(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Are you happy with me?


__ADS_3

Restauran


Bianca terus mengikuti sang ibu, walaupun ayah kesayangan nya itu tak ikut namun tak begitu buruk karena sang ibu bersama nya dan lagi seorang pria yang tau bagaimana cara nya memainkan permainan kekanakan itu.


"Myy? Bian mau tanya," ucap nya yang memegang sendok nya dan menatap ke arah sang ibu.


"Ya?" Louise menoleh ke arah gadis kecil itu dan menatap nya.


"Nanti Mommy kalau nikah sama Paman Eyn Daddy gimana?" tanya nya pada sang ibu.


Anak kecil itu terus saja memutar pertanyaan nya karna ia memang tak begitu tau apa yang ia ucapkan dan bagaimana yang akan di dengar oleh orang lain.


Mata hijau itu menatap ke arah pria yang duduk di meja yang sama dengan nya.


"Bian mau cobain ini?" tanya nya tanpa menjawab nya sama sekali dan menawarkan sesuatu yang lain pada putri cantik nya.


Bianca mengangguk, ia kembali makan dan lupa jika sang ibu tak menjawab nya sama sekali.


"Paman? Mau minum itu," ucap nya yang selera melihat minuman orang lain walaupun ia sudah memesan minuman nya sendiri.


"Jangan yang itu, itu kan punya Paman Zayn. Mommy pesankan yang baru yah?" tanya Louise pada putri nya.


"Tidak, biarkan saja. Lagi pula aku belum meminum nya." ucap Zayn yang memberikan minuman nya karna sebelum nya ia masih meminum air mineral.


Louise mengangguk kecil, makan malam nya berjalan lancar dan memang hari ini juga tak terdengar sama sekali tangisan dari anak rewel itu.


"Hihi!" Bianca tertawa, paman tampan nya itu tau bagaimana membuat nya merasa senang walaupun ia masih akan tetap menyukai sang ayah 10 kali lipat jika di suruh untuk memilih.


Louise tak mengatakan apapun selain melihat ke arah putri nya yang tengah bercanda dengan calon suami nya itu.


......................


Kediaman Rai


Louise membuka ponsel nya, ia merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur dengan rambut yang masih basah karna tadi ia keramas saat kembali pulang.


"Apa aku kirim Poto nya?" gumam nya yang melihat ke arah kontak yang tak ia simpan itu namun ia tau nomor itu milik siapa.


Gadis itu membuang napas nya, ia pun membuka galeri nya dan melihat ke arah Poto anak kecil yang cantik itu.


Wajah yang terlihat tertawa, dan juga beberapa Poto yang menunjukkan wajah tangis dan marah karna ia ganggu.


Namun yang terpenting dari itu semua ia tersenyum saat melihat nya.


"Kalau dia masih hidup..." gumam nya lirih yang malah kembali teringat dengan putra pertama nya.


Louise memejam, mencoba menepis nya karna ia tau jika ia kembali mengingat putra pertama nya ia akan sedikit sulit untuk menerima putri kedua nya.


Ia pun kembali membuka nomor yang tak ia simpan itu dan mulai mengirimkan semua Poto yang di ambil siang tadi.


Ini foto tadi waktu kami pergi.


Tulis nya setelah mengirimkan foto-foto itu.


......................


Mansion Dachinko.


James menoleh saat ia merasakan notifikasi masuk ke dalam ponsel nya.


Tangan nya beranjak untuk mengambil nya, ia membuka nya dan melihat nama dari pengirim nya.


Berbeda dengan Louise yang tak menyimpan nomor nya, ia sendiri sudah menyimpan nya dan bahan sudah hapal di kepala nya.


Senyuman tipis terlihat di bibir nya saat melihat ke semua foto putri kecil nya yang begitu imut dan menggemaskan.


Tidak ada foto kalian? Kalian berdua?


