(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Cobalah


__ADS_3

Flashback on


11 Jam yang lalu.


Gadis kecil itu dengan semangat menarik tangan sang ibu yang terlihat sudah pusing mengikuti langkah nya.


"Myy! Sini Myy!" ucap nya dengan semangat.


Liburan pertama kali yang ia miliki dengan sang ibu, dan tentu gadis itu bisa pergi dengan putri nya setelah sang kakak memberi izin.


"Kita balik ya? Nanti Bian sakit," ucap nya yang tak tau jika putri nya adalah anak yang super aktif saat bermain.


"Hum?" Bianca menoleh ke arah kaki nya yang melayang dan tak lagi menyentuh pasir putih yang halus dengan air biru yang menyapu itu.


"Ih! Bian mau main Mommy!" ucap nya yang menggeliat di gendongan sang ibu saat ia memberontak dan ingin kembali bermain.


"Udah sore! Bian ga makan?" tanya Louise yang semakin kencang memegang putri nya yang hampir terlepas dari gendongan nya.


"Engga! Bian mau makan sama Daddy aja!" jawab bayi cantik itu dengan kesal pada sang ibu.


"Daddy kamu ga datang, hari ini cuma sama Mommy aja." jawab Louise tak kalah ketus nya dengan putri nya.


"Hua!"


"Mommy jahat!"


Teriak nya yang begitu kesal karna ia tak di bolehkan bermain lagi, memang saat ia bermain ia melupakan waktu nya.


Waktu makan, waktu istirahat dan hanya terfokus pada permainan nya saja. Apa lagi jika itu berhubungan dengan air.


"Hu.. Hua... Hu-"


"Jangan pura-pura nangis, ga mempan sama Mommy." sanggah Louise dan langsung membuat putri kecil terdiam.


Nada menangis sungguhan dan nada tangisan merengek sangat berbeda.


...


Kini bayi cantik berusia tiga tahun itu sudah bersih, pakaian yang sudah di ganti, wajah yang begitu menggemaskan dan juga memiliki aroma wangi khas bayi.


"Buka mulut nya," ucap nya yang memberikan suapan pada putri nya yang terlihat kesal itu namun tetap membuka mulut nya.


"Besok Bian mau main sehalian! Mommy ga boleh malah-malah lagi!" ucap nya yang terus protes dengan mulut kecil nya.


"Iya, besok Bian main ya." jawab gadis itu yang membiarkan putri nya memiliki rencana yang di buat.


Suapan demi suapan mulai habis, gadis kecil itu meminum air nya dan mengusap bibir mungil nya.


"Daddy kapan datang nya?" tanya nya lagi pada sang ibu.


Louise menarik napas nya, sejak awal liburan yang ia buat di izinkan karna ayah dari putri nya tak ikut.


"Bian ga suka sama Mommy?" tanya nya pada bayi bermata coklat itu.


"Suka! Tapi kalau ada Daddy Bian lebih suka lagi!" ucap nya pada sang ibu.


Louise tak mengatakan apapun, ia mengambil beberapa mainan putri kecil nya yang di bawa dan memainkan nya setelah makan malam.


...


Louise mengangkat tubuh kecil itu ke atas ranjang, ia menutup tirai dari pintu dan jendela kaca itu.


"Yeeyy! Tidul sama Mommy!" suara khas anak-anak itu bersorak.


Walaupun sejak usia satu tahun ia sudah di biasakan tidur sendiri namun sesekali ia tetap tidur dengan sang ayah.


Dan sekarang?


Ia tidur bersama sang ibu yang bahkan dulu ia tak pernah kenal apa itu 'Ibu'


Louise tersenyum ia berbalik dan ikut naik ke samping ranjang yang di tempati putri nya.


Mata coklat nan jernih itu masih menatap nya dan belum menunjukkan ingin tidur sama sekali walaupun ia sudah bermain sepanjang hari di pantai.


Bayi cantik itu terus berceloteh banyak hal, tentang apa yang ia temui di pantai atau tentang cahaya yang menyilaukan mata nya.


Sedangkan sang ibu menepuk perut bulat yang menggemaskan itu dengan lembut dan sesekali mengusap kepala nya.


"Iya? Bian pintar dong," ucap nya yang mengapresiasi cerita yang bahkan tak ia mengerti dari putri nya.


"Iya! Telus kan Bian- Hoam..." Bianca menguap di tengah cerita nya.


