(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Cara mendidik


__ADS_3

Mansion Dachinko


Louise melihat ke arah gadis kecil yang terus mengoceh dalam pangkuan nya itu, ia melihat ke arah gambar yang pertama kali di buat putri nya untuk nya.


"Bian?" panggil nya pada gadis kecil itu.


Bianca menoleh, kepala nya ia putar ke belakang agar bisa melihat sang ibu.


"Mommy masa kayak begini?" tanya Louise yang meras gambar putri nya begitu abstrak.


Wajah yang penyok, mata yang besar sebelah, bibir yang memenuhi sampai ke pipi tak tidak memiliki hidung.


"Kan cantik," ucap Bianca yang merasa ia membuat suatu mahakarya.


Louise menarik napas nya, "Iya cantik. Makasih yah..." ucap nya sembari mengecup kepala gadis kecil itu.


"Sekarang kamu ganti baju dulu, kita pulang ke rumah Mommy. Nanti Mommy antar kamu ke sini lagi." ucap Louise pada gadis kecil itu ketika menurunkan dari pangkuan nya.


"Daddy?" tanya Bianca yang ingin sang ayah ikut.


Karna walaupun ia mulai dekat dengan ibu nya sekarang, ia masih sangat menyukai sang ayah.


Ayah yang telah mengurus nya sejak ia masih menjadi bayi yang berwarna merah.


Louise diam sejenak, "Bian?" panggil nya lirih.


"Eng?" mata bulat berwarna coklat itu menoleh menatap ke arah sang ibu yang bagi nya cantik itu.


"Soal yang tadi, yang kamu lihat Daddy makan Mommy jangan di bilang siapa-siapa yah?" ucap nya pada gadis kecil itu.


Karna ia tau setelah dari sana mungkin ia akan menemui tunangan nya.


"Kalau ada olang makan olang itu lahasiya?" tanya Bianca yang menatap sang ibu.


"Kalau ada yang begitu sama Bian, Bian harus bilang." ucap nya pada gadis kecil itu, "Tapi kalau yang tadi itu Bian ga boleh bilang." ucap nya yang bingung bagaimana menjelaskan nya.


"Kenapa?" tanya Bianca dengan tatapan polos yang tak mengerti.


"Bian sayang Daddy kan?" tanya nya sembari mengusap kepala kecil itu.


Wajah yang menggemaskan itu mengangguk, "Yasudah sana ganti baju nya, kita pulang ke rumah Mommy." ucap Louise pada gadis kecil itu.


Bianca mengangguk, ia berlalu dan segera pergi lagi.


Sementara itu Louise membuang napas nya yang terasa berat.


"Kau mengajari nya berbohong?"


Suara pria yang membuat gadis itu tersentak, Louise langsung menoleh. Pria yang berdiri di ambang pintu kaca itu tengah menatap ke arah nya.


"Aku tidak minta dia bohong, aku cuma mau nanti dia tidak akan menimbulkan salah paham." jawab nya sembari membuang wajah nya tak ingin melihat ke arah pria itu.


"Kau tidak takut? Aku bisa saja tidak membiarkan mu pulang lagi dan yang tau tempat ini masih kau kan?" tanya pria itu dengan wajah nya yang selalu menatap tanpa ekspresi.


"Kau akan membiarkan ku pulang," jawab Louise pada pria itu.


"Kenapa yakin sekali?" tanya James dengan mengernyitkan dahi nya.


"Kau tidak mau aku mati, dan kalau kau mengurung ku lagi seperti dulu aku akan benar-benat mati." jawab Louise pada pria itu.


Sesuka apapun perasaan nya saat ini, namun bukan berarti ia mau di perlakukan dan di kurung seperti dulu lagi.


"Ya..." pria itu menunjukkan senyuman kecil namun mata yang seakan tak tersenyum sama sekali.


"Mommy!"


Suara yang menggemaskan itu memanggil dan meraih tangan nya.


"Kami pergi lebih dulu," Ucap Louise yang mengambil putri kecil nya dan membawa nya.


Bianca menoleh pada sang ayah dan melambaikan tangan nya, pria itu memberikan balasan atas sikap menggemaskan putri nya.


......................


JBS Hospital


Mata bulat itu melihat ke arah seorang pria yang tengah duduk menghadap ke layar laptop itu dan tampak sibuk.


"Paman Uwis masih lama?" tanya Bianca yang tampak lesu.


"Bian mau apa?" tanya Louis yang merendahkan dan melembutkan suara nya agar anak kecil itu tak takut.


