(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Maybe I just miss her body


__ADS_3

5 Tahun yang lalu.


Flashback on.


Aroma latte yang hangat dengan pewarna bibir yang berwarna merah baru saja di poles dan memberikan warna cerah serta rasa manis nya.


"Dia masih lama?" gumam wanita itu sembari melihat arloji di tangan nya.


Ponsel nya berderit menandakan sebuah pesan yang datang pada nya.


Ia membaca nya dan senyuman nya perlahan memudar.


"Mereka tidak jadi datang?" gumam nya lirih sembari memanyunkan bibir nya.


Ia sudah saling janji dengan teman-teman nya jika akan keluar bersama, namun satu persatu teman nya melanggar janji.


Karna tak ada lagi yang ia tunggu, ia pun memilih untuk kembali, namun langkah nya terhenti saat ingin keluar dari cafetaria tersebut.


Ia mengernyit melihat mobil mewah berwarna hitam yang berhenti di depan nya, kaca mobil tersebut pun turun dan menampilkan sosok pengemudi nya.


Wanita itu mengenal siapa yang berada di dalam nya, ia tau karna itu adalah pria yang sama dengan orang yang biasa di temui sang ayah.


"Mau kembali?" sapa pria itu dengan senyuman nya.


Ia tak tau dan masih tak mengetahui apapun, perusahaan yang di pegang oleh ayah dan kakak nya sedang ia hanya menggunakan uang saja.


"Tidak, aku bisa panggil taksi." jawab wanita itu tersenyum.


Pria itu masih berusaha meyakinkan hingga membuat wanita yang awal nya berdiri di depan pintu mobil nya masuk ke dalam.


Wanita yang bahkan masih belum mengetahui apapun tentang dendam ataupun ambisi menghancurkan seseorang itu berpikir jika dunia akan sama seperti pola pikir nya.


Setelah masuk ke dalam mobil, aroma lavender mulai tercium lembut memenuhi hidung wanita itu, perlahan kantuk pun mulai ikut datang pada nya.


Smirk terlihat di wajah pria itu dan ia pun mulai membawa nya pada kehancuran pertama yang menimbulkan setitik hitam di hati wanita itu.


...


Mata wanita itu perlahan terbuka, ia tak tau berada di mana, namun yang jelas nya ia tengah berada di dalam sebuah kamar.


"Sudah bangun? Padahal aku hanya memberi sedikit uap bius tapi lama sekali sadar nya," ucap pria itu sembari mengesap cerutu di tangan nya.


"Kenapa aku di sini?" tanya nya lirih dan langsung bangun dari atas ranjang tersebut.


"Kenapa kau percaya saja pada ku? Kau tidak tau? Kalau aku akan menghancurkan perusahaan ayah mu?" tanya nya dengan smirk nya.


Mata wanita itu membulat, ia tersentak dan mencari tas nya untuk mengambil ponsel namun ia tak menemukan apapun.


"Kau cari ponsel mu?" tanya pria itu dengan smirk nya.


"Ma-mau apa kau?" bibir wanita itu bergetar ia segera ingin lari namun tak bisa saat ia tercegat.


Bruk!


Tubuh nya di seret dan di lempar di atas rajang yang empuk, ia pun segera melindungi perut nya.


Walaupun jatuh di atas tempat yang lembut tetap saja ia takut jika sesuatu terjadi pada kandungan nya.


"Kalau aku menyentuh mu, dia pasti akan menangis sedih kan?" tanya nya dengan wajah mentertawakan.


Wanita itu mengernyit, ia tak tau apa yang di maksud namun, rasa takut mulai menyelimuti nya.


"Ja-jangan lalukan apapun! A-aku akan melaporkan mu!" ucap nya terbata dan berusaha bangun saat kedua tangan nya sudah di genggam erat.


Tak ada jawaban hanya seutas smirk yang terlihat, "Seharusnya kau menyalahkan nya saja, dia yang membuat semua penderitaan mu."


"Apa maksud mu? Lepas! Aku tidak tau apapun!" ucap wanita itu memberontak dengan suara gemetar.


Plak!


"Kau tau segala nya! Tapi bersikap seperti wanita polos?! Kau dan pacar mu itu sama saja!" bentak nya dengan penuh amarah.


Pipi nya memerah seketika, ia tersentak namun ia lebih berpikir untuk pergi.


Sreg!


Pakaian nya di tarik dengan paksa, tubuh nya menggeliat berusaha melawan dan meloloskan diri.


Plak!


