
Suara senandung terdengar, gadis itu menyadarkan diri nya di tembok yang tampak penuh coretan itu.
Para remaja yang tadi nya berdiri tegap kini melata di tanah, "Mana tadi? Kata nya kuat?" gadis itu menatap dengan mata coklat bulat nya yang terlihat tajam.
"Le.. lepaskan kami..."
Remaja nakal itu tetap berlutut dengan kaki nya yang terluka, menatap ke arah gadis yang berdiri sembari memainkan ponsel nya itu.
"Marc? Aku dapat ini dari kakak kelas, kata nya kau dulu suka buat siswi hamil ya?" tanya nya dengan senyuman kecil yang cerah.
Tentu ia mencari tau siapa yang terlihat menyeramkan itu karna berada di sekitar teman nya yang lembut dan lemah itu.
Marco tak menjawab, ia hanya menelan Saliva nya dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Gadis yang berdiri di depan nya bukan lah wanita melainkan iblis yang memiliki rupa cantik.
Bianca masih memainkan ponsel nya namun tak ada jawaban yang terdengar untuk pertanyaan nya.
Ia melirik, iris coklat nya menoleh dan beranjak mendekat.
Arrghh!
Teriak Marco seketika saat paha nya di pijak padahal sedang terluka karna tusukan pisau kecil yang bersembunyi di balik gantungan kunci beruang yang menggemaskan.
"Jawab si*lan, kau mau aku juga memotong lidah mu sekalian?" suara yang cantik dan cerah itu berubah kelam.
"I.. iya ka..kami pa.. pacaran se.. sebelum nya..." ucap nya lirih sembari memegang kaki yang menginjak nya itu sedangkan cairan merah itu sudah merembes membuat celana nya basah.
Wajah yang tampak menatap ingin membunuh seperti malaikat maut itu langsung berubah seketika, senyuman cerah yang cantik kembali terlihat.
"Tapi dari yang aku dapat bukan begitu, kata nya kau kasih dia obat tidur dan membawa nya ke motel? Setelah hamil malah di suruh gugurin? Itu benar atau tidak?" tanya nya mengulang dengan senyuman.
Marco tak menjawab, ia hanya menunduk tak mengatakan apapun.
"Dan kalian? Kenapa diam saja? Aku tidak suka suasana yang sunyi," pertanyaan yang bagaikan ancaman membuat nya semakin menutup mulut nya.
"Benar-benar sampah ya? Mending sampah asli, masih bisa di daur ulang." ucap gadis itu menggelengkan kepala nya dan menatap dengan tatapan sinis.
"Jadi..."
Langkah nya beranjak mendekat, kaki nya yang memakai sepatu kets tebal itu mendekat ke arah telur yang rapuh itu.
Arrghh!!!
"Lepas! Jal*ng! Ampun! Sakitt!!!"
Teriak Marco yang merasa begitu ngilu dan rasa sakit yang tak bisa di ucapkan.
"Ups! Maka nya jangan jahat? Sakit ya? Ga apa-apa yang penting ga mati, aku kan baik hati masa bunuh anak orang sih? Hehe." ucap nya yang tertawa.
Ketiga remaja yang melihat masa depan teman nya hancur langsung berusaha beranjak bangun.
"Mau lari kemana? Kalian pasti juga sama kan? Sama dong, kalian yang jual video p*rn* dari pelec*han kan?" ucap nya yang mendekat dan menarik rambut yang ingin bangun itu.
Crass!
Bugh!
Tangan nya menusuk ke arah pundak yang ia ingin lari, dan kaki nya memukul tepat di belakang dengkul sehingga membuat remaja itu kembali berlutut.
"Anggap aja ini hukuman dari permintaan korban kalian," ucap gadis itu yang tersenyum dan dengan bahagia nya menginjak masa depan para remaja itu.
Senyuman cerah terlihat, teriakan dan ringisan terdengar. Tak ada yang datang karna ke empat remaja itu berpikir bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama gadis cantik itu sehingga membawa nya ke tempat yang begitu sunyi tanpa tau jika hal itu merupakan Boomerang.
Bianca melihat ponsel nya lagi, tentu yang harus ia telpon adalah sang ayah.
