
Mansion Dachinko.
Mata bulat yang berwarna coklat dan jernih itu menatap dengan sendu.
Bibir nya gemetar dengan pipi bulat yang memerah di warna wajah nya yang putih.
"Huu.."
"Bian ga mau punya adik..."
Tangis nya lirih yang tak senang dengan apa yang baru saja di dengar oleh kedua orang tua nya.
Karna kehamilan yang masih dini dan sudah di periksakan dengan detail ke dokter kandungan, usia janin nya masih sekitar 2 atau 3 Minggu namun tetap saja ia sudah di katakan positif.
Dan sekarang?
Gadis kecil itu tak mau memiliki adik ketika ia sudah nyaman menjadi anak tunggal.
"Kan?" mata yang tajam melihat ke arah pria yang berada di belakang nya sembari memegangi tubuh mungil yang menangis itu.
James menarik napas nya, ia mendekat ke arah putri cantik nya yang tak siap untuk punya adik itu.
"Bian? Kenapa ga punya adik? Kan nanti Bian ada temen nya?" tanya yang kali ini beranjak menggendong putri cantik nya itu.
"Na.. nanti Bian ga di sa.. sayang lagi..." jawab nya dengan tangisan sendu pada sang ayah karna sering mendengar keluhan tentang pembicaraan teman-teman nya.
"Kenapa ga di sayang? Bian kan princess nya Daddy sama Mommy?" tanya nya yang tersenyum sembari mengayunkan tubuh mungil putri nya dengan sedikit.
"Ta.. tapi temen Bian ga di sayang lagi kalau punya a.. adik..." tangis nya pada sang ayah dengan sendu.
"Temen Bian benci sama adik nya?" James tak memarahi putri nya dan tentu mana mungkin ia bisa memarahi putri kesayangan nya itu.
Bianca menggeleng, "Meleka juga ikutan sa.. sayang... ma.. maka nya Bian ga punya a.. adik..." tangis nya yang juga bingung mendengar keluhan namun juga sering melihat teman nya yang mengeluh itu menyisihkan apa yang di sukai nya untuk adik nya di rumah.
"Berarti mereka juga masih di sayang, dulu waktu Bian masih bayi Bian juga di sayang malah sampai sekarang di sayang nya." ucap nya pada putri cantik nya.
"Ta.. tapi Bian ga mau punya adik... huhu..." tangis nya pada sang ayah.
"Adik nya di buang di laut aja boleh? Kalo ga kita kasih ke White aja?" tanya nya yang kini sudah bisa menyebutkan nama hewan peliharaan kesayangan nya itu.
James menarik napas nya, ia tak menjawab namun mengusap air mata putri nya di pipi yang bulat itu.
"Gimana kalau kita bicarakan lagi setelah adik Bian lahir? Mau?" tanya nya yang tentu gadis kecil itu akan lupa dengan pembicaraan nya karna bayi nya akan lahir 9 bulan lagi.
"Kalo nanti waktu lahil Bian ga suka adik nya boleh Bian buang?" tanya nya pada sang ayah dengan mata bulat nya yang berair itu.
James tak menjawab lagi, ia mengecup pipi bulat putri nya dan mengusap punggung nya dengan lembut.
...
Louise membuang napas nya, ia melepaskan kalung nya dan melihat ke arah cermin sebelum menghapus make up yang ia kenakan hari ini.
"Kau sih! Tuh Bian jadi nangis kan?" ucap nya yang tentu bisa menyalahkan suami nya.
"Kenapa marah? Berarti kan memang harus nya kita punya anak? Kau sudah pakai KB tapi tetap saja hamil kan?" tanya pria itu dengan santai sembari memberikan pijatan di pundak sang istri.
Ia tau beberapa mood wanita itu sering berubah saat hamil, dan mungkin hal yang akan sama juga mirip seperti kehamilan pertama nya.
"Setelah ini kau jalani operasi vasektomi, aku tidak mau hamil lagi." ucap Louise yang membuang napas nya.
"Iya, setelah ini aku akan melakukan nya." jawab James singkat yang menuruti permintaan istri kesayangan nya itu.
Walau pun wanita nya sering mendengus kesal atau ataupun marah namun ia tak masalah sama sekali karna bagi nya hal ini lebih baik di bandingkan saat kehamilan kedua nya.
Di kehamilan kedua nya tak ada rasa menginginkan sesuatu, tak ada amarah kecuali tangisan, tak ada sikap manja selain wajah yang tampak kosong dan telah mati.
Ia menarik napas nya dan mendekat, memeluk wanita itu untuk beberapa saat ketika ia tiba-tiba teringat dengan kondisi wanita itu saat hamil 'Bianca' kesayangan nya.