Mata nya mulai menyipit dan mengecil, setelah menghabiskan semua tenaga nya untuk bermain dan bercerita kini anak kecil itu mulai mengantuk.


Louise masih tak mengatakan apapun, ia tetap menepuk putri nya yang berbalut selimut tebal itu.


"Good night, my baby..." bisik nya lirih pada anak kecil yang sudah terpejam itu.


Cerita dari suara yang menggemaskan itu sudah usai, gadis kecil itu tidur dengan pulas ketika mata nya sudah tertutup.


Louise menggeliat, membuat posisi nya lebih nyaman. Ia juga merasa lelah karna terus menemani anak aktif itu bermain sejak mereka sampai.


Tiga jam kemudian.


Vila yang berada di dekat pantai itu memang milik pribadi, namun hanya di jaga oleh tiga tim keamanan dan pelayan yang pulang harian.


Klek


Suara pintu yang tadi di tutup kini terbuka, sejak awal Louise memang tak mengunci nya sama sekali karna ia tau ada yang menjaga tempat yang ia tinggali saat ini.


Tanpa ia tau jika ada seseorang yang bisa melewati nya, bahkan pernah menyelinap ke kediaman nya.


"Mereka tidur?" gumam pria itu memiringkan wajah nya.


Wajah yang mirip bahkan gaya tidur yang mirip, pria itu menghela napas nya.

__ADS_1


Ia beranjak duduk ke pinggir ranjang dan ikut menyelinap ke balik selimut.


Bergabung tanpa izin?


Memang itu yang ia lakukan, sebelum nya ia sudah berjanji akan datang pada putri semata wayang nya itu.


Namun ketika ia menempati janji nya dan datang, seseorang yang sebelum nya merengek kini malah tertidur dengan pulas.


Memang ia yang datang nya terlalu larut hingga yang wajar jika putri nya sudah tidur.


Flashback off


...


Mentari meninggi, gadis itu terbangun dengan silau nya mentari yang masuk ke dalam kamar nya padahal sebelum nya ia sudah menutup tirai di jendela dan pintu kaca kamar nya.


Mata nya membuka perlahan, bayangan yang samar dan baru bangun tidur masih belum memulihkan semua kinerja kesadaran nya.


Dia? Aku memimpikan hal yang aneh...


Gadis itu masih antara sadar dan tidak, ia melihat ada orang lain yang bersama dengan putri nya.


Deg!


Mata nya sudah jernih, kini ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di seberang ranjang nya.


Tunggu! Itu benar-benar dia?


Gadis itu tersentak, ia menatap jelas ke arah pria yang terlihat tertidur itu. Sedangkan putri nya sudah tidur melintang dengan separuh badan menimpa tubuh nya terlebih lagi bergulung dengan selimut.


Kenapa jadi begini?


Tadi dia ga ada kan?!


Batin gadis itu yang terkejut, ia ingin menggeliat dan berusaha menyingkirkan tubuh putri nya yang tidur melintang di atas nya.


"Astaga..." gumam nya yang tak percaya bagaimana pria itu bisa masuk padahal ia sendiri yang lupa mengunci pintu teras kamar nya.


"Kalau kau bergerak seperti itu dia bisa bangun,"


Louise tersentak, ia langsung menoleh ke arah suara pria yang berbicara pada nya.


"Kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Louise pada pria yang terlihat membuka mata nya itu.


Dan tampak jelas jika pria itu sudah bangun lebih dulu.


"Lewat pintu," jawab nya ringan dengan jujur.


"Bukan! Maksud ku bagaimana melewati mereka?" tanya Louise yang mengernyit saat mengingat penjaga nya pun ada di sana.


"Seperti nya kau belum bangun sepenuh nya, aku saja pernah masuk ke kamar mu." jawab James dengan wajah tanpa eskpresi itu.


Louise terdiam, ia juga baru mengingat nya.


Bianca yang terlelap itu mulai terusik, tangan mungil nya bergerak perlahan dan ia mulai terbangun.


Gadis kecil itu menggeliat, pandangan nya masih mengabur dan mata nya masih terbuka kecil.


Pembicaraan yang berlangsung di sisi kanan dan kiri nya membuat nya terusik.


"Daddy?" gumam nya lirih dengan bibir mungil nya.


"Iya? Sstt..."


"Ini Daddy," jawab pria itu yang beranjak memeluk kembali tubuh mungil itu dan membuat nya kembali tertidur.