Tanpa sadar jari nya mengetik, walaupun ia sudah tau tentang putri nya namun tanpa sadar jiwa nya menginginkan gadis itu sampai membuat nya juga ingin melihat nya.


Ting!

__ADS_1


Sebuah balasan yang masuk membuat nya, langsung membuka dengan cepat.


Aku? Kau minta Poto ku dengan Bian?


Pria itu membaca nya, jari nya pun langsung bergerak dengan sendiri nya.


Ya, aku ingin melihat mu.


Balas nya tanpa sadar, namun setelah ia mengirim pesan itu ia pun langsung menyadari nya dan menghapus nya serta mengganti nya dengan yang baru.


Ya, karna Bianca pasti nanti bertanya tentang foto kalian.


Balas nya setelah mengganti isi pesan nya.


Hening tak ada balasan untuk sementara walaupun gadis itu sudah membaca pesan nya.


"Apa dia marah?" gumam James saat tak ada balasan sama sekali.


Ting!


Sebuah notifikasi balasan pun muncul. Pria itu bergegas langsung membuka nya.


Senyuman di wajah tampan nya itu terlihat, ia kembali membalas nya. Memang benar jika ia tak bisa mengentikan diri nya untuk menjadi pengganggu atau pun untuk tidak kembali berhubungan dengan gadis itu.


Pesan yang terus berlanjut dan ia pun menyukai waktu yang seperti ini, saling mengirim pesan lalu kemudian bertemu.


Mungkin ia memang tak bisa bertemu namun hanya sekedar bertukar pesan saja sudah sedikit memenuhi hasrat keinginan nya.


......................


Dua hari kemudian.


Apart Sky Blue


Pria itu menoleh ke arah ponsel tunangan nya yang terus berbunyi menandakan notifikasi pesan sedang masuk.


Sedangkan tunangan nya sendiri sedang pergi sebentar.


Ia pun mengambil nya, membuka pesan yang sangat tak ingin ia baca itu.


Zayn tak mengatakan apapun, ia tak menyukai nya dan merasa marah serta perasaan yang campur aduk saat membaca pesan-pesan itu namun ia tak membuka Voice Note nya karna sudah tau dari siapa pengirim nya.


Memang terlihat seperti obrolan ringan namun tentu itu tetap akan menyakiti nya.


Drtt... drtt... drtt...


Ponsel gadis itu bergetar, Zayn melihat ke arah nomor yang tadi nya tengah berkirim pesan.


Ia pun langsung mengangkat nya, "Kau bisa jangan mengganggu nya lagi?!" ucap nya yang begitu kesal.


"Paman?"


"Paman malah? Maaf..."


"Bian ganggu..."


Suara anak kecil itu tampak lesu saat mendengar nya.


Sedangkan pria itu tersentak dan emosi nya sedikit mereda saat mendengar suara anak kecil itu.


"Bian? Itu Bian?" tanya nya mencoba kembali mendengar suara anak kecil itu.


"Iya..."


Jawab Bianca pada seseorang yang mengangkat telpon ibu nya itu.


"Mommy lagi sibuk sekarang, nanti paman telpon yah kalau Mommy sudah tidak sibuk." ucap nya yang langsung melemah saat me dengar suara anak kecil itu.


Ia memang menyukai anak-anak dan memang tak bisa kasar dalam menghadapi nya.


"Nanti kalau Mommy ga sibuk Mommy bakal telpon Bian?"

__ADS_1


Tanya gadis kecil itu mengulang pada pria tampan itu.


"Ya, sekarang paman tutup ya telpon nya." ucap nya yang mematikan panggilan tersebut.


Setelah panggilan itu berakhir, ia langsung menghapus semua pesan yang masuk barusan kecuali riwayat panggilan terakhir.


"Zayn?"


Suara yang memanggil nya tak lama saat ia sudah menghapus pesan yang baru masuk.


Iris hijau itu tersentak melihat ke arah ponsel nya yang berada di tangan tunangan nya.


Set!


