(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Traitor


__ADS_3

Kediaman Rai.


Bruk!


"Apa tidak apa-apa pakai ini? Kan masih siang?" tanya Clara yang merasa ia di berikan pakaian terbuka dan mantel piyama untuk menutup nya.


"



"Kau tak nyaman?" tanya Louis yang memang suka memasangkan beberapa jenis pakaian yang bagi nya menarik untuk berada di tubuh istri nya.


Ia pun mulai menindih sembari mengecup seluruh wajah hingga leher sang istri dan membuat wanita itu tersipu.


"Kita di sofa?" tanya Clara lirih saat pria itu melepaskan ciuman nya.


"Hm, nanti ku bawa ke ranjang." jawab pria itu sembari mencium rambut halus yang harum milik istrinya dan sesekali menggigit kecil telinga wanita berwajah manis itu.


"Ge-geli..." ucap Clara tertawa kecil saat telinga nya di gigit dan hisap.


"Kau suka kan?" tanya Louis tersenyum, sejak masalah yang menimpa adik nya beberapa waktu lalu, ia semakin jarang bersama istri nya.


"Suka, tapi jadi teringat orang jahat." jawab Clara lirih.


Ia teringat dengan kebiasaan mantan Presdir nya dulu yang sering melakukan hal yang sama di telinga nya dan semua penderitaan yang ia alami jadi seperti terulang.


Louis diam sejenak, "Kalau begitu aku gigit leher mu saja? Hm?" ucap nya yang langsung membahas topik lain nya.


"Kau tidak kerja hari ini?" tanya Clara sembari merasakan ciuman hangat dan tangan yang terus meraba di sekujur tubuh nya.


"Tidak, pekerjaan ku sudah selesai lebih cepat jadi tidak apa-apa." ucap Louis sembari membuka kaitan berwarna hitam tersebut.


Clara diam saja, ia membiarkan sentuhan hangat yang datang pada nya, apapun yang di lakukan suami nya ia tak merasa asing lagi, ia merasa jika sudah nyaman akan sentuhan pria itu hingga tak lagi trauma.


Suara erangan lolos dari bibir merah muda nya, saat tubuh nya menyatu dan mulai memanas, tangan nya berusaha menyentuh wajah pria yang tengah bergerak di atas tubuh nya.


Suara berat yang tengah menarik napas membuat nya menyentuh wajah pria itu, "Aku penasaran seperti apa wajah mu?" ucap nya tersengal-sengal saat tubuh nya sedang di guncang dengan hebat.


"Aku punya wajah yang tampan, jadi kau tak akan menyesal." ucap Louis sembari mencium ke arah lengkung leher istri nya.


Clara tersenyum, ia ingin tertawa namun bibir nya hanya mengeluarkan suara lirih yang berat tanpa ia sadari, ia hanyut dalam permainan yang di buat pria itu.


Beberapa saat kemudian.


Selimut putih dan tebal yang menutup kedua tubuh polos yang tengah berada di dalam nya.


Clara terbangun, ia ingin meraih pakaian nya lagi setelah tenaga nya terkumpul sejenak, Louis pun ikut bangun agar bisa membantu istri nya yang tak bisa melihat apapun itu.


"Jangan! Aku bisa sendiri!" cegah Clara langsung yang ingin aktifitas nya bisa kembali berjalan normal tanpa bantuan orang lain.


"Yakin?" tanya Louis mengernyit.


"Iya, aku mau sendiri, kalau di bantu na-nanti malam aku tidak mau sambung yang tadi!" ucap nya dengan ancaman namun gugup.


Louis tertawa mendengar nya, istrinya yang manis itu tengah mengancam nya untuk tak boleh ia sentuh dengan cara yang menggemaskan.


"Iya, aku di sini, akan ku lihat..." ucap nya sembari memandang dengan binar di mata nya.


Wajah Clara memerah, walaupun ia sudah menikah beberapa bulan namun ia belum terlalu terbiasa dengan ada nya suami mes*m yang menjadi pasangan hidup nya.


Mata pria itu menoleh ke arah lain saat ia mendengar suara ponsel nya.


"Louise?" gumam nya saat melihat pesan dari adik nya.


Clara langsung terhenti sejenak, saat memakai kembali pakaian nya.