"Daddy! Aku bawain hadiah buat Daddy..." ucap nya yang di iringi dengan tawa kecil pada sang ayah.
"Kau buat masalah lagi?"
Bukan nya jawaban yang senang namun tebakan yang penuh dengan kebenaran dari sang ayah terdengar.
"Kok masalah sih? Daddy nih! Jadi Bian kasih hadiah nya sama Mommy aja?" tanya nya yang kini tau memberikan ancaman pada sang ayah agar tetap membesarkan masalah nya.
"Di mana?"
Suara yang tampak menyerah itu kini mulai menanyakan di mana 'Hadiah' yang di berikan oleh putri nya.
"Bian kirim lokasi nya ya Dad?" ucap Bianca dengan senyuman yang cerah dan menatap dengan mata yang berbinar.
Ia mematikan ponsel nya dan mengirim lokasi di mana ia berada saat ini berserta dengan anak-anak yang terluka itu.
"Nah, sekarang aku pergi dulu ya kakak ganteng..."
"Nanti bakal ada yang jemput kalian kok," ucap nya yang tersenyum kecil.
"Oh iya? Kayak nya kalian masih bisa di daur ulang sih? Kan punya organ yang sehat tadi? Ya kan? Jadi bisa di kasih ke orang yang lebih membutuhkan aja..." sambung nya dengan senyuman kecil.
Gadis itu pun berbalik dengan berjalan setengah meloncat seperti anak kecil yang mendapatkan permen.
......................
Cafe.
Kedua anak lelaki itu bermain game di salah satu cafe, walaupun masih berumur 11 tahun namun berpergian ke suatu tempat bersama selagi masih terpantau tentu di perbolehkan.
"Aldrich! Kalah!" ucap Arche yang tampak senang.
"Huh! Iya deh, nih!" ucap nya yang mendengus kesal sembari memberikan cake nya yang menjadi favorit dan hanya tertinggal satu.
Arche tersenyum penuh kemenangan, ia memakan cake nya itu tanpa memperdulikan saudara kembar nya yang tampak kesal.
"Mau? Nih aku kasih sesuap, jadi ga tega." ucap nya yang melihat kembaran nya itu.
Aldrich menggeleng, ia menatap dengan menyandarkan dagu nya menggunakan satu tangan.
"Arch? Kamu udah punya pacar belum?" tanya nya yang menatap ke arah saudara kembar nya itu.
Mereka berbeda sekolah dan tentu berbeda pergaulan kecuali di lingkungan yang memungkinkan untuk bermain bersama.
Arche menggeleng, "Belum, kata kak Bian belum boleh pacaran, masih kecil terus nanti kalau kita salah pegang perempuan yang bukan Mommy atau kakak kita nanti mereka bisa hamil loh." ucap nya yang mengatakan apa yang sering di katakan oleh sang kakak.
__ADS_1
Walaupun kakak perempuan nya itu tentu hanya menjahili nya dan menakuti adik nya yang polos itu.
"Kalau cium gimana?" tanya Aldrich yang mendekat dan juga ikut percaya.
Walaupun memiliki lingkaran pertemanan yang berbeda namun kedua anak lelaki itu tetap saja jarang bermain karna memiliki jadwal yang di atur tersendiri sampai berumur 15 tahun sebelum jadwal nya mulai di longgarkan.
"Kamu cium anak perempuan ya? Bukan Mommy atau kak Bian?" tanya Arche pada saudara nya.
Aldrich segera mengangguk mendengar nya, cinta monyet anak-anak yang baru berkembang tentu hanya sebatas rasa penasaran untuk waktu yang singkat.
"Hayo loh! Bentar lagi dia bakal hamil!" ucap Arche yang mengatakan sesuai apa yang di dengar dari sang kakak.
"Ih! Mana mungkin! Hamil itu kalau ada pengabungan dua sel tau!" ucap Aldrich yang setidak nya tau bagaimana proses terbentuk nya bayi walau tak tau bagaimana proses pembuatan nya.
"Terus kak Bian bohong? Kak Bian kan jarang bohongi kita, Hayo Aldrich bentar lagi nikah..." ucap Arche yang menakuti saudara kembar nya itu.
Aldrich diam sejenak, ia mulai percaya walau tak masuk akal sekalipun.
......................
