
Tiga hari kemudian
Mansion Dachinko
"Mommy!"
Suara yang terdengar berteriak saat melihat nya itu langsung berlari mendekat.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh." ucap nya yang menangkap tubuh mungil itu dan memeluk nya.
"Kangen, hihi..." tawa yang ceria itu membuat nya tersenyum.
"Mommy juga! Nih Mommy bawain coklat," ucap nya yang memberikan sesuatu untuk putri nya.
"Yeyy! Colat!" Bianca tampak senang, ia mengambil apa yang di berikan ibu nya dan langsung membawa nya ke sofa untuk di buka.
Louise tersenyum tipis, ia mendekat dan duduk di samping putri cantik nya.
"Bian udah jadi anak baik kan selama Mommy pergi?" tanya nya sembari menyingkirkan rambut yang tergerai itu agar tak ikut termakan.
Bianca mengangguk sembari memakan coklat nya, Louise menarik napas nya saat melihat ke arah putri nya yang sangat suka makanan manis itu padahal beberapa waktu lalu sudah mulai sakit gigi.
"Arche gimana? Arche nakal ga sama Bian?" tanya nya pada putri nya itu.
Untuk membuat nya dekat tentu ia selalu mengajak gadis kecil itu ikut mengasuh adik nya.
Bianca menggeleng, "Alce nya kan nangis Myy, padahal Bian ga ngapa-ngapain, telus Bian tutup deh mulut nya pakai bantal bial diem, telus Alce nya udah mau diem eh telus Daddy dateng, waktu di gendong Daddy dia balu diem. Padahal kan Bian juga bisa bikin adik nya belenti nangis juga Myy!" ucap nya bercerita.
Louise terdiam beberapa saat, ia sudah berusaha melakukan segala cara agar setidak nya putri nya itu bisa memiliki pemikiran yang normal.
Tapi kenapa selalu saja pikiran yang mengarahkan pada tindak negatif itu bisa datang.
"Bian? Kalau adik nya nangis lain kali Bian bilang sama Mommy, sama Daddy, atau sama pengasuh. Jadi Bian ga perlu buat adik nya berhenti nangis ya sayang." ucap Louise pada putri nya.
"Kalau mulut adik nya di tutup pakai bantal nanti adik nya kan bisa meninggal, kalau adik nya meninggal nanti Mommy sedih. Bian mau lihat Mommy sedih?" tanya nya pada gadis kecil dengan mata bulat yang bersinar itu.
Bianca bangun dan berdiri di atas sofa, ia mendekat dan.
Pluk!
"Mommy jangan sedih, Bian kan sayang Mommy..." ucap Bianca sembari memeluk tubuh yang berkali kali lipat lebih besar dari nya.
Louise tersenyum, ia membalas pelukan kecil yang hangat itu sembari menarik nya dan langsung memangku nya.
"Dari siapa anak Mommy bisa bicara yang manis-manis? Hm?" tanya nya sembari menggelitik perut bulat yang tampak gemas itu.
"Hihi! Geli Myy!" suara tawa terdengar, gadis kecil itu menggeliat di pangkuan sang ibu saat perut nya di gelitik.
...
Humph!
Kedua bibir itu langsung tertaut, baru saja bertemu dan tanpa mengatakan selamat datang sebuah ciuman sudah mendarat lebih dulu.
"Bagaimana perjalanan mu? Kau sudah bertemu anak itu?" tanya James yang kembali di sore hari dan sudah melihat sang istri pulang.
"Sudah," jawab Louise sembari memperhatikan tangan yang membuka blouse nya itu.
"Aku baru pulang loh," ucap nya yang tau pikiran pria yang mendekat dan mengendus lengkung leher nya itu.
"Maka nya aku bukain baju nya, biar sekalian mandi bersama. Kau sedang memikirkan apa rupa nya? Kau berpikiran kotor?" James tersenyum kecil sembari menggoda wanita nya.
