(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
You make me go crazy


__ADS_3

Kediaman Rai.


Louis tersentak ketika mendapat kabar tentang gedung pertunangan adik nya yang runtuh, di tambah lagi dengan kabar jika teman sekaligus calon ipar nya mendapatkan tembakan.


Ia masih belum tau jika sang adik belum sampai di gedung tersebut dan sudah hilang.


"Cla, dengar. Mau sampai kapan pun, aku tidak akan bercerai dengan mu, ingat itu!" ucap nya dengan nada penuh penekanan pada wanita yang telah menjadi istri nya itu.


Clara ambruk ke lantai, ia hanya bisa menangis dan begitu membenci pria yang kini sudah meninggalkan nya begitu mendapatkan telpon.


"Sampai kapan pun? Aku..."


"Apa kau hanya akan berhenti kalau aku mati?" gumam nya lirih.


Sebaik apapun Louis pada nya tetap tak akan bisa menghapus trauma yang sudah di toreh kan untuk nya.


......................


JBS Hospital


Derap langkah yang terlihat begitu cepat itu memenuhi koridor dari rumah sakit yang ia miliki.


"Zayn masih belum selesai?" tanya Louis pada Larescha yang menangis tersedu.


Zayn yang sebelum nya tertembak kini sudah mendapatkan penanganan, pria tampan itu segera melakukan untuk mengangkat peluru nya.


"Belum, Zayn..."


"Dia..." ucap Larescha terisak.


"Bibi sebaik nya di obati dulu, Zayn pasti baik-baik saja..." ucap Louis menenangkan wanita yang sudah seperti pengganti ibu nya itu.


Larescha hanya menangis, sedangkan suami nya langsung pergi ke ruang visi untuk segara mencari tau dalang yang mencelakai putra nya sekaligus siapa yang meruntuhkan gedung di mana putra nya akan melakukan pengikat gadis yang di sukai nya.


"Louise di mana?" tanya Larescha saat mulai tenang dari tangis nya.


"Louise? Dia belum sampai ke sini?" tanya Louis mengernyit dan kemudian telpon nya kembali berdering.


Mata nya membulat, seluruh tubuh nya terasa lemas dan ingin mati rasa.


"Coba ulangi lagi," ucap nya lirih yang seakan tak percaya.


"Nona Louise kecelakaan, dan seperti nya dia meninggal. Para wartawan datang ke lokasi kejadian, saya akan coba halangi mereka." ucap kepala pengawal yang kini sudah di beri tau tentang meminta bantuan walaupun semua yang mengikuti gadis itu sudah tiada.


Prang!


Ponsel pria itu terjatuh, ia linglung sejenak mendengar nya berita yang sampai tentang adik nya, para wartawan yang entah dari mana sudah datang dan mengetahui tentang kecelakaan yang bahkan ia sendiri baru tau.


"Nak? Siapa?" tanya Larescha lirih ketika melihat pria itu begitu terkejut hingga linglung sejenak.


"Louise..."


"Mereka bilang dia..." ucap nya lirih dengan suara bergetar.


Larescha mengernyit, tanpa melanjutkan perkataan nya, Louis pun kembali pergi menuju tempat di mana sang adik kecelakaan.


......................


Jalanan yang sebelum nya sunyi itu kini mulai ramai, pihak kepolisian, wartawan dan juga pihak keamanan dari JBS grup pun sedang di lancarkan untuk menyelidiki kecelakaan yang lebih mirip dengan pembantaian karna delapan orang pengawal yang di kirim sudah mati.


Deg!

__ADS_1


Langkah nya terhenti, mobil yang tadi nya membawa sang adik kini sudah hangus terbakar dan juga rusak parah seperti di lindas oleh truk.


"Presdir? Kami sudah membawa nona Louise," ucap salah satu pengawal pada pria yang masih terlihat begitu terkejut.


