
Semua terdiam, tak ada satupun yang bersuara selain bunyi dari alat yang terus terpasang itu.
Harapan?
Mungkin hanya itu yang bisa di lakukan saat semua jenis upaya telah di usahakan.
"Tiga menit, mungkin masih ada reaksi dari penawar nya kalau ini memang racun yang sama." ucap Chiko membuka suara.
Sudah berjalan dua menit setelah penawar yang di berikan namun masih tak ada perubahan kecuali penurunan yang drastis.
"Racun? Dia di racun?" Louis mengernyit mendengar nya.
Bahkan jika saudari kembar nya di racun harus nya terdeteksi namun tak ada satupun yang terbaca dari tes darah nya.
"Saya akan jelaskan nanti," jawab Chiko yang melirik ke arah tuan nya yang terus berlutut di samping ranjang pasien itu dan menggenggam tangan gadis itu.
Suara alat yang terdengar kali ini berbeda, alat pemantau detak jantung itu menunjukkan suara yang tak sama.
Seluruh pasang mata yang berada di ruangan itu langsung menoleh dan melihat nya, James berdiri ia memundur dan tubuh gadis itu langsung di kelilingi dengan tenaga medis yang kembali memeriksa nya.
"Bantu pemeriksaan nya," ucap James singkat dan keluar dari ruangan itu.
Mungkin harapan nya di dengar?
Atau mungkin karna ia berjanji untuk meninggalkan gadis itu makanya harapan itu terkabul?
Chiko mengangguk mendengar nya, namun walaupun begitu ia masih menelurkan izin juga untuk membantu.
"Biarkan dia," ucap Louis pada para dokter agar tak mencegah bawahan dari pria itu saat akan membantu.
...
"Ini," Zayn memberikan semua data tentang seseorang yang menculik tunangan sekaligus adik nya.
Louis melihat nya, memang orang nya sudah di beri tau setelah Nick mengirimkan nya namun untuk lokasi di mana orang-orang itu berada masih belum di ketahui.
Dan sekarang?
Pria itu sudah menemukan nya, ia pun memberikan semua pencarian nya pada seseorang yang lebih berhak untuk tau.
"Kau menemukan nya dengan cepat," ucap Louis sembari melihat satu persatu data di atas kertas itu.
Zayn tak menjawab, ia diam dan hanya memikirkan kondisi tunangan nya yang saat ini masih tak sadar walau pun kondisi nya sudah mulai mencapai stabil.
"Masalah ledakan juga kau mengurus nya dengan baik, kenapa kau tidak dari dulu saja masuk ke bidang ini?" tanya Louis yang terlihat ingin membicarakan hal lain untuk mengalihkan rasa gelisah nya yang seakan ingin meledak menunggu saudari nya bangun.
Namun apa yang ia katakan memang benar karna teman sekaligus tunangan adik nya itu banyak membantu di berbagai hal, pemulihan trauma, penyeimbangan perusahaan saat mewakili nya agar tidak goyah dan juga membereskan masalah internal agar tetap stabil.
"Aku lebih suka bekerja tanpa ada yang memerintah," jawab nya singkat.
Pekerjaan nya yang sebelum nya adalah seniman dan tak memilih untuk memiliki pekerjaan yang sama dengan sang ayah.
Namun setelah gadis itu dulu menduduki posisi wakil Presdir setelah sang ayah turun ia pun ingin berada di sisi gadis itu.
"Mungkin karna itu Louise membuat nya," ucap Louis tersenyum tipis.
Zayn mengernyit, ia tak tau apa yang di bicarakan oleh teman nya itu.
"Yayasan seni? Dia belum bilang?" tanya Louis mengernyit.
Zayn menggeleng mendengar nya.
"Sudah banyak yang ingin bergabung karna nama nya masih di naungan JBS, tapi dia membuat nya untuk mu." ucap nya pada pria itu.
"Aku akan tanya kalau dia bangun," ucap nya pada pria itu.
Louis diam sejenak, "Ya, tanyakan pada nya kalau dia bangun, karna dia akan bangun..." ucap nya lirih.
......................
