(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Amnesia Disosiatif


__ADS_3

Derap langkah yang cepat memenuhi seluruh lorong rumah sakit, tujuan nya hanya satu!


Kamar yang di balik nya terdapat seseorang yang ia kenali.


"Bagaimana bisa jadi seperti ini?" tanya nya dengan suara yang masih tertatih.


Sang dokter pun mulai menjelaskan, semua yang ia ketahui dari awal.


Louis mengernyitkan dahi nya, ia belum sempat tidur sama sekali dan mendengar berita tentang sang adik nya yang membuat diri nya langsung datang dengan cepat.


"Zayn di mana?" tanya nya lirih.


Mau bagaimana pun ia tetap mendahulukan kondisi saudari nya walaupun sejak awal pemberitahuan ia sudah dengar jika yang luka bukanlah saudari nya.


...


Pria yang terlihat pucat itu diam sejenak, ia terkejut melihat reaksi dan sikap yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan terjadi pada gadis yang dulunya begitu ceria dan cerah


"Bagaimana luka mu?"


Ia menoleh menatap ke arah suara yang di kenali nya lalu memalingkan wajah nya lagi.


"Jangan beri tau orang tua ku masalah ini," ucap Zayn tanpa melihat ke arah lawan bicara nya.


"Maaf, aku minta maaf untuk yang Louise lakukan." ucap nya lirih.


"Kau? Kenapa? Kan bukan salah mu..." sambung Zayn yang menatap ke arah pria itu.


"Aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi pada nya selama dua tahun terakhir," ucap Zayn lirih membicarakan selama gadis itu menghilang.


Jeritan yang meminta anak nya kembali, tatapan mata yang takut dan terkejut saat melukai nya ketika mengira ia adalah pria yang sama.


"Dia seperti nya sangat menyukai pria itu," ucap nya lirih.


Ia ingat mata yang terlihat gusar karena terkejut dan seperti tak berniat sama sekali melukai nya namun tanpa sadar malah melakukan nya.


Louis diam sejenak, dari nada bicara dan raut wajah sahabat nya ia sama sekali tak bisa membaca nya.


"Lalu kau menyesal?" tanya nya tanpa sadar.


Menyukai wanita yang tidak mencintai nya sebagai lawan jenis sama sekali sekaligus memiliki seseorang yang sudah ada di dalam hati tentu sangat sulit.


Zayn menarik napas nya lirih, "Bukan, aku tidak menyesal tapi marah."


Nada suara yang rendah dan menghela panjang itu terdengar benar-benar memberikan rasa kesal yang tersirat.


Ia tak bisa mengatakan nya dalam ucapan tentang apa yang ia rasakan, ia benar-benar marah dan tak terima melihat kondisi gadis yang ia sukai menjadi seperti sekarang.


Padahal ia selalu memperlakukan nya seperti seseorang yang sangat berharga lalu di hancurkan begitu saja dengan orang lain.


Mungkin jika pria yang di sukai oleh gadisnya adalah pria yang juga menyukai dan memiliki perasaan yang sama ia tak akan merasa begitu kesal, namun?


Tak ada satupun perkataan yang bisa merangkum apa yang ia rasakan.


"Kalau begitu kau istirahat saja dulu, aku akan keluar kau mau ku bawakan makanan juga?" tanya Louis setelah menarik napas nya.


Ia mengerti maksud yang perkataan sahabat nya karna ia juga merasakan perasaan marah yang sama.


Tidak ada jawaban, pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.


......................


Mansion Dachinko.


Brak!


Papan latihan itu patah seperti yang di harapkan, rona binar dan mata yang penuh pengharapan akan pujian dari sang ayah itu menatap ke arah pria yang tengah memangku putri kecil nya.


"Daddy? Al udah makin pinter kan?" tanya nya dengan riang menatap ke arah sang ayah.


"Ya, Kau melakukan nya dengan baik." jawab James sembari memberikan susu dingin pada bocah lelaki yang menjadi anak angkat nya saat ini.


"Ucu! Ian au ucu!" putri kecil mungil yang berada dalam pangkuan itu juga beranjak meminta hal yang sama seperti anak lelaki di depan nya.


James pun langsung menghalangi tangan kecil itu, walau tak ada masalah kesehatan apapun dan putri nya sangat sehat namun ia tak ingin melihat duplikat gadis nya itu sakit.


"Jangan," ucap nya sembari menghalangi tangan kecil itu.


Bagi nya putri kesayangan nya masih terlalu kecil untuk sering meminum air dingin.


"Huh!" Baby Bianca terlihat kesal saat sang ayah menghalangi tangan mungil nya.