"Kali ini kau bisa lakukan apa saja, mungkin kalau kau begitu bayi yang di sini akan lebih menuruti mu." ucap nya yang tersenyum kecil sembari memegang perut yang rata.
Duk!
"Bikin kesel ih!" ucap Louise yang bukan nya merasa romantis namun kesal, dan mungkin saja ini adalah efek lain dari kehamilan nya.
"Iya, maaf..." ucap pria itu terkekeh sembari mengecup pipi sang istri.
......................
Satu Minggu kemudian.
Kediaman Rai
Kali ini wanita memberi tau kan kehamilan nya pada sang kakak, walaupun bagi nya hal ini bukanlah sesuatu yang sangat menggembirakan namun ia juga tak ingin hanya diam saja.
"Wah..."
"Selamat," ucap Louis tersenyum dan memberikan selamat pada saudari nya namun ia sudah tak begitu terkejut karena suami adik nya sudah memberi tau lebih dulu.
"Berarti Bianca sekarang punya teman?" sambung nya lagi yang menatap dengan tatapan senang karna akan memiliki tambahan keponakan.
"Iya, tapi Bianca ga suka punya adik, masa mau di buang ke laut." ucap Louise yang menarik napas nya.
"Kalau begitu kau harus lebih banyak menghabiskan waktu mu dengan dia kan?" tanya Louis yang memberikan saran.
__ADS_1
"Ku rasa begitu," Ucap nya lirih sembari menarik ekor mata nya melihat ke arah wanita yang hanya diam dan tak melihat ke arah nya.
"Cla?" panggil Louise lirih.
Tak ada jawaban, wanita itu tampak masih termenung sampai suami nya menyenggol bahu nya sejenak.
"Eh iya? Selamat ya," ucap nya yang terkejut dan langsung melempar senyuman pada adik ipar nya itu.
Louise membalas senyuman wanita itu, dan melihat ke arah mata yang tampak gelisah dan sendu di saat bersamaan.
Louis menarik napas nya, ia melihat ke arah jam tangan nya dan beranjak bangun.
"Kalau kalian nanti malam lapar kalian bisa makan lebih dulu, aku seperti nya akan pulang larut." ucap nya yang memprediksi karna ia akan berangkat keluar kota dan berusaha kembali malam itu juga.
"Dan Louise? Kalau kau butuh sesuatu kau bisa memberi tau ku," ucap nya pada adik nya.
"Iya, tapi aku juga ga bakal lama di sini. James tadi bilang mau bawa Bianca ke taman kota," ucap nya yang ingat dengan perkataan suami nya.
Clara menatap ke arah suami nya, pulang larut?
Greb!
Tangan nya memegang ke sejenak mencegah pria itu untuk pergi.
"Pu.. pulang larut? Mau ke.. mana?" tanya nya lirih.
"Ada urusan di luar kota, Klien nya di sana. Jadi aku akan usahakan pulang malam ini." ucap nya yang mengusap sejenak puncak kepala sang istri.
"Urusan apa? Klien nya siapa?" tanya nya lagi yang menatap ke arah suami nya.
"Cla..." pria itu memanggil lirih sembari mengernyitkan dahi nya seperti meminta nya berhenti.
Wanita itu terdiam sejenak, melihat reaksi suami nya yang tampak tak ingin ia bersikap lebih lanjut. Ia perlahan melepaskan tangan pria itu.
"Hati-hati di jalan," ucap nya lirih yang juga baru sadar jika ipar nya masih berada di sana.
Louis membuang napas nya lirih, ia menatap ke arah adik nya sekilas dan kemudian beranjak pergi.
Suasana hening sejenak, wanita itu mengambil teh nya dan mengesap nya sedikit.
"Cla? Kau bertengkar dengan Louis? Dia melakukan sesuatu lagi pada mu?" tanya Louise yang menatap ke arah wanita itu.
Clara meletakkan gelas keramik nya yang bertangkai itu dan melihat ke arah ipar nya, ia pun menggelengkan kepala nya sembari tersenyum
Jujur ia iri dengan wanita di depan nya, mungkin bukan hanya dengan ipar nya namun ia iri dengan wanita yang akan tau rasa nya bagaimana mengandung, melahirkan, memberi ASI dan memiliki seorang anak sesungguh nya yang keluar dari rahim nya.
Kecemburuan dan rasa iri itu memang ada namun ia sama sekali tak pernah membenci nya, hanya perasaan tak nyaman dan gelisah itu ia rasakan.
"Dia baik, kami tidak bertengkar..." ucap nya lirih.
"Louise?" panggil nya lirih yang menatap ke arah ipar nya.
"Ya?" iris hijau itu menoleh dan menunggu jawaban dari wanita yang memanggil nya barusan.
"Bagaimana rasa nya mengandung?" tanya nya lirih menatap dengan tatapan yang semakin memelas ke arah lantai.