Skip
Pukul 07.24 pm.
Kediaman Rai
Makan malam yang terlihat damai dan tentram itu selain anak laki-laki yang tampak gelisah.
"Mah? Pah?" cicit nya lirih pada kedua orang tua nya.
"Iya? Kenapa nak?" Clara menghentikan makan nya sejenak dan melihat ke arah putra nya yang tampak ingin berbicara namun ragu.
Sedangkan Louis tak menjawab namun melihat ke arah putra nya itu, walaupun tak memiliki darah dari nya namun ia begitu menyanyi anak laki-laki seperti anak yang ia dapatkan dari hasil nya.
"Ka.. kayak nya Aldrich harus ni.. nikah deh..." ucap nya lirih.
"Ha? Nikah? Nikah apa?" Clara memiringkan kepala nya seperti tak mengerti dengan apa yang ia dengar.
"I.. iya... ka.. karna teman Al itu..." anak lelaki itu tampak ragu mengatakan nya.
"Kenapa teman kamu?" Clara masih dengan sabar menunggu jawaban putra nya.
"Di..dia hamil!" ucap nya dengan suara yang lantang karna gugup.
Suasana hening sejenak, tak ada suara apapun dari kedua orang tua nya untuk beberapa saat.
"Ma.. Mama? Papa?" panggil nya lirih yang melihat ke arah reaksi kedua orang tua nya.
"Pft! Hahaha!" Louis tertawa setelah hening sejenak.
Bagaimana mungkin anak berusia 10 tahun yang bahkan belum dewasa dan mungkin juga teman nya itu belum mendapat kan siklus pertama nya tapi sudah bicara kehamilan?
"Kalian sih? Kenapa ga pakai pengaman?" tanya nya dengan tawa yang masih tersisa dan malah memberikan candaan dewasa untuk putra nya.
Plak!
Wanita itu memukul bahu suami nya seketika karna ia tau pengaman apa yang di maksud.
"Pengaman? Pengaman apa Pah?" tanya Aldrich yang kebingungan mendengar ucapan sang ayah.
"Coba cerita sama Mama kenapa teman kamu bisa hamil?" tanya Clara yang mencoba bicara lagi dengan putra nya.
"Jadi kan Ma.."
"A.. Al udah cium pipi dia..." ucap nya yang malu-malu pada sang ibu tapi tetap bercerita.
Louis masih setengah tertawa, selain pendidikan tentang pewaris ia memberikan semua hak untuk mengasuh pada istri nya termasuk ke pola hidup.
"Nanti anak kalian bisa di uninstall kok, abis itu nanti Papa ajari cara buat anak yang bener kalau udah dewa-"
Bugh!
Bukan pukulan yang renyah melainkan pukulan kuat yang melayang di bahu nya dari sang istri.
"Al udah punya pacar?" tanya Clara pada putra nya.
Satu anggukan menjadi jawaban, wanita itu hanya tersenyum.
"Sudah, ga apa-apa. Teman nya ga bakal hamil kok yang penting jangan lebih dari cium pipi ya?" ucap nya yang tentu tak ingin putra nya menjadi pria brengsek seperti ayah nya dulu.
Aldrich mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh ibu nya.
......................
Mansion Dachinko
Pukul 10.24 pm
Piyama tidur kini telah berganti dengan sesuatu yang tipis.
"Kau sengaja mengundang ku? Hm?" pria itu bertanya sembari mengecupi leher istri nya.
"Undang apa? Aku kan cuma mau pakai yang nyaman buat tidur?" jawab Louise sembari menurunkan satu tali dari lingerie yang ia kenakan.
Humph!
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, mana mungkin ia bisa tahan dengan godaan yang tetap di depan mata nya?
Sreg!
Tangan nya menarik ke arah lingerie hitam itu dan melepaskan ciuman nya sejenak.
"Lebih nyaman tidur tidak pakai apa-apa," ucap nya berbisik pada wanita nya dan mendorong nya ke tempat tidur.
Louise tertawa kecil, terkadang sedikit kenakalan membuat gairah semakin meninggi.
"Oh? Begitu?" tanya wanita itu sembari melepaskan kancing dari kemeja putih yang masih terpakai itu.
