati kapan pun ia ingin.
......................
Satu Minggu kemudian.
Sekolah
Gadis kecil bermata coklat dengan wajah yang cantik menggemaskan itu kini sudah memiliki beberapa teman. Lebih tepat nya ia sudah bergaul dengan anak-anak seumuran nya.
"Kok di ambil?" tanya yang mengernyit melihat satu mainan yang ia bawa di ambil begitu saja padahal ia belum mengatakan akan memberikan nya.
"Pinjam loh Bian! Masa Bian ga ngelti pinjam sih?" tanya anak perempuan yang di kuncir dua itu.
Bianca mengernyit, ia menggerutu namun ia tak merebut nya kembali.
"Jangan lusak! Itu punya Bian!" ucap nya yang memilih tak berebut atau pun memulai pertengkaran.
"Iya! Iya!" jawab gadis kecil yang bernama Ruth itu.
"Bian mau pakai ini aja?" tanya seorang anak perempuan lain nya yang memberikan mainan pada teman sekelas nya itu.
"Ini apa?" tanya Bianca yang mengambil apa yang di tawarkan pada nya tanpa basa-basi menolak nya lebih dulu.
"Kodok! Hihi!" jawab Sylviana pada teman nya dengan tawa kecil.
Bianca mengambil mainan yang memiliki bentuk katak bewarna hijau dengan mata bulat yang besar dan bahan seperti silikon namun juga empuk.
"Di pencet pelut nya terus-"
Krog!
"Eh?" Bianca tersentak, mata dan wajah mainan katak itu tampak akan keluar sekaligus memberikan wajah yang lucu.
Ia tersentak namun tak sampai lama, karna ia tertawa lepas setelah nya.
"Hihi! Lucu! Mau lihat lagi!" ucap nya yang tertawa saat teman nya itu memberikan mainan nya.
Melihat teman nya yang lain sedang tertawa asik dengan mainan yang baru, gadis kecil yang baru saja mengambil mainan teman nya itu menoleh.
"Luth mau pinjam juga!" ucap nya yang sudah terbiasa merebut sesuatu yang ia inginkan.
Karna di rumah nya ia biasa mendapatkan apapun yang ia mau, tak ada yang mencegah nya atau memarahi nya.
__ADS_1
"Ga boleh! Itu kan punya Syl!" ucap Sylviana yang tak ingin meminjamkan nya.
"Pinjam loh! Syl ga tau pinjam?" jawab Ruth yang mengatakan dengan kalimat yang sama.
Hua!
Anak kecil yang cantik itu tampak menangis tak terima mainan nya di ambil.
"Cengeng! Nih! Pakai mainan Bian aja!" ucap
Bianca pada pada Sylviana yang tampak kesal karna jadwal main nya terganggu.
Sedangkan salah satu guru pun mulai mendatangi nya sekumpulan anak-anak itu karna mendengar ada yang menangis.
Bukan hal yang heran lagi jika di tempat pembelajaran anak di bawah lima tahun itu ada yang menangis.
...
Gadis kecil itu kini telah berada di mobil sang ayah, sekarang setelah hampir dua Minggu ia bersekolah kedua orang tua nya tak selalu menjemput.
Seperti kemarin, sang supir lah yang datang menjemput. Bukan ayah atau pun ibu nya.
Mulut kecil yang terlihat gemas ingin di cubit ury terus bercerita. Terlebih lagi terdengar dan tampak jika ia terlihat kesal dalam cerita nya.
"Iya, nanti Daddy beliin yang baru untuk Bian yah...." ucap nya pada putri kecil nya.
"Tapi Bian tuh sebel Dad!" jawab Bianca yang terlihat kesal namun tetap menggemaskan.
Ia memang juga di manjakan, namun tangan nya tak terlalu panjang untuk mengambil milik orang lain selain sifat nya yang suka memaksa seseorang untuk bermain dengan nya.
"Makanya kita sekarang mau ketemu Mommy, Bian senang? Atau masih marah?" tanya nya pada putri yang masih tampak kesal.
Bola mata yang bulat dan berwarna coklat itu menoleh dan tentu ia suka jika sang ibu ikut bersama nya.
"Mommy ikut?" tanya nya lagi memastikan.
"Iya," jawab James yang mencubit pipi yang gemas itu.
......................
JBS Hospital
Kedua mata yang memiliki warna yang sama itu saling memandang dan terlihat percikan api di dalam nya.
"Kau ini kenapa sih bisa suka sekali dengan dia? Bingung aku," ucap nya yang kembali membuka suara setelah perdebatan dengan sang adik.
Dari sejak saudari nya berhubungan dengan pria itu pun ia sudah tak menyukai nya dan kini semakin tak suka.
"Aku kan keluar nya sama Bianca! Kenapa marah sih?" tanya Louise yang terlihat mengindari perkataan yang tengah di bicarakan.
"Sama ayah nya juga kan?" tanya Louis sekali lagi.
Ia memang mendapatkan informasi yang menguntungkan untuk proyek baru nya dari pria itu namun ia tak menggunakan nya sama sekali karna ia masih tak menyukai pria itu.
