(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Misi gagal


__ADS_3

5 Minggu kemudian


Semua terasa begitu cepat, ruangan outdoor yang menampilkan bunga di taman yang dengan tangga yang tampak cantik.


Meja yang tersusun di bawah sinar mentari yang terasa dingin karena udara yang berhembus.


Yang terlihat putih namun saat ia bergerak maka akan terlihat warna yang menyala bagaikan mentari.


Keheningan tercipta dengan suara seseorang yang tengah membacakan janji.


Jantung yang berdegup kencang dan kegugupan tampak begitu jelas.


Sedangkan beberapa mata memandang tak terkecuali mata coklat yang bulat dan penuh dengan senyuman itu.


Alih-alih duduk di samping paman nya gadis kecil itu memilih duduk di samping satu-satu nya teman yang ia undang beserta dengan orang tua nya.


"Cantik kan Mommy Bian?" tanya nya dengan senyuman yang tampak begitu cerah dan bahagia karena kini sang ibu akan tinggal dengan nya.


"Iya cantik! Kayak ibu peli!" jawab Sylviana dengan senyuman di wajah polos nya.


"Hihi!" gadis kecil itu tertawa senang saat mendengar teman nya memuji ibu nya.


"Nanti kata Daddy Bian juga bakalan pindah lumah! Telus Bian boleh bawa temen juga ke lumah balu!" ucap nya dengan semangat.


Karna kali ini mansion yang akan di tempati tidak memiliki rahasia dan bukan pusat dari kegiatan ilegal itu maka James akan membuat nya seperti rumah pada umum nya.


"Syl belalti boleh ke lumah Bian?" tanya nya pada teman nya yang memiliki mata bulat yang coklat itu.


"Iya! Nanti Syl juga tidul di lumah balu sama aku!" jawab Bianca dengan semangat walau dulu awal nya ia tak suka berteman dengan anak cengeng itu.


"Yeeyy! Nanti Syl bawain pelmen yang banyak deh buat Bian!" ucap nya dengan begitu semangat.


Janji yang di ucapkan telah selesai, ikrar yang kini sudah menjadi penghubung di hubungan yang legal di negara dan mata Tuhan itu kini sudah sah.


Mata coklat itu menatap dengan semangat dan sangat ingin berlari ke arah ibu dan ayah nya yang masih berdiri di altar.


Namun ia sudah di beri tau jika ia tak boleh melakukan nya sampai waktu yang di tentukan.


Tepukan tangan yang ceria terdengar, wajah yang tersenyum dan hari yang membahagiakan bagai siang di angin yang dingin itu.


"Eh?"


Kedua gadis kecil itu tersentak, wajah yang sama-sama polos itu tak bisa melihat ke arah pasangan yang menikah itu ketika ada yang memblokir pandangan nya.


"Kenapa ciuman seperti itu padahal ada anak kecil," gumam Nick yang menutup mata nona muda nya berserta dengan teman nya.


Ia tau harus nya ciuman setelah sumpah pernikahan itu hanya sebatas syarat dan bukan nya ciuman panas namun seperti nya tuan nya tak bisa menahan untuk itu.


Mata nya sedikit bergetar melihat nya, tuan nya memaafkan sikap nya karna dulu membuat gadis nya berhasil kabur.


Dan di saat cinta yang bersatu itu kembali, ia adalah seseorang yang juga melepaskan cinta pertama nya.


Sejak awal ia memang menyukai seseorang yang tak mungkin ia gapai, maka dari itu ia setidak nya tau diri untuk serakah.


"Ih! Bian mau lihat tau!" ucap Bianca yang menepis tangan bawahan ayah nya.


Nick menggeser tangan nya dan membiarkan nona muda nya untuk kembali melihat kedua orang tua nya yang akhirnya bisa menikah.


Sedangkan Sylviana menoleh ke belakang dan menatap seseorang yang menutup mata nya namun tangan nya mampu menutup seluruh wajah mungil nya.


