
Prang!
Satu vas melayang, wanita itu begitu marah saat mendengar putra nya di kirim jauh dari dirinya walaupun sudah tak lagi memiliki hak asuh.
"Pasti dia yang suruh! Kenapa jal*ng itu tidak mati?!" ucap nya yang merasa geram sembari mengigit ujung ibu jari nya.
Ia merasa kesal dan teramat marah, yang ada di pikiran nya saat ini hanyalah menyalahkan seseorang yang awal nya sudah ia kira mati tapi ia melihat dengan mata kepala nya sendiri jika gadis itu masih hidup dan berdiri dengan tegak di depan nya.
"Aku harus bicara dengan nya!" ucap nya lirih yang ingin menemui mantan kekasih yang tak lagi bisa ia gapai.
......................
Mansion Dachinko
Langit yang sudah menggelap dan hanya memberikan cahaya bulan itu tak membuat gadis kecil dengan mata coklat dan rambut yang pekat kecoklatan itu tidur.
Bibir nya terus berceloteh tentang apa saja yang ia lakukan dan ia lihat, sedangkan sang ayah terus menepuk perut bulat nya dengan lembut agar putri kecil nya tidur.
James tersenyum, ini adalah pertama kali nya untuk semenjak pasca penculikan putri nya kembali banyak berbicara lagi.
"Daddy? Tapi Bian mau tanya deh," ucap nya yang kembali mengingat sesuatu yang terlupa karna ia sebelum nya masih terkurung dengan kenangan mengerikan nya.
"Mau tanya apa?" suara bariton yang rendah dan terdengar lebih lembut itu selalu membuat gadis kecil itu nyaman.
"Kak Al di mana?" tanya nya yang baru teringat dengan seseorang yang meninggalkan nya.
Tangan yang besar dan penuh dengan urat itu berhenti menepuk putri nya, ia melihat ke arah mata coklat yang masih terlihat sangat murni itu.
"Kenapa?" ucap nya yang balik bertanya karna ini adalah pertama kali nya juga gadis kecil itu mengucapkan nama itu setelah hari penculikan nya.
"Kak Al bohong, katanya mau kasih Bian pelmen kapas tapi sampai sekalang gak di kasih!" ucap nya yang kesal karna mengingat janji sang kakak.
Ia bahkan tak tau jika masalah terbesar nya bukan lah tidak memberi nya permen kapas melainkan meninggalkan nya sendirian.
"Kak Al bilang begitu?" tanya James yang mulai menepuk lembut kembali putri nya.
Bianca mengangguk, "Bian waktu itu lihat beluang lucu telus Bian gak tau jalan pulang, kak Al kasih Bian coklat tapi coklat nya juga habis telus waktu Bian mau makan loti Bian di tanya punya kuyang atau engga telus-"
"Sstt..."
"Iya, Daddy udah tau..." ucap nya yang memeluk tubuh mungil itu sebelum sempat menyelesaikan perkataan nya.
Jika di lanjutkan pasti putri kecil nya akan sampai di ingatan kejadian penculikan nya dan akan membuat keceriaan di mata coklat yang berbinar itu hilang lagi.
"Nanti Daddy yang bakal beli permen kapas buat Bian," ucap nya memeluk tubuh mungil itu.
"Kak Al? Daddy makan pelmen kapas yang di beliin kak Al yah?" tuduh nya dengan pikiran yang sederhana pada sang ayah.
"Kapan? Memang nya lihat? Hm?" tanya nya sembari mencubit hidung kecil putri nya.
Bianca tersenyum, jujur saja ia hari ini merasa sangat senang sampai lupa tentang seseorang yang memukuli dan hampir membunuh nya.
"Kak Al sekarang sekolah di tempat yang jauh, jadi mulai sekarang cuma ada Bian sama Daddy di sini..." ucap nya pada putri nya setelah senyuman itu mereda.
"Hum?" Bianca menatap seakan mengerti ucapan sang ayah, "Daddy?"
"Ya?" pria itu menatap ke arah mata yang terlihat ingin bertanya itu.
"Bian mau main sama Mommy lagi, Mommy nyebelin tapi selu!" ucap nya pada sang ayah.
Tentu ia menganggap jika ibu nya menyebalkan karna menghabiskan permen kapas dan coklat nya namun setelah itu ia juga akan mendapat yang baru dan bermain sesuatu yang menyenangkan untuk nya.
James tak menjawab namun ia tersenyum, ia mengecup kepala dengan rambut yang halus dan lembut itu sampai putri cantik nya ingin tertidur.
Kelopak dengan bulu mata lentik itu mulai berat, ia mulai mengantuk apa lagi dengan tangan sang ayah yang selalu menepuk nya.