"Kalian sering berhubungan?" tanya nya lirih dengan perasaan gelisah.


Tak pernah ada yang menjelaskan hubungan suaminya dengan teman nya itu, bahkan ia tak tau dengan jelas siapa indentitas pria yang ia nikahi.


Louis yang tengah membaca pesan dari sang adik yang tak jadi melakukan pertemuan langsung melihat ke arah wajah istri nya saat mendengar kalimat tanya wanita itu.


Ia tersenyum, sembari memegang ponsel nya, "Kau cemburu?"



Mata nya memandang ke arah wanita yang tampak gelisah tersebut dengan senyuman di wajah nya yang akan sangat senang saat tau istri nya akan cemburu.


"Ti-tidak," jawab Clara dengan gugup.


......................


Apart Sky Blue.


"Ini minum dulu," ucap Zayn sembari memberikan segelas coklat panas pada gadis itu.


"Aku kan bukan anak-anak," ucap Louise dengan mata sembab nya menatap pria di depan nya.


"Mau ku ganti kopi pahit?" tanya Zayn pada gadis itu namun gelas di tangan nya segera hilang dengan sekejap.


"Aku kan benci pahit," ucap nya lirih.


Louise terdiam, saat masih berada di restoran sahabat tampan nya itu menelpon nya, ia mengangkat nya namun suara serak karna tangis nya tak bisa ia sembunyikan membuat pria itu langsung datang menemui nya.


"Ada apa? Hm? Sebelum nya baik-baik saja kan?" Zayn mencoba bertanya dengan lembut.


Wajah sembab, mata merah dan penampilan yang kacau dari gadis itu terlihat.


"Zayn..." panggil nya lirih.


"Hm?"


"Apa suka sama seseorang memang gini yah rasa nya," tanya lirih, mata nya kembali berkaca.


"Di sini sakit, tapi aku gak bisa jelasin rasa sakit nya, aneh kan?" sambung gadis itu sembari memegang dada nya yang terasa sesak.


Zayn tak mengatakan apapun, ia tau gadis itu masih terluka saat di campakkan tiba-tiba dengan pria yang ia sukai, bahkan saat hubungan nya sudah terlanjur dalam dan pada akhirnya memberikan apa yang pria itu inginkan.


Ia mengambil gelas yang berisi coklat panas di tangan gadis itu dan meletakkan nya ke atas meja.


Perlahan ia mendekat dan mendekap tubuh gadis itu, memeluk nya perlahan.


Air mata Louise luruh lagi, ia tidak tau jika ia akan sehancur ini saat pria itu meninggalkan nya, ia bahkan tak bisa mengira-ngira sudah seberapa banyak ia jatuh cinta pada pria itu.


"Aku bodoh yah suka dengan nya? Kalau aku dengerin Louis dari awal pasti gak akan seperti ini." ucap nya lirih dari dalam pelukan pria itu.


"Lagi pula bukan salah mu, dia..." ucap pria itu lirih sembari mengusap rambut dan punggung gadis itu.


"Dia hanya tidak tau apa yang di buang nya..." sambung pria itu sembari mengusap punggung gadis yang sedang ia peluk.


Bukan hanya gadis itu yang merasa sakit namun ia juga merasakan hal yang sama.


Gadis yang ia cintai sejak kecil kini hancur dan terluka karna seorang pria bahkan sedang menangisi pria itu saat bicara pada nya.


"Kau mau ke tempat Vanya nanti? Kau suka cake di cafe nya kan?" tanya Zayn pada gadis itu saat tangis nya sudah reda.


Ia menghapus air mata gadis itu dengan ibu jari nya, dan mengusap wajah yang basah akan air mata itu dengan tangan nya.

__ADS_1


"Aku nginap di sini yah? Kalau pulang nanti Louis tau, dia kan udah aku buat sibuk belakangan ini jadi dia pasti perlu waktu sama Clara juga." ucap Louise lirih yang tau jika saudara kembar nya juga pasti ingin memiliki waktu bersama dengan istri nya.


"Hm, nanti aku bilang Louis." ucap Zayn sembari menatap wajah di depan nya.