"Halo..." ucap nya dengan suara yang menggemaskan dan menatap ke arah pria dewasa.


"Halo juga," jawab Nick yang tersenyum dan merasa lucu dengan teman nona muda nya.


...


Acara terus berlanjut, menyapa tamu dan tentu kini gadis kecil itu sudah berada dalam gendongan sang ayah.


Bukan nya ia yang tak pernah mau di gendong ibu nya namun sang ibu yang memang tak memiliki fisik yang kuat untuk mengendong tubuh mungil nya yang gempal itu.


"Bian mau makan ini lagi?" tanya James yang memberikan coklat lagi pada putri nya sedangkan ekor mata melirik pada pengantin wanita yang baru siang tadi resmi menjadi istri nya.


Wanita itu kini terlihat bersama dengan sepasang suami istri yang sebelum nya hampir menjadi mertua nya.


"Itu..."


"Zayn tidak bisa datang, jadi..." ucap Larescha yang sedikit canggung.


"Tidak apa, seharusnya aku yang minta maaf..." ucap Louise dengan senyuman tipis.


Bahkan bagi nya lebih baik pria itu membenci nya dan memaki nya karna ia tau sejahat apa ia saat bermain dengan perasaan yang tulus.


"Tapi Za-"


"Selamat atas pernikahan mu, semoga kau bisa terus bahagia." potong Rian yang memberikan ucapan selamat pada seseorang yang juga ia anggap hampir sama dengan anak sendiri itu.


Ia menghentikan istri nya yang seperti masih menyayangkan wanita di depan nya untuk tak menjadi menantu nya.


Louise tersenyum tipis mendengar nya, "Terimaksih paman..." jawab nya lirih.


"Kalau begitu kami akan ke tempat yang lain," ucap Rian yang membawa istri nya.


Ia memang tau apa yang terjadi dengan putra nya dan wanita itu namun bukan berarti ia membenci nya, karna putra nya pun telah memilih.


"Hey?"


Louise tersentak, seseorang memegang pundak nya membuat nya langsung menoleh ke belakang.


"Kenapa lihatin mereka?" tanya pria itu yang beranjak berdiri di samping adik nya.


"Tidak apa-apa, mereka orang yang baik..." jawab nya lirih.


Louis tak mengatakan apapun, hubungan nya masih seperti gencatan senjata pada ipar nya itu namun ia tetap membiarkan pernikahan yang di langsungkan hari ini.

__ADS_1


"Kalian menikah juga akhir nya," ucap nya lirih yang menarik napas nya.


"Kau tidak suka?" tanya Louise yang menoleh ke arah sang kakak.


"Mau bagaimana lagi, kau juga sudah nikah dengan nya kan?" tanya Louis dengan suara lirih.


"Paman!"


Suara mungil itu kini datang, dan tentu seseorang yang menggendong nya pun ikut mendekat.


Louis menoleh, ia tak bisa menunjukkan wajah kaku nya jika berhadapan dengan keponakan nya yang menggemaskan itu.


"Bian? Tadi udah cobain cake nya? Macaron?" tanya Louis yang mengambil bayi besar 4 tahun itu dari gendongan sang ayah.


"Udah! Nih masih Bian pegang, Paman mau?" tanya nya yang memberikan macaroni yang yang setengah hancur dalam genggaman nya ke dalam mulut paman nya itu.


Louis membuka mulut nya karna kalau ia menghindar dan makanan manis itu jatuh maka jas nya akan kotor.


"Enak kan?" tanya nya dengan mata bulat yang bersinar menatap paman nya dengan tatapan polos yang bersemangat itu.


"Iya, Bian mau main sama Paman? Sama Tante Clara juga?" tanya nya yang beranjak membawa gadis kecil itu karna ia memang selalu gemas melihat nya.


Entah juga karna keinginan nya yang juga mau memiliki seorang anak.