"Cuma mandi ya? Aku mau istirahat," ucap Louise yang langsung menarik janji.
"Iya," jawab pria itu sembari meloloskan pakaian sang istri.
Suara tenang dengan air hangat yang memiliki aroma yang wangi itu tengah merendam kedua orang yang berada di dalam nya.
"Tumben hari ini pulang nya agak lama, biasa nya cepat. Banyak pekerjaan? Mau ku bantu? Aku bisa bantu kerjakan dari rumah." ucap Louise sembari merasakan usapan tangan sang suami mengelus perut rata nya.
"Tadi aku ke rumah kakak mu sebentar, lihat Aldrich." jawab James yang tentu tak bisa melupakan keberadaan putra nya itu walau kini secara hukum anak itu bukan milik nya lagi.
"Dia bagaimana?" tanya Louise yang memang belum sempat melihat nya karna ia yakin walaupun tak ia kunjungi anak itu akan mendapatkan kasih sayang yang melimpah.
"Dia menggemaskan, sampai membuat ku menyesal sudah menyetujui adopsi nya." jawab James yang membuat sang istri langsung berbalik ke belakang melihat ke arah nya.
"James..." Louise memanggil lirih, sembari menatap pria nya.
James menarik napas nya, "Arnold bagaimana? Dia sudah setinggi apa?" tanya nya yang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Dia sudah tinggi, setinggi dada ku. Dia bilang di juga masih belajar bela diri dan dia juga mulai ikut kursus piano. Kata nya di sekolah nya sedang banyak yang melakukan nya." ucap Louise yang membawa kabar.
James menangguk, "Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk pada mu kan?" tanya nya lagi pada sang istri.
Louise menggeleng, "Aku sudah buat janji pada nya kalau setiap satu bulan sekali di awal bulan aku akan datang ke sana." ucap nya.
"Kalau kau mau kau bisa melakukan nya," ucap nya yang tak melarang atau mencegah nya.
"James? Menurut mu Bianca masih ingat dengan dia?" tanya Louise mengernyit.
"Ku rasa tidak, ingatan anak-anak kan cenderung pendek dan lagi dia punya beberapa alasan yang bisa buat dia lupa." jawab pria itu yang juga masih belum mengatakan alasan anak lelaki itu di kirim jauh.
Louise diam sejenak, ia memang tak berfikir untuk membawa anak itu tinggal bersama nya karna memikirkan putri nya.
Punya adik saja sudah sangat sulit menjaga nya dan tetap menjaga agar gadis kecil itu tak cemburu. Apa lagi tiba-tiba ia membawa anak lain setelah putri nya sudah memiliki ingatan jika ia anak tunggal sebelum nya.
James melihat ke arah wanita yang terdiam itu, ia pun beranjak memeluk nya dengan erat sembari mengecup lengkung leher nya berulang kali.
"Lalu apa saja yang kau lakukan di sana? Beri tau aku." ucap nya yang ingin mendengar semua yang di lakukan oleh sang istri.
Louise mulai menceritakan semua yang ia lakukan selama di Australia beberapa hari.
......................
4 Bulan kemudian.
__ADS_1
Sekolah.
Gadis kecil yang selalu saja mendapatkan peringkat pertama untuk apa yang ia lakukan bahkan mulai mengerti dengan pelajaran yang harus nya di berikan untuk tingkat kakak kelas nya kini sedang bermain dengan teman nya.
Selama beberapa bulan terakhir ia selalu di bawa untuk menemui psikolog dan di ajak berbincang serta bermain, resep obat pun di berikan pada nya dan sang ibu yang mencampur nya di dalam minuman susu nya.
Namun sayang nya ajaran dan pendengaran yang ia terima dari teman ibu nya masih kalah dan bertabrakan dengan apa yang di ajarkan sang ayah dan segala hal yang di bolehkan sang ayah.
