(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Tak masalah


__ADS_3

Mansion Dachinko


"Daddy!"


"Daddy!"


Gadis kecil itu terbangun, ia melihat sang ayah tak ada lagi di samping nya dan langsung mencari nya.


Kaki kecil nya berlari menelusuri mansion hingga menemukan sang ayah.


"Daddy!"


Panggil nya yang langsung memeluk kaki panjang itu sampai membuat James tersentak.


"Daddy mau kemana? Jangan pelgi! Bian mau sama Daddy!" ucap gadis kecil itu yang tak ingin jauh dari ayah nya lagi.


"Daddy mau jemput Mommy, Bian mau kan ketemu Mommy?" tanya yang berlutut dengan satu lutut nya untuk menyamai tinggi putri kecil nya yang masih pendek itu.


Bianca menggeleng, bagi nya sang ibu tak menyayangi nya karna meninggalkan dan melempar nya dari mobil.


"Gak mau..."


"Mommy ga sayang Bian..."


Jawab nya lirih dengan wajah polos nya yang terlihat tak mengerti apapun itu.


"Mommy sayang Bian, sayang sekali..." ucap nya yang memberi tau putri kecil nya walau ia tak bisa menjelaskan mengapa sang ibu sampai tega meninggalkan nya.


"Engga! Mommy gak sayang Bian! Bian mau nya Daddy!" ucap gadis kecil itu dengan keras kepala dan memeluk sang ayah.


James diam sejenak, ia menepuk punggung mungil itu dengan lembut sembari melihat ke arah pengawal nya yang menunggu di belakang.


Tangan nya memberi isyarat untuk mengambil putri kecil nya yang tengah memeluk nya erat itu.


"Ukh!"


"Bian mau Daddy!"


Bianca menahan pelukan nya saat ia merasa seseorang menarik nya dari belakang.


"Kali ini jangan sampai dia hilang lagi," ucap nya yang menatap ke arah pengawal tersebut.


Pengawal itu mengangguk tau, ia juga tak ingin menjadi seperti contoh yang sudah terulang.


"Daddy!"


"Daddy mau kemana?"


"Daddy!"


"Hua..."


Bianca mulai menangis lagi saat pelukan nya terlepas, dan ia yang di gendong dan di tahan dengan pengawal ayah nya sedangkan sang ayah mulai pergi menggunakan mobil nya.


James tak mengatakan apapun selain melirik ke arah spion mobil nya dan melihat putri nya yang tengah menangis menjerit menginginkan nya.


Ia tak bisa mengatakan tentang situasi yang sulit pada anak kecil berusia tiga tahun dan meminta untuk memahami nya.

__ADS_1


"Kau sudah mencari tau?" tanya nya pada Nick yang duduk di samping nya.


"Anda bisa lihat ini tuan," jawab Nick yang memberikan iPad.


......................


JBS Hospital


Ruang visi


"Ini? Kau yakin?" tanya Louis saat melihat tumpukan kertas berisi biodata orang-orang yang kemungkinan pemilik asli dari mansion yang terbakar tak jauh dari titik tempat penculikan gadis itu.


"Ya, ada 9 orang. Walaupun kita bisa mengetahui dari pemilik surat nya tapi sayang nya tidak ada petunjuk sampai di situ." jawab Zayn yang melihat ke arah pria itu.


"Lalu kau dapat ini dari mana?" tanya Louis mengernyit yang membolak balik kertas tersebut.


"Itu? Aku mencoba meretas data nya tapi yang bertemu malah itu, seperti nya itu mansion sengketa." jawab Zayn pada pria itu.


Louis membuang napas nya, "Kenapa kau polos sekali? Mana ada bangunan sebesar itu sengketa, dia pasti sedang mencuci harta nya untuk menghindari pajak." jawab Louis lirih.


"Eh? Dia?" tanya nya yang bingung melihat ke arah wajah yang ia kenali.


"Dia yang waktu itu pernah bekerja sama dengan kita kan?" ucap Zayn yang tau pertanyaan di kepala sahabat nya itu.


"Kalau tidak salah nama nya Alex kan?" tanya Zayn lagi pada pria itu.


"Ya, benar..." jawab Louis lirih.


Ia pun meletakkan kertas yang tadi ia baca dan mendekat ke arah orang-orang IT yang bekerja pada nya dalam naungan perusahaan berbasis kesehatan itu.


"Cari informasi tentang 9 orang ini!" ucap nya pada para orang-orang yang duduk itu.


......................


Iris hijau itu menatap tajam ke arah pria yang tersenyum seperti tanpa dosa itu ketika menawarkan nya sebuah steik medium rare untuk nya.


"Kau seperti nya sudah tidak waras..." ucap Louise lirih yang menggeleng melihat pria itu menawarkan nya steik lembut yang berada di garpu itu.