Tanpa menunggu persetujuan adik nya atau suami nya pria itu membawa keponakan nya.


James tak melarang atau mengatakan apapun karna ia tau pria itu tak akan mungkin menyakiti putri nya.


Pria itu mendekat ke wanita yang kini menjadi istri nya, ia memegang pinggang ramping itu setelah beberapa saat terpisah sejenak karena menyapa tamu.


"Lalu nanti malam kita sudah bisa kan?" bisik nya dengan nada yang nakal dan tentu menginginkan malam pertama nya.


Louise menoleh, ia menatap pria di samping nya yang tengah berbisik itu dengan senyuman kecil.


"Haruskah kita kembali lebih awal?" tanya nya yang menjawab godaan pria yang malam ini sudah resmi menjadi suami nya.


James tertawa kecil, ia tampak senang dan perasaan begitu berbunga malam ini.


Dan sekarang ia pikir penantian nya akan berujung manis namun ia melupakan salah satu yang menjadi penghalang dalam malam pertama panas nya.


...


"Huu..."


Mata bulat yang coklat itu berbinar dan berkaca, bibir nya mengeriting dan mengerucut dengan wajah sedih.


"Bian kenapa di ajak? Bian kan mau ikut... Huhu..." tangis nya pada sang ayah dengan sendu.


"Daddy cuma malam ini aja pergi sama Mommy, besok udah main sama Bian lagi." ucap yang mencoba merayu putri nya karna ia memang berencana pergi ke hotel dulu malam ini dan melakukan bulan madu nya Minggu depan setelah menyesuaikan jadwal diri nya dan jadwal sang istri yang juga bukan lah pengangguran.


"Daddy bohong..."


"Ka.. kata nya kalau nanti nikah sama Mommy bakal tinggal beltiga sama Bian, tapi sekalang Bian malah di tinggal..." tangis nya yang terlihat pilu sampai sengugukan.


"Bian? Besok Daddy udah balik Bian, astaga anak ini..." gumam nya lirih yang menatap ke arah putri yang menangis karna tak mengerti apa yang ia ingin lakukan pada ibu nya.


"Kan Daddy malah... Huhu..." tangis nya yang semakin pilu melihat sang ayah yang tampak frustasi.


"James?" mata hijau itu tak bisa melihat lama ke arah tubuh kecil yang gemetar karna tangis itu dan air mata yang meleleh itu.


Pria itu menoleh, menatap ke arah wanita yang mengenakan gaun berwarna red wine yang membentuk tubuh nya itu.


"Bawa aja, ga apa-apa..." ucap nya yang mendekat dan memeluk putri nya yang menangis.


"Tapi kan?" ucap nya yang padahal sejak siang bahkan sejak kemarin sudah sangat menantikan malam pertama nya dan ingin kembali menyentuh tubuh wanita nya lagi.


"Kasihan tapi dia, nangis nya sampai gemetar." ucap Louise yang mengusap wajah bulat putri yang memerah itu.


"Mommy..." ucap nya yang memeluk ke arah sang ibu dengan lekat.


Louis yang masih berdiri melihat satu keluarga dengan anak kecil yang ingin bersama dengan orang tua nya dan ayah yang ingin melakukan malam pertama namun ibu yang ingin melihat putri nya berhenti menangis membuat nya tertawa kecil.


"Iya, tidak apa-apa. Waktu siang setelah Bianca sekolah kan juga bisa..." ucap nya yang tertawa kecil menatap ke arah ipar nya itu karna ia tau apa yang di inginkan pria itu di malam pernikahan nya.


"Louis..." ucap Clara yang menyentuh lengan suami nya saat melihat ke arah pria yang menahan tawa nya itu.


James menarik napas nya, ia tak bisa lagi mengatakan apapun sekarang dan tentu membawa putri nya yang tak mau di tinggal dengan paman dan bibi nya itu.


......................