Louise menitipkan sebentar putri kecil nya itu pada sang kakak karna tiba-tiba ia memiliki urusan mendesak dan tentu tak jauh-jauh dari sebagain projek yang ia pegang.


"Main yuk!" ajak Bianca pada sang paman.


"Sebentar yah, nanti Paman ke sana." ucap Louis yang tak mengerti sudah sebosan apa gadis kecil itu berada di ruangan nya dan terus memainkan permainan yang sama.


"Paman Eyn mana? Mommy mana?" tanya nya dengan nada kesal pada sang paman.


"Mommy sama paman Zayn sebentar lagi balik, sebentar ya sayang..." ucap nya pada gadis kecil itu.


Bianca tampak kesal, namun bayi cantik itu kembali bermain lagi sampai suara ketukan pintu membuat nya menoleh dengan mata yang berbinar.


"Mom-"


"Hum?" ia memiringkan kepala nya, ia melihat seseorang yang sebelum nya pernah ia temui juga di dalam ruangan itu.


"Cla?" ucap Louis yang langsung menoleh dengan wajah full tersenyum melihat kedatangan yang tiba-tiba.


"Mama suruh bawa pancake ke sini," ucap nya sembari meletakkan tempat makanan itu.


Orang tua nya memang tak mengetahui sama sekali jika apa yang pernah terjadi pada putri nya adalah ulah menantu yang mereka anggap baik.


"Pencek!" ucap Bianca yang langsung berbinar.


Clara tersentak, ia baru menyadari di ruangan besar itu terdapat anak kecil yang bermain dengan mainan nya.


Ia menoleh ke arah gadis kecil itu, dan memang mau di lihat bagaimana pun wajah itu sangat mirip dengan wajah ibu nya.


"Kamu mau pancake juga?" tanya nya pada gadis kecil yang berjalan ke arah nya dengan membawa kepala boneka yang patah akibat sangat sulit mengatur rambut nya.


Bianca mengangguk, mata coklat nya yang jernih itu melihat ke arah pancake yang baru saja di bawa padahal sejak tadi ia juga banyak di berikan camilan dan makanan.


Clara tersenyum, "Nama nya siapa?" tanya nya sembari mengeluarkan pancake hangat itu.


"Bian, Bianca Anastasya Dachinko." jawab nya yang sudah fasih dengan nama nya sendiri.


Louis menoleh saat mendengar nama belakang yang tak ia sukai itu namun tak bisa ia ganti.


Clara mengangguk, "Nama Tante Clara," ucap nya yang juga memperkenalkan diri nya.


"Tante Kepala?" tanya nya mengulang dengan mata bulat yang berbinar.


Louis tersentak, walaupun tadi ia kesal dengan nama belakang keponakan nya namun kini ia malah ingin tertawa mendengar pengucapan nama yang tak fasih itu.


"Clara, sayang. Bukan kepala." ucap Clara mengulang.


"Kelapa?" tanya Bianca lagi mengernyitkan dahi nya yang merasa ia sudah benar namun kenapa masih harus di perbaiki.


"Coba ikuti yang tante bilang," ucap Clara pada gadis kecil itu, "Cla."


"Kela?" sambung Bianca yang menatap wanita di depan nya.

__ADS_1


"Ra," ucap wanita itu yang menghubungkan kata selanjutnya.


"La," ucap Bianca yang belum dapat mengatakan 'R'


"Ra," ucap Clara sekali lagi.


"La! Ih! Kan Bian udah benel!" ucap nya yang merasa kesal.


"Okey, coba di sambung." ucap Clara pada gadis kecil itu.


"Tante Kelala!" ucap nya dengan penyebutan nya yang setidak nya lebih baik.


"Lumayan sih," ucap Clara bergumam.


"Kalau begitu kita makan pancake nya sekarang." sambung wanita itu sembari menaikkan gadis kecil itu ke atas sofa.


Setelah memberikan nya pada bayi menggemaskan itu, Clara pun beranjak memberikan potongan lain nya pada pria itu.


"Kalau kau lelah mau istirahat di sana dulu?" tanya Louis tersenyum saat wanita itu menghampiri nya dan menunjuk ke arah kamar istirahat nya.


"Ada anak kecil!" sahut Clara dengan suara berbisik.


"Kalau begitu kau mau istirahat di bangunan depan JBS nanti malam?" tanya Louis dengan suara berbisik juga.


Duk!


Wanita itu langsung memukul bahu pria yang terus mengajak nya melakukan sesuatu itu. Karna ia tau bangunan di depan rumah sakit itu adalah sebuah hotel.