Tangan nya yang besar menangkup wajah gadis itu dengan berada di kedua pipi yang memiliki wajah kecil itu.


"Kalau ku lihat, cantik mu kurang 30 persen kalau nangis." ucap nya seperti sedang mengamati.


"Aku cantik! Kalau nangis jadi makin cantik!" ucap Louise seketika.


Zayn tersenyum, "Kalau seperti ini kau baru cantik."


Louise diam sejenak menatap iris di depan nya, ia memang tak pernah menanggap pria itu seperti 'pria' sesungguhnya karna ia tumbuh dan besar bersama seperti dengan kakak nya.


......................


Cafe.


Gadis itu berusaha melupakan apa yang ia lihat dengan pergi ke cafe teman nya.


"Siapa Zayn?" tanya Louise saat ponsel pria itu terus berdering.


"Pihak dari World design mau bicarakan tentang kontrak untuk design hotel yang lagi di bangun Louis." jawab pria itu sejenak.


"Benarkah? Kalau begitu kita pergi sekarang?" tanya Louise pada pria itu.


"Tidak usah, aku saja. Kan ada Vanya kau dengan nya dulu, aku pergi duluan yah." ucap nya tersenyum.


"Tapi kan?" Louise mengernyit, ia merasa tak enak jika pria itu pergi sendiri.


"Karna aku yang pergi, jadi kau harus bersenang-senang sebagai ganti nya." ucap pria itu dengan senyuman nya yang selalu ada setiap kali ia menatap wajah cantik itu.


Vanya pun melihat ke arah punggung pria itu pergi dan menatap ke arah teman nya.


"Kalian pacaran sekarang? Pacar mu yang kemarin itu mana? Sudah putus? Dia kan tampan." ucap Vanya dengan segala pertanyaan penasaran nya.


"Kami tidak pacaran, dan yang kemarin juga sudah putus." ucap Louise lirih.


"Putus? Putus kenapa?" tanya Vanya yang heran kenapa gadis itu putus dari pria yang memliki wajah tampan itu.


"Something," jawab Louise singkat karna tak mau membahas nya.


Vanya cemberut namun mata nya langsung membulat saat ia melihat penyanyi di cafe nya tak bisa hadir saat ini.


"Louise!" panggil nya langsung.


"Hm?"


"Kau bisa nyanyi lagi tidak di sini hari ini? Ku mohon..." ucap nya memohon sembari menyatukan kedua tangan nya.


"No, I can't." tolak Louise langsung.


"Please," Vanya kembali memohon.


"Louise, sekali ini saja..." ucap nya yang tak menyerah sama sekali.


Gadis cantik itu berusaha tak peduli namun teman nya terus saja berisik dan meminta bantuan pada nya terus menerus.


"Iya! Satu lagi aja yah!" ucap Louise yang menyerah dengan rengekan teman nya.


"Lagu nya nanti aku yang kasih, aku ambil dari situ." ucap Vanya sembari menunjukkan dinding yang penuh akan note yang di tinggalkan pengunjung nya.


Ia memang membuat beberapa pengunjung menulis judul lagu yang ingin di nyanyikan penyanyi di cafe nya.


Louise hanya menarik napas nya, ia pun duduk di bangku yang di siapkan dan Vanya pun datang dengan membawa secarik kertas yang diambil nya acak.


Louise mengambil nya dan melihat apa yang harus ia nyanyikan.


"Aku mau yang lain, jangan ini." ucap nya menolak karna tak ingin kembali teringat dengan luka nya.


"Louise..." panggil Vanya memohon pada gadis itu.


Louise pun kembali mengambil kertas nya, dan musik pun mulai di hidup kan.


...Traitor - Olivia Rodrigo...


...Verse....


...Brown guilty eyes and...


...Mata coklat yang bersalah dan...


...Little white lies, yeah...


...Sedikit kebohongan demi kebaikan, ya...


...I played dumb, but I always knew...


...Ku bermain bodoh, namun ku selalu tahu...


...That you talked to her, maybe did even worse...


...Bahwa kau bicara padanya, bahkan mungkin lebih parah lagi...


...I kept quiet so I could keep you...


...Ku diam agar ku tetap memilikimu...


...Pre-Chorus....


...And ain't it funny how you ran to her...


