
Gadis itu mulai membuka mata nya saat ia sudah mulai terbangun.
"Sudah bangun? Mau turun?"
Suara yang membuat nya langsung menoleh, awal nya ia mengernyit karna melupakan jika ia masuk ke dalam mobil pria itu sebelum nya.
"Oh ya?" gumam nya yang masih linglung dan kemudian mengingat ketika tadi ia yang langsung masuk ke mobil pria itu karna menghindari mantan pacar nya.
"Kita di mana?" tanya Louise sembari menggeliat kecil karna baru saja bangun.
Alex tertawa kecil melihat gadis itu menggeliat kecil yang membuat nya seperti anak kucing yang tengah berguling di mata pria itu.
"Rumah ku," jawab nya singkat.
"Hm? Kenapa ke sini?" tanya Louise mengernyit.
"Kau tidur, aku tidak tau harus membawa mu kemana lagi jadi ku bawa ke sini." jawab Alex sekena nya sembari menatap gadis itu dan bersandar di stir.
"Kenapa tidak membangunkan ku? Kau juga kenapa masih di sini?" tanya Louise heran.
"Aku sudah coba tapi kau seperti nya tidak dengar apapun lalu aku menunggu bangun," jawab nya dengan senyuman yang menyimpan arti.
"Oh? Kalau begitu aku sangat berterimakasih, aku akan traktir besok." ucap nya sembari ingin keluar.
Alex pun dengan cepat menahan tangan gadis itu, "Kau tidak mau ke rumah ku lebih dulu?" tanya nya pada gadis itu.
"Tidak, aku langsung pulang saja." ucap Louise menolak halus, "Lokasi kita di mana sekarang? Aku bisa minta jemput supir ku."
Alex diam sejenak, walaupun rumah nya bukan tempat rahasia karna ia membawa gadis itu dengan identitas yang di ketahui namun sama saja ia tak mau gadis di samping pergi lebih cepat.
"Kalau mau membalas ku, temani aku makan malam," ucap nya sembari terus menahan tangan gadis itu.
"Kapan?" tanya Louise mengernyit.
"Sekarang," jawab nya kemudian tanpa jeda.
Gadis itu menatap heran namun pria di depan nya langsung berkata lagi, "Sebenarnya ini hari yang penting untuk ku." ucap nya lagi.
"Hari ini hari apa?" tanya Louise heran.
"Hari kematian adik ku," ucap nya dengan wajah yang di buat memelas.
Ia tak tau akan ada hari di mana ia memanfaatkan tanggal kematian saudari nya untuk menahan gadis itu.
"Sungguh?" tanya nya lagi dengan mata menyelidik.
"Tidak ada yang bermain-main dengan kematian keluarga nya," jawab Alex dan membuat gadis itu berpikir ulang.
"Okey, aku temani." ucap Louise karna ia juga pernah tau bagaimana rasa nya kehilangan keluarga yang ia cintai.
Pria itu menampilkan smirk nya melihat gadis yang ia manfaatkan rasa iba nya.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Louise ketika memasuki mansion yang cukup mewah itu.
"Hm, biasa aku tinggal di apart tapi karna hari ini sedikit penting aku jadi tinggal di sini." jawab pria itu sembari mempersilahkan duduk.
Louise duduk di sofa yang di sediakan sedangkan pria itu mulai menyiapkan makan malam.
"Kalau kau mau melihat-lihat kau juga bisa melakukan nya, aku tinggal dulu." ucap nya sembari beranjak pergi.
Awalnya gadis itu hanya duduk diam, namun karna tak ada yang bisa ia ajak bicara hingga rasa bosan nya menyerang.
Ia pun mulai bangun, karna sudah mendapat izin dari tuan rumah kaki nya berjalan melihat-lihat mansion tersebut.
Sementara itu Alex menyiapkan makan malam ia juga menyiapkan minuman yang menjadi pelengkap.
Serbuk putih yang entah memiliki kandungan apa ia campurkan ke dalam minuman gadis itu.
"Apa kau bisa selamat juga malam ini?" smirk yang penuh kemenangan karna ia merasa rencana nya akan mulus seperti jalan tol.
Gadis itu memasuki salah satu ruangan yang mirip seperti ruang pribadi namun bukan kamar tidur.