Louise terdiam, ia hanya menghela napas nya dah beranjak pergi ke kamar mandi. Sedangkan pria itu masih menepuk dan memeluk putri kecil nya yang kembali tidur.


...


Penjaga yang berada di vila itu saling memandang takut karna lalai menjaga tempat nona yang mereka layani.


"Kami akan segera membawa dia keluar," ucap salah satu penjaga.


Louise membuang napas nya, "Tidak perlu. Tapi jangan sampai hal ini terdengar ke kakak ku. Kalau sampai terjadi maka kalian orang pertama yang ku cari." ucap nya yang memilih membiarkan pria itu karna putri nya saat ini terus menerus bersama ayah nya.


Penjaga tersebut pun bubar dan kembali melaksanakan tugas nya masing-masing.


Sedangkan Louise berdiri di atas vila dua lantai itu dan melihat ke arah pantai, pria yang tampak mengasuh anak kecil dengan telaten.


"Sebenarnya yang liburan aku atau mereka?" gumam nya lirih saat melihat interaksi antara seorang pria dan anak kecil yang bermain di pinggir pantai itu.


...


"Mommy!"


Sesuatu yang kecil menabrak kaki nya dari belakang dan seperti laba-laba makhluk kecil itu memeluk dan bergelantung pada nya.


Louise tersentak, ia menoleh ke belakang dan menatap ke arah mata coklat yang bulat dan jernih itu.


"Gimana tadi main nya? Seru?" tanya nya pada putri nya yang kembali saat jam makan siang.


"Selu! Nanti Mommy halus ikut juga!" jawab Bianca dengan penuh semangat.


Tubuh mungil itu beranjak memanjat ke atas kursi saat ia ingin makan siang.


Makanan yang di hidangkan membuat pipi bulat itu berantakan.


"Mau Mommy suapin?" tanya nya melihat ke arah gerak makan putri nya yang begitu belepotan.


Bianca menggeleng, "Ga mau! Mau sendili!" jawab nya yang kali ini ingin makan sendiri tanpa di suapi siapapun.


Makanan yang belum habis di piring gadis kecil itu di tinggal dan tentu kaki kecil nya langsung berlari lagi.


Dan sekarang?

__ADS_1


Keheningan yang tercipta di suasana yang tak tau harus mengatakan apa ataupun memberikan respon seperti apa.


"Kau menghindari ku," ucap pria itu dengan suara rendah namun langsung dapat terdengar dengan jelas pada gadis yang saat ini masih duduk di meja makan yang sama.


"Tidak," jawab nya singkat yang tentu menyangkal apa yang baru saja terdengar.


Pria itu diam sejenak, "Apa ada sesuatu yang salah lagi?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.


Louise mengernyit, ia langsung menoleh ke arah pria yang mengatakan sesuatu dengan ambigu itu.


"Sebelum nya kau menggunakan alasan pernikahan mu untuk menolak ku, sekarang apa lagi?" tanya James sembari menarik napas nya.


Louise diam sejenak, "Lalu? Karna aku tidak jadi menikah aku harus datang pada mu?" tanya nya pada pria itu.


Ia tau siapa yang ia suka, namun ada beberapa hal yang membuat nya tak bisa selalu mendapatkan apa yang ia sukai.


"James? Menurut mu itu mungkin?" tanya nya lirih.


Pria itu diam menunggu kalimat selanjut nya karna pertanyaan yang ia dengar masih ambigu.


"Memulai hubungan setelah menyakiti hubungan yang lain?" tanya nya pada pria itu.


"Mungkin kau perlu waktu," jawab James yang walaupun ia tak tau bagaimana perasaan bersalah karena menolak seseorang.


"Dan lagi, Louis tetap tidak akan menerima mu." ucap Louise yang tau seberapa tak suka nya sang kakak pada pria di depan nya.


James diam sejenak, "Soal dia aku akan cari cara membujuk nya, kalau kau sudah bisa menerima ku."


"Kau tau cara membujuk? Yang kau tau cuma cara mengancam." ucap nya pada pria itu.


"Aku tau cara nya negosiasi," jawab nya pada gadis itu.


"Kau mau negosiasi dengan cara apa? Kakak ku tidak kekurangan uang," ucap nya sekali lagi.


"Dengan cara ku," jawab nya singkat tanpa memberi tau apa yang akan ia rencanakan nanti nya.


Louise tak mengatakan apapun lagi, ia diam sejenak sembari memilih kata-kata yang ia akan ucapkan pada pria yang keras kepala itu.