Mansion Dachinko
Pria itu menatap ke arah tuan nya, "Anda tidak menunggu nona Louise?"
"Kau sudah temukan Bella atau dia?" tanya nya yang enggan menyebutkan nama pria yang membuat gadis nya masih tak sadar sampai sekarang.
"Belum tuan, tapi saya akan masih mencari." ucap nya pada pria itu.
"Temukan Bella lebih dulu, karna mereka pasti juga akan mencari kep*rat itu jadi yang harus kita temukan adalah Bella." ucap nya pada Nick.
Nick diam sejenak, ia mengernyit mendengar perintah tuan nya.
"Anda tidak melakukan ini untuk melindungi nona Bella kan?" tanya nya pada tuan nya, karna jika wanita itu di temukan dan Louis juga tau ada hubungan nya dengan seseorang yang membuat celaka adik nya maka akan terkena imbas juga.
James hanya melihat, ia tak menjawab dan berbalik.
"Mana Bianca?" tanya nya pada hal lain.
"Nona ada di kamar nya tuan," jawab Nick pada pria itu.
...
"Bian?"
Gadis kecil itu menoleh, mata coklat nya berbinar namun sedetik kemudian ia berbalik dan tak ingin melihat sang ayah.
"Daddy datang, kenapa diam saja?" tanya nya bertanya pada putri nya yang tengah bermain dengan mainan yang menyusun bentuk rumah itu.
Bianca tak menjawab, kaki kecil nya bangun dan duduk di sisi berlawanan saat sang ayah mendekat.
James menarik napas nya, anak kecil pun bisa marah saat kesabaran nya terus di uji.
Ia mendekat dan mengangkat tubuh mungil itu lalu memangku nya.
"Daddy awas! Bian mau main tau!" ucap nya yang beranjak ke arah mainan nya lagi, namun suara nya tampak serak.
"Maaf, Bian nungguin Daddy?" tanya nya yang memeluk tubuh mungil putri kecil nya yang sedang merajuk itu.
__ADS_1
Bianca tak menjawab, bibir nya mengeriting ingin menangis.
"Da..Daddy ga sayang Bian..."
"Daddy pelgi telus..."
ucap nya yang menangis pada sang ayah, di situasi sekarang ia memang sangat membutuhkan peran seseorang yang sangat penting bagi nya namun sang ayah juga memiliki sesuatu yang harus di dahulukan lebih dulu.
James mengusap air mata yang jatuh di pipi bulat putri nya, "Daddy sayang Bian, Mommy juga..." ucap nya yang melihat ke arah mata coklat yang banjir itu.
Bianca menggeleng, ia tak menyetujui ucapan jika sang ibu menyayangi nya.
"Telus kenapa Mommy tinggalin Bian? Kenapa Bian di lempal? Daddy belum liat ini!" ucap nya yang mengadu sembari menunjukkan bekas luka yang sudah hampir menghilang itu namun di ingatan gadis itu masih begitu jelas sehingga ia terus mengatakan masih sakit.
James meniup nya, "Nah sekarang udah Daddy bacain mantra biar ga sakit lagi," ucap nya yang mengusap dengkul mungil putri kecil nya.
Bianca menoleh ke arah bekas luka nya yang sudah hampir hilang itu, ia menatap sang ayah dan mengusap nya juga.
"Iya! Udah mendingan!" jawab nya dengan suara yang masih serak karna habis menangis.
James tersenyum tipis, padahal tak ada yang ia lakukan karna sakit dan tidak nya hanya perasaan putri kecil nya itu saja.
"Bian tau ga? Kalau mantra yang tadi Daddy baca itu dari Mommy," ucap nya yang menatap wajah yang masih terlihat polos dan tak mengerti apapun itu kecuali yang di ajarkan di lingkungan ia tumbuh.
"Benel? Daddy bohong?" tanya nya pada sang ayah.
James menggeleng, ia melihat ke arah wajah kecil yang masih memerah itu, "Mana mungkin Daddy bohong sama Bian, Daddy kan udah bilang kalau Mommy juga sayang sama Bian." ucap nya sekali lagi.