"Ah...." Louise membuang napas nya dengan panjang sejenak saat ia mendengar nya.
"Rasa nya tidak menyenangkan, kau akan mual setiap pagi dan sering merasa lelah lalu sensitif dengan bau," ucap nya yang mencoba agar ipar nya itu merasa sedikit tak menginginkan nya.
Clara terdiam, "Tapi aku juga tidak akan tau rasa nya..." ucap nya lirih.
Louise terdiam sejenak, ia menatap ke arah wanita yang tampak sendu itu.
"Tapi kau kan bukan tidak bisa punya anak sepenuh nya," ucap Louise pada kakak ipar nya yang tampak sendu.
Mata wanita itu tampak membulat seakan begitu tertarik mendengar nya.
"Bisa? Dengan cara apa?" tanya nya yang melihat ke arah adik ipar nya itu dengan tatapan yang sedikit ambisius.
"Rahim pengganti, dengan kata lain sel kalian akan di biarkan di luar rahim dan setelah jadi embrio akan di masukkan ke rahim yang sehat." ucap nya yang berbicara dengan satu-satu nya cara yang sesuai dengan kondisi wanita di depan nya.
Mata yang tadi berbinar itu langsung turun, semangat nya menghilang seketika karna ia tak setuju dengan saran yang baru ia dengar.
"Bukan nya masih ada yang lain? Lagi pula kalau aku jalani pengobatan yang sulit aku juga mau! Aku bisa jalani apapun tapi..." ucap nya lirih.
"Pengobatan? Seperti apa? Cla? Kalau kau punya masalah karna ada reaksi bahan kimia yang pernah kau seperti obat-obatan atau yang lain mungkin bisa jalani terapi tapi masalah bukan itu." ucap nya yang sudah melihat ke arah catatan dari riwayat kesehatan kakak ipar nya.
"Kau sudah jalani pengangkatan rahim, Cla? Kau mau punya anak dan kau masih bisa tapi bukan kau yang kandung." sambung nya dengan nada melemah.
Wanita itu terdiam beberapa saat, tangan nya bertaut satu sama lain. Ia merasa tersudut walaupun adik ipar nya itu tak berniat sama sekali untuk menyudutkan nya sama sekali.
"Ta.. tapi aku tidak jalani pengangkatan rahim total... aku... aku..." ucap nya yang begitu gugup karna berbicara dengan wanita yang merupakan adik suami nya itu.
"Sama saja, kau tetap tidak akan bisa hamil." ucap Louise yang membuang napas nya lirih.
Ia tau memang ada beberapa yang bisa di lakukan seperti ada beberapa transgender yang juga mengaku ingin memiliki anak dan melakukan cangkok rahim atau operasi pemindahan rahim.
Namun hal itu pun tak bisa di lakukan pada kakak ipar nya karna hanya akan membahayakan nyawa nya sendiri.
Tranplantasi tak semudah yang di bayangkan, apa lagi untuk wanita yang pernah mengalami kecelakaan yang cukup besar dan menjadi beberapa pengobatan untuk itu serta operasi dan bahkan jika tak pernah sama sekali mengalami kecelakaan seperti itu pun tetap tak semua orang akan cocok dengan operasi yang memiliki resiko sangat besar itu.
"Aku..."
__ADS_1
"Aku ga mau... kalau.. a.. aku melakukan nya dia mungkin..."
Ucap nya yang sangat takut jika suami nya malah berpaling dan meninggalkan nya, walau hal itu hanya kekhawatiran yang menghantui nya.
Konsultasi karna stres akibat memikirkan masalah ini pun sudah di lakukan namun tetap saja ada beberapa hal yang membuat nya tak bisa bersantai sepenuh nya.
Louise menarik napas nya, ia tak lagi mengatakan tentang saran yang ia berikan.
Dan ia pun mengatakan nya bukan untuk mendesak wanita itu. Hanya saja cuma itu yang bisa di lakukan jika wanita di depan nya ingin memiliki keturunan.
Anak itu tetap akan menjadi darah daging nya namun bukan berasal dari rahim nya, bukan dari kehidupan yang ia tanggung selama 9 bulan.
Ia beranjak bangun melihat ke arah kakak ipar nya yang tampak gelisah dengan tangan yang bersaut satu sama lain.
"Cla? Maaf..." ucap nya lirih yang kali ini merasa membicarakan sesuatu yang menyakiti hati wanita itu.
"Tidak... Aku yang salah... kenapa kau yang minta maaf?" tanya nya lirih melihat ke arah wanita itu dengan mata yang mulai memerah.
Ia merasa ia tidak akan bisa menjalankan peran istri yang sempurna karna bagi nya keluarga nya belum lengkap.