Tak butuh waktu lama lagi untuk membuat putri kecil nya yang kelelahan bermain dan bercerita itu untuk tidur.
James perlahan bangun dari tempat tidur dengan sprei bewarna merah muda itu dan membenarkan selimut putri nya.
Ia beranjak meninggalkan kamar putri kecil nya itu yang sudah tertidur dengan lelap.
......................
Mansion Alex
Pria itu tak berada di apart nya saat ini karna kondisi nya kurang membaik setelah kemoterapi nya.
Ia masih menyuruh seseorang untuk mengikuti Louise namun ia tak pernah memberi perintah untuk melakukan sesuatu.
"Kenapa dia bisa dengan anak ini?" gumam nya lirih yang bingung mengapa gadis itu mau bermain dengan anak mantan kekasih nya padahal akan menikah sebentar lagi.
Mata nya mengernyit menatap ke arah foto yang menampilkan dua orang perempuan dengan jenjang umur yang jauh itu.
"Mereka mirip..." sambung nya lirih sembari mengernyitkan dahi nya dan memutar otak nya.
"Hah..."
Suara tarikan napas yang terdengar seperti menahan sesuatu.
"Hahaha!!!"
Tawa mulai terdengar, namun bukan tertawa akan hal yang lucu melainkan tawa yang penuh dengan kekesalan.
"Jadi selama ini aku tertipu?" gumam nya dengan smirk yang naik.
Jika gadis itu benar-benar mati dulu nya pasti sekarang tak ada foto di depan nya dan pria yang seperti tak menginginkan siapapun itu tiba-tiba punya putri yang di sembunyikan dan mirip dengan gadis yang hilang kabar beberapa tahun dan pernah di gosipkan meninggal itu.
"Apa harus ku berikan permainan kecil nanti?" gumam nya yang tentu ingin mencari kesempatan saat ia menemukan nya.
......................
3 Hari kemudian
Apart Sky Blue
Zayn menutup dokumen di depan nya, walaupun awalnya ia merupakan seniman lepas namun kini ia memiliki pekerjaan yang sama seperti ayah nya dulu.
"Kau mau bilang apa?" ucap nya yang menyadari jika tunangan nya itu terus menerus menatap ke arah nya.
__ADS_1
"Hm?" Louise tersentak, saat melihat pria itu bertanya pada nya.
"Zayn..." panggil nya lirih dengan nada yang ragu.
"Ya? Kenapa?" pria itu kini memutar bangku nya agar bisa menatap ke arah wanita itu dengan lebih jelas.
"Ka..kalau misal nya aku punya anak gi..gimana?" tanya nya lirih dengan begitu gugup.
Pria itu diam sejenak, ia memperhatikan mata yang melihat nya dengan gelisah.
"Aku kan sudah bilang kalau tidak apa-apa," jawab nya dengan nada yang tenang dan lembut.
"Kau tidak tanya apapun? Seperti kenapa aku bisa punya anak? Atau siapa ayah nya? Dan kapan?" tanya Louise dengan lirih dan menatap dengan mata yang serius.
"Ingatan mu kembali kan?" tanya pria itu yang keluar dari perkiraan gadis itu.
Deg!
Louise tersentak mendengar nya, suara yang lembut dan wajah yang terlihat tak mungkin akan memarahi nya namun ia tetap saja merasa gugup.
"Kalau kau memang punya anak aku tidak masalah, kalau pun orang tua ku tanya, aku yang akan jawab. Aku tidak khawatir tentang anak itu tapi..." ucap nya menggantung.
Louise tak menjawab apapun, ia hanya menatap ke arah pria itu. Memang tak masuk akal jika tunangan nya yang sangat peka itu tak menyadari jika ingatan nya sudah kembali.
"Aku khawatir kalau kau masih menyukai dia..." sambung nya lirih dengan suara yang lebih sayup.
Louise terdiam, lidah nya kelu seperti tak bisa mengatakan polesan kata apapun.
Ia mengalihkan pandangan nya menunduk, jemari-jemari lentik nya mulai terasa seperti di sentuh oleh seseorang.
Hal itu pun membuat nya kembali menoleh, "Louise? Aku mengawatirkan hal yang bodoh kan? Mana mungkin kau menyukai dia lagi? Iya kan?" tanya nya dengan penuh harapan.
Pertanyaan yang seperti menyangkal kepercayaan nya sendiri, menanyakan sesuatu yang mungkin akan menenangkan diri nya sendiri.
Tak ada jawaban, gadis itu seperti sedang membatu tak bisa mengatakan apapun.
"Louise?" panggil nya lirih.
Gadis itu kembali menoleh, wajah nya terasa kaku ingin mengatakan hal yang lain ataupun untuk tersenyum namun pada akhirnya ia tetap harus melakukan nya.