"Hush!" ucap Clara yang langsung menghampiri gadis kecil yang makan dengan belepotan itu.


Ia mengambil tisu dan mengusap nya di bibir mungil yang terlihat menyukai makanan yang ia bawa.


"Hum?" Bianca teralihkan dengan kuku-kuku cantik yang berhias itu.


Ia tak pernah melihat nya sebelum nya, karna sang ibu jarang mewarnai kuku dan memberikan hiasan.


Hanya perawatan dan pewarna yang bening sehingga membuat kuku wanita yang sering ia temui tampak mengkilap dan cantik.


"Cantik..." ucap nya yang memegang tangan wanita yang mengusap bibir nya tadi.


"Bian mau pakai yang begini juga?" tanya Clara pada gadis kecil itu.


Bianca tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah wanita di depan nya dengan tatapan yang jernih.


"Tante! Kalau jali nya Bian potong boleh?" tanya nya yang meminta sesuatu dengan mata yang berbinar dengan senyuman yang polos.


"Ha?" Clara memiringkan kepala nya, anak sekecil itu meminta untuk memotong jemari nya hanya karna suka kuku nya yang berhias.


"Bianca?" panggil Louis pada keponakan nya.


"Ga boleh? Jadi kalau Bian potong nya dali sini boleh?" tanya nya sekali lagi sembari memegang pergelangan tangan wanita itu.


"Bianca? Tidak boleh bicara seperti itu." ucap Louis sekali lagi pada gadis kecil itu.


"Huh! Paman ga selu!" ucap Bianca yang tampak kesal dan kembali melanjutkan makan nya.


Clara terdiam sejenak, namun ia tak begitu menanggapi ucapan anak berumur tiga tahun itu.


"Bian mau pakai hiasan juga? Kalau mau Bian ga perlu potong tangan Tante," ucap nya pada gadis kecil itu.


Bianca langsung menoleh ke arah wanita yang berbicara pada nya.


"Bisa?" tanya nya dengan bingung.


Lingkungan dan orang-orang sekitar mempengaruhi cara kerja pikir seorang anak dan gadis kecil itu pun berpikir sesuai dengan apa yang sudah terbentuk di kepala nya.


Clara tersenyum, ia mencubit pipi bulat gadis kecil itu dan mengatakan tentang salon kuku.


...


Louis menggeleng, "Tadi ada Clara jadi dia main sebentar." ucap nya pada sang adik.


"Kau mau pulang?" tanya Louis saat melihat sang adik yang sudah kembali menjemput putri nya itu.


"Iya, sama Zayn juga." ucap Louise yang beranjak keluar dari ruangan sang kakak dengan cepat.


Bianca kembali mengoceh, tentang mainan, tentang pancake dan tentang salon kuku yang bisa membuat kuku kecil nya mengkilap seperti wanita yang tadi ia temui.


......................


Tawa gadis kecil itu terdengar, ia suka saat bermain dengan seseorang yang mengerti cara bermain nya.


Dan setelah itu sang ibu membawa nya ke taman bermain.


Louise duduk di bangku yang di sediakan di taman bermain itu sedangkan putri nya dan calon suami nya ia tinggal untuk bermain komedi putar.


Dan tentu Bianca yang terus mengajak untuk bermain kuda yang berputar itu terus menerus, karna ia sudah pernah melakukan nya sampai lebih 30 kali putaran kali ini ia membuat Zayn yang menemani gadis kecil itu.


"Paman? Paman!" panggil nya pada pria yang duduk di belakang nya.


"Iya? Bian sudah mau turun?" tanya Zayn yang kini tau kenapa Louise tadi mendorong nya untuk menemani putri nya.


"Nanti sebentar lagi Bian masih mau main," jawab gadis kecil itu yang begitu bersemangat bermain.


Zayn tak mengatakan apapun lagi, ia mengusap kepala kecil itu dan membiarkan calon putri sambung nya merasa senang.


Louise kini telah membeli permen kapas untuk diri nya sendiri sembari menunggu anak nya yang rewel itu selesai bermain.


"Mommy!"


Suara yang sangat fasih di telinga nya itu memanggil, ia langsung menoleh ke arah kaki kecil yang berlari pada nya.


"Mommy makan sendili!" ucap Bianca yang begitu kesal melihat sang ibu memakan permen kapas sendirian tanpa mengajak nya.


"Kamu kan masih main," jawab Louise menarik napas nya dan membiarkan anak kecil itu merampas makanan nya.


"Main sama Paman Eyn juga selu!" ucap nya sembari memakan permen kapas hasil rampasan dari sang ibu.


