(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Hati dan Logika


__ADS_3

Suara tangisan serta isakan menyelimuti kamar tersebut.


Pria itu diam tak mengatakan apapun, ia hanya melihat ke arah gadis yang terus menangis itu tanpa memeluk ataupun memberi penghiburan.


Ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan, jika ia sendiri yang membuat gadis di depan nya terluka.


2 jam kemudian.


Suara isakan tersebut mulai terhenti, gadis itu mulai cegukan saat ia tak lagi menangis.


Wajah nya sembab, mata dan hidung yang memerah serta pipi yang basah dan anak rambut yang lembab.


"Maaf..."


"Maafkan aku..."


Louise langsung menoleh, ia masih cegukan dan isakan nya masih terdengar samar. Ia menatap pria di depan nya.


Pria yang selalu meninggikan ego nya itu kini meminta maaf?


Itu nyata?


"Untuk?" Louise mulai tenang, ia masih menatap dengan kebencian.


"Semua nya," jawab pria itu singkat.


Wajah nya masih begitu datar, ia tak bisa mengekspresikan apapun namun tampak jelas penyesalan di mata nya.


Louise memberikan mata tampak marah dan terlihat dengan jelas kebencian di dalam nya. Ia pun beranjak untuk bangun berusaha berdiri dengan kaki nya walaupun tenaga nya terasa habis.


James beranjak memegang lengan gadis di depan nya guna membantu nya untuk bangun namun,


Tak!


"Jangan sentuh," suara yang terdengar serak itu tampak ketus sembari menatap tajam pria di depan nya.


"Aku mau pulang..." ucap nya lirih sembari melirik ke arah pria di depan nya.


"Aku tau kau sangat membenci ku, tapi dengarkan aku. Aku tidak akan menyakitimu atau kakak mu lagi." ucap nya sembari menatap lekat wajah gadis di depan nya.


"Kenapa?" ia menatap tak percaya dengan mata kebencian.


Pria yang begitu terobsesi pada nyawa ia dan saudara kembar nya, pria yang selalu ingin menyakitinya lebih dari siapapun kini mengatakan tak akan mengincar nya lagi?


"Cause I love you," jawab pria itu singkat namun begitu jelas mengatakan alasan dan maksud nya.


Louise diam sejenak, ia tak tau namun mendengar hal tersebut tak membuat nya lega ataupun senang.


Ia bahkan tak lagi berharap pria di depan nya itu memberikan nya kata 'Cinta' seperti yang ia inginkan dulu.


Rasanya terasa lucu saat pria itu mengatakan mencintai nya setelah semua ucapan dan tindakan yang terus mendorong nya menjauh.


"Do you love me?" tanya gadis itu mengulang dengan senyuman pahit.


Dada nya terasa sesak, ia tak bisa bernapas saat hati nya terasa di ikat dan di tekan dengan kuat.


"Ya," jawab pria itu lirih.


"What should I do? I think... "


"I don't love you anymore," ucap gadis itu lirih.

__ADS_1


Setelah tangisan nya, ia bisa sedikit tersenyum walaupun bukanlah senyuman yang cerah dan indah melainkan senyuman menahan luka.


James diam, ia tersentak. Rasa nya ego nya tertampar dan ia yang merasa jalan nya begitu panjang untuk meraih gadis itu kembali.


Sekarang ia tau bagaimana rasanya mengharapkan kata 'Cinta' dari seseorang yang di cintai.


Gadis itu memang pernah mengatakan tidak mencintai nya atau bahkan menolak pernyataan cinta nya namun rasanya begitu berbeda dengan saat ini.


Tatapan yang tampak marah dan benci serta tidak yakin saat mengatakan kalimat tersebut.


"Kau mau pulang?" tanya nya sembari memberikan tangan nya mengunggu gadis itu membalas uluran nya.


Louise menatap ke arah tangan yang menunggu nya namun ia tak berniat menerima uluran tangan itu.


Ia diam tak mengatakan apapun namun sudah jelas keinginan nya itu apa.


Louise masuk ke dalam mobil tersebut, ia menatap ke arah pria yang juga ikut masuk dan duduk di bangku kemudi nya.


"Kali ini aku akan tidur lagi?" tanya nya lirih.


James menoleh, wajah gadis itu tak melihat ke arah nya sama sekali. Ia diam tak menjawab.


Bagaimana ia harus mengatakan nya? Tempat yang ia tinggali merupakan tempat yang tersembunyi.


Seperti kastil terkutuk yang penuh dengan darah, tempat terlarang yang tak boleh di ketahui khalayak umum.


"Tidak sadar dan aroma Pinus..." sambung gadis itu lirih dengan suara bergumam.


"Apa yang kau inginkan?" tanya nya menoleh ke arah gadis itu.