Seperti yang di perkiraan oleh sang psikolog yang merawat nya, gadis itu kecil itu mengidap kepribadian antisosial.
Memang terlihat ramah dan murah senyum namun tentu saja tak mudah untuk berteman dengan nya karna sejauh ini ia hanya bermain dengan Sylviana yang selalu membawakan permen untuk nya.
"Tempel di sini juga Syl," ucap nya yang menunjuk ke arah puzzle yang belum lengkap itu.
"Iya!" Sylviana menurut saja, karna memang sifat nya yang lemah membuat nya selalu menuruti dan mengikuti teman nya itu.
"Yuk, kasih ke Miss!" ucap Bianca yang tersenyum dan siap memberikan hasil kerja ia dengan teman nya ke sang guru.
Sylviana pun tersenyum, ia langsung mengambil puzzle nya dan membawa nya untuk menunjukkan pada guru nya.
Bruk!
"Aduh!"
Gadis kecil itu langsung terjatuh, puzzle yang tersusun pun langsung hambur buyar lagi seketika.
"Yah hancul..." gadis kecil mulai tampak sendu, bibir nya mengerucut dan mata nya tampak sedih melihat ke arah puzzle yang ia bawa kembali berserakan padahal walau pun ia yang meletakkan susunan nya namun yang menyusun gambar nya adalah teman nya.
"Ih! Adel! Kan lusak!" ucap Bianca pada teman nya yang langsung bangun sedang kan Sylviana masih terduduk dan tampak ingin menangis.
"Adel kan ga sengaja!" ucap Adelle yang berteriak di telinga gadis kecil bermata coklat itu.
Bianca langsung menutup dan memiringkan kepala nya mendekat ke bahu secara refleks ketika ada seseorang yang berteriak di telinga nya.
Ia marah dan kesal, namun perawatan yang biasa di lakukan sang ibu pada nya berguna kali ini.
Entah berguna atau mungkin semakin buruk karna ia akan mencoba mencari cara yang tidak di ketahui ibu nya.
"Ayo, Syl buat lagi." ucap nya yang memilih pergi dan mengajak bangun teman nya yang cengeng itu.
Puzzle mulai kembali di buat, permainan anak-anak tentu nya mewarnai suasana kelas yang gaduh itu.
Namun di tempat anak yang baik tetap saja ada anak nakal yang memiliki sifat yang jahil.
"Hahaha!"
Suara tawa yang berlari sembari menghancurkan barang-barang kerajinan yang di buat teman-teman nya.
Bruk!
Kali ini balok yang di susun bertingkat itu pun jatuh setelah puzzle yang sebelum nya hancur.
"Hua!" Sylviana langsung menangis seketika.
Adelle berbalik, tangan jahil nya berhenti sejenak dan mendekati anak cengeng itu.
"Kan Adel yang salah! Halus nya minta maaf!" ucap Bianca yang menatap kesal ke arah teman sekelas nya itu.
Mungkin alasan ia memiliki kepribadian menyendiri salah satu nya karna ia tak suka sifat menjengkelkan teman-teman nya yang sudah menganggu.
"Males! Bian juga sih! Celewet banget!" ucap nya yang kembali berteriak di telinga teman nya.
Mata bulat itu tampak menyilang, ia kesal. Terutama ia tak suka saat ada yang berteriak di telinga nya seperti itu.
....
Jam pulang sekolah mulai berbunyi, anak-anak TK itu pun langsung bergegas kembali dan sang guru pun membantu nya.
Ada lift dan ada tangga yang bisa di turuni, lebih sebagian anak-anak memilih tangga karna bisa sambil bermain.
"Adel" panggil Bianca yang mengejar anak teman nya itu.
"Hum?" mata hitam itu menoleh, ia menatap ke arah seseorang yang memanggil nya.
Plak!
"Aduh!" tubuh kecil kecil itu meringis, ia langsung terjatuh saat teman nya itu memukul nya dengan tas.