"Padahal kau sudah tau selama ini tapi kenapa diam saja?"
Pria itu tersentak, ucapan yang keluar bukan lah jawaban atas pertanyaan nya namun sesuatu yang mungkin akan mengalihkan pertanyaan nya.
"Aku menunggu mu untuk bilang lebih dulu," jawab nya tersenyum saat ia tau gadis itu tak akan menjawab pertanyaan tentang kekhawatiran nya.
Louise tak mengatakan apapun lagi, pembicaraan telah berakhir dan keheningan membuat nya merasa tak nyaman.
"Zayn? Kau mau makan di luar? Aku yang traktir!" Louise bertanya dengan suara yang semangat agar keheningan itu pecah sejenak.
Zayn diam sejenak, ia melihat wajah yang seperti memaksa senyuman nya itu.
Tak ada jawaban namun tangan nya beranjak ke tengkuk gadis itu dan menarik nya.
Humph!
Louise tersentak, pria itu mencium nya kali ini alih-alih menjawab pertanyaan nya. Ia terkejut namun tak mendorong nya sama sekali.
Zayn melepaskan ciuman nya, ia mulai tenang. Tak seperti sebelum nya yang merasa sangat gelisah sampai terkadang ingin memaksa gadis itu untuk menuruti kemauan nya.
"Kau mau makan apa?" tanya nya dengan senyuman setelah mel*mat bibir gadis itu.
"Apa saja, asal dengan mu." ucap Louise dengan senyuman yang sama namun terlihat jika mata nya tak ikut tersenyum sama sekali.
......................
Ke esokkan hari nya.
Gadis itu menatap ke arah pria yang datang kepada nya.
Ia mematikan ponsel nya dan melihat pria itu yang duduk di depan nya.
"Apa kau tidak bisa mengurangi pesan-pesan mu?" tanya nya lirih.
"Kenapa? Dia marah?" pria itu tersenyum miring.
Ia mengangkat tangan nya agar pelayan restoran hotel berbintang itu menghampiri nya.
Louise tak menjawab, ia hanya melihat pria yang sedang memesan minuman itu.
"Bianca mau bertemu dengan mu lagi, dia seperti nya suka bermain dengan mu." ucap nya pada gadis itu yang kembali membuka suara setelah tak ada jawaban.
"Benarkah? Kalau begitu dua hari lagi aku akan menemui nya." ucap nya yang kini mulai tak mengindari makhluk kecil menggemaskan yang keluar dari rahim nya itu.
"Hari ini kita tidak bisa pergi ke tempat yang ku mau? Bukanya aku memakai kesempatan ku lagi?" tanya nya pada gadis itu karna restoran saat ini adalah tempat yang di pilih gadis itu.
Louise membuang napas nya namun ia tetap melakukan nya karna ia sudah memberikan pria itu 30 kali kesempatan untuk merayu nya.
......................
Kawasan dengan udara yang dingin namun cerah yang penuh dengan pohon dan taman yang indah di sekitar nya terlihat.
"Pakai ini," ucap James sembari memberikan topi baret.
Louise mengernyit namun benda itu sudah ada di kepala nya, "Untuk apa?" tanya nya dengan bingung.
"Tidak apa-apa," jawab nya tersenyum karna ia memberikan nya hanya karna meras gadis itu akan cantik memakai nya.
"Kita ke taman?" tanya Louise mengernyit.
Pria itu menggeleng, tangan nya menunjuk ke arah sebaliknya, "Memetik jeruk, kau belum pernah kan?" tanya nya pada gadis itu.
"Kau menyuruh ku jadi tukang kebun?" tanya Louise mengernyit.
Pria itu tersenyum, memang terlihat sederhana namun ia tau gadis itu menyukai hal baru yang belum pernah ia lakukan.
Waktu mulai berjalan, awal nya gadis itu tak menemukan kesenangan apapun namun saat ia memetik jeruk dengan warna yang kuning terang dan selalu mendapatkan rasa yang manis karna memang semua buah yang berada di tempat itu manis, ia mulai tersenyum.
__ADS_1
"Wangi nya harum," ucap nya sembari memejam merasakan aroma dan udara di tempat tersebut.
Pria itu tersenyum melihat sudut bibir gadis yang mulai naik dan terlihat menyukai tempat yang ia pilih.
"Bianca suka jeruk?" tanya nya sembari menoleh ke arah pria yang tengah menyusun keranjang nya itu.
"Stroberi, kalau kau mau membawakan sesuatu untuk nya berikan saja itu." ucap nya pria itu yang tanpa sadar ikut tersenyum saat melihat gadis itu menanyakan tentang putri nya walaupun sebelum nya tak pernah.
Louise memamgguk, banyak stoberi dengan kualitas yang bagus yang bisa ia dapatkan dan ia berikan pada gadis kecil yang sangat menggemaskan itu.