"Kau tidak bisa tenang? Ha?" bentak pria itu sembari menarik rambut panjang wanita yang tengah bersama nya saat ini.


"Le-lepaskan aku..." ucap nya lirih dengan air mata yang mulai terjatuh.


Pakaian nya perlahan di lucuti dengan paksa hingga tak tersisa, saat ia memberontak berusaha melepaskan diri nya, ia akan mendapat pukulan hingga membuat tubuh nya memar.


Satu jam kemudian.


Tangisan terdengar lirih di kamar besar itu, wanita yang menutup dirinya yang penuh dengan bekas kecupan serta lebam memburu menggunakan selimut terus memeluk perut nya yang belum membuncit.


Pria itu berjalan tanpa merasa bersalah, ia kembali membuka tas yang tadinya di gunakan wanita itu dan melihat foto hasil USG yang tadi nya di ambil.


"Kau hamil?" tanya pria itu mengernyit sembari melihat foto hasil USG nya.


Wanita itu tersentak, ia tadi memang dari rumah sakit untuk mengambil foto hasil USG dan memberikan nya pada kekasih nya karna pria tampan itu selalu memberikan senyuman hangat setiap kali ia memberi tau tentang perkembangan anak mereka di janin nya.


Tak ada jawaban sama sekali, "Jawab! Dasar j*lang!"


Wanita itu menggeleng, tubuh nya bergetar hebat menatap pria yang baru saja menodai nya.


"Tidak mau jawab?!" bentak pria itu sembari menghampiri dan menarik rambut nya dengan kasar.


Bruk!


Tubuh polos itu tersungkur ke lantai dengan selimut yang sekalian terbawa di tangan nya.

__ADS_1


Mata yang menelisik hingga melihat salah satu alat olahraga nya yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


"A-apa yang mau kau lakukan?" tanya nya bergetar.


Bugh!


Akh!


Teriakan keras di ikuti dengan suara yang keras bersamaan muncul, wanita itu berteriak histeris saat barbel berat itu di hantamkan ke perut nya.


Air mata nya meleleh, ia pun menangis dan meringis menahan sakit yang teramat sangat.


Cairan merah kental mulai keluar mengaliri paha nya.


Bugh!


Satu pukulan keras lagi menghantam perut nya hingga membuat nya semakin mengeluarkan lebih banyak darah.


Tangisan nya tak berhenti, ia semakin berteriak di setiap pukulan hebat di perut nya dengan alat melatih otot itu hingga kesadaran nya hilang.


"Belum sampai sini, kau akan mengkhianati nya..." ucap pria itu sembari membuang barbel yang berada di tangan nya dan melihat ke arah wajah pucat yang tak sadarkan diri tersebut.


Flashback off.


......................


Kediaman Rai.


Louise membalik tubuh nya tak bisa tidur sama sekali, ucapan dan tatapan yang tadi ia lihat sangat menganggu nya.


"Aku harus bilang apa sama dia?" ucap nya lirih.


Ia tak bisa memberikan jawaban atas permintaan sahabat tampan nya.


Ia hanya takut saat hubungan mereka nantinya retak maka tak ada satupun yang bisa di pegang lagi bahkan untuk persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun.


Ia memang harus memikirkan anak nya kelak, namun ia juga tak ingin membuat sahabat nya terjebak dengan diri nya yang bahkan mungkin tidak pantas untuk mendapatkan rasa cinta yang sebesar itu.


"Sudahlah, besok pikirkan lagi." ucap nya yang berusaha menepis pikiran buruk nya.


......................


Apart Sky Blue.


Zayn terdiam sejenak, ia membuang napas nya berulang kali, setelah ia mengatakan apa yang di pikiran nya gadis itu tak menjawab dah lebih memilih diam.


Ia takut dan bahkan sangat takut jika gadis itu menjauhi nya atau bahkan enggan berteman lagi dengan nya.


"Astaga! Bodoh sekali sih?! Kalau dia marah bagaimana?" gumam nya yang takut jika gadis cantik merasa risih dan tak suka dengan ucapan nya.


"Seharusnya melihat nya saja sudah cukup! Kenapa sekarang jadi serakah?" umpat nya yang terus memarahi dirinya sendiri.


......................


4 hari kemudian.


Louise mengernyit ia melihat data di depan nya, "Dia tidak mungkin mengambil ini tanpa alasan kan? Orang seperti nya?"


"Kenapa?" tanya Zayn sembari melihat wajah gadis di depan nya.


