
Jembatan jalan xx
Waktu yang di janjikan telah lewat satu jam yang lalu.
Terdapat tiga pria yang terduduk berlutut dengan wajah yang sudah babak belur.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Ketiga pria itu masih menutup mulut nya tak mengatakan apapun, bahkan dari mana dan siapa mereka pun tak ada jawaban.
"Mereka tidak membawa nya,"
Louis langsung menoleh ke arah pria itu, ketika mendengar ucapan yang keluar dengan lirih itu.
Sedangkan James masih terdiam, ia melihat ke tempat yang di tujukan. Mata nya mengernyit melihat nya.
Seperti hukum alam ketika seseorang lebih mengenal dan memahami satu sama lain jika satu spesies.
"Lari! Kita harus cari tem-"
DOR!!!
Cipratan darah yang begitu kental memuncrat berbarengan dengan suara tembakan yang terdengar dengan kuat hingga membuat mata orang-orang yang berdiri di samping nya langsung memejam dengan seketika.
"Sisi kanan dari mu," ucap nya yang langsung beranjak lari lebih dulu.
DOR!
DOR!
DOR!
Tembakan yang langsung mengenai tepat dari ketiga orang yang tertangkap itu.
"Mereka membunuh nya," ucap nya lirih melihat ke arah orang-orang yang gagal mengambil adik nya itu.
...
Kediaman Rai.
Ponsel gadis itu berdering, Louise lambung mengangkat nya.
Kali ini berasal dari nomor yang tak di kenal namun nomor yang baru dari penelpon yang mengatakan tentang seseorang yang menculik putri nya.
"Kau menyalahi janji,"
Deg!
Gadis itu tersentak, ia mengigit bibir bawah nya sembari melihat dengan gusar.
"Maksud mu?" tanya nya yang pura-pura bodoh walaupun ia tau apa maksud dari ucapan pria itu.
"Kau benar-benar ingin anak mu mati ya?"
"Kau juga tidak membawa nya kan?" tanya Louise berbalik sembari mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
"Kalau kau datang, aku akan melepaskan anak mu tapi kau malah tidak datang." ucap nya lagi.
"Bagaimana aku bisa percaya? Kalau aku datang dan kau juga tidak membawa anak itu bukan nya akan sama saja?" tanya gadis itu sembari memejamkan mata nya dengan perasaan yang gusar.
"Bukan kau yang membuat negosiasi nya tapi aku," ucap nya sekali pada gadis itu.
Louise mengernyit, panggilan telpon itu terputus bahkan sebelum ia mengatakan balasan apapun.
"Halo?"
"Halo!"
Gadis itu kembali memanggil si penelpon yang mengancam tentang keselamatan putri nya.
...
"Kau tau mereka akan membunuh orang-orang itu?" Louis melihat ke arah pria itu.
Tak ada jawaban namun kedua pria itu sudah saling tau, "Kau juga melakukan hal yang sama kan?"
Kali ini James menoleh, hal yang sama?
Tentu benar karna ia memang melakukan hal sama jika berada di situasi yang sama.
"Menurut mu dia akan membiarkan anak itu hidup?" tanya nya lagi.
"Hm, dia akan tetap hidup sampai mendapatkan apa yang dia mau." jawab nya lirih.
"Kenapa dia mengincar mu?" Louis melihat ke arah pria yang berada di samping nya.
Sedangkan pria itu terlihat masih terdiam sembari melihat ke arah layar di depan nya yang menampilkan visualisasi tentang titik merah dari mobil yang mengikuti mobil lain yang kabur.
Apart mewah yang biasa nya tak ada yang tinggal kini tampak sedikit ramai dari orang-orang IT ruang visi yang berada di sana.
James diam, ia takut mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat kakak gadis itu semakin membenci nya tapi terus bungkam juga tak akan dapat perubahan apapun karna sekarang sudah terlanjur basah.
"Entahlah, dia mengincar ku dari awal." jawab nya yang jika mengatakan kemungkinan orang-orang membenci nya sangat banyak.
"Apapun itu kenapa harus adik ku?!" Louis mulai frustasi.
Ia tak peduli bahkan jika pria itu di bunuh dengan cara paling mengenaskan sekalipun namun yang membuat nya frustasi adalah mengapa harus adik kesayangan nya keluarga nya satu-satu nya ikut terlibat.