...Dan tidakkah itu lucu bagaimana kau menghampirinya...


...The second that we called it quits?...


...Kedua kalinya kita menyebut itu putus?...


...And ain't it funny how you said you were friends?...


...Dan tidakkah itu lucu bagaimana kau bilang bahwa kalian berteman?...


...Now it sure as hell don't look like it...


...Kini itu jelas jelas tak terlihat demikian...


...Chorus....


...You betrayed me...


...Kau mengkhianatiku...


...And I know that you'll never feel sorry...


...Dan ku tahu bahwa kau takkan pernah menyesal...


...For the way I hurt, yeah...

__ADS_1


...Akan bagaimana ku terluka, ya...


...You talked to her when we were together...


...Kau bicara padanya saat kita bersama...


...Loved you at your worst, but that didn't matter...


...Ku mencintaimu di saat terburukmu, namun itu tak penting...


...It took you two weeks to go off and date her...


...Hanya butuh waktu dua minggu bagimu tuk putus dan mengencaninya...


...Guess you didn't cheat, but you're still a traitor...


...Ku rasa kau tidak selingkuh, namun tetap saja kau seorang pengkhianat...


...Verse 2...


... ...


...Now you bring her around just to shut me down...


...Kini kau membawanya hanya tuk menghentikan ku...


...Show her off like she's a new trophy...


...Memamerkannya seperti ia adalah piala yang baru...


...And I know if you were true...


...Dan ku tahu kau memang benar...


...There's no damn way that you...


...Tak mungkin bahwa kau...


...Could fall in love with somebody that quickly...


...Bisa jatuh cinta dengan seseorang dengan begitu mudahnya...


...Pre-Chorus...


...And ain't it funny? All the twisted games...


...Dan tidakkah itu lucu? Semua permainan yang berbelit ini...


...All the questions you used to avoid...


...Semua pertanyaan yang dulu kau hindari...


...Ain't it funny? Remember I brought her up...


...Tidakkah itu lucu? Ingatkah dulu aku yang membesarkannya...


...And you told me I was paranoid?...


...Dan kau bilang aku yang paranoid?...


...Chorus....


...You betrayed me...


...Kau mengkhianatiku...


...And I know that you'll never feel sorry...


...Dan ku tahu bahwa kau takkan pernah menyesal...


...For the way I hurt, yeah...


...Akan bagaimana ku terluka, ya...


...You talked to her when we were together...


...Kau bicara padanya saat kita bersama...


...Loved you at your worst, but that didn't matter...


...Ku mencintaimu di saat terburukmu, namun itu tak penting...


...It took you two weeks to go off and date her...


...Hanya butuh waktu dua minggu bagimu tuk putus dan mengencaninya...


...Guess you didn't cheat, but you're still a traitor...


...Ku rasa kau tidak selingkuh, namun tetap saja kau seorang pengkhianat...


...Bridge....


...(Ah-ah-ah)...


...God, I wish that you had thought this through...


...Tuhan, ku harap kau telah memikirkan ini dengan matang...


...Before I went and fell in love with you...


...Sebelum ku pergi dan jatuh cinta padamu...


...(Ah-ah-ah)...


...When she's sleepin' in the bed we made...


...Saat ia tidur di tempat tidur yang kita rapihkan...


...Don't you dare forget about the way...


...Jangan beraninya kau melupakan itu...


...Back to Chorus....


Alunan musik terhenti saat gadis itu menyelesaikan lagu nya.


Lagi!


Entah mengapa ia kembali merasa sesak saat menyanyikan lagu tersebut.


Membuat nya kembali teringat dengan apa yang ia lihat bahkan yang ia alami.


Pria yang berdiri di luar tempat itu melihat gadis cantik yang duduk di tengah mic dan alat musik, ia bisa melihat tepuk tangan untuk gadis cantik itu.


"Dia terus mengusik ku, tapi aku tidak bisa melakukan apapun pada nya." ucap pria itu lirih.


Ia bahkan tak tau kenapa langkah nya bisa ke tempat yang sering ia datangi dulu dengan gadis itu.

__ADS_1


Ataupun mengapa ia tetap terpaku tanpa bisa beranjak pada gadis yang sangat ingin ia hancurkan.


__ADS_2