Para wartawan ingin memotret langsung namun di halangi oleh pengawal yang sudah di kirim banyak untuk membantu polisi yang mengamankan juga.


James mengirim para wartawan itu sebagai pengalihan dan membuat goyah seseorang yang ingin ia hancurkan.


Louis dengan cepat naik ke helikopter yang membawa adik nya, dan segera ke rumah sakit.


Mata nya membulat, tubuh nya membatu dan tangan yang bergetar. Suara degup jantung memenuhi dada nya hingga membuat nya sulit untuk bernapas.


Tubuh yang terlihat seakan telah hancur, wajah yang harus nya cantik kini gosong dan juga bahkan tak bisa di kenali lagi.


Kulit yang mengelupas, serta satu kaki yang terpotong dan perut yang hancur seperti terhimpit oleh mobil.


"Bukan..."


"Dia bukan Louise..." gumam nya bergetar yang ambruk dan tak bisa menahan buliran bening yang jatuh dari mata nya.


...


JBS Hospital


Realita yang datang semakin menghancurkan pria itu, ia membaca data tentang kandungan yang sudah mati dan hancur di perut yang juga tak lagi tersusun itu.


Hasil tes DNA yang menunjukkan jika wanita yang mati mengenaskan itu adalah saudara kandung nya.


"Ini salah! Louise tidak akan mati seperti itu!" ucap nya pada para dokter yang selesai melakukan otopsi pada mayat wanita itu.


"Kami sudah melakukan tes DNA nya dua kali untuk memastikan," ucap salah satu dokter yang melihat dengan iba pria yang gemetar ketika memegang kertas tersebut.


Namun rekayasa tetaplah suatu hal yang palsu, hasil yang sama hanya akan dapat bertahan selama satu Minggu dan maka dari itu James membuat wanita yang mati menggantikan Louise dalam keadaan yang begitu mengenaskan agar segera di lakukan pemakaman.


Louis mendekat, ia meraih tangan nya yang gosong, hancur dan bahkan memperlihatkan tulang nya tersebut.


Jika saja ia adalah orang lain maka pasti akan jijik dan muntah melihat mayat tersebut.


"Dia bukan Louise..." ucap nya lirih yang terus menjatuhkan bulir bening nya sembari menggenggam erat jemari tangan yang hancur tersebut.


Mata nya teralihkan pada kuku yang terlihat bersih seperti tak menggunakan apapun padahal ia ingat sang adik mengatakan akan mewarnai dan memberikan mainan yang cantik di kuku nya saat akan melakukan pertunangan.


"Coba priksa apa dia pakai pewarna kuku? Lalu coba cek lagi apa ini benar-benar dia," ucap Louis yang seakan ingin kehilangan kesadaran nya.


James melewatkan sesuatu yang kecil karna perubahan suasana hati gadis yang saat ini sudah berada di tangan nya.


Para dokter itu mulai merasa iba melihat seseorang yang biasa nya berwibawa itu seperti kehilangan akal sehat nya.


Louis terduduk di lantai ruangan tersebut sedangkan para pekerja berpakaian putih itu segara melakukan tes lagi.


Rian langsung datang begitu mendengar berita nya, ia terhenti ketika melihat pria yang dengan tatapan asa yang telah hilang itu seperti seseorang yang begitu terlihat kacau dari raut nya.


"Louis?" panggil Rian lirih.


Louis menoleh, menatap ke arah pria yang berdiri di depan nya sedangkan ia sudah lupa dengan posisi nya sampai terduduk di lantai.


"Mereka bilang Louise meninggal, aneh kan? Louise..."


"Dia bahkan tetap bertahan walaupun punya penyakit seperti itu sejak lahir, jadi tidak mungkin dia mati kan? Mereka sedang bercanda?" tanya Louis yang tertawa dan menangis yang menyatu seperti tak bisa menerima keadaan nya.


Rian tak mengatakan apapun kecuali berjongkok dan terus menepuk bahu pria yang sudah seperti anak nya sendiri itu.

