
Mansion Dachinko
Nick menatap ke arah tuan nya yang terlihat diam dalam beberapa hari ini.
"Tuan? Ada yang mengganggu tuan?" tanya nya sembari melangkah mendekat ke arah pria yang berdiri di depan jendela besar itu sembari memperhatikan putri nya yang tengah bermain di taman.
James diam sejenak, ia menarik napas nya dan mulai membuka mulut nya, "Menurut mu apa ingatan nya lebih baik kembali atau tidak?"
Nick langsung tau siapa yang di maksud oleh tuan nya, "Saya rasa lebih baik anda membuat nona menyukai anda lagi dari pada membuat nya kembali ingat." jawab nya lirih.
"Lalu Bianca?" tanya nya sembari memperhatikan putri kecil nya yang sudah mengambil alih setengah hidup nya.
"Memang sedikit aneh jika anda mengatakan 'seorang gadis' memiliki anak padahal dia tidak mengingat anda sama sekali, jadi saran saya jangan membahas nona Bianca untuk saat ini," jawab nya pada tuan nya.
"Kau bicara seperti baik-baik saja, padahal kau juga menyukai nya." balas pria itu dengan suara lirih di tarikan napas nya.
Nick diam tak lagi menjawab, ia tak bisa membantah jika tuan nya mengatakan demikian.
"Apa dia keluar hari ini?" tanya James membuka suara lagi stelah semua nya hening sejenak.
"Ya, tuan ingin menemui nona?" tanya Nick pada tuan nya.
"Hm," satu deheman yang menjadi jawaban dari pria itu.
......................
JBS Hospital
"Apa? Coba ulangi!" Zayn terkejut mendengar apa yang baru saja masuk ke dalam telinga nya.
"Dia anak Louise," jawab Louis mengulang.
Teman nya itu bertanya tentang siapa anak kecil yang tinggal di kediaman nya hari itu dan tentu ia menjawab dengan sejujurnya.
"Kenapa? Kau jadi mau membatalkan pernikahan mu?" tanya Louis mengulang.
"Bukan, tapi..." kali ini Zayn tau jika tunangan nya pasti sudah bertemu dengan pria itu lagi.
Dan ia yang juga tau sebanyak apa tunangan nya itu mencintai pria yang menyakiti nya itu.
"Setelah pernikahan kalian kembali ke Kanada," ucap Louis sembari memijat pelipis nya.
"Louise tidak akan mau untuk pindah lagi," balas Zayn yang sudah mengenal dengan pasti sikap tunangan nya itu.
"Kalau begitu pak-"
"Kalau di paksa dia pasti akan kabur, kau mau merantai adik mu sendiri?" tanya Zayn sembari menatap ke arah pria yang duduk di meja nya itu.
"Entah lah..." Louis membuang napas nya dengan kasar.
Ia tak tau apa lagi yang harus ia lakukan, untuk membuat pria itu menjauhi adik nya.
"Sekarang Louise kemana?" tanya Zayn sembari menatap ke arah pria itu.
"Katanya dia mau coba naik kreta api," jawab Louis singkat.
"Apa itu akan baik-baik saja?" tanya Zayn yang merasa risau.
"Hm," hanya jawaban singkat yang di berikan.
Karna Louis sudah memberikan penjaga untuk adik nya saat berpergian maka dari itu rasa khawatir nya bisa sedikit berkurang.
......................
Pengalaman pertama gadis itu menaiki kreta api tak seperti yang ia bayangkan, memang ia yang memilih untuk memasuki kreta api umum dan tentu dengan konsekuensi akan ramai.
Louise berdiri di dekat pintu sembari memainkan ponsel nya, jaket yang tebal dan berbulu itu pun ia pakai karna omelan sang kakak yang terus mengatakan jika ia akan flu saat tidak memakai jaket padahal ia merasa ia tak akan jatuh sakit semudah itu.
Fokus dengan ponsel nya sampai membuat gadis itu tak lagi memperhatikan sekitar nya, rasa berayun di kaki nya yang membuat nya seperti berada di atas kapan dengan jalan lurus tanpa ombak.
Pemberhentian kedua di mulai, kreta api akan berhenti dan secara otomatis pintu-pintu tersebut akan terbuka.
"Bukan nya kau harus turun?"
Louise tersentak, ponsel yang berada di tangan nya hampir terjatuh saat ia terkejut.
