
Rumah sakit
Setelah mendapatkan perawatan gadis itu di pindahkan ke ruangan rawat. Tak ada masalah apapun yang serius dalam kondisi fisik nya namun di jelaskan jika gadis cantik itu mengalami serangan panik sebelum nya.
James menatap ke arah Louise yang masih terpejam setelah di berikan suntikan obat, entah mengapa tatapan kosong yang tadi di berikan oleh gadis di depan nya begitu mengganggu nya.
Tatapan yang sama saat masih berada di mansion nya, tatapan yang seakan telah hilang harapan pada dirinya.
"Aku lebih suka melihat mu tidak mengingat apapun tapi aku tidak suka melihat mu tidak mengakui anak kita..." gumam nya lirih sembari memegang tangan gadis itu.
Ia tau sebentar lagi, pasti saudara kembar gadis itu akan datang, namun ia masih ingin melihat nya dengan lama.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, jujur saja ia mulai takut jika akan kembali ke titik semula.
Titik di mana semua mimpi buruk nya saat kehilangan gadis di depan nya.
Apa yang harus ku lakukan agar kau tidak pergi lagi?
Ia takut dan tidak tau harus berbuat apa, semua orang yang ia sayangi pergi meninggalkan nya dan pengalaman pahit itu hanya membuat nya tau cara membuat seseorang tinggal dengan nya jika berada dalam genggaman nya sepenuh nya.
Namun kali ini gadis di depan nya tak lagi bisa ia genggam, ia tau jika ia menggenggam nya dengan kuat seperti sebelum nya hanya akan membuat nya hancur.
Pria itu menarik napas nya, ia bangun dan beranjak dari duduk nya.
Cup!
Satu kecupan yang tertinggal di bibir gadis itu sebelum ia pergi, "Maaf..." bisik nya dan mengusap kepala gadis yang tertidur itu dengan sekilas.
....
Louis melihat ke arah sang adik, laporan yang di berikan pada nya mengatakan jika saudari kembar nya masuk ke dalam mobil seseorang dan kemudian mobil tersebut menuju rumah sakit.
Saat ia datang adik nya sudah berada di kamar perawatan, dan sudah terobati.
Ia tau dengan pasti tanpa melihat cctv untuk memastikan siapa yang membawa sang adik.
"Ck!" Louis berdecak, terlihat jelas bekas kemerahan di leher adik nya.
"Siapa yang buat ini? Dia atau Zayn?" gumam nya kesal.
Louis tak akan kesal atau marah jika ruangan adik nya yang membuat tanda seperti, karna ia juga bukan seseorang yang terlalu kaku ataupun ketat namun lain hal nya jika pria yang sudah 'merusak' sang adik yang membuat nya.
Sebelum nya Louise masih pergi dengan tunangan nya dan saat kembali ia pergi lagi ke klinik hewan dan kemudian bertemu dengan James.
Tangan dan mata gadis itu mulai bergerak pelan, Louis langsung menggenggam nya dan menatap nya.
"Louise?" panggilan yang langsung keluar ketika mata sang adik perlahan terbuka.
Louise masih tak mengatakan apapun, pandangan nya masih kabur tak bisa melihat dengan jelas dan masih memproses pikiran nya sedang di mana ia saat ini.
Mata nya mengernyit begitu melihat sang kakak, "Louis?" panggil nya lirih.
"Iya, ini aku." jawab pria itu dengan cepat.
Louise masih terdiam sejenak, membiarkan otak nya memproses lebih dulu karna baru saja bangun dari pingsan nya.
"Kita dimana?" tanya nya setelah mengumpulkan kembali 'nyawa' nya dengan utuh.
"Rumah sakit," jawab Louis singkat.
Gadis itu mengernyit mendengar nya, untuk apa ke rumah sakit? Dan kenapa ia bisa ada di rumah sakit?
"Kenapa?" tanya nya dengan bingung.
"Bukan nya aku yang harus nya tanya, lagi pula kenapa kau naik mobil orang lain sembarangan?" Louis langsung bertanya dengan nada mengomel pad sang adik.
"Naik mobil orang lain? Aku? Kapan?" tanya Louise mengulang.
Yang ia ingat ia baru saja kembali pergi bersama tunangan nya dan saat ia pulang ke rumah ia melihat gadis kecil yang mengaku sebagai putri nya itu memotong ekor peliharaan nya dan ia pun pergi lagi ke klinik hewan setelah itu kembali.
Percakapan ataupun pria yang ia temui sebelum nya terhapus ketika potongan memori nya datang sejenak.
"James, kau mengenal nama itu kan?" tanya Louis seakan tengah mengintrogasi sang adik.
Ia tau adik nya pasti pernah bertemu dengan pria itu beberapa kali dan tentu setidaknya sang adik sudah mengetahui nama nya.
"Ya," jawaban singkat sembari menoleh ke arah lain, "Kau kenal dia? Dia teman mu?" tanya Louise lagi karna ia memang tidak tau apapun tentang pria itu.
