
Kediaman Rai
Louise melihat ke arah wajah sang kakak yang terus senang beberapa hari terakhir berbeda dengan diri nya yang tampak lebih suram.
"Apa ada sesuatu yang baik terjadi?" tanya nya sembari memperlambat makan malam nya.
Louis melirik ke arah sang adik, ia langsung tersenyum dan menyandarkan dagu dengan tangan nya setelah meletakkan sendok nya ke atas piring.
"Seperti nya aku juga akan menikah kembali," ucap nya dengan senyuman berseri.
Louise masih loading mendengar nya, ia bahkan tidak merespon dengan cepat ataupun memberikan ekspresi dengan cepat seperti biasa.
"Oh, selamat..." ucap nya datar dan mengangguk-angguk kecil.
Louis mengernyit, tumben sekali sang adik memberikan komentar yang sedikit bahkan tidak bertanya siapa wanita yang akan ia nikahi lagi.
"Kau ada masalah?" tanya nya mengernyit.
"Tidak ada," jawab Louise lagi sembari melanjutkan makan nya.
Ia masih bersikap seperti tak mengingat apapun agar membuat sang kakak tak lagi khawatir pada nya.
"Terus? Kenapa murung?" tanya pria itu lagi ketika melihat sang adik yang seakan tak bersemangat.
"Tidak apa-apa, mungkin karna hari ini bulanan ku." jawab Louise menggeleng dan beralasan akan perubahan mood nya.
"Aku sepertinya akan menikah setelah mu, menurut mu betapa lama jangka waktu yang akan ku lakukan nanti?" tanya Louis pada adik nya menyebutkan berapa jangka waktu yang ia butuhkan untuk menikah kembali setelah pernikahan adik nya.
"Terserah mu, tapi aku mau bisa datang di pernikahan mu kali ini." ucap nya dengan senyuman tipis pada sang kakak.
Deg!
Pria itu tersentak, kenapa adik nya bisa ingat tidak pernah datang pernikahan nya?
Padahal itu adalah salah satu memori yang terhapus karna merupakan kenangan buruk saat bertepatan dengan hari penculikan yang terjadi pada adik nya.
"Louise?" panggil nya dengan senyuman yang langsung turun.
"Hm?" gadis itu menoleh sembari melihat ke arah sang kakak.
"Kau ingat sesuatu?" tanya pria itu lirih sembari melihat ke arah sang adik.
Louise langsung menghentikan sendok nya, ia membatu sejenak dan melihat ke arah sang kakak.
"Tidak, kenapa?" tanya nya mengelak dengan menggeleng kecil.
"Tadi kenapa kau bilang begitu? Kau mau datang ke pesta pernikahan ku?" tanya nya mengulang pada saudari nya itu.
"Kenapa? Apa salah nya? Aku tidak begitu ingat tentang pernikahan mu yang sebelum nya, makanya aku mau benar-benar ingat kaki ini." ucap nya beralasan dan memang itu alasan yang tepat.
"Ya, benar juga..." ucap nya lirih, "Lalu bagaimana hubungan mu dengan Zayn? Lancar?" tanya yang kembali mulai memakan makanan nya dan tak ingin memikirkan hal yang berat.
"Ya, kami baik-baik saja..." jawab gadis itu tak bersemangat.
Louis kembali melirik, "Tapi kenapa lemes banget? Harus semangat! Kan bentar lagi mau nikah?" ucap nya pada sang adik.
Louise hanya tersenyum tipis tanpa menjawab apapun yang di katakan oleh sang kakak.
......................
Seminggu kemudian
Cafetaria
__ADS_1
Gadis itu menatap tajam dengan wajah yang datar pada pria di depan nya.
Ia memblokir semua hubungan untuk pria itu namun entah dari mana datang nya selalu ada cara agar pria itu dapat menghubungi ataupun menemui nya.
Dan setelah seminggu bermain 'petak umpet' akhirnya gadis itu kembali dengan psikis yang mulai baik karna kembali dapat menerima perlahan memori menyakitkan nya.
"Maaf..."
Satu kata yang memecah keheningan di antara kedua orang yang tengah diam itu.