"Kau?" wajah nya mengernyit, bagaimana mungkin ia kembali bertemu dengan pria itu lagi.
Walaupun ia tak ingat dengan pertemuan terakhir nya saat berada di klinik hewan.
"Kau senang melihat wajah ku?" tanya James dengan smirk nya.
"Tidak, sudah ku bilang kan kalau kau jelek." jawab Louise sembari melangkah keluar.
Pria itu pun tentu mengikuti nya, menyamakan langkah nya agar tetap berjalan di samping nya.
"Aku jelek?" tanya James mengulang sembari memotong langkah Louise agar membuat gadis itu berhenti.
"Ya, sekarang minggir." ucap nya dengan ketus.
"Sungguh? Coba lihat lagi," ucap nya sembari membungkukkan dirinya agar wajah nya tepat di depan gadis itu.
"Iya! Maka nya kau ming-"
Ucapan nya terpotong, memang kalau sesuai dengan tipe nya wajah pria itu masuk ke dalam selera nya namun tentu ia tak akan mengatakan nya karna ia sudah memiliki seseorang yang terikat dengan nya.
"Aku tampan kan?" tanya James dengan tersenyum sembari menatap ke arah gadis itu.
Louise menatap kesal dan mengambil sisi lain nya untuk bisa ia lewati.
__ADS_1
Greb!
James menahan tangan gadis itu, saat mata gadis itu tak melihat nya wajah nya tampak datar dan dingin seperti es yang baru saja membeku.
"Lepas," Louise berusaha menepis nya.
Ia sudah memiliki tunangan dan lagi pria itu terus mendekati nya sembari membawa anak kecil yang mengaku sebagai putri nya.
"Aku akan menikah dan kau sekarang mungkin akan menganggu wanita yang memiliki pasangan." ucap nya yang berusaha membuat pria itu melepaskan tangan nya.
"Kalau begitu aku bisa jadi kekasih mu kan? Kau bisa tetap menikah dan memiliki suami lalu juga menyimpan ku secara bersamaan." ucap nya dengan tersenyum.
Louise membeku, lagi-lagi senyuman pria itu membuat nya takut. Walaupun tersenyum namun hawa yang di berikan terasa begitu dingin.
"Lalu kau mau menjadi simpanan? Kau gila?" tanya nya dengan menatap tak percaya.
"Ya, kau membuat ku menjadi gila sekarang." James tersenyum namun suara yang ia berikan terasa begitu dingin.
Memang nya siapa yang mau berbagi wanita yang di cintai dengan pria lain?
"Kalau begitu kau mau ikut dengan ku? Kau pasti menyukai nya." ucap nya sembari menyeret tangan gadis itu dengan cepat.
Langkah cepat itu mulai berubah menjadi pelarian dan membuat Louise mau tak mau harus mengimbangi kecepatan nya agar tak terjungkal saat pria itu menarik nya.
"Tunggu! Kenapa lari?!" tanya nya dengan napas yang terengah-engah.
"Supaya mereka tidak bisa mengejar kita," jawab nya pria itu singkat yang terus menerus berlari dengan banyak belokan.
"Tunggu aku tidak sanggup la- Hukh!"
Ucapan nya terpotong, tubuh nya tertarik ke sisi yang berbeda sedangkan bibir nya di bekap dengan tangan yang terasa hangat itu.
"Sstt, kalau kau berisik aku akan mencium mu." bisik nya di telinga gadis itu sembari melihat ke arah dua pria yang mengikuti nya.
Cara menyusup dan bersembunyi ia adalah yang paling ahli karna hidup nya memang harus bisa melakukan nya agar ia tetap bernapas hingga sekarang.
Louise mengernyit, kenapa ia yang harus mengikuti ucapan pria itu?
Sedangkan yang sedang ia hindari adalah pengawal yang di berikan sang kakak.
Gadis itu membuka bibir nya, kepalan tangan besar pria itu menutup mulut nya namun tidak membekap nya dengan kuat sehingga memungkinkan nya untuk mengigit namun ternyata kenyataan tak sesuai ekspetasi.
Deg!
James langsung tersentak, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut di tangan nya, terlihat gadis itu yang berusaha mengigit namun malah tampak seperti menj*lat tangan nya dan berusaha mengigit jemari nya.
Tak ada sentuhan lain selain di tangan nya, namun tubuh nya menjadi begitu sensitif dengan pikiran yang tak bisa di jernihkan.