Ia melihat sejenak dan ingin melangkah keluar namun kaki nya terhenti dan kemudian berbalik.
"Apa aku salah lihat?" gumam nya yang menatap apa yang ada di depan nya sembari mendekat.
"Ini kan punya ku!" ucap nya yang langsung berbinar melihat gantungan kunci milik nya yang menjadi hadiah dari sang ibu dulu nya ketika ia remaja.
Ia pun berjalan keluar sembari membawa apa yang selama ini sudah ia kira hilang.
...
Gadis itu terdiam di depan makanan yang di sajikan, memang di penuhi dengan makanan yang enak namun ada salah satu jenis makana yang benar-benar bukan selera nya.
"Kau makan ini?"
Tanya nya sembari menunjuk ke arah hati sapi mentah yang di potong-potong sesuai gigitan lalu di berikan minyak dan biji wijen di atas nya.
"Hm, ini sangat lembut." jawab Alex sembari mengambil potongan hati sapi mentah itu dan memakan nya.
Gadis yang tengah hamil itu pun tentu nya sensitif melihat nya ia hampir saja muntah karna memikirkan betapa amis nya ketika di makan.
"Oh iya, aku mau tanya. Kau dapat ini dari mana?" tanya Louise sembari mengeluarkan gantungan kunci nya.
Alex langsung mengernyit dan mengambil nya seketika, "Kenapa menyentuh barang orang lain?!" tanya nya yang langsung tak senang.
__ADS_1
"Gantungan kunci itu juga bukan milik mu kan?" tanya Louise yang tak suka pria itu tiba-tiba mengambil nya.
Alex diam sejenak, ia bingung mengapa gadis itu bisa tau jika itu bukanlah barang milik nya.
"Itu milik ku, kenapa bisa ada dengan mu? Padahal sudah lama sekali." ucap nya sembari memakan salad di depan nya.
Pria itu masih tak mengatakan apapun lagi ia masih mencerna nya, "Apa bukti nya ini milik mu?" tanya nya lagi.
"Di sana ada lingkaran yang punya ruang kan? Terus di sudut nya ada lubang kecil? Kalau di tekan dengan jarum di dalam akan ada gambar anak beruang yang di kepala nya ada bunga," jawab Louise pada pria itu.
Gantungan kunci yang di design sendiri oleh sang ibu tentu nya berbeda dari yang lain nya.
Alex pun melihat nya, ucapan yang begitu menyakinkan setelah melihat apa yang di katakan gadis itu benar membuat nya tertawa kecil dan memberikan nya.
......................
Mansion Dachinko.
James melihat ke arah layar di depan nya, ia merasa kesal ketika ia sudah mendapatkan bocoran laporan tanggal pertunangan gadis itu.
"Dia benar-benar mengabaikan nya?" gumam nya lirih sembari berdecak kesal.
Tangan nya mengetuk meja beberapa kali dan tak lama kemudian ia pun tak bisa menahan jemari nya untuk menelpon gadis itu walaupun mungkin jika panggilan mereka tersembunyi ia tak tau akan mengatakan apa.
......................
Ponsel yang terus berdering membuat gadis itu menoleh dan melihat nama yang memanggil nya.
Awal nya ia mematikan nya namun karna terus berdering membuat nya risih dan mengangkat nya.
Sedangkan Alex berdecak kesal karna gadis itu tak meminum minuman yang sudah di sediakan oleh nya.
"Ada apa?" tanya nya dengan ketus.
James diam saja ketika mendengar suara gadis itu, ia mau protes bagaimana?
Sedangkan ia yang lebih dulu mencampakkan gadis cantik itu saat mengetahui kebenaran nya
"Louise?"
Gadis itu pun menoleh, "Kau belum minum kan?" tanya Alex sembari membawakan minuman nya.
Louise pun mematikan ponsel nya segera ketika pria itu mendatangi nya.
......................
James mengernyit mendengar suara yang bagi nya tak asing namun ia tak ingat di mana pernah mendengar nya.
"Dia sedang dengan siapa?" gumam nya sembari meletakkan ponsel nya dengan kesal.
Namun tetap saja sesuatu yang merasa mengganjal di pikiran nya mulai datang, ia tak nyaman akan sesuatu yang ia sendiri pun tak tau.