Louise tak mengatakan apapun lagi, masih ada waktu sampai mereka kembali. Ia pun membawa putri kecil itu berkeliling sejenak dan mencoba wahana lain nya.


......................


Kediaman Rai


"Paman Eyn pulang?" tanya gadis kecil itu dengan mata coklat yang bulat menengandah menatap pria yang memiliki tinggi berkali-kali lipat dari nya.


Zayn tersenyum, ia mengusap kepala kecil itu, "Kiss paman dulu," ucap nya yang menatap gemas ke arah anak kecil yang mirip dengan gadis yang ia cintai.


Muach!


Bianca mengecup pipi pria itu sama seperti ketika ia mengecup pipi sang ayah atau ibu nya.


"Besok kita main lagi," ucap nya pada bayi cantik itu.


"Sama Daddy juga? Kita main sama Mommy sama Daddy sama Paman juga?" tanya nya dengan tatapan yang menatap dengan polos.


Zayn hanya tersenyum, ia melirik sekilas ke arah gadis yang mendengar pertanyaan putri kecil nya namun berpura-pura tak mendengar nya.


"Paman pulang dulu ya," ucap nya pada gadis kecil itu.


"Besok ada Mama mau bertemu dengan mu, aku akan jemput jam 9 pagi." ucap nya pada gadis yang akan segera menjadi istri nya dalam waktu dekat ini.


Louise mengangguk mendengar nya, setelah pria itu pergi ia pun membawa tangan kecil itu untuk masuk ke kediaman nya sebelum nanti malam mengantar nya pulang atau menunggu seseorang dari pihak James untuk menjemput nya.

__ADS_1


Bianca bermain di kediaman mewah itu, setelah lelah dan bosan bermain sendirian tentu ia mencari sang ibu karna tau di sana tak ada sang ayah.


"Mommy?"


Panggil nya yang memenuhi seisi kediaman mewah itu.


Langkah nya terhenti sampai di mana ia melihat sang ibu memberi makan pada sesuatu.


Kucing yang berwarna abu-abu dengan bentuk bulat dan menggemaskan.


Namun bukan nya ia merasa gemas, malah sebalik nya.


Ia begitu membenci kucing walaupun menyukai semua jenis hewan mengemaskan lain nya.


Entah itu kelinci, anak anjing, marmut, anak ayam. Semuanya! Kecuali hewan bertaring yang mirip harimau kecil itu.


Bagi nya itu adalah hewan yang membuat sang ibu membenci nya. Ia ingat dengan jelas bentakan dan suara keras yang pertama kali ia dapatkan dari seseorang dan itu pun ibu sendiri.


Kepala kecil nya masih merekam di mana sang ibu memilih menggendong kucing yang ia jahili dari pada membantu nya yang terjatuh.


Memang ia dulu yang memulai kesalahan, namun anak kecil itu bahkan tak tau apa yang ia lakukan salah.


"Miaw jahat!" ucap nya dengan wajah yang tak suka melihat sang ibu menyayangi hewan peliharaan nya itu.


"Bian?" Louise tersadar ia melihat putri kecil nya yang berdiri melihat ke arah nya.


"Ngapain di situ? Ke sini." ucap nya pada putri kecil nya.


Bianca yang tampak kesal itu berbalik tanpa menghiraukan sang ibu.


Louise menarik napas nya, ia mengikuti putri kecil nya yang tampak tengah kesal itu.


Pukul 09.15 pm


Gadis kecil itu kini sudah di jemput, ia melambaikan tangan pada sang ibu yang melihat ke arah nya.


Sedangkan paman yang tadi nya ia temui saat siang, saat ini tak ada.


Louise kembali masuk ke kediaman nya lagi, ia tau sang kakak malam ini tak akan kembali karna memiliki 'urusan' yang lain.


...


Ke esokkan hari nya.


Pukul 08.15 am


Gadis itu beranjak turun dari kamar nya menuju kulkas, dan tentu yang ia cari pagi ini adalah minuman dingin setelah yoga pagi nya.


"Hm?" dahi nya mengernyit menatap sesuatu yang baru di lemari es nya.


"Ini apa?" gumam nya yang menarik plastik yang di masukkan secara tak rapi itu dan memang biasa nya di kulkas nya tak ada plastik seperti itu.


Duk!


"Akh!"


Gadis itu terkejut setengah mati, ia langsung terjatuh, ketika kepala hewan peliharaan nya yang menggemaskan itu menggelinding jatuh.