"Kau benar-benar gadis nakal," bisik nya dan kali ini tentu ia benar-benar mengecup bibir dengan polesan lipstick berwarna nude tersebut.
Humph!
Ya!
Lagi-lagi realita tak sejalan dengan ekspetasi nya. Tubuh nya berusaha mendorong pria itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
James membuka mata nya saat tengah mel*mat bibir lembut gadis itu, entah mengapa ia teringat dengan tatapan kosong yang pernah di berikan pada nya.
Tanpa sadar ia mengurangi sedikit keagresifan nya saat mencium bibir gadis itu, namun tetap saja ia melakukan deep kiss yang membuat gadis itu menelan saliva nya agar tetap bisa bernapas.
Hah...
Hah..
Louise menarik napas nya saat ciuman tersebut selesai dan tentu penjaga yang mengikuti mereka sudah tak ada lagi karna mencari di tempat yang berbeda.
"Jangan menggoda ku," bisik nya saat melepaskan ciuman nya.
Louise merasakan suara napas yang terasa berat dengan suara serak bariton yang seakan menahan sesuatu saat pria pria berbisik di telinga nya.
"Aku? Kapan?" tanya nya yang mana tau jika pria di depan nya kini begitu sensitif akan sentuhan nya walau tak sengaja.
...
Taman hiburan.
Iris hijau itu membesar saat pria di samping nya membawa nya ke tempat yang selama ini tak boleh ia kunjungi.
"Kau suka kan?" tanya James tersenyum.
Ia pernah pergi bersama gadis itu sebelum nya satu kali dan tentu gadis itu tak akan mengingat nya.
Louise tak menjawab namun ia memang senang, sesuatu yang tak bisa ia dapatkan jika berada dalam pengawasan sang kaka yang selalu khawatir pada nya tentu membuat nya penasaran akan semua hal.
"Aku mau naik itu," ucap nya sembari menunjuk ke arah salah satu wahana yang tinggi dan berputar di atas itu.
James tersenyum, bahkan pilihan pertama nya masih sama seperti saat pertama kali mengunjungi tempat itu.
"Kalau begitu kita akan kesana?" tanya nya sembari tak lupa mengambil kesempatan untuk menggenggam tangan gadis itu.
"Hum?" Louise masih memproses namun lagi-lagi pria itu sudah menarik nya dan membuat nya diam seperti terhipnotis.
Beberapa saat kemudian.
Kali ini suara tawa terdengar dari wajah cantik itu, permen kapas yang seperti awan besar pun sudah berada di tangan nya.
"Mau?" tanya nya menawarkan.
Lagi-lagi gadis itu bersikap seperti semula, James diam sejenak. Ia tersenyum kecil dan kemudian menunduk agar bisa memakai permen kapas yang sudah di sobek dan berada di tangan gadis itu.
Ukh!
__ADS_1
Louise tersentak, bukan hanya melahap habis permen kapas yang berada di tangan nya pria itu juga melahap jemari nya sekalian.
"Balasan karna kau tadi mengigit jari ku," ucap pria itu dengan smirk nya.
"Kau!" tentu Louise merasa kesal karna pria itu mengigit jemari nya.
James hanya tersenyum simpul, wajah marah yang terlihat sama persis dengan wajah putri nya. Ia melangkah mendekat dan menunduk ke arah telinga gadis itu.
"Love you," bisik nya singkat.
Kali ini ia ingin mengatakan sebanyak mungkin kalimat yang tak bisa ia ucapkan dulu.
Louise terdiam, mungkin jika anak remaja yang menerima pernyataan dan perlakuan tersebut akan merasa berdebar dan salah tingkah namun tidak dengan dirinya.
Setiap kali pria itu menyatakan kalimat tentang perasaan cinta nya entah mengapa membuat nya tak nyaman.
Bukan seperti terganggu namun rasa nya seperti ada yang menyiram hati nya dengan minyak panas, membuat nya meras sakit namun tak bisa ia jelaskan.
Tidak marah ataupun menolak namun hanya sakit, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan sama sekali.
"I don't," jawab nya singkat pada pertanyaan tersebut dan beranjak pergi.
James hanya tersenyum pahit, dulu gadis itu yang mengatakan kalimat tersebut dan ia tak pernah membalas nya kini semua nya berbanding terbalik.
"Tunggu aku," ucap nya yang mengikuti langkah gadis itu.
Walaupun tak mendapatkan balasan positif namun bukan berarti ia mau berhenti mengejar nya.