"Lacak nomor ini, lalu retas lokasi ponsel nya." ucap nya sekilas pada para pekerja itu.
......................
Kediaman Rai.
Wanita itu hanya mengepalkan tangan nya, bahkan ketika ia sudah mengetahui semua nya bertengkar hebat karena itu pria yang menjadi suami nya kini malah menahan nya.
Louis yang tentu nya tak setuju dengan perceraian yang di ajukan Clara tentu nya tak punya pilihan selain mengurung wanita itu.
"Aku tidak akan menceraikan mu, lagi pula sebelum nya baik-baik aja kan?" tanya nya setelah menarik napas nya.
"Brengsek!" jawab Clara lirih sembari menahan tangis nya agar berhenti sejenak.
......................
Gadis itu masih belum merasakan efek apapun karna baru meminum nya sedangkan pria itu terus memperhatikan gerak nya sedari tadi menunggu reaksi obat yang ia berikan.
"Tuan? Ada yang ingin bertemu," ucap nya salah satu penjaga mansion itu pada Alex.
"Siapa? Bukan nya aku sudah bilang tidak mau di ganggu kan?" tanya nya yang langsung tak senang.
"Masalah nya dia menabrak pagar sampai tumbang," jawab penjaga tersebut.
Pria itu langsung mengernyit, "Ck! Orang gila dari mana itu?!" ucap nya dengan kesal.
"Ada apa?" tanya Louise yang mendengar decakan kesal pria itu.
"Ada orang gila yang masuk ke dalam rumah ku," jawab Alex dengan kesal.
Gadis itu pun mengikuti nya hingga mata nya membulat seketika melihat nya.
Pria yang berdiri dengan wajah seperti tanpa beban dan dosa di samping mobil nya dan pagar rumah seseorang yang tumbang.
"Kau mematikan telpon ku?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"Kau gila? Mau apa di sini?!" tanya Louise terkejut.
Bukan nya menjawab James malah melihat pria yang berdiri di samping gadis itu, sebanyak apapun ia memutar kepala nya ia tak bisa mengingat jika mereka pernah bertemu.
Apa aku yang terlalu berlebihan?
Batin nya saat ia merasa tidak ada yang aneh dari pria itu namun terus gelisah seperti sebelum nya.
"Aku ganti kerusakan nya," ucap nya sembari memberikan cek dan menarik tangan gadis itu.
__ADS_1
"Ih! Lepas!" ucap Louise memberontak karna tak ingin pria itu membawa nya.
Greb!
Alex pun langsung menahan nya, niat saja belum terselesaikan dan sekarang gadis itu akan pergi lagi.
"Anda siapa?" tanya nya menatap dengan pura-pura tidak tau.
"Apa aku harus memberi tau mu?" jawaban ketus yang keluar dari bibir pria itu membuat Alex semakin kesal.
"Ck! Aku mau pulang sendiri!" ucap Louise yang kesal dan menepis tangan kedua pria itu.
Ia melenggang jalan keluar sembari mulai menghidupkan ponsel nya agar meminta seseorang menjemput nya.
James hanya melihat gadis itu yang berjalan keluar menjauh, ia membiarkan nya karna tau kecepatan lari kaki dengan mobil tentu nya tidak sebanding.
"Kita pernah bertemu?" tanya nya pada Alex yang terlihat begitu kesal.
Jika saja ia saat ini bukan sebagai 'Alex' namun sebagai pengancam bertopeng ia pasti akan menahan gadis itu, namun demi melindungi identitas nya ia pun hanya membiarkan gadis itu pergi dan kesempatan nya kembali hilang.
"Entahlah, ku rasa ini pertama kali nya." jawab Alex tersenyum.
James diam namun ia merasakan pria itu memberinya nada penekanan di senyuman ramah nya.
"Apa kita perlu perkenalan diri? Aku Al-"
"Tak perlu, urusan ku sudah tidak ada lagi." ucap nya berbalik pergi dan masuk ke dalam mobil nya lagi.
Mata yang melihat geram ke arah mobil yang beranjak keluar itu membuat nya menyobek cek yang ia terima dan membanting nya.
"Ck! Sial! Padahal hanya tinggal sedikit lagi!" ucap nya dengan kesal.
...