"Le..Levi..." gumam nya yang menyebutkan nama dari kucing nakal yang ia sayangi itu.


Louise terdiam, ia terkejut melihat hewan peliharaan nya yang mati di rumah nya sendiri dan malah tersimpan di lemari es nya.


Ia terdiam beberapa saat, mata nya menoleh ke arah kamera pengawas yang berada di atap platfrom kediaman mewah nya.


Gadis itu pun bangun dan tentu ingin langsung memeriksa siapa yang memasukkan kucing milik nya ke dalam lemari es dengan kondisi seperti itu.


Deg!


"Kenapa dia?" gumam nya yang mengernyit tak percaya dengan tingkah putri semata wayang nya yang terlihat memasukkan plastik yang sama ke dalam lemari es nya.


Tak ada wajah penyesalan pada anak kecil itu melainkan wajah yang tampak senang dan puas dengan hasil yang baru ia lakukan.


Louise terdiam beberapa saat, ia tak bisa lagi berkata-kata.


......................


Mansion Dachinko


James menerima telpon barusan, mendengar jika Louise ingin ke mansion nya lagi walaupun berbeda tanggal seperti yang pernah di bicarakan.


Memang gadis itu akan mengunjungi putri nya namun dalam waktu 3 - 5 hari sekali. Bukan nya setiap hari secara berurutan.


"Mommy!"


Mata bulat yang jernih itu menatap ke arah sang ibu yang mendatangi nya.


"Hum?" Bianca menoleh ia ke arah plastik bekas yang ia pakai kemarin untuk membungkus hewan peliharaan sang ibu.


"Ini apa?" tanya nya yang langsung memberikan ke arah gadis kecil itu.


Bianca diam, ia melihat ke arah plastik tersebut dan menatap sang ibu lagi.


"Miaw," jawab nya dengan wajah yang terlihat polos seperti tak melakukan kesalahan apapun.


"Kenapa kamu buat kucing nya jadi begitu?" tanya nya pada putri kecil nya, ia bahkan tak tau kucing nya yang pernah hilang juga sebelum nya habis di tangan putri kecil nya.


"Miaw nya nakal," jawab Bianca pada sang ibu.


"Terus kalau nakal kamu potong kepala nya? Memang nya kucing nya nakal apa sama kamu?" tanya Louise pada putri kecil nya.


"Bian ga potong kok..." jawab Bianca yang berbohong. Seperti ajaran sang ayah sebelum nya.


"Bianca!" Louise tanpa sadar meninggikan suara nya saat melihat putri kecil nya yang berbohong padahal ia sudah tau.


"Heuk..." Bianca tersentak.


Ia masih begitu sensitif dengan suara keras orang lain dan termasuk suara bentakan seseorang.


Greb!


Gadis itu menoleh, seseorang menarik tangan nya yang membuat nya langsung menoleh.


"Bian masuk ke kamar," ucap nya pada putri kecil nya itu.


"Mommy marah?" tanya nya dengan suara serak pada sang ibu.


"Tidak, Mommy ga marah sama Bian. Bian ke kamar dulu." ucap James yang mengarahkan pengasuh putri kecil nya untuk segara di bawa pergi.


Melihat putri kecil nya itu sudah pergi, ia melepaskan genggaman tangan nya yang menahan gadis itu.


"Jangan meninggikan suara mu," ucap nya pada gadis di depan nya.


"Tapi setidak nya dia harus tau kalau yang dia lakukan itu salah! Kau tidak beri tau dia?!" tanya Louise menggeleng.


"Dia masih anak-anak," jawab pria itu pada gadis di depan nya.


"Karna dia masih anak-anak beri tau kalau ada yang salah dan katakan apa yang bisa dia lakukan atau tidak." ucap nya sekali lagi.


"Aku melakukan yang terbaik untuk merawat nya, dan ini juga cara ku untuk merawat nya. Kalau kau tidak suka kenapa kau tidak berusaha memperbaiki nya?" tanya pria itu.


"Maksud mu?" tanya Louise mengernyit.


James tersentak, ia hampir saja ingin mengatakan untuk meminta gadis itu mengentikan pernikahan nya dan jika ingin mengatur putri nya sesuai keinginan nya lakukan saat ia sudah menjadi ibu yang juga di inginkan oleh putri nya.

__ADS_1


"Lupakan saja, aku akan mengirim kucing yang sama nanti." ucap pria itu, "Dan bukan nya kau lebih sibuk sekarang?" sambung nya dengan perasaan yang berat karena mengingatkan gadis itu tentang pernikahan nya.


__ADS_2