(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Rasa bersalah


__ADS_3

Mansion Dachinko


Louise tersentak, ia dapat merasakan aroma darah yang yang menyatu pada pria yang tengah mel*mat bibir nya saat ini.


Tangan nya berusaha mendorong pria yang terluka itu menjauh namun tak bisa.


Tenaga nya masih ada dan begitu kuat, darah yang mengalir jatuh dan membasahi tubuh nya.


Sedangkan pria itu semakin menarik gadis yang berada dalam genggaman nya, ia hanya berpikir tengah membayangkan gadis itu kembali.


Begitu banyak halusinasi yang menyerupai gadis itu sampai ketika ia kacau ia tak bisa membedakan mana yang realita.


James memejam, ia merasakan aroma yang membuat nya candu. Tangan yang bisa merasakan untaian dari surau yang lembut itu ketika ia menggenggam belakang kepala gadis itu.


Bibir yang lembut dan terasa manis, pinggang yang ramping sesuai dengan pelukan nya.


Semua nya terasa begitu nyata sampai ia ingin semakin menyentuh nya lebih dalam tak peduli dengan luka yang ia miliki.


Bruk!


Louise tersentak, kaki nya terjatuh saat mengenai ujung sofa di ruangan kerja itu sedangkan pria yang tengah mencium bibir nya saat seperti kehilangan akal nya.


"Uhh..."


"Ja..James..." gumam nya lirih sembari mendorong pria itu menjauh.


Leher nya terasa hangat, saat napas pria itu jatuh di lengkung nya.


Ack!


Gadis itu meringis, usapan yang hangat dan geli itu berubah.


Hisapan yang kuat dan terlihat gemas itu membuat nya meringis dan semakin berusaha mendorong pria itu.


Aroma anyir semakin menyatu dengan aroma alkohol yang di keluarkan dari tubuh pria itu.


James mengangkat wajah nya, mata nya menelisik pada bekas ciuman nya yang tertinggal.


"James, lepas!" ucap Louise yang berusaha mendorong pria saat tubuh nya terhimpit dan pakaian yang ia kenakan terkena cairan merah kental itu.


Pria tampan itu tak mengatakan apapun, ia merasa bahkan suara yang di keluarkan pun begitu nyata.


Tentu ia tak akan menyangka jika gadis itu akan berada di mansion nya dan menganggap semua yang ia lihat dan rasakan saat ini hanya sebagain dari ilusi nya.


Wajah yang terlihat ingin di lepaskan itu tampak berbayang di iris nya, ia menodai pakaian gadis itu dengan darah nya.


"James! Lepas!" ucap nya yang masih berusaha memberontak.


Humph!


Pria itu diam, ia kembali mencium bibir gadis itu, dan mencoba meraba tubuh nya.


Tangan yang terasa lembab dengan cairan merah kental yang terus mengalir masuk ke balik pakaian nya.


Napas yang terasa berat, entah karna alkohol yang ia gunakan sebagai pain killer sementara atau karna luka-luka nya atau bahkan karna ia masih bisa memiliki hasrat dan n*fsu di situasi seperti itu.


"Kenapa kau juga minta di lepaskan?" tanya nya lirih dengan suara bergumam.


Saat ia mengira bahkan bayangan gadis itu tak ingin bersama nya.


"Aku merindukan mu..." bisik nya lirih di telinga gadis itu.


Namun ia masih berpikir saat ini penuh dengan ilusi mata nya dan sekarang berada dalam imajinasi nya yang bisa melakukan semua fantasi terpendam nya.


Ilusi yang begitu nyata dan begitu dapat ia rasakan dengan sungguh-sungguh membangkitkan perasaan rindu nya.


Kaki gadis itu bergerak, ia tak tak mengapa pria yang bahkan terluka begitu banyak itu masih bisa begitu bertenaga.


"Ja..James..."


"Tu..tunggu, aku tidak mau..." ucap nya yang mulai terdengar seperti permohonan.