"Bukan, dia musuh ku. Orang yang paling ku benci!" jawab Louis dengan tajam.
Alasan ia sangat membenci pria itu hanya satu! Bukan karna pria itu yang berusaha membunuh nya namun karna pria itu adalah seseorang yang melukai dan menyakiti adik kesayangan nya.
__ADS_1
"Kenapa marah sekali? Aku kan cuma tanya..." ucap Louise lirih saat melihat reaksi sang kakak.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau tadi pergi dengan nya kan?" tanya Louis mengulang.
Louise mengernyit, jujur saja ia tak ingat jika bertemu pria itu hari ini berbeda hal nya dengan hari-hari sebelumnya.
Ingatan yang mensortir memori buruk dan menghapus nya sebelum kembali menyakiti nya.
"Tidak ada," jawab nya dengan jujur menatap sang kakak.
"Jangan pura-pura," Louis kembali menekankan ucapan nya.
Louise memutar mata nya mencoba mengingat apakah ia melupakan sesuatu namun ia memang tak mengingat apapun tentang pria itu.
"Oh iya!" seru nya seketika.
Louis langsung melihat ke arah nya berharap sang adik akan mengetakan sesuatu.
"Jelly mana?" tanya nya seketika yang malah mengingat kucing nya.
"Jelly? Kucing mu?" tanya Louis mengernyit.
Satu anggukan terlihat di wajah sang adik memang seperti tak tau apapun itu.
"Tidak tau, dari aku datang kucing itu sudah tidak ada." jawab Louis yang menghela napas nya.
"Loh? Tapi..."
"Kenapa aku di sini?" sambung nya yang baru teringat mengapa ia di rumah sakit.
"Kau kelelahan," jawab Louis singkat dan mengelak mengatakan hal lain.
"Aku akan pindahkan kau JBS jadi lakukan perawatan selama dua hari," sambung nya yang menjelaskan akan memindahkan sang adik ke rumah sakit nya milik nya.
"Tapi aku tidak sakit tuh," jawab Louise langsung.
"Sakit, jangan mengelak terus!" omel pria itu pada sang adik.
Louise mengernyit, ia menatap kesal sang kakak yang selalu saja bersikap berlebihan akan dirinya.
......................
Kediaman Rai
Air yang meluncur dalam setiap tembakan nya membuat nya tertawa.
"Piuw! Piuw nya beda kayak punya Daddy tapi selu! Hihi!" ucap Bianca tertawa.
Pistol air yang baru saja ia dapatkan membuat nya tertawa, walupun tak sama namun memberi kesenangan yang sama dan yang paling penting tak berbahaya karna bukan pistol asli.
Zayn tersenyum ia tak tau pistol apa yang dimaksud oleh anak kecil di depan nya tapi pistol apa lagi yang paling menyenangkan selain pistol air?
"Imut banget sih? Anak siapa kamu?" tanya Zayn dengan gemas sembari mencubit pipi gadis kecil itu.
Wajah yang mirip dengan gadis yang ia cintai dan sikap yang menggemaskan seperti boneka tentu membuat nya ingin mencubit nya.
"Hihi!" Bianca tertawa, seluruh tubuhnya basah apalagi tadi ia yang baru saja masuk ke dalam kolam renang walaupun langsung diangkat oleh Zayn karna takut tenggelam.
"Sudah yah? Nanti sakit," ucap Zayn sembari mengambil pistol mainan yang di pegang oleh tangan mungil itu.
"Sekalang kita cali Daddy?" tanya Bianca yang kembali membicarakan sang ayah.
"Cari Daddy nya nanti sekarang kita mandi dulu," jawab Zayn sembari membawa gadis kecil yang menggemaskan itu untuk mandi dan mengganti pakaian nya.
"Paman mau kemana?" tanya nya dengan mata bulat nya melihat ke arah pria yang beranjak pergi setelah memberikan nya pada pelayan.
"Bianca kan mau mandi," ucap Zayn yang memberikan gadis kecil itu pada pelayan untuk di mandikan kembali dan ia juga perlu mengganti pakaian nya.
"Gak pelgi kan?" tanya Bianca mengulang dengan wajah polos nya.
Anak kecil yang memang cenderung menyukai hal-hal yang membuat nya tertarik, berbeda dengan sang ayah yang tidak peka dan kaku pria di depan nya begitu cerah dan tentu nya lebih peka di bandingkan sang ayah.
Namun walaupun begitu sang ayah tetap nomor satu di hati nya.
Gadis itu kini kembali dengan pakaian berbeda dan tentu kali ini tak lagi menangis seperti sebelumnya.
Mata coklat itu menoleh ke arah televisi yang masih berbunyi, menampilkan serangkaian berita gosip tentang pernikahan selebritis.
"Nikah itu apa?" tanya nya dengan polos sembari menoleh ke arah pria di samping nya.