"Sakit tau!" ucap nya yang mendorong teman nya segera.
Tubuh mungil gadis berambut pirang dengan mata coklat itu langsung ikut terjatuh juga, tapi.
Bruk!
"Aduh! Sakit! Huhu!"
Satu tendangan di paha nya dan pukulan di dekat ulu hati nya membuat gadis itu langsung terjatuh ke lantai.
"Hehe!"
Senyuman cantik terlihat, sesuai yang di ajarkan pada nya jika ia tak boleh melakukan sesuatu yang terlihat seperti benda bulat bercahaya maka ia pun memilih tempat tersebut.
Sisi tangga yang tak terlihat cctv karna hanya ada lagi ketika di tangga yang di bawah.
Gadis kecil yang cantik itu mendorong dan menyeret teman nya ke tangga, bersamaan dengan diri nya yang ikut jatuh menggelinding ke tangga.
"Hua! Sakit! Huhu! Adel kenapa nakal!"
Tangisan nya lebih kencang ketika ketika ia kedua tubuh mungil yang memar itu sudah mendarat dan menggelinding ke tangga.
"Huu! Bian yang nakal!" teriak Adelle dan mulai merangkak mencoba meraih teman nya itu.
Namun,
"Astaga!"
__ADS_1
Salah seorang guru yang mendengar tangisan langsung mencoba mencari nya dan tentu ia melihat kedua anak kecil yang menangis dan yang satu lagi tengah menarik rambut teman nya.
"Adel sakit! Huhu!" kali ini tak ada perlawanan saat rambut nya di tarik kecuali tangisan untuk mengundang seseorang datang.
Tentu guru yang melihat pun langsung datang dan memisahkan nya.
Dan yang paling utama tentu kedua orang tua dari anak murid yang terlibat itu langsung di panggil setelah di obati di UKS.
...
Ruang guru
"Engga Ma! Bian dulu yang pukul Adel Huhu!" tangis nya pada sang ibu.
Louise melihat ke arah putri nya yang menunduk dan menangis, "Tadi kenapa bisa bertengkar? Hm?" tanya nya pada putri kecil nya.
"Adel tadi gangguin telus, dia juga teliak teliak di telinga Bian! Telus Bian malahi abis itu waktu pulang Bian di pukuli Myy..."
"Bian mau lali tapi malah ke dolong di tangga, jadi Bian pegangan sama tangan Adel..." ucap nya yang dengan suara tangis yang tertahan.
Para guru yang mengajar di kelas itu tentu tau jika Adelle merupakan salah satu murid yang jahil dan nakal.
Dan tentu nya para guru pun lebih percaya pada murid pintar yang jarang membuat masalah dan terlebih lagi terlihat cukup pendiam karna jarang mendapatkan komplain jika ia sering atau pernah menganggu teman nya.
Louise tak mengatakan apapun saat melihat putri nya, biasa nya anak kecil tidak pandai berbohong kan?
Tapi ia tidak tau seperti apa anak cantik nya itu tumbuh dan di besarkan di belakang nya.
Para guru pun mulai memberikan hukuman dan tentu memberi tau orang tua dari kedua murid itu.
Dan yang saat ini di marahi adalah Adelle, gadis kecil itu merasa tak terima. Ia ingin protes namun semua orang tak ada yang mempercayai nya.
Mata nya melirik dan menatap ke arah teman nya yang memeluk sang ibu di samping nya.
"Hehe..."
Mata hitam itu langsung membulat, ia melihat teman nya itu bukan menangis melainkan tertawa.
Greb!
"Bian yang nakal bukan Adel!" ucap nya yang tiba-tiba menarik rambut teman nya seketika.
"Hua! Sakit! Huhu!" Bianca memegangi kepala nya, para orang tua pun langsung berusaha memisahkan nya.