......................
Dua hari kemudian
Sesuai dengan ucapan yang pernah ia katakan, kini gadis itu tengah melihat makhluk kecil yang mungil itu memakan dengan lahap es krim yang ia berikan.
"Suka?" tanya nya sembari mengusap pipi dan bibir yang celemotan itu.
"Suka, tapi kenapa Daddy gak boleh ikut?" tanya nya pada sang ibu.
Louise tersenyum, ia mengambil wafer dan memberikan nya pada putri kecil nya, "Mau ini?" ucap nya yang tak menjawab pertanyaan anak imut itu.
Setelah memberikan Bianca es krim Louise pun beranjak. Ia bangun dan tentu membawa putri nya itu bersama nya.
...
"Pakai ini," ucap nya sembari memasangkan seatbelt pada tubuh mungil itu.
Bianca duduk dengan tenang di samping bangku pengemudi sedangkan sang ibu mulai menyalakan mesin dan melakukan mobil nya untuk keluar dari parkiran itu.
Memang tak semua jalan bebas parkir atau bisa parkir di mana pun maka dari itu mobil-mobil pun di kumpulkan dalam satu parkiran agar tak menganggu street walk orang lain.
Ia mulai mengemudikan mobil nya, namun tak melihat mobil penjaga nya yang biasa nya mengikuti nya dari belakang.
Drrtt... drrrttt...drttt
Panggilan dari layar mobil mewah itu berbunyi, Louise pun mengangkat nya sembari mengenakan airphone di telinga nya.
"Halo?" jawab nya, Bianca menoleh pada ibu nya saat melihat gadis itu menjawab telpon.
"Nona! Turun dari mobil itu sekarang juga!"
Ia mengernyit, kecepatan nya mulai bertambah walau ia tak menginjak rem sama sekali.
"Kena-"
BRUAK!!!
Panggilan tersebut terputus segera, suara yang begitu kuat seperti menghantam dari sebarang sana.
Ia mengernyit dan mencoba menginjak rem nya.
Deg!
Truk besar yang menyusul dengan cepat terlihat di belakang nya melalui spion.
"Kenapa tidak berhenti?!" ucap nya yang menginjak rem sebanyak mungkin namun mobil nya masih tak berhenti sama sekali.
"Myy? Jangan cepet-cepet..."
"Bian takut..."
Ucap Bianca yang mulai tak menyukai sang ibu membawa mobil walaupun itu bukan kemauan ibu nya sendiri.
Tangan nya yang memegang stir itu mulai gemetar karna panik, sedangkan truck yang berada di belakang nya semakin mendekat seperti mengejar nya.
Deg!
Perbaikan jalan dengan banyak timbunan serta alat berat yang ada sejak pagi tadi membuat nya tersentak.
"Buka seat belt mu!" ucap nya pada Bianca.
"Hm?" gadis kecil itu tak mengerti kepanikan sang ibu.
Sedangkan Louise mulai membuka pintu mobil nya yang masih berfungsi dengan sangat baik dan dengan cepat membuka seatbelt dirinya sendiri.
"Kenapa lama sekali?!" tanya nya dengan suara yang panik dan langsung membuka seatbelt gadis kecil itu.
Greb!
Menarik tubuh mungil itu dan memeluk nya dengan erat lalu melompat keluar dari mobil yang tengah melaju kencang itu.
BRUK!
Tubuh nya terguling di aspal yang kasar dan keras itu, seluruh tulang yang seperti bergeser dan kulit halus nya terluka karena benturan.
Hua!!!
Bianca mulai menangis takut, ia sangat terkejut saat sang ibu tiba-tiba membawa nya melompat keluar.
Tubuh kecil nya mengalami benturan kecil karna ia aman saat di dekap oleh seseorang yang lebih besar dari nya.
BRAK!!!
Ckiitt!!
Suara gemuruh dari kendaraan yang saling beradu itu terdengar keras, mobil mewah nya langsung rusak seperti keripik kentang saat di lindas dengan mobil yang lebih besar.
Hah...
Hah...
Hah...
Ia terduduk di pinggir jalan, kaki nya terasa lemas tak bisa bangun sedangkan anak perempuan berumur tiga tahun merasa sesak karena pelukan nya yang semakin erat dan mencoba menutup telinga nya agar tak mendengar apapun.
"Kau terluka?" tanya pada putri kecil nya itu.
Ia mengernyit menatap darah yang berada di wajah bulat dengan mata coklat itu.
__ADS_1
"Berdarah?!" tanya nya lagi yang terkejut.
Bianca menggeleng menengandah melihat sang ibu yang menatap nya dengan panik, "Bukan myy, mommy yang beldalah..." ucap nya sembari melihat sang ibu