Ia berulang kali mencuri lirikan ke arah wajah cantik itu, Louise bersikap seperti tak terjadi apapun saat mereka bertemu kembali, entah untuk mengusir rasa canggung atau agar membuat suasana menjadi tak beku.


"Bangunan kosong di atas tanah seperti itu, kenapa dia menginginkan nya?" tanya Louise mengernyit.


"Entahlah, mungkin memang memiliki sesuatu, apa harta tersembunyi?" tanya pria itu yang mendekat ke arah monitor dan berada di samping wajah gadis cantik itu.


"Dia tidak akan bersikap konyol seperti itu," ucap Louise mengernyit.


Pria yang suka uang dan selalu menghitung untung rugi tak mungkin menyia-nyiakan sesuatu yang besar di tempat yang statis.


"Aku akan lakukan peninjauan, lagi pula ini tanah yang belum di beli nya kan? Kalau menemukan sesuatu kita juga harus dapatkan tanah ini." ucap Louise sembari bergegas.


"Mau ku temani?" tanya Zayn pada gadis itu.


"Tidak perlu, kau urus rapat dengan direktur Cero grup saja." jawab Louise sembari mengambil tas nya.


....


Tanah kosong yang lebar dengan satu bangunan terbengkalai di atas nya membuat seakan tak terlihat bernilai sama sekali.


"Untuk apa dia ingin membeli tangah di sini?" gumam nya sembari melihat ke arah sekeliling dan masuk ke dalam bangunan tersebut.


Ia berusaha menemukan alasan nya, bahkan melihat apakah tempat itu akan menjadi sesuatu yang lain di kemudian hari.


Sedangkan di sisi lain nya, sebuah mobil datang dan memarkirkan di dekat tempat tersebut.


"Hanya tinggal tanah ini kan?" ucap nya lirih sembari keluar dari mobil nya.


Ia sengaja membeli semua tanah yang dekat dengan tempat yang nanti nya akan di bangun perumahan kota.


Walaupun ini masih bocoran yang akan datang untuk lima tahun ke depan namun ia juga harus mengambil tempat nya lebih dulu sebagai timbunan untuk kekayaaan dan kekuasaan nya.


Ia berjalan masuk ke dalam, mata nya tak melihat adanya mobil lain karna ia memarkir di tempat yang berbeda hingga langkah nya terhenti sejenak.


Iris nya menatap lurus, ke depan ke arah gadis yang berdiri tepat di depan nya juga.


Louise terkunci sejenak, namun ia pun berjalan melewati tanpa bersikap pernah mengenal sebelum nya.


"Aku tidak tau kalau kau bisa datang ke tempat seperti ini juga," ucap pria itu membuka suara.


Gadis itu membuang napas nya, ia memilih tak meladeni ucapan pria yang saat ini berada tak jauh dengan nya.


"Sekarang kau pacaran dengan nya? Padahal dulu kalian menyangkal nya kan?" tanya pria itu dengan senyuman yang tak bisa di artikan.


Walaupun hubungan mereka telah berakhir namun ia masih saja tak bisa sepenuhnya lepas dan tak lagi berhenti penasaran tentang hidup gadis itu bahkan ia juga sampai tau kemana gadis itu pergi dengan sahabat pria nya.

__ADS_1


"Bukan urusan mu kan? Kau sendiri dulu juga bilang kalau tidak akan kembali ke awal yang sama kan? Tapi ku rasa kau menelan kembali ucapan mu," ucap Louise yang tak tahan ingin menjawab nya.


Hanya anggukan kecil yang tampak tak begitu peduli, ia pun berjalan mendekat ke arah gadis itu hingga membuat kaki jenjang itu memundur.


"Apa?! Kau mau mendorong ku dari sini?" tanya Louise tersentak saat melihat pria itu mendekat ke arah nya.


"Menurut mu?" tanya pria itu tersenyum simpul.


"Lalu kau mau membunuh ku?" Mata gadis itu membulat sempurna, tangan nya menggenggam erat tas nya dan ingin langsung memukul.


"Benar juga, di sini hanya ada kita berdua, tempat nya jauh dari keramaian dan lagi tak ada saksi mata kalau aku membunuh mu kan?" tanya James sembari melirik ke arah tangan gadis itu.


"Aku yang mengajari mu bela diri, jadi aku tau pola pukulan mu, itu tidak akan berhasil pada ku," sambung nya dengan tawa kecil.


Louise mengambil napas nya, dan memilih berbaik ingin pergi tanpa membalas sepatah kata dari pria itu.


"Di sini banyak tikus," ucap James saat gadis itu ingin pergi.