Ia mendatangi tempat yang tak seharusnya dan berada di tempat yang salah sedangkan ia saat ini sudah setengah tel*njang.


Pria itu diam, karna ini adalah bayangan dari ilusi nya tentu ia bisa melakukan imajinasi yang ia inginkan.


"Tuan?"


Pria itu tersentak, walaupun ia merasa gadis itu adalah ilusi yang di ciptakan dari kerinduan nya namun tak mungkin ia berhalusinasi mendengar suara bawahan nya.


Chiko langsung memutar tubuh nya, berbalik ke belakang tak berani melihat tuan nya yang mencumbu gadis yang terlihat tak ingin dan tatapan yang melihat ke arah nya seperti meminta tolong.


James beranjak, menatap kembali gadis yang masih berada dalam kungkungan nya, ia masih melihat nya.


Mata yang terlihat menyimpan kaca tebal di balik iris nya, bibir yang terluka dan leher yang meninggalkan bekas serta pakaian terkena noda darah nya dan tak lagi rapi dengan beberapa bagian sudah terbuka.


"Louise?" panggil nya yang tampak terkejut jika ia saat ini sedang tak berhalusinasi sama sekali.


"Minggir," suara yang terdengar serak.


Memang secinta apapun perasaan yang di miliki seorang wanita untuk pria, tetap saja tak akan menyukai saat di sentuh dengan paksa tanpa keinginan nya sama sekali.

__ADS_1


"Ck!" James langsung menyingkir.


Tampak jelas wajah frustasi nya yang merasa bodoh dengan apa yang ia lakukan.


Sedangkan Louise pun membenarkan dan merapikan pakaian nya lagi agar setidak nya pantas untuk di lihat orang lain.


Chiko membalik tubuh nya, ia mendekat ke arah tuan nya dan melihat beberapa luka yang terlihat cukup dalam.


Mata nya menoleh ke arah alkohol yang berada di ruangan tersebut.


Dan ia tentu tau jika tuan nya menggunakan metode yang sama seperti biasa saat menunggu nya.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya nya yang sudah kembali sadar dan jika bawahan nya itu tak datang mungkin akan kembali memaksa gadis itu untuk melayani nya sesuai dengan imajinasi dan keinginan tersembunyi dalam diri nya.


"Bianca, aku datang karna dia." jawab Louise tanpa melihat ke arah pria itu sembari mengusap sudut mata nya yang menjatuhkan tetesan buliran bening.


James menoleh ke arah gadis itu, sedangkan Chiko sibuk membuka kemeja nya dan berusaha mengobati nya.


"Kau bisa ganti pakaian mu, di sini masih banyak barang-barang mu." ucap nya pada gadis itu.


Louise tersentak mendengar nya, ia tak terharu sama sekali saat tau barang-barang nya masih ada. Namun ia malah teringat dengan kenangan menyakitkan dari barang-barang yang bahkan tak ingin ia miliki di mansion itu.


"Tidak perlu, aku akan pulang saja." jawab nya lirih yang langsung menolak tawaran pria itu.


"Pulang lah dengan Nick, kau pasti tidak akan mau menginap di sini." ucap nya pada gadis itu karna ia tau malam sudah semakin larut dan jalanan tentu tak akan bisa di prediksi.


Louise diam sejenak, "Tidak, aku akan pulang sendiri." ucap nya yang juga menolak nya.


James menggerakkan tangan nya dan mengangkat nya agar Chiko berhenti sejenak.


"Kalau begitu aku tidak bisa membiarkan mu pulang, kau bisa pilih menginap atau di antarkan." ucap James yang melihat ke arah gadis itu.


Louise langsung menoleh, walaupun terlihat pucat namun tatapan yang tegas masih tak dapat di sembunyikan sama sekali.


"Kalau aku tidak mau ke dua nya, kau akan memaksa ku?" tanya Louise pada pria itu.