Mata dan kening nya mengkerut seakan tengah memprotes tindakan sang ayah.


Sedangkan Al kini mulai suka melihat pipi yang penuh berisi seperti makanan bakpao itu.


Auch!


Huaa!


Jeritan anak berumur satu tahun lebih itu terdengar saat pipi putih berisi nya terus di cubit.


"Al?" James langsung melihat ke arah anak lelaki yang panik di depan nya karna membuat putri kecil nya menangis.


"Ma..Maaf Dad..." ucap nya lirih, ia ingin berhenti namun tangan nya sangat suka mencubit pipi gembul berisi itu.


James membuang napas nya, sedangkan putri kecil nya langsung masuk dan menyembunyikan wajah tangis nya yang memerah dalam dekapan nya.


......................


Dua Minggu kemudian.


Ottawa, Kanada.

__ADS_1


Kini suasana nya tak lagi sama, semua nya tampak gelisah menatap gadis yang belum bangun sama sekali itu.


Setelah pingsan, Louise mengalami demam tinggi dan membuat nya masih tak sadar namun setelah demam nya turun dan mereda pun ia juga masih tak sadar sama sekali.


"Kalian bilang tidak ada masalah? Tapi kenapa dia belum bangun?!" Louis berdecak memarahi para dokter yang merawat sang adik.


"Mungkin karna kondisi psikologis Presdir, saat ini setelah kami melakukan pemeriksaan seharusnya tidak ada masalah apapun lagi pada nona." ucap salah satu dokter.


"Kalau begitu bangunkan dia," ucap nya memberi perintah.


Ia takut dan sangat takut jika sang adik tak akan kunjung bangun sama sekali.


"Baik akan kami lakukan," jawab salah satu dokter.


Beberapa cairan dari botol bening kecil itu mulai di masukkan ke dalam tubuh gadis yang tak sadar itu melalui infus dan setelah memberikan nya para dokter pun keluar.


Louis membuang napas nya lirih, menatap ke arah sang adik yang masih terpejam. Meraih tangan nya dan menatap dengan mata nya.


"Louise?"


"Bangun, nanti aku bawa kau keluar..."


"Kita sudah pulang, kau sudah kembali..." ucap nya sembari tangan yang lain mulai mengelus kening saudari nya.


Punggung tangan yang kurus dan dingin itu ia kecup sejenak, berharap penuh jika adik nya yang selalu manja dan menyebalkan itu akan segara bangun.


...


Tiga Hari kemudian.


Walaupun sudah di berikan beberapa obat-obatan yang mengharuskan gadis itu bangun namun masih tak ada kemajuan sama sekali.


Louise belum terbangun, sesekali air mata yang dingin jatuh dari kelopak yang tertutup itu namun selain itu tak ada perubahan apapun lagi.


Luka Zayn pun mulai membaik berkat perawatan yang ia terima secara rutin, seperti biasa ia selalu membuka jendela agar sirkulasi udara masuk ke dalam kamar luas itu.


Mengganti bunga yang wangi agar menyebarkan harum nya ke seluruh ruangan, terkadang memang saudara gadis itu yang melakukan nya namun kini karna beberapa urusan kakak gadis itu pergi keluar sejenak.


"Kau sudah makan siang? Aku bawa makanan untuk mu juga," ucap Louis yang baru kembali dan masuk ke dalam ruangan adik nya.


"Belum, letakkan saja di meja." ucap Zayn yang masih memasukkan satu persatu bunga yang ia tangkai ke dalam pot berisi air es tersebut.


Louis pun meletakkan nya namun tak lama sahabatnya keluar sejenak untuk mengambil es lain nya.


Pria itu pun melihat ke arah saudari nya, ia tersenyum pahit dengan harapan yang berusaha tak jatuh menunggu agar adik nya nya segera bangun.


"Apa makanan nya ku buka dulu?" gumam nya lirih dan berbalik ke arah meja yang masih berada di ruangan yang luas tersebut.


Ia tak tau jika hari ini akan menjadi hari yang ia nantikan sampai mendengar suara yang ia nanti.


"Louis..."


Deg!


Langkah nya dengan cepat langsung menatap ke arah gadis yang melihat nya dengan mata segaris itu.


"Louise? Kau tadi panggil aku?" tanya nya mengulang dengan tak sabar.


Ia sudah sangat lama tak mendengar suara adik nya memanggil nama nya.


"Louis..." jawab gadis itu lagi dengan suara yang masih lemah karna baru saja terbangun.


Senyuman lebar terlihat di wajah pria itu, akhirnya sang adik kembali mengenalinya.


"Panggil lagi!" ucap nya dengan senyuman lega menatap saudari nya.