"Kau mau aku mandi dulu?" bisik James yang mendekat ke arah sang istri karna ia memang pulang larut kali ini karna membereskan sedikit masalah yang di buat oleh putri nya.
"Tidak, aku suka yang seperti ini." jawab wanita itu dengan suara bisikan juga dengan tangan yang mencoba masuk ke dalam kemeja suami nya.
__ADS_1
Pria itu memberikan senyuman tipis, ia kembali mel*mat bibir sang istri dan meremas dengan gemas tubuh yang masih tetap indah itu walau sudah memasuki usia kepala empat itu.
Waktu berlalu suara er*ngan terdengar lirih memenuhi kamar yang luas itu.
Tubuh yang berkeringat itu pun akhirnya berhenti, pelukan yang hangat dan obrolan yang ringan karna wanita itu tak pernah di tinggal tidur oleh suami nya setelah berc*nta.
"Mau mandi bareng?" tawar Louise pada pria yang masih mengusap punggung nya.
"Ya, sebentar lagi..." ucap James yang melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan angka tengah malam itu.
Wanita itu menikmati sejenak waktu nya, ia merasakan pelukan hangat dari pria yang selalu memiliki aroma harum sekalipun belum mandi setelah pulang tadi.
"Oh iya James," Louise tersentak saat ia baru mengingat sesuatu.
"Hm?" pria itu menoleh sembari melihat ke arah sang istri.
"Arnold dia bilang ikut lomba sains, penelitian nya masuk ke tahap final jadi dia minta aku buat datang tiga hari lagi, sebenernya hari final nya satu Minggu lagi sih." ucap Louise pada pria itu.
James diam sejenak, ia melihat ke arah mata hijau istri nya yang menatap menunggu jawaban nya.
"Kau seperti nya terlalu dekat dengan anak itu? Dulu dia memang masih kecil tapi sekarang dia sudah dewasa," ucap nya yang mulai merasa terganggu.
"Yah tapi kan aku ibu nya, terus juga waktu terakhir kali kalian ketemu juga suasana nya canggung. Atau kau ikut saja nanti?" tanya nya menatap ke arah sang suami.
James masih tak mengatakan apapun, ia terkadang juga ikut datang dan mengunjungi putra angkat nya itu.
Dan tahun lalu ia melihat sedikit gestur yang berbeda, mata yang hanya tertuju pada wanita yang harus nya di panggil 'Ibu' namun tak pernah sekalipun di ucapkan.
Memang suasana nya canggung ketika ia juga ikut bersama dengan putra angkat nya itu karna minim interaksi walau pun ia yang mendanai semua kebutuhan putra nya.
"Dia juga seperti nya tidak pernah menganggap mu ibu nya, bukan nya dia selalu panggil 'kakak' saat dengan mu? Dia memanggil ku Daddy dengan ragu dan satu tahun yang lalu dia bahkan memanggil ku tuan tapi tetap memanggil mu 'Kakak' bukan nya itu aneh?" tanya James yang langsung kesal.
"Maka nya aku suruh dia panggil kau Daddy lagi, kau sih! Jarang ke sana." ucap Louise pada suami nya.
"Kau sudah ajari dia untuk memanggil mu dengan sebutan yang benar juga? Dia kan bukan anak-anak lagi dan juga di daftar keluarga dia berstatus anak kita kan?" tanya James lagi.
Louise mengernyitkan dahi nya, ia menatap ke arah sang suami yang sekarang mulai sering cerewet jika ia menemui putra angkat yang di bawa oleh pria itu sendiri.
"James? Ini sedikit aneh, tapi apa kau sedang cemburu?" tanya Louise menatap menyelidik ke arah suami nya.
Mata coklat itu menoleh ke arah sang istri, "Iya," jawab nya singkat tanpa menyangkal sedikit pun.
"Sama anak-anak?" tanya Louise mengulang dengan wajah tak percaya.
"Dia sudah berusia 22 tahun," ucap nya yang langsung memotong dan memberikan sanggahan pada ucapan sang istri.
"Lah aku 43 tahun," sambung Louise seketika pada ucapan sang suami.
"Kan bahkan belum sampai usia 50 tahun, kulit mu juga masih kencang, yang ini juga. Terus masih bisa kasih pijatan yang ra-"
Tangan wanita itu langsung menutup ke arah mulut vulgar suami nya sembari mengangkat tangan yang memberi tau sekalian memberikan contoh karna ikut meremas juga.