Jika ia di berikan makanan saja bukan berarti ia langsung ingin memakan nya, dan kini?


Ia malah di suapi?


Sedangkan tangan dan kaki nya masih di ikat?


"Kenapa? Aku penculik yang baik kan?" tanya pria itu tertawa.


"Sial, tangan ku mulai pegal..." jawab nya lirih dan memasukkan steik daging itu ke dalam mulut nya.


Louise tak mengatakan apapun, dan melihat pria itu yang akhirnya makan sendiri.


"Kau akan membunuh ku?" tanya nya saat melihat pria yang terus makan itu.


Alex mengehentikan pisau nya yang memotong daging itu dan menatap ke arah gadis itu.


"Tidak, tapi tergantung situasi juga." jawab nya dengan santai.


"Jadi?" tanya Louise mengulang yang bingung pria itu ingin membunuh nya atau tidak.

__ADS_1


"Kalau kau membunuh si kep*rat itu lebih dulu dan memilih bersama ku, aku akan membiarkan mu hidup." ucap nya dengan santai dan tanpa tau malu.


"Aku bisa mengerti kenapa kau mau aku yang membunuh nya, tapi aku tidak bisa mengerti kenapa aku harus bersama mu!" ucap Louise yang tak habis pikir dengan pria itu.


Alex tersenyum, "Karna aku menyukai mu." jawab nya singkat.


"Kalau pun aku membunuh nya sesuai seperti yang kau minta, aku juga tidak akan dengan mu, aku punya tunangan dan juga akan menikah." ucap nya pada pria itu.


"Lalu? Kau hanya perlu bersama ku sementara." jawab nya dengan tawa renyah.


Ia tak mungkin mengatakan jika ia adalah pasien kanker pankreas stadium akhir.


"Kau gila," ucap Louise yang mengatakan makian.


"Aku tau, aku akan anggap itu pujian." ucap nya pada gadis itu.


"Lalu kalau aku tidak melakukan, kau akan membunuh ku? Tapi tadi kau bilang kau menyukai ku, kan?" tanya nya lagi.


Pengakuan cinta sekaligus pernyataan pembunuhan di katakan secara bersamaan.


"Ya, kalau aku tidak bisa memiliki mu maka yang lain juga tidak boleh dan kesimpulan nya kau harus mati." jawab nya dengan senyuman cerah.


"Kenapa bukan kau saja yang mati, b*ngsat!" jawab Louise yang tanpa sadar mengeluarkan umpatan nya.


Senyuman pria itu perlahan turun, "Aku juga akan mati kenapa kau terus mengikatkan ku!" ucap nya yang berubah dan terlihat sangat marah.


Pria itu membuang napas nya dengan kasar, ia menyeret gadis itu dan melempar nya ke ranjang.


Kaki nya berjalan ke arah lain dan mengeluarkan kotak hitam yang berisi ampul botol kecil yang bening dengan satu spuit dan jarum nya.


"Kau tau ini? Kalau kau tidak menuruti ku, aku berencana untuk membuat mu mati seperti adik ku..." sambung nya lirih.


Louise mengernyit, ia tak di beri tau sebelum nya adik pria itu bunuh diri dengan cara apa.


"Keracunan," ucap nya lirih dengan senyuman.


Ack!


Louise terdorong pria itu menindih nya sedangkan ia tak bisa bergerak, "Kalau kau membunuh pria itu dengan tangan mu nanti aku tidak akan memasukkan nya ke tubuh mu." ucap nya sembari mengecup leher jenjang gadis itu.


"Lepas!" gadis itu menggeliat yang merasa jijik dengan ciuman basah pria itu di leher nya.


"Tapi kalau kau tidak melakukan nya, aku akan menyuntikkan dan kau mati dalam tiga hari." ucap nya yang terus mencumbu tubuh gadis itu.


"Kalau kau mau membunuh ku sekarang lakukan saja! Kau membuat ku jijik!" ucap nya pada pria itu.


Alex tersentak, ia mengangkat kepala nya dan melihat ke arah gadis itu.


"Hahaha!"


Tawa nya terdengar keras sembari melihat wajah yang tampak tak menyukai nya itu.


"Kau lebih memilih mati dari pada ku sentuh?" tanya nya pada Louise yang tampak sangat tak menyukai nya.


"Kau membenci seseorang karna dia memperk*sa adik mu kan? Tapi kau juga jadi orang yang sama seperti yang kau benci!" ucap nya pada pria itu.


"Entahlah, aku tidak masalah untuk menjadi orang yang sama karna aku tidak peduli," ucap nya yang menahan wajah gadis itu dengan melingkarkan tangan di leher jenjang itu.

__ADS_1


Humph!


Mata biru itu membulat seketika, ia tak bisa bernapas ataupun menggerakkan kepala nya sesuka hati saat pria yang menindih nya itu mencekik dan mencium nya di saat yang bersamaan.


__ADS_2