"Ya," jawab James singkat lebih baik memaksa gadis itu untuk tinggal di mansion nya satu malam dari pada membiarkan nya dan kembali merasakan perasaan yang takut jika terjadi sesuatu lagi pada gadis itu.


"Aku akan pulang dengan Nick," ucap Louise yang langsung membuat pilihan karna ia tau tatapan yang tegas itu tak akan berubah sama sekali apapun yang terjadi.


James tak mengatakan apapun, mata yang tak bisa menunjukkan apa yang ingin di katakan dan apa yang di rasakan serta wajah yang tidak memiliki ekspresi sama sekali.


Louise beranjak keluar, ia juga tak mengatakan apapun lagi.


"Maaf,"


Satu kata yang terdengar di telinga nya sebelum ia keluar dari ruangan itu dan tangan yang ingin meraih genggaman pintu.


......................


Kediaman Rai


Pukul 12.45 am


Gadis itu berhasil pulang tanpa sepengetahuan sang kakak dan tentu ia harus menutup mulut para penjaga yang melihat nya pergi saat itu dan masalah sudah teratasi.


Louise menjatuhkan diri nya ke atas ranjang, ia membuka pakaian nya dan hanya mengganti nya dengan mantel tidur karena malas mengganti dengan pakaian tidur nya.


Gadis itu bahkan tak melihat ke cermin dan tak tau titik mana yang memiliki bekas yang tertinggal.


"Ku rasa aku yang akan menjadi gila..." gumam nya lirih sembari menyentuh bibir nya yang terluka akibat gigitan pria itu.


Ia meringkuk di atas tempat tidur yang begitu empuk itu dan kemudian memejamkan mata nya yang begitu mengantuk.


....


Ke esokkan hari nya.


Pukul 08.34 am


Gadis itu masih tertidur nyenyak karna ia memang tidur larut kemarin malam.


Ia bahkan tak menyadari sama sekali jika ada yang datang ke kamar nya. Masih begitu pulas dan tentu tak ingin beranjak bangun.


Pria itu tersenyum dengan tatapan yang lembut, posisi miring gadis itu membuat lengkung leher nya yang memilik bekas kecupan itu tak terlihat dan bibir yang terluka itu pun masih belum terlihat.


Rambut yang lembut menutupi wajah itu di singkirkan satu persatu dan dan mengusap kepala nya dengan lembut.


Gadis itu terlihat memberikan respon dalam tidur nya saat ujung jemari yang hangat itu menyentuh nya dengan lembut secara terus menerus.


Mata dengan iris hijau itu terbuka perlahan, pandangan yang masih mengabur dengan menatap ke arah pria yang duduk di samping ranjang nya.


"Sudah bangun? Kalau masih mengantuk kau bisa tidur lagi." suara bariton yang dewasa yang terdengar bulat dan serak pecah itu berbicara dengan lembut.


Louise mengusap mata nya, ia perlahan bangun dan melihat pria yang bersama ny saat ini lebih jelas.


"Zayn?" panggil nya lirih yang mulai kembali ke kesadaran nya.


Pria itu masih tak melihat bekas apapun karna masih tertutupi dengan rambut namun bibir gadis itu yang terluka sudah dapat ia ketahui.


"Bibir mu kenapa?" tanya nya yang langsung memperhatikan wajah tunangan nya tercinta.

__ADS_1


Louise mengernyit, sesaat ia lupa dengan kejadian kemarin malam.


"Bibir ku? Mungkin alergi?" tanya nya karna nyawa yang masih tersambung ke sebagian akibat baru bangun tidur.


Zayn membuang napas nya, ia masih mendengar alasan yang setidak nya masuk akal.


"Kalau begitu kau bisa makan dulu," ucap nya yang mengambil kan air minum terlebih dahulu sebelum ia makan sarapan.


Louise menurut, ia menerima air yang di berikan dan pria itu pun beranjak mengikat rambut gadis itu ke belakang agar tak menghalangi.


Deg!


Zayn tersentak, ia melihat bekas yang begitu mirip dengan bekas ciuman seseorang.