"Jangan yang aneh-aneh deh mikir nya, kotor banget sih isi kepala nya?" ucap Louise yang menggeleng.
James tak mengatakan apapun, ia tak menjawab dan hanya melihat ke arah wajah istri nya.
Cup!
Satu kecupan lembut melayang di bibir nya, ia menatap ke arah wanita yang baru memangut bibir nya itu.
"Kalau begitu kau mau ikut saja lusa? Atau kita suruh dia pindah kuliah di sini saja? Hm?" tanya nya yang berbicara dengan nada lembut pada sang istri.
"Ya, setelah penelitian sains nya selesai dia pindah ke sini saja." jawab pria itu yang memeluk wanita nya dengan erat.
"Terus aku boleh ke sana lusa?" tanya Louise mengulang sekali lagi.
"Hm, waktu mu cuma dua hari di sana." jawab nya yang memberikan izin dan berharap apa yang ia pikirkan salah. Kali ini selalu lebih berusaha untuk mempercayai sang istri.
Walau pun firasat dan insting sangat jarang meleset, apa lagi tentang orang-orang yang memberi kan tatapan pada sang istri.
......................
Tiga hari kemudian
Australia
Pria itu berjalan keluar, ia melihat ke arah wanita yang menunggu nya di depan gedung tempat ia melakukan penelitian tadi.
"Kak!" ucap nya memanggil dari jauh dan mendekat ke arah wanita itu.
"Sudah selesai? Bagaimana tadi? Berhasil?" tanya nya pada pria yang dulu nya masih anak kecil yang berbicara gugup pada nya.
Satu anggukan beserta dengan senyuman terlihat.
"Kau bersemangat sekali, kalau menang hadiah nya mau kau buat apa?" tanya nya menatap ke arah pria yang tampak tersenyum cerah dengan tubuh yang sudah lebih tinggi dari nya.
"Mungkin Apart? Aku mau ambil beasiswa untuk selanjutnya." ucap Arnold yang menjawab wanita itu.
"Kau sekarang jarang memakai uang yang kami berikan?" tanya Louise mengernyit.
"Aku mau coba hidup mandiri, lagi pula tu- maksud nya Daddy kan udah banyak kasih aku bantuan." ucap nya yang semakin dewasa semakin merasa semua yang di berikan pada nya seperti kasih sayang palsu yang hanya terlihat seperti formalitas.
Namun ia tak membenci nya, hanya saja ia mulai semakin merasa segan ketika terus menerima.
Louise tersenyum, ia mendekat dan mengusap kepala yang sudah lebih tinggi dari nya itu.
"Sekarang udah besar Arnold kita," ucap nya yang tersenyum.
"Kan aku memang udah besar kak," ucap nya yang kembali merapikan rambut nya lagi.
"Iya, iya." jawab Louise dengan tawa kecil.
"Oh ya, nanti setelah penelitian mu selesai dan hasil nya keluar James sudah menyuruh mu kembali. Kalau kau mau kau bisa tinggal dengan kami sampai dapat apart baru dan kau juga bisa bekerja di JBS walaupun masih magang tapi kan gaji nya juga lumayan dan bisa buat pengalaman kerja." ujar nya yang memberikan penawaran sekaligus memberi tau.
"Ah.." Arnold menghela sejenak saat mendengar ia akan kembali.
"Kau terlihat tidak senang?" tanya Louise mengernyit ke arah pria yang ia pikir akan memberikan ekspresi gembira.
Pria itu menggeleng, ia menatap wanita di depan nya dengan kembali tersenyum.
Keceriaan nya berangsur pulih dalam 11 tahun terakhir karna wanita yang selalu mengunjungi nya itu setiap sebulan sekali dan kadang tetap datang di beberapa hari penting seperti ulang tahun nya.
__ADS_1
"Aku senang kok, lagi pula kak Louise kan juga ada di sana nanti." jawab nya pada wanita itu.
Louise tersenyum, "Iya, kau juga belum pernah bertemu Bianca atau Arche dan Aldrich secara langsung kan?" ucap Louise yang kembali berjalan.