Sedangkan gadis itu masih menatap nya dengan mata yang sayu namun terlihat bingung.


"Bodoh..." balas gadis itu dan kembali memejam setelah mengumpat pada saudara kembar nya.


"Sekarang kau juga bisa memaki ku?" tanya pria itu yang terlihat senang bukan marah.


...


Kini gadis itu sudah bangun, para dokter mengelilingi nya guna memeriksa dan menanyakan beberapa hal.


"Kenapa wajah kalian begitu?" tanya gadis itu terlihat bingung menatap kakak dan teman nya yang melihat nya dengan mata penuh haru.


"Nona? Apa yang anda ingat terakhir kali?" tanya sang dokter pada gadis itu setelah memastikan jika gadis di depan nya mengingat semua identitas dirinya kecuali umur yang salah.


"Hm?" Louise tampak berpikir.


Ingatan nya buram tak bisa mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan sebelum nya.


"Makan? Belanja? Club'? Mobil?" jawab nya yang juga seakan bertanya.


Ia hanya menjawab apa yang mungkin jadi kebiasaan nya.


"Anda ingat kenapa bisa di rumah sakit?" tanya sang dokter lagi.


Gadis itu tampak bingung untuk menjawab, ia malah secara refleks melihat sang kakak untuk membantu nya menjawab seperti sedang ujian saat di tanya guru.


Melihat wajah sang kakak yang terlihat serius menatap nya membuat nya ia tau jika saudara nya ingin ia menjawab sendiri.


Ia menggeleng sembari menaikkan bahu nya dan terlihat juga bingung.


Sang dokter tak mengatakan apapun dan kembali bertanya, "Saya akan mengulangi pertanyaan saya, apa nona ingat tahun ini nona berumur berapa tahun?"


Louise mengernyit, tadi ia juga menjawab pertanyaan yang sama, "23? Atau 24?" jawab nya yang terlihat bingung.


"Louis? Umur mu berapa?" tanya nya pada saudara kembar nya karna ia tau mereka pasti memiliki umur yang sama.


Tak ada jawaban dari saudara nya, pemeriksaan pun berakhir. Louis mengikuti dokter untuk menanyakan masalah yang terjadi pada adik nya sedangkan Zayn menemani gadis itu.

__ADS_1


"Zayn? Kalian kenapa? Aneh." ucap gadis itu saat tenaga nya perlahan kembali setelah ia mulai sadar.


Pria itu tersenyum melihat gadis di depan nya, senyuman yang terlihat tulus, hangat dan lega itu menatap dengan lurus.


"Zayn?" Louise mengernyit menatap ke arah teman nya yang malah tersenyum.


Ia tak ingat sama sekali jika ia pernah bertunangan dengan pria di depan nya karna hari pertunangan nya juga merupakan situasi yang membuat nya terluka.


"Tidak apa, kami cuma senang melihat mu kembali." jawab pria itu tersenyum.


"Memang nya aku dari mana?" Louise yang masih bingung dan bertanya-tanya pun tak mengerti sama sekali apa yang di ucapkan oleh teman nya itu.


...


Sementara sang dokter mulai menjelaskan apa yang ia lihat setelah dokter yang memeriksa keadaan fisik gadis itu mengatakan tak ada masalah apapun karna berada dalam kondisi stabil dan kini tinggal giliran dokter psikis nya yang bicara.


"Disosiatif amnesia?" tanya Louis mengulang.


"Benar Presdir, setelah hasil yang saya dapatkan setelah wawancara singkat tadi saya dapat menyimpulkan demikian, jika nona Louise tidak dapat mengingat pengalaman traumatis nya." jawab sang dokter.


"Dan menurut saya nona Louise saat ini berada di amnesia sistematis karna tidak ingat pada informasi tertentu walaupun menimbulkan efek lain nya dengan ingatan yang samar untuk hal lain." sambung nya.


"Apakah ingatan nya bisa kembali?" tanya nya lirih, bukan karna ingin sang adik kembali ingat peristiwa yang menyakitkan namun ia ingin adik nya tak lagi mengingat hak tersebut.


"Tentu bisa, namun kurung waktu nya bisa beragam. Bisa beberapa hari, Minggu, bulan mungkin tahun." jawab sang dokter.


"Kalau begitu lakukan sesuatu agar ingatan nya tidak kembali." ucap Louis pada sang dokter.


NB KET : Disosiatif amnesia adalah kondisi dimana seseorang tidak dapat mengingat informasi pribadi yang penting, umumnya melibatkan pengalaman traumatis. penyebab nya stres yang luar biasa, yang mungkin merupakan akibat dari sebuah peristiwa traumatis, dapat di kembalikan dengan jangka waktu yang beragam. Memiliki lima jenis yaitu : Amnesia lokal, Amnesia selektif, Amnesia menyeluruh, Amnesia kontinu, Amnesia sistematis


...