"Kita ganti saluran nya yah?" tanya Zayn yang mengganti saluran tv tersebut dengan kartun.
__ADS_1
"Hum? Nikah itu ganti salulan?" tanya nya mengulang dengan mata polos yang penasaran.
"Bukan, gimana jelasin nya?" gumam Zayn yang bingung.
Memang sejak awal saat suara gadis kecil itu terkumpul begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut kecil itu.
"Menikah itu artinya hidup dengan orang yang kita cintai," jawab pria itu pada gadis kecil yang terlihat penasaran itu.
"Cinta itu apa?" tanya Bianca lagi dengan pertanyaan yang beranak cucu.
"Suka? Suka atau sayang," jawab Zayn yang juga bingung bagaimana mendeskripsikan cinta yang memiliki banyak arti.
"Kalau gitu Bian nanti mau nikahin Daddy, nikahin Mommy, nikahin kak Al telus nikahin paman Uwis, telus nikahin paman Nil, nikahin paman Iko, abis itu mau nikahin siapa lagi yah?" ucap nya yang mencari siapa lagi target yang akan ia nikahi.
Karna pria di depan nya menjawab jika menikah artinya 'bersama' tentu ia mengatakan siapa saja orang-orang yang ia sukai untuk tinggal bersama dengan nya.
"Eh? Kenapa banyak sekali?" tanya Zayn yang bingung mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Oh iya! Sama nikahin paman deh! Hihi!" sambung nya dengan polos dan tawa riang.
Pikiran kecil dan otak polos nya masih belum mampu mencerna semua arti dan mengartikan nya sesuai dengan bayangan yang ada di kepala nya.
Zayn tak jadi mengatakan apapun, tawa riang menggemaskan gadis kecil itu mengingatkan pada seseorang yang sangat ia cintai.
"Iya, semua nanti Asya nikahin." jawab nya terkekeh yang membiarkan gadis kecil itu tenggelam dalam cerita nya sendiri karna ia tau saat besar nanti pun gadis kecil itu akan tau apa arti menikah.
"Hihi!" tawa kecil itu terdengar.
Ia melupakan sejenak tentang kesedihan nya saat sang ibu meninggalkan nya. Namun tentu apa yang di lakukan sang ibu juga membekas dan memberikan noda hitam di hati kecil nya.
......................
Mansion Dachinko
James kembali membawa pulang putri nya, walaupun ia sudah menyiapkan banyak pengawal jika saja Louis tak mau memberikn nya namun semua berjalan begitu mudah.
Bianca yang melihat sang ayah langsung berteriak dan berlari dengan cepat untuk memeluk pria tegap itu.
Louis pun mau tak mau membiarkan keponakan kecil nya itu untuk di ambil karna sudah terlanjur melihat ayah nya. Karna jika memaksa untuk memisahkan nya akan berdampak buruk bagi pandangan Bianca.
"Daddy?" panggil Bianca tersenyum sembari terus melekat dalam gendongan sang ayah seperti lem.
Ia merindukan 'bau ayah' yang tak ia cium dalam dua hari satu malam itu.
"Bian senang sama Mommy?" tanya James sembari mencium pipi putri nya.
Senyuman cerah itu berganti lesu dan sendu, "Mommy malah sama Bian..."
"Suala nya kelas banget..." adu nya pada sang ayah, "Telus Mommy bilang kalau Bian anak nakal..." sambung nya yang masih belum selesai.
"Kenapa?" tanya James sembari melihat ke arah putri cantik nya.
"Kalna miaw..." jawab Bianca lirih.
Pria itu pun kembali mendekap nya, mengusap punggung mungil itu dengan lembut.
"Bian gak nakal, miaw nya yang nakal..." ucap nya lirih yang tentu selalu membela putri nya walau apapun yang di lakukan.
...
Pagi hari nya.
Arnold menatap kesal ke arah gadis kecil itu, padahal ia sudah suka saat adik angkat nya itu tak kembali namun kini kembali lagi dan mengambil semua perhatian sang ayah.
"Daddy?" panggil Bianca menatap sang ayah yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulut nya.
"Hm?"
"Bian mau bilang..." ucap Bianca sembari meletakkan sendok nya.
"Bilang apa?" tanya James pada putri kecil nya yang tak melanjutkan kalimat nya.
"Bian mau nikah! Hihi!" ucap nya dengan tawa kecil.
James langsung menghentikan makan nya, jujur saja diantara semua perkataan ambigu putri kecil nya, ucapan kali ini yang paling membuat nya ingin tertawa
Tau apa anak berumur tiga tahun tentang pernikahan.
"Nikah? Sama siapa? Bian ada masih suka pipis di tempat tidur," ucap nya nya dengan senyuman yang kecil yang ingin tertawa.
"Huh! Tadi Bian mau nikah sama Daddy juga tapi gak jadi!"
__ADS_1
"Daddy nyebelin!" sambung nya dengan kesal dan wajah marah.