Louise memeluk putri kecil nya, ia merapikan rambut putri nya dan memandang tajam ke arah ibu dari murid yang menarik rambut putri nya.
"Sebaiknya anda ajari anak anda dengan baik, jika terjadi sesuatu pada putri saya, saya akan mengambil jalur hukum dan menuntut anda karna anda orang tua nya." ucap nya yang tak ingin mengatakan apapun lagi dan membawa putri nya.
Para guru pun tersentak, setidak nya mereka tau mana orang yang benar-benar memiliki kuasa jika di lihat dari sikap dan semua yang di gunakan.
Bianca tersenyum di dalam pelukan ibu nya, ia sudah berusaha menjadi anak baik seperti yang di katakan oleh ibu nya jadi ia tidak menganggu lebih dulu pada orang lain.
"Mommy sakit..." tangis nya yang memeluk wanita yang menggendong nya itu.
"Iya, Nanti Mommy obati ya? Mommy juga bakal kasih es krim buat Bian." ucap Louise sembari mengecup pipi bulat putri nya.
Bianca menangguk, ia senang sang ibu masih menyayangi nya dan ia pun juga senang semua orang mempercayai nya.
Pikiran yang mirip dengan rubah yang licik di bandingkan dengan lumba-lumba yang pintar.
......................
Skip
11 tahun kemudian.
Sekolah.
Suasana yang tenang, gadis yang tak beranjak dari duduk nya dan melihat ke arah luar jendela.
"Hey! Melamun lagi? Ini aku bawa makanan!" gadis itu tersenyum setelah mengangetkan teman nya.
Sejak dulu maupun sekarang ia selalu mengikuti gadis yang menjadi teman sebangku nya itu dan selalu membawa makanan.
Senyuman manis yang terlihat di sudut bibir gadis itu, "Tapi aku mau yang ini," ucap nya yang menukar roti yang sudah di buka teman nya.
"Yah! Padahal kan aku mau yang ini!" ucap nya lesu namun ia tak marah.
Gadis itu tertawa namun ia tak berniat menukarkan roti nya.
Brak!
Satu gebrakan di meja membuat kedua gadis itu terkejut.
"Hey! Kau! Padahal aku sudah bilang akan menunggu jawaban mu kan?! Kenapa kau tidak jawab juga!"
Gadis itu tersentak, mata nya nanar menatap takut dan menunduk. Sedangkan anak-anak lain nya yang berada di kelas itu hanya terdiam.
"Ada apa ini? Kau bukan anak kelas ini kan? Jangan buat kekacauan dan keluar." ucap nya yang melihat ke arah remaja yang lebih mirip dengan preman itu.
"Kau anak nomor satu itu kan? Jangan menganggu dan diam!" ucap nya kesal namun ia tau siapa yang bicara pada nya.
Memang nya siapa yang tak tau?
Siswi tahun pertama yang mendapat peringkat satu seangkatan dan bahkan dari akumulasi nilai tetap yang paling tinggi dari tingkat kakak kelas nya walau di bentuk pelajaran yang berbeda.
"Kenal?" tanya nya mencoba bertanya pada teman nya.
Gadis itu menggeleng, ia terlihat menunduk dan takut. Sifat yang tak pernah berubah sejak masih kecil.
"Ayo bicara deng- Ukh!"
Tangan remaja pria itu terhenti, seseorang mencegah nya ketika ia ingin menarik tangan gadis yang ketakutan itu.
"Oy! Apa?! Jangan sok ikut cam-"
__ADS_1
"Diamlah dan keluar dengan tenang, kalau kau tidak mau mati br*ngsek! Dasar cacing!" bisik gadis itu saat ia memegang tangan remaja itu dan berdiri agar bisa berbicara di dekat telinga nya.
Remaja yang terlihat seperti preman itu tampak mengernyitkan dahi nya, tubuh yang kecil dan tangan yang kurus tapi kenapa tenaga nya kuat sekali?