Secepat kilat ia langsung mengambil nya, semakin mendekati hari pernikahan nya ia juga semakin kehilangan akal sehat nya dan terus bermain api tanpa sadar sesuai dengan keinginan hati yang tak bisa ia kendalikan.


Zayn membatu, jujur saja perasaan nya terluka melihat sikap gadis itu.


Namun ia tak mengatakan apapun, bibir nya bungkam seperti tak bisa menanyakan apapun.


"Tadi Bianca menelpon," ucap nya sembari tersenyum tipis ke arah tunangan tercinta nya itu.


"Bianca? Kau hanya menjawab telpon kan tadi?" tanya Louise pada pria itu sembari memegang ponsel nya.


"Tentu, memang nya di ponsel mu ada apa?" tanya nya dengan tawa kecil yang ingin mencairkan suasana walau ia harus pura-pura bodoh untuk kembali melupakan isi pesan nya.


Louise menggeleng, "Ti..tidak ada..." jawab nya lirih.


Zayn mengangguk kecil, ia menarik tangan gadis itu dan membuat nya duduk di sebelah nya.


"Kau tau aku mencintai mu kan?" tanya nya sembari memegang tangan tunangan nya itu.


Louise mengangguk mendengar nya, Ia menatap ke arah tunangan nya yang tampak sendu saat itu.


Zayn kehabisan kata-kata, ia tak mau mengatakan apa yang ia rasakan bahkan rasa gelisah nya sekalipun.


Karna ia takut jawaban gadis itu hanya akan semakin membuat nya merasakan sakit.


"Louise?" panggil nya lirih menatap ke arah gadis itu.


"Ya?" mata hijau itu kini hanya di penuhi oleh bayangan pria yang tengah menatap nya dengan dalam.


"Are you happy with me?" tanya nya pada tunangan nya itu.


Louise tersentak, ia melihat mata yang mungkin mirip dengan tatapan nya saat ia menanyakan 'Do you love me?' pada seorang pria dan saat itu ia benar-benar mengharapkan nya dengan asa yang hampir memudar.


Mungkin itu pertanyaan yang berbeda namun memiliki arti yang sama di beberapa kondisi.


Tatapan yang tak bisa ia tolak, bukan ia yang merasa bangga karna ada seseorang yang tergila-gila dan begitu mencintai nya.


Namun ia malah merasakan sesuatu yang berat di hati nya, ia tau sesakit apa saat mencintai seseorang yang bahkan tak menoleh sama sekali ke arah nya.


"Ya..." jawab nya singkat sembari membuang mata nya karna ia tak bisa menjawab dengan sungguh-sungguh saat menatap ke arah mata tunangan nya itu.


Ia tak bisa menjawab sesuatu yang mungkin akan mengecewakan pria itu.


Tapi bukankah ia memang seharus nya bahagia?


Memiliki seseorang yang tampan, perhatian, lembut dan mapan di finansial tanpa kurang satu apapun.


Seharusnya ia memang benar-benar bahagia bersama orang seperti itu, bukan?


Tapi kenapa hati nya begitu berat saat tadi ia menjawab nya?


"Really? Look at me, and answer my question one more. Are you happy with me?" tanya nya mengulang dangan pertanyaan nya sama.


Louise diam sejenak, ia menarik napas nya. Mata nya melihat ke arah lantai dan tak dapat menahan ke arah pria yang bertanya dengan sungguh-sungguh itu


"Ya..." jawab nya lirih dengan suara yang berat tak mengerti mengapa ia begitu sulit untuk mencoba benar-benar menerima pria yang bahkan sudah masuk katagori suami ideal itu.


Zayn diam, ia mendengar suara yang menjawab nya dengan berat dan bukan dari hati.

__ADS_1


Walau itu memang jawaban yang ingin ia dengar namun entah mengapa ia masih merasa gelisah.


Hati nya masih belum tenang dan mungkin ia merasa terluka walau gadis itu menjawab dengan sesuai yang ia harapkan.


__ADS_2