"Kan Bian nya yang mau kak, lagi pula aku juga ga pernah masalah dengan hubungan mu kan?" tanya Louise yang mengernyit menatap sang kakak.
"Iya! Tap-"
Tok... tok...
Ketukan pintu di ruangan Presdir itu membuat kedua saudara berhenti bertengkar.
"Masuk," sahut pria itu yang memberi izin pada si pengetuk untuk masuk.
Sekertaris Michael datang, ia memberi tau kan tentang seseorang yang sudah datang dan menunggu saudari kembar atasan nya.
Louise mengentikan langkah nya, namun ia mengangguk dan keluar.
......................
Mall
Seperti yang di rencanakan sang kakak, kini ia hanya jalan keluar bersama dengan putri kecil nya saja.
Bianca terlihat senang namun ia juga mengadukan apa yang terjadi pada nya di sekolah hari ini.
"Yauda, Mommy beliin mainan baru ya? Bian kan udah jadi anak baik," ucap nya pada putri nya sembari mengusap kepala nya.
Bianca mengangguk dengan wajah tersenyum ia suka jika setiap saat membeli mainan.
Memasuki store yang menjual banyak boneka lucu membuat mata gadis kecil itu berbinar.
"Bian mau ini ga? Lucu juga kan?" tanya Louise yang melihat ke salah satu boneka kucing.
Ia memang menyukai hewan yang masih memiliki hubungan kerabat dengan singa itu.
Wajah yang ceria dan senang itu langsung berubah, berbeda dengan sang ibu, gadis kecil itu sangat tak menyukai kucing.
"Bian benci Miaw!" ucap nya pada sang ibu yang menolak pilihan yang di berikan untuk nya.
Louise tersentak, ia ingat dengan kejadian putri nya yang memotong kucing peliharaan nya dan memasukkan nya ke kulkas.
Walaupun sudah ia beri tau, gadis kecil itu tak memberikan respon takut ataupun menyesal. Ia diam karena ia tau sang ayah tetap akan mendukung nya.
"Okey, jadi Bian mau ini?" tanya nya yang memberikan boneka miniatur yang mirip seperti seorang putri raja.
Mata coklat itu kini tampak tertarik, ia melihat dan mengambil dari tangan sang ibu.
......................
JBS Hospital
Louis tak mengatakan apapun, selama dua jam ia hanya seperti lomba menatap tanpa sepatah kata pun.
Tak hanya ia yang tak bicara namun pria di depan nya juga tak membuka mulut nya sama sekali kecuali untuk mengusap teh yang di hidangkan untuk nya.
"Kau akan menjauhi adik ku kan?"
Akhirnya pria itu membuka suara setelah sama-sama berdiam cukup lama.
Pria yang baru saja meletakan gelas teh nya itu tampak menoleh dengan mata yang langsung mengernyit mendengar nya.
"Aku tau kau membenci ku, dan kau mungkin merasa dia akan memiliki banyak orang yang mengincar nya karna ku." ucap James yang menjelaskan sesuatu lebih dulu sebelum menjawab nya.
"Aku akan melindungi nya, jadi aku tidak berniat menjauhi nya." sambung pria itu yang menjawab pertanyaan dari pria yang terlihat sangat membenci nya itu.
"Aku juga melindungi nya, dari orang seperti mu." ucap nya pada pria yang berada di depan nya.
Wajah yang datar dan tenang itu tampak tak goyah. Ia tak menunjukkan kebencian dan marah dari kata-kata yang di lontarkan untuk nya.
Ia menerima nya karna ia tau kesalahan nya cukup fatal sebelum nya.
......................
Festival
__ADS_1
Mata coklat itu tampak berbinar, cahaya dari gemerlap malam yang membuat nya terlihat lebih meriah.
Dan gadis kecil itu masih belum pernah sama sekali ke tempat yang seperti itu.
Ia memegang pundak sang ibu karna kini berada dalam gendongan nya.
"Bian suka?" tanya nya pada putri nya yang sejak tadi terdiam karna terpesona dengan apa yang ia lihat.
Begitu banyak kostum dan tempat yang terlihat menarik di mata nya.
Makanan dari segala jenis makanan di jual di sepanjang street yang membuat nya hanya tinggal menunjuk dan akan mendapatkan nya.
"Kalau ada Dad-"
Ucapan nya terpotong dan terhenti sejenak saat mata coklat itu menoleh arah yang berada di belakang sang ibu.
"Daddy!"
Teriak nya kencang yang langsung membuat Louise menoleh ke arah belakang nya.
"Gimana? Seru main sama Mommy?"
Suara bariton yang terdengar bertanya itu mendekat, dan gadis kecil yang berada dalam gendongan nya bergerak seperti ingin pindah ke tempat sang ayah.
"Selu! Bian balu kali ini ke felipal!" ucap Bianca yang masih belepotan menyebutkan nama tempat yang ia kunjungi.
"Iya? Berarti Bian suka?" tanya James yang menatap ke arah putri nya.