"Louise?" panggil nya pada gadis itu.


Gadis itu menoleh, ia menatap ke arah pria yang memanggil nya dan terlihat dengan wajah dan raut yang berbeda.


"Kau pergi ke suatu tempat semalam?" tanya nya sembari melihat lurus ke arah wajah dan mata gadis itu.


Louise tersentak, kali ini ia sudah memiliki banyak kesadaran dan mengerti apa yang di katakan oleh pria itu.


"Tidak, aku tidak pergi ke mana pun." jawab nya yang langsung sadar apa yang di bicarakan.


Zayn tak mengatakan apapun, kini ia bahkan tak bisa berpikir positif untuk luka di bibir gadis itu.


Ia menyentuh dan mengusap bibir gadis itu sembari mengenai arah luka yang ia lihat dengan mata.


"Ini benar-benar alergi?" tanya nya yang terdengar meragukan.


Louise terdiam, "Zayn? Aku mau mandi dulu." ucap nya yang mengalihkan pembicaraan dan berusaha menghindar.


Zayn sempat terdiam namun tak lama kemudian, ia langsung menyusul ke arah gadis itu dan menarik tangan nya.


Greb!


Louise tersentak, pria yang biasa nya lembut itu kini terlihat begitu gelisah.


Tangan yang gemetar memegang nya dan meraih tangan nya.


Kaki pria itu mendekat satu langkah ke depan agar melihat ke arah tunangan nya lebih dekat.


Louise diam, ia tak mengatakan apapun pada pria itu saat lidah nya terasa begitu kelu.


"Louise?" panggil Zayn sekali lagi.


Ia ingat dengan kata-kata yang mengatakan jika tunangan yang sangat ia cintai itu tidur dengan pria lain di belakang nya.


Apa dia melakukan nya lagi? Apa mereka....


Dan tentu kata-kata itu sekarang kembali menghantui nya lagi saat melihat jejak yang tertinggal di tubuh calon istri nya itu.


"Ku mohon..."


"Katakan sesuatu..." ucap nya lirih yang tanpa sadar menekan dan mencengkram lengan gadis itu dan pundak yang ia pegang.


"Uhh..." Louise meringis lirih.


Ia tak melihat ke mata pria yang tampak mengharapkan jawaban dari nya.


"Tidak, aku tidak kemana pun dan memang cuma alergi Zayn!" ucap Louise yang kukuh dengan jawaban nya namun terlihat jelas ia berbohong saat mata hijau itu bahkan tak ingin menoleh.


Zayn menarik napas nya dengan berat, ia tau gadis di depan nya berbohong namun ia tetap tak bisa menghentikan kebohongan itu.


Ia marah dan terluka, siapa yang egois?


Diri nya yang ingin mempertahankan apa yang ia miliki atau gadis nya yang masih tak bisa melepaskan bayangan dari cinta pertama nya.


Tangan nya gemetar, namun ia menarik gadis itu dalam pelukan nya.


"Hm, aku percaya pada mu. Jadi..."


"Jadi..."


"Jangan tinggalkan aku..."


Ucap nya lirih dengan suara dan tubuh yang gemetar menahan amarah dan perasaan kacau nya.


Louise tak mengatakan apapun, ia bungkam beberapa saat. Tentu ia bisa merasakan tubuh pria itu yang gemetar dengan nada dan suara yang berbeda.


Hati nya melemah, ia tidak ingin melukai perasaan pria yang begitu mencintai nya dengan segala kekurangan yang ia miliki namun ia terus melakukan nya.


Dan pada akhirnya ia kembali merasa bersalah, serta perasaan yang tak nyaman.


"Ya..."


"Aku, tidak akan meninggalkan mu..." jawab nya lirih.


Tes...


Mata hijau itu menjatuhkan embun yang menumpuk di balik kelopak mata nya.

__ADS_1


Ia tak tau apa yang harus ia sedihkan namun sesuatu dalam diri nya memberontak dan ia juga yang membungkam nya.


__ADS_2