Satu Minggu kemudian.


Amnesia disosiatif yang masuk ke dalam jenis amnesia sistematis kini sudah menjadi rujukan dasar dari gadis itu.


Ia tak ingat sama sekali tentang cinta pertama nya dan apa yang saja ia lalui selama itu dan peristiwa yang ikut di dalam nya.


"Kenapa lihat cermin terus sih?" tanya Zayn pada gadis yang kini mulai kembali seperti gadis yang ia kenali.


"Muka aku kering, gak halus masa aku sakit kalian gak ada kasih skincare sih?!" tanya Louise kesal yang menatap kulit nya.


Walaupun tetap sama-sama halus dan masih terlihat cantik walaupun lebih kurus dan pucat namun ia tentu nya tak bisa menerima nya.


"Tidak mungkin kan? Aku sama Louis kasih skincare sama maskerin orang lagi sakit tidak sadar?" tanya Zayn menggeleng.


"Tapi kan aku ja-"


"Cantik," potong pria itu yang mengambil cermin di tangan Louise dan menatap nya dari dekat.


Louise diam sejenak menatap ke arah pria itu, ia juga menyadari beberapa hal jika teman nya sedikit berubah.


Tidak semanis dulu yang seperti kelinci dan coklat.


"Zayn?" panggil gadis itu saat ia melihat wajah tampan yang begitu dekat dengan nya.


"Hm?"


Tap!


Zayn tersentak, tangan gadis itu tiba-tiba mendarat di kedua sisi pipi nya dan mencubit nya.


"Ih! My Baby Zayn Uda besar sekarang..." ucap gadis itu dengan tersenyum.


Zayn tak mengatakan apapun, ia memaklumi karna ingatan gadis itu begitu rancu dan juga memori yang seakan terpotong beberapa tahun dan masih terhenti di waktu yang sebelum semua sakit itu di mulai.


......................


Dua tahun kemudian.


Mansion Dachinko.


Kaki kecil yang tak beralas, tangan mungil yang kotor dengan tanah dan darah mengangkat anak kelinci yang terkulai lemas itu karna remasan tangan mungil nya.


"Bianca!"


Gadis kecil itu menoleh dengan wajah polos nya dan menatap sang ayah yang menyusul ke arah nya.


Seperti mengangkat mainan boneka besar pria itu melihat ke arah seluruh tubuh putri nya yang tampak kotor.


"Pengasuh mu di mana? Kenapa sendirian?" tanya nya yang menggendong putri nya yang sudah memasuki wilayah hutan di belakang mansion nya.


"Bian, suluh lompat dali sana! Hihi!" ucap nya tertawa sembari menunjuk ke arah pohon yang cukup tinggi.


Gadis yang di besarkan penuh dengan kasih sayang sekaligus sebagai pewaris nya itu tentu tumbuh menjadi gadis yang begitu nakal di usia nya dan ia tak pernah di marahi untuk kenakalan.


Walaupun memiliki anak angkat namun ia tetap membesarkan putri nya seakan gadis kecil menggemaskan itu nanti yang akan menggantikan nya, karna ia tau tak akan ada yang baik-baik saja dengan situasi yang sudah ia miliki untuk sekarang.


James membuang napas nya, ia membawa masuk putri kecil nya ke dalam mansion dan membersihkan nya.


Gadis kecil cantik itu tampak menggemaskan, dengan raut dan mata yang tak melihat sang ayah walaupun ia di dudukan di kursi agar melihat sang ayah.


"Bianca? Kau dengar apa yang tadi ku bilang?" tanya nya menatap ke arah putri.



"Dengel Dad..." jawab nya tak mau melihat wajah sang ayah dan menautkan jemari mungil nya karna takut akan di marahi.


"Jangan sering masuk ke dalam hutan, mengerti?" ucap pria itu lirih.


"Kenapa? Bian kan bisa piuw! piuw! kalau ada yang jahat!" ucap nya dengan suara yang belum tumbuh itu.


"Pi? Pi apa? Pi..uw?" tanya James bingung yang juga sering tak mengerti dengan putri nya sendiri.

__ADS_1


Pria itu memilih tak menanyakan apapun dan mendapatkan kosa kata yang ambigu lagi. Ia hanya diam sembari memandang wajah yang selalu mengingatkan nya tentang gadis nya yang tak bisa ia lacak jejak nya walau sudah tiga tahun lebih berlalu.


__ADS_2