"Kenapa kau sangat menginginkan hubungan ini?" tanya Louise yang tampak menghela napas nya.


"Karna aku aku menginginkan mu," jawab nya singkat.


"Berarti bukan karna kau menyukai ku?" tanya nya pada pria itu.


"Kau sudah tau kalau aku menyukai mu, kenapa selalu tanyakan hal yang sama?" James mengernyit, memang wanita selalu memiliki hal yang akan di ingat.


Louise menarik napas nya, ia memutar isi kepala nya. Mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyerang pria itu.


"Baik, katakan kalau kau memang menyukai ku. Kau tidak masalah aku pernah tidur dengan pria lain?" tanya nya pada pria itu.


James diam dengan wajah nya yang terlihat bergeming dan tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Selagi kau tidak tidur dengan pria lain saat kita punya hubungan aku tidak masalah," ucap nya karna sebelum ia bersama gadis itu ia juga meniduri banyak wanita.


Louise mengangguk, memang seharus nya pria itu tak memiliki hak untuk marah pada nya tentang hal itu.


"Lalu bagaimana dengan anak?" tanya nya sembari melihat ke arah pria itu.


James tersentak, ia langsung menoleh ke arah gadis yang menanyakan sesuatu yang membuat nya bingung sekaligus terkejut.


"Maksud mu?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.


"Aku hamil," jawab Louise singkat.


Mata coklat itu membulat mendengar nya, tidak ada urutan tanggal yang sesuai dengan saat mereka berada di pantai dan tentu itu bukan anak nya.


Gadis itu tersenyum miring sembari membuang wajah nya.


"Kau bilang menyukai ku kan? Tapi kau tidak bisa menerima nya?" tanya nya sembari meminum jus buah di samping nya.


"Wajar untuk seseorang terkejut saat mendengar nya." jawab James yang kali ini kembali mengatur ekspresi nya.


"Oh ya? Kau tidak akan membunuh anak ku? Kau mau membesarkan anak orang lain seperti anak mu sendiri?" gadis itu tersenyum sembari melihat ke arah pria yang selalu memiliki wajah datar itu.


"Tidak masalah kalau kau dengan ku, dan lagi aku tidak akan mengambil sesuatu yang akan membuat mu menangis lagi," jawab nya yang secara tak langsung mengatakan tak akan membunuh anak dari gadis itu.


Louise membuang napas nya, ia menatap ke arah jus yang ia minum dan kembali menatap ke arah pria itu.


"Sudah lah, lagi pula aku tidak hamil sungguhan." ucap nya pada pria itu.


James yang mendengar nya membuang napas nya lirih.


"Kenapa kau terlihat lega?" tanya Louise yang langsung melihat ke arah pria yang tampak begitu lega itu.


"Aku?" tanya James yang menatap dengan bingung.


"Ya, kau terlihat senang saat ku katakan aku hanya berbohong." ucap nya pada pria itu.


James tak menjawab, memang kalau gadis itu benar hamil ia tentu tau siapa anak yang di kandung dan ia pun tak bisa protes karna ia tau jika sebelum nya gadis itu memiliki tunangan dan ia lah yang menjadi pengacau nya.


Hanya saja untuk menyayangi seperti anak nya sendiri mungkin akan sedikit berbeda, sama seperti ia mengurus dua anak sebelum nya.


Ia merasa sudah memberikan kasih sayang yang seimbang namun anak-anak yang ia urus merasakan jika kasih sayang nya berat sebelah.


"Tidak, hanya saja aku..." ucap nya yang menggantung tak mungkin membicarakan tentang kedua anak yang menjadi asuhan nya.


"Louise?" panggil nya yang menatap ke arah gadis itu saat ini.


Mata hijau itu menoleh ke arah seseorang yang memanggil nya, "Kau mungkin membutuhkan waktu pemulihan untuk diri mu sendiri tapi..."


"Apa sekarang kau bisa untuk tidak mendorong ku terlalu jauh? Setidak nya jangan menghindari ku."


"Aku akan cari cara sendiri untuk bisa dekat dengan mu," ucap nya pada gadis itu.


Walaupun tak ada lagi penghalang namun tetap saja, meyakinkan seseorang adalah hal yang tak bisa di lakukan dua atau tiga hari saja.

__ADS_1


"Kalau begitu, cobalah..." jawab nya pada pria itu.


__ADS_2