Tak ada jawaban lagi, namun pria itu mulai menyalakan mobil nya. Menatap ke arah pintu gerbang nya yang perlahan di buka.


Haruskah ia mengambil resiko dengan membiarkan gadis itu sadar dan mengetahui jalan ke mansion nya.


Hanya cahaya rembulan dan cahaya dari mobil yang ia gunakan yang membuat jalan beraspal itu memiliki sinar.


Ini pertama kali nya ia melihat dengan jelas jalanan yang biasa ia lewati namun ia tak sadar sama sekali.


...


Mobil hitam tersebut sudah mulai memasuki wilayah kota, gadis itu masih diam tak mengatakan apapun begitu juga dengan pria yang membawa mobil tersebut.


"Di sini,"


James langsung menoleh begitu mendengar suara gadis di samping nya.


"Turunkan aku di sini," Louise mengulang apa yang ia katakan dengan jelas sekali lagi.


James diam tak menjawab namun ia masih mengemudikan mobil nya karna berniat mengantar sampai ke kediaman gadis itu.


"Berhenti..." ucap Louise sekali lagi dengan suara lirih yang hampir tak terdengar namun ia mulai meremas tali tas nya dengan kuat.


Pria itu melirik, rasa nya gadis itu seakan segera marah dan semakin membenci nya jika ia tetap melakukan mobil nya.


Ia mulai menepi, sesaat setelah mobil berwarna hitam itu berhenti Louise mulai membuka pintu mobil tersebut.


Berjalan keluar dengan kaki yang masih terasa sakit karna sebelum nya terjatuh.


"Kau bilang kau tidak mencintai ku lagi kan? Lalu kau sekarang mencintai dia?" tanya pria itu yang keluar dari mobil nya dan menatap ke arah gadis yang berjalan tertatih menjauh dari nya.


Louise terhenti, ia menoleh dan menatap ke arah pria yang bertanya pada nya.

__ADS_1


Tak ada jawaban sama sekali, gadis itu tak menjawab nya dan kembali mengalihkan wajah nya.


Cinta?


Ia sendiri bingung dengan perasaan nya, ia membenci pria yang baru saja bersama nya. I sangat marah dan ingin melihat pria itu terluka.


Tapi saat membayangkan pria itu akan terluka hati nya juga terasa sakit, entah apa yang inginkan.


Dan sekarang ia mendapat pertanyaan apakah ia mencintai tunangan nya? Ia sendiri pun tak bisa menjawab nya.


Ia menyayangi teman masa kecil nya itu, namun entah mengapa rasa sayang nya seperti tak memiliki keinginan untuk memiliki.


...


Ckit!


Mobil berwarna abu-abu gelap itu mengerem tepat di depan gadis yang berdiri di atas trotoar jalan raya itu.


"Louise?"


Pria itu keluar, menatap dengan tatapan khawatir dan langsung mendatangi gadis yang menunggu nya.


"Kau benar-benar datang kalau aku memanggil mu?" senyuman tipis menengadah menatap ke arah pria yang lebih tinggi dari nya.


"Kau tau aku sangat khawatir," ucap Zayn sembari memeriksa keadaan gadis di depan nya.


"Aku baik-baik saja..." suara yang terdengar hampir habis itu tersenyum tipis.


Zayn diam, tunangan nya itu mengatakan baik-baik saja saat datang dengan kaki yang terluka dan wajah yang sembab seperti habis menangis, siapa yang akan percaya?


"Apa yang dia lakukan pada mu?" suara yang terdengar rendah dan pelan namun terlihat begitu geram.


Louise diam sejenak, baru kali ini melihat 'Baby Zayn' nya tampak begitu marah.


Pria yang bahkan tak pernah marah padanya ataupun menyakiti nya itu tampak begitu berbeda kali ini.


"Zayn?" suara yang lebih rendah sehingga terdengar lebih lembut dari biasanya.


Tangan halus itu meraih tangan besar dari pria yang berada di depan nya dan menggenggamnya.


"Bawa aku pulang..." ucap nya lirih.


Zayn melihat ke arah mata yang tak ingin membicarakan apapun atau mendengar pertanyaan apapun.


"Ya, ayo pulang..." ucap nya yang mulai luluh mendengar suara lembut gadis itu dan tangan yang menggenggam nya.


Louise mulai diam, ia melihat ke arah pria di samping nya. Pria yang tumbuh dengan nya dari kecil itu kini sudah ikut dewasa juga bersama dengan dirinya.


Aku mencintai nya?


Apa aku mencintai mu?


Aku tidak tau...


Tapi kalau aku boleh memilih, aku ingin memilih mu...


Karna aku benci dia!


Tapi...


Apa ini yang benar-benar ku inginkan?

__ADS_1


Hati dan logika ku seperti nya sudah berhenti dan rusak...


__ADS_2