Tak ada jawaban dari pria itu, mungkin jika ia tak lagi mendekati gadis itu tak akan ada ancaman yang mengincar gadis itu walaupun tentu putri nya tetap akan jadi incaran empuk karna sudah di pastikan putri kecil nya adalah kelemahan terbesar nya.
"Kalau dia ingin membunuh orang yang kau sayangi berarti kau membunuh orang yang berharga untuk nya juga, kau tidak bisa pikirkan siapa orang itu?" tanya Louis lagi.
Karna mau di pikir bagaimana pun, saingan bisinis nya bukan yang berada di balik hal ini melainkan orang-orang yang memiliki dendam dengan pria yang berada di samping nya.
"Tidak, aku tidak bisa memikirkan nya. Terlalu banyak kemungkinan." jawab nya pada pria itu.
"Pasti terlalu banyak orang yang sudah kau bunuh," ucap nya lirih.
Drtt..drrtt..drrtt...
Louis mengambil ponsel nya, sembari melihat ke arah seseorang yang menelpon nya.
__ADS_1
"Dia menelpon ku lagi,"
Pria itu pun langsung mengeraskan suara panggilan yang menelpon nya.
James mendekat dengan sendiri nya, agar bisa mendengar apa yang di katakan dari gadis itu.
"Karna aku menyalahi janji, jadi..."
"Tetap di sana! Apapun yang nanti dia bilang jangan terpengaruh!"
Louis langsung menatap ke arah pria yang terdengar gusar itu.
"Dia meminta mu untuk datang ke tempat lain?" tanya Louis pada saudari kembar tak identik nya itu.
"Tidak, tapi kalau misal nya dia minta bukan nya lebih baik aku datang saja? Aku bisa jadi um-"
"Jangan! Yang mau dia bunuh itu kau!" sahut pria itu lagi dengan langsung memotong dan terdengar begitu gusar.
Louis langsung melihat ke arah pria yang semakin tampak khawatir itu namun seperti menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Nanti ku telpon lagi," ia langsung menutup panggilan nya dan melihat ke arah pria yang sejak tadi terlihat khawatir itu.
Namun ia tak mengatakan apapun saat ini, ia menelpon kepala penjaga kediaman nya dan mengetatkan lagi penjagaan agar adik nya tak lagi keluar.
"Ada yang kau sembunyikan? Katakan apapun itu! Sialan!" ucap nya yang langsung menarik kera kemeja pria itu.
James diam, ia tak bisa mengatakan nya jika penculikan dari beberapa kejadian yang berlalu juga berkaitan dengan nya.
Louis memejam, "Panggil Zayn." ucap nya pada salah satu penjaga nya.
"Kenapa melibatkan orang lain?" James kali ini langsung bersuara.
"Orang lain? Kau yang orang lain di sini, aku juga berurusan dengan mu sebatas kau itu ayah dari keponakan ku saja." ucap nya pada pria itu.
Bukan nya ia yang ingin membuat pria itu cemburu dengan calon ipar nya namun karna ia tau calon ipar dan sahabat nya itu sangat pandai dalam komputer dan melihat dengan jeli atau melihat sesuatu yang bahkan sangat kecil dan tak terlihat dari kebanyakan mata orang lain.
......................
Kediaman Rai
"Akh!"
Suara gadis itu terdengar menjerit namun langsung ia coba bungkam dengan menutup mulut nya dengan rapat.
"A..apa yang kau lakukan," ucap nya lirih dengan tangan dan mata yang gemetar.
"Entahlah, tapi anak ini masih hidup."
Panggilan video yang memperlihatkan gadis kecil yang mungil itu tertutup dengan cairan berwarna merah dan terlihat tak sadar.
Entah itu cat atau darah namun tentu tetap saja menyeramkan bagi seorang ibu yang melihat ke arah anak nya dalam kondisi seperti itu.
"Jauhkan pisau mu!"
Tak ada wajah dari si penelpon namun, ujung pisau yang tajam itu mendekat dan mengikuti gadis kulit lengan anak kecil yang empuk dan halus itu.
__ADS_1
"Ikuti perintah ku dan anak ini akan tetap hidup,"
Gadis itu terdiam, ia tak mengatakan apapun namun ia tau jika pria itu tak ingin ia membocorkan apapun lagi tentang komunikasi nya.