Hotel


Ruangan kamar presiden suite yang di hias sedemikan rupa nya dan pihak hotel yang menghias nya langsung.


Mata bulat yang berbinar dan tak lagi menangis itu tampak bersemangat.


"Ih! Kamal nya banyak mawal!" ucap Bianca yang malah bersenang-senang mengacaukan kamar pengantin orang tua nya.


Kaki kecil itu beranjak naik ke atas tempat tidur yang wangi dan di penuhi kelopak bunga yang cantik itu.


Louise melihat ke arah interior kamar hotel yang bagi nya cukup berlebihan karna hiasan nya.


"Kau yang menghias nya?" tanya yang memiringkan kepala nya sembari melihat ke arah putri yang yang bersemangat melompat di ranjang yang harus nya menjadi tempat penyatuan nya.


James menggeleng, "Bukan, aku minta pihak hotel yang menghias." jawab nya yang juga merasakan hal yang sama dengan istri nya.


"Yeeyy! Mommy Daddy nikah! Nikah Yuhu!!!" ucap Bianca yang melompat di atas ranjang empuk dengan riang sembari menyebarkan dan melempar kelopak bunga yang cantik itu berulang kali ke atas.


James tanpa sadar menunduk dan menengandah melihat ke arah putri nya yang melompat dan berayun di atas ranjang yang harus ia gunakan.


"Astaga," ucap nya yang menggeleng agar menghilangkan dan menurunkan rasa frustasi pada putri nya yang menggemaskan itu.


Louise tertawa kecil, ia menatap ke arah pria yang tampak frustasi itu padahal ia tau pria di samping nya tampak begitu bersemangat ketika pernikahan nya.

__ADS_1


James menoleh, ia tau wanita itu mentertawakan rasa frustasi nya.


"Nanti malam..." bisik nya yang mendekat ke arah wanita itu.


"Ya?" Louise menoleh, ia menatap ke arah pria yang tampak ingin memberi nya kode itu.


"Setelah Bianca tidur kita bisa melakukan nya, aku akan membuat nya tidur lebih awal." ucap James yang tak menyerah sama sekali.


"Iya..." jawab Louise yang tak menolak permintaan pertama dari pria yang sekarang sudah resmi menjadi suami nya itu.


"Bian? Ke sini, kita main sama bar-"


"Gak mau ah! Daddy nakal! Bian masih malah sama Daddy!" ucap nya yang kesal karna mengingat sang ayah sebelum nya tak membolehkan nya ikut.


James hanya menarik napas nya, ia mendekat dan mencoba meraih tubuh mungil putri nya namun.


"Hahah! Ga kena!" ucap Bianca yang beranjak lari saat sang ayah ingin mengambil nya dan menidurkan lebih cepat.


Bagaikan marmut kecil yang bisa berlari dengan cepat, bayi menggemaskan itu tertawa dengan riang dan penuh dengan energi yang luar biasa.


"Hahaha! Ayo Myy lali juga!" ucap nya yang tampak senang karena seperti bermain dengan sang ayah.


Tangan mungil nya menarik ibu nya agar berlari bersama nya juga.


"Astaga!" ucap Louise yang terkejut namun ia mengikuti langkah lari putri nya yang tampak bersemangat itu.


Satu jam kemudian.


Bayi cantik itu kini sudah kelelahan, ia terus saja bermain di pesta pernikahan kedua orang tua nya dan sekarang ia pun juga bermain di kamar pengantin kedua orang tua nya.


"Nah kan, sekarang sudah wangi..." ucap Louise yang mengecup pipi mungil putri nya yang sudah selesai mandi begitu juga dengan nya.


"Bian suka mandi sama Mommy!" ucap nya yang tampak senang pada sang ibu dan memeluk tubuh wanita yang tidur di samping nya itu.


Sedangkan James yang baru keluar dari kamar mandi hanya membuang napas nya lirih.