Pria itu menepikan mobil nya dan mencoba menarik nya.
Gadis itu tersentak namun bukan nya marah ia malah tertawa kecil karna pengaruh obat yang di berikan pada nya mulai bereaksi hingga membuat pria itu heran.
"Kau kenapa?" tanya James mengernyit melihat gadis di dengan nya yang terus saja tertawa.
Tap!
Tangan nya menangkup kedua sisi pria itu dan melihat nya, "Padahal wajah mu tampan tapi kenapa sikap mu sangat brengsek? Hm?" tanya nya dengan cengengesan.
"Kau kenapa? Mabuk?" tanya pria itu sekali lagi.
"Jahat," gumam gadis itu dengan tatapan sedih setelah tawa nya.
"Hm? Kau bilang apa?" tanya James yang bingung dengan gadis yang bergumam di depan nya namun belum sampai ia selesai dengan kebingungan nya,
"Astaga!" pekik nya terkejut ketika tangan kecil itu langsung melompat ke kepala nya dan menarik nya dengan kuat.
Ia pun segera melepaskan tangan kecil gadis itu yang menarik kuat rambut nya, Louise terdiam saat kedua tangan nya terangkat dan terlepas dengan mudah karna tenaga nya yang tak sebanding.
Namun ketika kepalan tangan nya di buka helaian rambut yang rontok pun mulai jatuh perlahan.
"Sakit..." ucap nya lirih karna pria itu memegang erat kedua tangan dengan erat.
James pun melepaskan nya dan gadis itu berbalik dengan langkah gontai lalu berjongkok dan menatap ke arah rumput di pinggir jalan.
"James? Rumput warna nya hijau kok bisa hijau?" tanya nya lirih dengan tertawa.
Pria itu mendekat dan ikut berjongkok melihat gadis itu yang terus tertawa kecil.
"Langit nya kenapa gelap?" tanya nya lagi yang semakin random.
Pria itu juga tak menjawab pertanyaan tersebut namun ia sadar gadis di depan nya di berikan bubuk halusinogen, ia tak tau mengapa pria itu memberi nya hal seperti itu.
"Kau tidak akan mengingat ini," ucap nya sembari menyentuh pipi yang dingin terkena udara malam itu.
ia mendekat ke telinga gadis itu, ia tau apapun yang akan ia lakukan malam ini tak akan di ingat sama sekali bahkan ingatan tersebut malah bisa di manipulasi itu lah efek dari obat yang di berikan pada gadis itu.
"I love you," suara lirih yang tertiup di telinga gadis itu.
Iris hijau yang melihat wajah pria di depan setelah membisikkan sesuatu yang bahkan tak akan ia ingat.
...****************...
Oh iya, yang bingung kenapa Louise gak bisa ingat suara penculik nya sama suara Alex itu karna gak semua orang bisa ingat sama suara orang lain dengan mudah yah.
Dan lagi dia juga ketemu nya sesekali dan dalam kondisi yang gak akan bisa mikir jernih.
Kalau ada yang mikir nya, masa sih gak bisa ingat suara padahal bolak balik ketemu?
Yah contoh nya aja othor sendiri, selain suara orang tua othor sama kakak othor, othor itu gak bisa atau sulit ingat suara orang lain.
Othor kuliah dan ada dosen yang ngajar daring dan luring, aktif lagi dan waktu semester akhir dia pembimbing othor, waktu othor nunggu sama teman othor di luar kantor mau bimbingan teman othor bilang, "Eh itu bapak itu Uda datang kata nya,"
Terus othor cuma "Iya? Tau dari mana?"
"Itu suara nya, masa kau gak tanda? Dosen mu pun," sampe temen othor bilang begitu karna memang othor yang sulit nandain suara.
Makanya waktu othor baca ada yang tanya kenapa sih Louise gak bisa tanda atau ingat suara nya, kan sama.
Mungkin jawaban nya karna mbak Louise sejenis kayak othor wkwk
Okey itu jawaban untuk yang ngerasa Louise kenapa gak bisa ingat suara dan yang merasa ini cerita nya stuck sebenarnya kalau othor rajin up Uda jalan yah ini tapi karna jarang up jadi konflik nya kayak lama banget wkwk
__ADS_1
Happy readingπππππ
Salam cinta dari othorππππ