Bianca diam, anak kecil tetap lah anak kecil yang bahkan percaya jika tirex terbang itu ada jika di beri tau.
"Benelan Mommy yang kasih tau mantla nya? Mommy penyihil Dad?" tanya nya dengan mata coklat yang membulat dan tangisan yang berhenti.
"Iya, Mommy itu penyihir yang ngelahirin anak cantik seperti Bian." ucap nya sembari menyentuh ujung hidung putri kecil nya.
"Hum?" Bianca berpikir dengan kepala kecil nya, mata nya menoleh ke pintu dan kemudian melihat wajah sang ayah lagi.
"Sekalang Mommy mana? Kok Mommy ga lihat Bian?" tanya nya pada sang ayah.
James diam tak bisa menjawab, ia hanya tersenyum sembari mengusap kelapa kecil itu yang tengah menatap nya.
......................
Dua hari kemudian
JBS Hospital
Louis mengernyit, memang sekarang sudah stabil namun saudari nya tak kunjung bangun.
Dan hal ini bisa jatuh dalam kondisi koma jika dalam 24 jam kemudian masih tak menunjukkan kesadaran apapun.
"Ada masalah lagi? Seharusnya kalau kau yang buat racun nya kau juga harus tau cara menangani nya atau tidak usah buat sekalian!" ucap nya dengan nada yang rendah namun penuh penekanan.
Chiko tersentak, tuan nya menyuruh nya untuk tidak kembali dan tetap di tempat yang tak ada seorang pun yang menyukai nya.
Ia sudah mengatakan apa yang terjadi dan bagaimana kondisi nya, lalu?
Tentu saudara kembar gadis itu semakin membenci tuan nya karna racun itu berasal dari pasar gelap tuan nya sendiri.
"Tentu, kalau tidak aku juga akan memberi mu sesuatu, kami memang tidak membuat racun tapi kami punya sekali bahan yang bisa beracun." jawab Louis sembari menyuruh pria itu keluar.
...
Ruang visi
Argh!
Air keras itu kembali di siram di tubuh pria yang sudah pingsan itu.
Namun tak ada satu tetes pun yang mengenai wajah nya, mungkin belum untuk saat ini.
"Kalau kau membenci nya harus nya dia saja yang kau incar kenapa orang lain?" suara yang terdengar dengan nada yang stabil.
Alex menengandah, ia tak tau mengapa bisa ada yang menemukan nya padahal ia sudah bersembunyi sebaik mungkin.
"Kau seperti orang bodoh! Kau pikir dia akan menyukai mu kalau melakukan ini? Aku sudah menyuruh nya membuat pilihan tapi dia memilih pria itu! Kau pikir orang seperti itu bisa jatuh cinta dengan mu?!" tanya pria yang terengah-engah menahan sakit itu.
Zayn diam tak mengatakan apapun, ucapan yang ia dengar bisa benar dan bisa salah karna mungkin hanya di katakan untuk memprovokasi nya saja.
"Kau tau kenapa aku tidak membunuh mu sekarang?" tanya nya yang tak menanggapi ucapan yang baru di lontarkan pada nya.
Alex diam tak menjawab, ia hanya menahan sakit. Sekarang ia bukan berhadapan dengan pihak yang ia benci melainkan dengan pihak yang menjadi sasaran nya.
"Kanker pankreas stadium akhir, tanpa ku bunuh kau juga akan mati sebentar lagi." ucap nya pada pria itu yang sudah mendapatkan tentang ketenangan terbaru.
"Tapi membuat mu memohon untuk mati bukan nya itu lebih baik dari kematian?" sambung nya menatap ke arah pria itu.
Suara pintu terbuka membuat Zayn menoleh, seseorang yang ia kenal datang ke arah nya dan mendekat.
"Dia masih bisa hidup kan?" tanya Louis menatap ke arah seseorang yang sudah hampir setengah terbakar itu.
"Ya, dia juga yang pernah menjual dan menculik Louise di hari pernikahan mu dulu." ucap nya pada Louis yang datang setelah dua hari karna hanya terus mendampingi adik nya dan mengurus masalah internal perusahaan yang tak bisa di gantikan oleh orang lain.