"Untuk?"
"Semua nya,"
Percakapan singkat itu pun kembali senyap, tak ada yang berbicara untuk sementara waktu lagi.
"Aku tidak tau apa yang harus ku maafkan diri mu, kesalahan apa?" Louise menarik napas nya sembari menggeser dan menyentuh gelas yang berisi cappuccino kental itu.
James diam, ia melakukan kesalahan yang bahkan mungkin tak bisa lagi di ucapkan dengan bibir nya.
"Karna kau tidak membalas perasaan ku? Tapi kau juga tidak pernah minta aku untuk suka dengan mu,"
"Atau karna kau ingin membunuh aku atau kakak ku karna kau benci Papa kami? Atau karna kau masih bersama dengan wanita mu dan juga dengan ku saat bersamaan?"
"Oh, mungkin juga karna kau menyentuh ku padahal aku tidak mau?" tanya nya gadis itu dengan berbagai pertanyaan.
"Ya, seperti itu..." ucap pria itu lirih, walaupun ia tak berteriak atau menangis tersedu namun mata nya tampak jelas menyesal.
"Kenapa?" Gadis itu melihat dengan lurus.
Perasaan takut, benci dan bingung menyertainya akan pria di depan nya.
"Kenapa kau minta maaf pada ku? Padahal aku..." ucap gadis itu menggantung sembari menarik napas nya.
Jujur saja perasaannya masih terasa sesak saat ia mengatakan nya, ia belum merasa lega sama sekali. Entah karna belum melepaskan pria di depan nya ataupun melepaskan masa lalu yang mengikat nya.
James tersentak, ia memang pernah mengatakan kalimat yang menakutkan itu hanya karna ingin melihat putri dari pria yang menghancurkan kelurga nya itu terluka.
"Kau sangat berarti untuk ku, itu kesalahan..." ucap nya lirih yang tak bisa memberikan pembelaan apapun.
"Arti? Memang nya aku punya arti apa di hidup mu?" gadis itu tertawa pahit.
Kenapa pria itu mengatakan seakan-akan ia sangat berharga?
Padahal ia bahkan dulu di perlakukan lebih buruk dari sebuah bayangan.
"Semua, aku menyukai mu..."
"Aku tidak tau kalau aku sangat menyukai mu..."
"I love you..." ucap pria itu lirih dengan nada rendah dan tatapan yang sungguh-sungguh.
Louise tersenyum tipis dengan wajah yang sama sekali tak bahagia mendengar nya.
"Kalau saja kau mengatakan kalimat itu dulu, mungkin aku tidak akan terlalu membenci mu, atau mungkin aku..." wajah nya tersenyum namun terlihat jelas jika gadis itu tampak kecewa.
"Tapi kau mengatakan itu ketika aku sudah tidak mengharapkan apapun dari mu." sambung nya lirih.
James diam, ia tak tau harus mengatakan apa pada gadis di depan nya. Ia bahkan tak bis mengatakan kata-kata manis untuk membujuk gadis itu.
"Dan lagi ku rasa kau tidak mencintai ku, mungkin kau merasa kehilangan karna anak mu butuh ibu nya?" sambung nya pada pria tampan itu.
Ia bahkan mulai meragukan dan tak mempercayai jika pria itu mengatakan mencintai nya setelah semua yang ia lakukan.
__ADS_1
"Kau mau aku lakukan apa? Supaya kau percaya? Itu kesalahan ku dulu jadi aku tidak akan mengulangi nya lagi." tanya nya yang tak mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Entahlah aku tidak tau, tapi aku rasa aku pernah berada di tahap aku sangat membenci mu sampai ingin membunuh mu." ucap gadis itu lirih.
"Kau bisa lakukan itu kalau kau mau," jawab pria itu langsung tanpa berpikir.
Hidup setelah kehilangan gadis di depan nya benar-benar seperti neraka, ia mati setiap hari dan kembali hidup ketika suara putri kecil nya memanggil.
Louise tak menjawab, ia hanya membuang pandangan nya ke arah lain tak ingin melihat pria di depan nya.
Ia tau ia tak akan mungkin bisa melakukan hal tersebut, mungkin ia bodoh namun ia tau kebodohan nya yang tidak ia inginkan itu.