"Bukan urusan mu," jawab Louise singkat dan ingin segera pergi.


James hanya melihat dan ia pun juga berbalik kearah lain tanpa menanyakan tujuan dari gadis itu datang.


Namun,


Ciit..ciit...


Deg!


Sial! Tikus nya sungguh datang?!


Gumam nya terkejut, gadis yang di besarkan di keluarga kaya tentu nya tak bisa melihat hal yang seperti itu.


Walaupun mungkin saat ia praktek akan memakai tikus namun berbeda dengan tikus kotor yang ia temui di tempat yang juga kotor seperti itu.


Ia berusaha tenang dan berjalan melewati tikus besar yang berjalan cepat tanpa arah.


"Akh!" pekik nya terkejut saat tikus tersebut bukan nya ke arah lain melainkan ke arah nya.


Ia tersentak dan secara refleks berbalik ke arah pria itu, tak ada siapapun di sana sehingga hanya pria itu lah yang bisa membantu nya.


Greb!


James terkejut, ia hampir jatuh tumbang saat punggung nya tiba-tiba menerima beban seketika.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya terkejut sembari berusaha menurunkan gadis yang secara refleks naik ke punggung nya karna di kejar tikus.


"Tikus," ucap nya singkat yang terdengar lirih di telinga pria itu.


Mata James melihat ke arah tikus besar yang datang, ia pun mengernyit dan...


Set!


Bagai menendang bola yang datang pada nya, kaki nya langsung menendang tikus besar tersebut hingga lari ke arah lain.


"Sudah, sekarang turun." ucap pria itu pada gadis yang menempel di punggung nya.


Louise yang terkejut pun tadi nya langsung berlari ke arah pria yang tak jauh dari nya dan tanpa sadar naik ke punggung pria itu secara refleks.


Merasakan gadis itu yang berangsur turun, James pun merasakan sedikit sesuatu yang mengganjal, ia ingin lebih lama lagi mencium aroma yang melekat di tubuh gadis itu saat berdekatan dengan nya.


"Tikus nya datang lagi!" ucap nya yang tanpa sadar mengucapkan hal yang sebenarnya tak ada.


Louise tersentak, tangan nya tak jadi berangsur turun dan tanpa sadar mencakar leher pria itu karna tiba-tiba kembali naik.


"Mana?" tanya nya sembari melihat ke arah lantai, "Tidak ada?"


Ia pun turun segera dan merapikan pakaian kusut nya.


"Kau membenci ku tapi naik ke punggung ku?" tanya pria itu dengan dengan tawa seringai nya pada gadis yang terlihat raut kesal nya itu.


"Kalau ada orang lain di sini pasti bukan kau!" ucap Louise berdecak dan segara beranjak pergi keluar sebelum ada tikus yang lain nya.


Ia ingin segera menyembunyikan wajah nya yang merasa malu karna gerak refleks nya yang berlari ke arah pria itu tanpa sadar.


"Si*l! Kenapa harus ada tikus?!" decak nya kesal.


James melihat gadis itu yang segera pergi dari tempat mereka berdiri.


...


Bam!


Pria itu menutup pintu mobil nya, ia menyandarkan kepala nya di bangku mobil mewah nya itu.


Mata nya memejam, entah kenapa walaupun sekilas ia mengingat jelas aroma tubuh yang tadi sempat kembali tercium pada nya.


Tangan nya mengusap rambut nya, dan kini ia mulai merasakan sedikit perih di leher nya, ia pun memutar kaca dan melihat ke arah leher nya.


Bekas cakaran merah yang tercetak di leher putih nya, membuat nya menyentuh perlahan.


Ia tau dari mana bekas cakaran itu berasal, sejenak terbesit siluet tentang adegan panas nya yang dulu ia lakukan.


Beberapa kali sering gadis itu mencakar punggung atau leher nya tanpa sadar saat mereka berhubungan ataupun tengah beradu satu sama lain.


Aroma lembut bagai bunga serta cakaran yang membuat pikiran nya melayang ke arah lain tanpa bisa ia kontrol atau kendalikan.


"Apa yang baru saja ku pikirkan?!" gumam nya yang merasa kesal karna memikirkan permainan panas nya dengan gadis itu secara tiba-tiba.


"Maybe, I just miss her body..." gumam nya yang hanya ingin mempercayai apa yang ingin ia percayai dan menolak perasaan nya sendiri.


...****************...



Xavier Haider Dachinko / Athan James Dachinko

__ADS_1



Elouise Steinfeld Rai


__ADS_2