Kali ini aku bisa melakukan apapun asal kau tidak menghilang lagi
Langkah nya dengan cepat menyusul gadis itu, walaupun ia tak suka makanan manis namun ia suka mengganggu gadis yang bersama dengan nya saat ini.
Hap!
Louise tersentak, permen kapas nya langsung hilang setengah di curi oleh pria itu dan masuk sekaligus ke dalam mulut pria itu.
"Brengsek!" ucap nya kesal melihat ke arah permen kapas nya.
Sedangkan pria itu hanya tersenyum melihat nya, senyuman namun dengan tatapan yang masih saja tak bisa di baca.
......................
Mansion Dachinko
Bianca menoleh ke arah kucing yang ia ingat di gendong sang ibu waktu itu.
James memang membawa pulang kucing dengan ekor terpotong itu ke mansion nya karna tertinggal di mobil nya.
"Miaw nakal!" ucap Bianca begitu melihat ke arah kucing yang tidur di atas sofa tersebut.
Bentakan dan sikap sang ibu tentu nya berbekas di hati nya karna ia tak pernah mendapatkan perlakukan tesebut saat bersama dengan sang ayah.
"Ambilin pisau!" ucap nya yang menarik tangan salah satu pelayan yang lewat dan menyuruh nya.
Tatapan nya terlihat marah dan kesal pada kucing menggemaskan itu, ia berpikir semua salah kucing nakal itu karna membuat sang ibu memarahi nya.
Dan terlebih lagi sikap sang ibu yang lebih memilih menggendong seekor kucing di bandingkan membantu nya yang terjatuh membuat nya memiliki rasa dendam tersendiri pada hewan cantik itu.
"Tapi nona..." pelayan tersebut ragu dan membuat nona kecil itu tampak semakin kesal.
"Cepetan! Nanti aku bilang Daddy bial di pecat telus di hukum!" ucap nya yang tanpa sadar mengancam karna ia tau sang ayah akan tetap membela nya.
Pelayan tesebut pun menurut, siapa yang berani membantah pada putri kesayangan pria iblis itu?
Pisau yang tidak terlalu berat dan besar itu kini berada di tangan nya, Bianca kembali tersenyum dan mendekati kucing yang tengah tertidur pulas itu.
Tusk!
MIAAWW!!!
Suara raungan kucing cantik itu tentu terdengar dengan jelas. Bulu putih yang langsung berdarah saat pisau nya menembus dengan sofa yang ikut ternoda dengan darah yang sama namun gadis kecil menggemaskan itu malah tertawa.
"Miaw nakal! Gala-gala miaw!" ucap nya dengan kesal dan menusuk dengan membabi buta pada kucing malang yang bahkan tak lagi bisa lari itu.
"Hehe!"
...
James kembali, putra angkat nya masih belum pulang karna mengikuti les tambahan dan saat ia pulang tentu putri kesayangan nya yang menyambut nya.
"Daddy!" senyuman dan tawa cerah itu datang padanya.
Namun ia mengernyit, gadis itu tampak penuh dengan polesan darah dan membawa kepala kucing yang berada dalam genggaman nya.
"Ini miaw yang nakal Dad," ucap nya sembari memberikan kepala kucing tersebut pada sang ayah.
James tersentak, ia melihat kepala kucing peliharaan gadis nya sudah berada dalam genggaman tangan putri nya.
"Sekalang Mommy cuma bisa gendong Bian..." ucap nya dengan senyuman cerah dan mengharapkan pujian dari sang ayah.
Mana ia tau apa yang ia lakukan benar atau salah selagi sang ayah tak memarahi ataupun melarang nya maka hal tersebut berarti benar karna ia masih menganggap pria di depan nya nya itu adalah pusat dari dunia kecil nya.
James terdiam, awalnya ia ingin memarahi putri nya karna membunuh kucing peliharaan gadis nya tanpa izin lebih dulu dari nya.
Namun melihat senyuman cerah itu membuat hati nya luluh kembali.
"Iya, sekarang Mommy cuma mau gendong Bian aja..." ucap nya sembari mengusap kepala putri nya dan menggendong nya untuk memandikan nya.
"Hihi," Bianca tertawa dengan wajah polos nya.
Ia memang sedikit berbeda dari anak kecil pada umum nya karna juga memiliki pola asuh yang berbeda dari anak lain nya juga.
__ADS_1