Yang menjadi pengantin baru adalah diri nya namun yang seperti nya menikmati malam pertama adalah putri nya.


Mandi dengan istri nya dan sekarang juga menguasai ranjang bersama dengan sang istri.


Ia mendekat dan masuk ke dalam selimut tebal itu juga.


"Bian ga tidur?" tanya nya yang menepuk putri nya dengan lembut agar membuat gadis kecil mengantuk.


Bianca menggeleng, ia melihat ke arah wajah sang ayah dan ibu yang bergantian di sisi kanan dan kiri nya secara bergantian dan merasa senang.


"Belum! Bian belum ngantuk!" ucap nya yang tampak semangat dan kembali mengoceh.


Louise masih mendengarkan, namun jujur saja malah ia yang merasa mengantuk dan ingin tidur karena kelelahan.


"Bian? Tidur sama Mommy yuk? Sini Mommy peluk," ucap yang memeluk tubuh mungil putri nya agar berhenti bicara.


James melihat ke arah istri nya, tatapan mata nya seolah mengatakan jangan sampai tertidur.


"Iya, pura-pura tidur aja..." ucap Louise tanpa suara dan hanya dengan gerakan bibir nya.


James tersenyum kecil, ia mendekat dan beranjak memeluk kedua perempuan itu juga.


"Daddy juga mau ikut!" ucap nya yang juga menempel pada putri nya dan istri nya.


Bianca tak menolak saat sang ibu memeluk nya, ia suka berada di dalam pelukan wanita yang wangi itu dan membuat nya nyaman itu.


Tepukan yang lembut mengusap punggung kecil nya, semakin halus dan semakin lama membuat mata bulat nya mulai mengantuk.


James masih tak dapat tertidur, ia membuka mata nya dan melihat wanita di depan nya memejam.


Wajah nya menunduk melihat ke arah putri nya yang sudah tampak pulas dengan wajah yang menggemaskan itu.


Ia tersenyum kecil melihat nya karna tak menyangka jika ia pada akhirnya akan memiliki sebuah keluarga juga.


"Louise?" panggil nya yang berbisik pada wanita yang ia kira juga pura-pura tidur seperti nya untuk melakukan malam pertama.


Hening tak ada jawaban sama sekali dan membuat nya memanggil ulang.


"Louise?"


"Hey? Louise?"


Panggil nya sekali lagi sembari melihat ke arah wanita yang tampak tak memberikan respon itu walau ia sudah menggoyangkan lengan nya.


"Louise? Kau tidur?" tanya nya sekali lagi yang mencoba memastikan wanita yang memang sudah tertidur itu.


"Eng? Daddy..."


James tersentak,bukan istri nya yang bangun dan malah putri nya yang kembali bangun lagi.


Mata nya melihat ke arah bayi mungil yang menggeliat dan tampak terganggu karna ia mencoba membangunkan ibu nya.


"Sstt..."


"Tidur, Bian tidur lagi..."


Ucap nya lirih yang menepuk putri nya dengan lembut dan kelopak mata yang kecil segaris itu langsung langsung memejam lagi.


Melihat putri nya yang sudah tertidur lagi membuat nya menarik napas nya, wanita itu terus menggoda nya sebelum pernikahan karna tau ia tak boleh menyentuh nya.


Dan saat pernikahan yang ia nantikan datang tentu ia membawa misi untuk membalas semua godaan wanita yang nakal itu dan sudah membayangkan nya cukup lama.


Tapi apa sekarang?


Putri cantik kesayangan nya menggagalkan misi penting nya.


"Kenapa kau tidur sungguhan?" ucap nya lirih dengan frustasi menatap ke arah sang istri namun ia juga tak ingin membangunkan paksa wanita itu karna tak tega.

__ADS_1


"Kegagalan yang menyebalkan..." gumam nya lirih yang ingin berteriak namun tak bisa karna tak ingin tidur istri dan putri nya terganggu.


__ADS_2