"James? Kau tau? Aku tidak pernah menyesal melakukan sesuatu, tapi setelah ku pikirkan aku punya satu penyesalan..." ucap nya lirih.
Pria itu tak menjawab, ia hanya menatap ke arah gadis di depan nya.
"Kau, kau itu penyesalan terbesar ku. Aku menyesal karna mengenal mu dan aku lebih menyesal karna aku jatuh cinta dengan pria seperti mu." ucap nya dengan suara rendah namun dapat menusuk hingga ke bagian dalam hati pria itu.
"Lalu bagaimana cara nya supaya kau bisa menarik penyesalan mu itu? Aku tidak tau cara menghibur ataupun mengobati luka orang lain, aku..." ucap pria itu terputus.
Ia tau sekarang bukan saat nya beradu nasib, namun ia memang tak tau bagaimana cara nya membujuk seseorang.
"Jangan temui aku lagi, aku akan menikah dan kau tau itu kan? Aku juga tidak berniat untuk selingkuh dari pasangan ku nanti." ucap nya yang tak ingin menjalin hubungan kekasih dengan seseorang setelah ia menikah.
James diam, ia menggertak gigi nya. Ia tak tau namun entah mengapa ia sangat ingin mengemis agar gadis itu tak meninggalkan nya nya tapi pada akhirnya hanya wajah tak berekspresi itu yang keluar.
"Kalau begitu beri aku 30 kali kesempatan, entah untuk bertemu ataupun berkencan." ucap nya yang tak tau apa lagi yang harus ia lakukan.
"Kalau aku tidak mau?" tanya gadis itu mengernyit.
"Aku mungkin akan benar-benar menggila dan membunuh semua orang?" tanya pria itu dengan tatapan yang sedang tak bercanda.
"Apa ini ancaman?" Louise merasa kini pria itu ingin kembali mendominasi nya.
"Tidak, tapi kau hanya perlu beri aku 30 kali kesempatan untuk bertemu sebelum pernikahan mu kan? Setelah kesempatan ke 30 kau bisa putuskan kau akan benar-benar meninggalkan ku atau ingin bertahan." ucap nya pada gadis itu.
"Aku tidak berniat untuk membatalkan pernikahan ku!" sanggah Louise langsung.
"Kalaupun kau bertahan pada ku, aku tidak akan meminta mu untuk membatalkan pernikahan aku hanya mau kau memberikan sedikit hari mu untuk ku dan untuk Bianca." jawab pria itu yang langsung meluruskan perkiraan gadis itu.
"Lalu kalau aku memilih ingin meninggalkan mu di kesempatan ke 30 kau akan benar-benar pergi?" tanya Louise yang bertanya tentang akibat pilihan lain.
"Ya, aku akan meninggalkan mu selama nya." ucap pria itu yang kini tersenyum tipis, "Tapi kau juga pasti tau kalau selama aku hidup aku tidak berniat meninggalkan mu."
"Maksud mu?" tanya gadis itu mengernyit.
"Entahlah," James menjawab lirih.
Ia tak bisa meninggalkan gadis itu, ia juga sudah merasa terlalu lelah jika harus menghadapi masalah seperti itu.
Perasaan bersalah juga selalu menghantui nya, entah itu untuk keluarga nya yang telah tiada atau untuk wanita yang ia cintai.
Kematian?
Hanya itu satu-satu nya tempat yang bisa ia jadikan pelarian, lagi pula tak akan terlalu buruk karna ia seperti sudah merasakan kematian berulang kali.
"Kau tau? Aku selalu egois dulu dan sekarang." ucap nya pada gadis di depan nya.
"Berikan aku kesempatan 30 kali untuk bersama dengan mu, aku akan lakukan apapun untuk mu..." sambung nya lirih dengan menyakinkan gadis di depan nya jika pilihan memberikan nya 30 kesempatan adalah hal yang tak akan ia rugikan.
*Karna aku tau kalau kau hidup ku...
Maaf...
__ADS_1
Aku terlalu terlambat untuk tau kalau kau itu segala nya bagi ku*...