Memang sebagian orang berpikir untuk child free dan hal itu pun adalah kebebasan yang di berikan untuk siapa saja. Ia sendiri pun tak menentang nya sama sekali karna hal itu bukan urusan nya.
Namun masalah nya diri nya adalah seseorang yang sangat menyukai anak-anak terlebih lagi begitu ingin memiliki anak sendiri.
Menjadi istri dari pria yang mencintai nya dan memperlakukan nya dengan baik lalu memiliki dua atau tiga anak yang akan ia hasilkan adalah keinginan nya.
Jika melakukan adopsi di kondisi seperti ini pun ia takut jika anak itu mungkin saja bukan adopsi tapi anak suami nya dengan wanita lain. Pikiran negatif berlebih yang tak bisa ia hilangkan.
"Cla? Jangan nangis..." ucap Louise lirih yang tersentak ketika melihat air mata yang turun itu.
Clara tak mengatakan apapun ia hanya diam dan kehabisan kata-kata.
"Aku bukan nya benci lihat kau hamil..."
"Aku juga senang..."
"Tapi.. aku iri... aku..."
Ucap nya lirih yang tersendat, Louise terdiam. Ia menjadi merasa bersalah melihat wanita itu yang kini seperti sedang tertekan.
"Cla? Kalau aku hamil dia juga akan jadi keponakan mu, dia juga bisa jadi anak mu kan? Seperti Bianca," ucap nya yang tersenyum tipis dan meraih tangan wanita itu lalu meletakan di perut nya yang masih rata.
"Bianca?" gumam nya lirih namun ia sadar jika keponakan cantik yang sangat ia sukai itu juga tidak akan pernah memanggil nya ibu.
"Ia, yang ini tidak tau akan jadi seperti apa, mungkin Bianca dua atau yang lain?" tanya nya yang mencoba mengalihkan sesuatu pembicaraan.
Clara terdiam kali ini, kepanikan nya tampak sedikit berkurang namun tetap saja bukan berarti hilang.
......................
3 Bulan kemudian
Hasil USG di pemeriksaan kehamilan yang terus rutin di lakukan tiap dua Minggu sekali hari ini telah menunjukkan sesuatu yang lain ketika tertangkap dengan alat yang di lengket kan ke perut itu.
"Seperti nya kembar, selamat ya..." ucap sang dokter dengan senyuman yang turut senang seperti pria yang menunggu di samping sang istri.
"Kembar..." ucap Louise yang membuang napas nya lirih.
Ia tak merasa sangat senang atau pun benci, namun tentu ia juga tak ingin menyingkirkan anak nya itu.
Namun untuk jenis nya sendiri masih belum bisa di ketahui karena belum jelas sama sekali.
......................
Mansion Dachinko
Mata bulat yang jernih itu tampak kesal melihat ke arah kedua orang tua nya.
"Mommy Daddy cuma pelhatiin adik bayi aja! Bian ga di sayang lagi!" ucap nya yang kesal karna sebelum nya mendengar jika kedua orang tua nya pergi untuk memeriksakan kandungan.
Langkah kecil nya yang mungil itu berlari dan menatap kesal ke arah perut ibu nya karna ia tau para calon adik kecil nya berada di dalam sana.
Duk!
Duk!
"Aduh! Bian... " ucap Louise yang langsung menangkap tangan mungil itu agar berhenti memukul perut nya.
James pun langsung menggendong putri nya dan membawa nya pergi.
"Hua! Bian ga mau adik nya lahil!" ucap nya yang menangis dan memberontak ingin memukul ke arah perut sang ibu lagi.
Jika saja ia tak mendengar tentang keluhan teman-teman nya yang tak suka memiliki adik dan menakut-nakuti nya jika ia tak akan lagi di sayang tentu ia tidak akan bersikap sejauh itu.
"Bian? Anak cantik Daddy? Kenapa begitu sayang? Kan Mommy kasihan, Mommy jadi kesakitan..." ucap nya yang mengusap air mata putri nya setelah membawa nya pergi.
"Na.. nanti waktu adik bayi nya lahil pasti Bian ga di sayang lagi..."
"Se.. semua te.. temen Bian bi.. bilang nya gitu..." tangis nya yang tersendat-sendat dengan cegukan.
James menarik napas nya, ia mengusap punggung putri nya dengan lembut dan mencium nya.
"Bian bakal tetap jadi anak kesayangan Daddy sama Mommy, kalau pun ada adik bayi Bian tetap di sayang..." ucap nya yang tak memarahi putri nya karna ia tau gadis kecil itu masih anak-anak dan kecemburuan nya pun masih hal yang sepele.
__ADS_1
Namun ia lupa sesuatu jika kecemburuan anak kecil pun memiliki batas dan pikiran yang tentu nya bisa meledak dengan akal yang masih belum panjang dan tak tau apa itu konsekuensi.