Bianca mengangguk setuju akan ucapan sang ayah, "Dulu Bian juga pelnah ke tempat yang banyak tempat main nya! Sama Mommy sama paman Eyn!" ucap yang bercerita karna kedua tempat itu memiliki suasana yang sama.
Senyuman pria itu sedikit pudar dan melirik ke arah gadis yang berada di samping nya.
Louise tak mengatakan apapun, ia tak menghindari tatapan itu atau pun berkelah karna memang apa yang ia lakukan dulu itu wajar.
"Sekarang main nya sama Daddy sama Mommy," ucap James yang beranjak mengangkat putri kecil nya itu untuk duduk di pundak nya.
Cup!
Louise tersentak, pria itu mendekat dan mencium pipi nya secara tiba-tiba tanpa mengatakan satu kata pun.
"Bian juga mau kiss Mommy!" ucap Bianca pada sang ayah.
James tertawa kecil, putri cantik nya selalu menjadi peniru dari tindakan nya.
Muach!
Bibir mungil itu mengecup pipi sang ibu, saat sang ayah sedikit menunduk agar ia bisa menggapai apa yang ingin di kecup nya.
Louise tak mengatakan apapun, awal nya ia ingin marah karna pria itu mencium nya tiba-tiba.
Namun saat putri nya juga melakukan hal yang sama ia pun mengurungkan niat nya untuk marah.
Gadis kecil itu tampak senang, festival pertama yang ia hadari dan juga bermain di tempat yang menyenangkan saat malam hari bersama dengan kedua orang tua nya untuk pertama kali.
......................
Dua Minggu kemudian.
Sekolah
Wajah cantik dan menggemaskan itu kini tampak begitu kesal. Ia menunduk memungut mainan miniatur yang berbentuk putri itu.
Mainan yang di belikan dan di pilihkan sang ibu untuk nya.
Ruth terlihat tak merasa bersalah sama sekali, bukan hanya pada Bianca namun pada semua teman-teman sekelas nya ia memang sering mengambil mainan anak lain nya dengan alasan 'Meminjam' setelah itu merusak nya.
"Mainan nya mulah tuh! Masa cepet lusak!" ucap nya yang terlihat tak menyesal sama sekali.
Bianca tak mengatakan apapun, ia terlihat begitu kesal dan menatap ke arah teman sekelas nya itu dengan tatapan yang memikirkan sesuatu.
...
Bruk!
Tubuh kecil itu menggelinding ke tangga, tepat ketika berhenti tubuh yang mungil itu tampak telungkup dengan kaki yang terlihat patah dan tubuh yang terluka.
Ekh...
Suara napas nya terdengar, ia sudah menangis namun rahang nya seperti bergeser saat merasakan sakit.
"Belum mati ya?"
Suara gadis kecil itu terdengar menatap ke arah teman nya yang terluka.
Bukan berada dalam gedung sekolah berada dalam luar ruangan dari gedung.
Tangga taman yang memiliki tinggi tiga meter itu menjadi saksi tempat terjatuh nya anak kecil yang cantik namun menyebalkan itu.
"Bian bantuin mati ya?" tanya nya saat berjongkok dan memangku dagu nya menunggu teman nya untuk mati.
Gadis kecil itu bangun, ia beranjak mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk teman nya itu.
"Ga ada, pakai ini aja ya?" tanya nya dengan wajah yang polos seperti melakukan sesuatu yang tidak salah sama sekali.
Miniatur yang tampak sudah rusak itu dengan bagian yang sedikit meruncing ia jadikan tempat pukulan untuk teman sekelas nya.
Crash!
"Huhu..."
"Sa..sa...kit..."
"Bi..Bian..."
Tangis anak kecil itu saat teman nya memukul bagian yang terluka dengan ujung mainan miniatur yang telah rusak dan menjadi runcing itu.
Tak ada jawaban, ia hanya melakukan apa yang di ajarkan pada nya.
Menyingkir sesuatu yang menganggu!
Setelah gadis kecil yang terluka itu diam, ia berhenti dan memegang nya.
"Udah mati ya?" tanya nya lagi.
"Jawab dong, udah mati belum?" tanya nya mengulang dengan wajah polos nya.
Gadis kecil itu tak takut dengan darah karna ia biasa melihat sang ayah yang kembali dengan penuh berlumuran darah.
Tentu lingkungan tempat ia tumbuh yang mengajarkan semua tindakan hari ini. Belum lagi semua yang pernah ia alami di usia yang sangat muda tentu akan memberikan dampak tersembunyi yang akan mempengaruhi nya.
Hanya seorang anak kecil yang begitu mudah menyerap apapun di sekitar nya tanpa tau mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang benar dan yang mana salah.
Dan sekarang? Ini adalah hasil dari potongan dan didikan yang ia terima dari sang ayah.
Satu-satu nya orang yang akan selalu mendukung apapun yang ia lakukan, biarpun itu salah atau benar.
__ADS_1
Ini adalah hasil dan bentukan
Gadis kecil itu bangun, ia pun berjalan dan mencari guru nya, "Mis! Luth jatuh!" teriak nya yang seperti mencari pertolongan.