__ADS_1


Putra kandung nya tengah menjalani operasi, gadis yang ia anggap seperti putri nya di kabarkan sudah meninggal dan juga satu lagi anak lelaki yang juga ia anggap putra nya terlihat begitu linglung dan terpukul.


Dokter yang melakukan pemeriksaan pun sudah membawa hasil nya, "Benar kan! Dia bukan Louise! Louise bilang mau pakai hiasan ku-" ucap nya yang terhenti ketika melihat hasil otopsi lagi yang tetap menyatakan jika mayat tak berbentuk itu adalah adik nya.


"Ini bohong..."


"Louise masih hidup..." ucap nya lirih yang semakin menjatuhkan buliran bening itu.


Walaupun ia berkata demikian namun harapan nya seakan hilang saat hasil yang di berikan tetap sama walaupun sudah tiga kali.


Hari yang singkat namun terasa panjang dan begitu berat, pria itu tetap terduduk. Ia begitu terpukul dengan berita kepergian kelurga yang sangat ia sayangi begitu tiba-tiba.


Rian keluar sejenak membiarkan pria itu dengan waktu dan diri nya sendiri sesuai permintaan nya.


Langkah nya terhenti melihat bintang yang terlihat begitu cerah dan indah walaupun malam yang ia lewati bersama dengan orang-orang yang ia sayangi begitu tragis.


"Hey? Kau di sana? Seperti nya..."


"Aku tidak bisa menjaga mereka seperti mu..." ucap nya lirih dengan suara bergetar sembari mengusap buliran bening jernih di ujung mata


nya.


Jika saja ia masih bersama dengan teman yang selalu menyusahkan nya karna hobi yang tak biasa itu mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi atau setidaknya masih ada yang membantu nya berpikir secara lebih rasional walaupun sedang kalut.


......................


Apart Greenlousc


Wanita yang melihat berita di televisi itu tertawa puas, ia begitu senang ketika mendengar jika putri bungsu dari keluarga konglomerat itu mati mengenaskan walaupun belum ada konfirmasi dari pihak yang bersangkutan.


"Dia mati? Jal*ng itu mati? Berarti sekarang tidak ada penghalang ku lagi kan?" ucap nya yang menjadi begitu senang.


"Sekarang, aku bisa hidup bahagia dengan Al dan James..." ucap nya bersenandung yang begitu senang saat ini.


......................


Mansion Dachinko


Gadis itu terperanjat, ia membuka mata nya walaupun sekujur tubuh nya masih terasa begitu lemas karena pengaruh bius yang di suntikkan pada nya.


Ia mengenal kamar di mana ia bangun karna sebelum nya ia sudah melewati hari-hari di tempat tersebut.


Gadis itu langsung keluar, berusaha menuruni tangga yang kali ini bagi nya terasa panjang.


Langkah nya terhenti ketika melihat berita yang menayangkan tentang kematian nya padahal ia masih hidup dan bernapas saat ini.


Tak hanya itu berita tentang pria yang harus nya menjadi tunangan nya pun di tampilkan.


Bruk!


Kaki nya terasa lemas, ia terjatuh di atas lantai yang keras dan dingin itu.


Sedangkan pria yang tadi nya tersenyum melihat berita di televisi itu langsung bangun dan beranjak melihat ke arah gadis yang terlihat begitu terkejut itu.


"Kau sudah lihat kan? Jangan memancing ku..." ucap nya sembari menatap mata yang terlihat begitu marah pada nya.


"Kau gila, benar-benar gila..." ucap Louise lirih dengan suara bergetar sembari menjatuhkan bulir bening nya.


Pria itu hanya menunjukkan smirk nya sembari menghapus air mata dari wajah ibu hamil yang pucat itu.


"You make me go crazy, I already told you, right?" bisik nya pada gadis itu sembari mengusap rambut halus gadis itu yang kini sudah tergerai.

__ADS_1


__ADS_2