Louis diam sejenak saat mendengar nya, ia mendekat dan,
BUGH!
Satu pukulan kuat melayang ke arah wajah pria itu, Alex hampir terjatuh namun kursi nya adalah kursi mati yang tak bisa bergerak ke arah lain.
"Kenapa banyak sekali orang gila yang mendekati adik ku?" tanya nya lirih dengan tawa getir.
Ia beranjak menjauh, "Kau masih ingat dengan eksperimen Bio 507?" tanya nya pada Zayn.
"Ya, itu di hentikan karna tidak mendapatkan hasil yang signifikan." jawab Zayn sembari mengingat nya.
"Ku dengar di pasien kanker stadium akhir kan? Bukan nya kita sudah dapatkan subjek yang cocok untuk penelitian?" tanya nya menoleh dan tentu apa yang ia katakan adalah isyarat.
"Ya, ku rasa sangat cocok." ucap nya menatap pria itu.
__ADS_1
Alex mengernyit, ia tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Karna neraka dunia sudah di mulai, proyek yang tidak di lanjutkan lagi karna saat menguji coba pada hewan terlebih dahulu.
Hewan-hewan itu mati dengan otot yang mengejan dan kaku lalu mata yang mendelik keluar padahal obat yang ingin di luncurkan adalah obat pereda sakit.
Namun kini?
Luncuran obat gagal itu akan di uji coba pada nya, dan ia yang tak tau apa yang di bicarakan itu tengah menanti neraka nya.
......................
Mansion Dachinko
Penutup mata yang mengikat di kepala wanita yang berlutut itu di lepas.
Pandangan yang kabur dan masih gelap pun terlihat lalu kemudian menjadi jernih.
"Ja..James?" panggil nya yang langsung berbinar menatap pria yang berada di depan nya.
Plak!
Wanita itu terkejut, sesaat setelah melihat nya wajah nya terasa panas dan perih.
"Jam-"
Plak!
Plak!
Plak!
Satu persatu tamparan yang terdengar nyaring dan renyah tak berhenti sampai kedua sisi pipi wanita itu memerah dan terlihat membengkak.
Kalau aku tidak keluar dari sini, kau yang akan memukuli juga kan? Lakukan yang sama seperti yang dia lakukan pada ku
James tak mengatakan apapun, namun ia ingat dengan apa yang di minta gadis itu saat masih di tersesat sebelum nya.
"Kenapa kau melakukan itu pada nya? Dia tidak tau apapun dan kita juga sudah berakhir sebelum aku bertemu dengan dia." ucap nya yang masih bertanya pada cinta pertama nya itu setelah menampar nya berulang kali.
Jujur saja, ia masih ingin sedikit mempercayai wanita itu. Tak mudah melupakan 8 tahun yang di lalui bersama terlebih lagi wanita itu tak meninggalkan nya di saat momen yang terburuk di hidup nya.
Bella diam, ia menahan tangis nya. Ia merasa ini tak adil untuk nya.
"Kau tidak jawab? Aku tau kau punya hubungan dengan Alex, berarti selama ini kau juga tau tapi tidak pernah memberi tau apapun?" tanya James lagi.
"Kenapa kau marah pada ku?! Kau pikir aku juga mau seperti ini?! Anak ku mati dan anak nya hidup! Aku juga terluka! Aku juga sakit!" ucap Bella berteriak sembari menahan tangis nya.
Putra pertama nya mati saat di pukul menggunakan barbel ketika di dalam kandungan, dan ia tidak tau jika anak pertama gadis yang ia sangat ia benci itu juga pernah mati dan yang ia tau hanya anak kedua nya.
James tersenyum pahit mendengar nya, "Kau tau? Yang menghancurkan hubungan kita itu bukan orang lain," ucap nya pada wanita yang terlihat tak merasa bersalah itu.
"Kau tidak tau! Kau tidak mengerti posisi ku!" ucap nya sekali lagi.
"Kau tau kenapa aku meninggalkan kan mu?" tanya nya pada wanita itu.
"Karna kau mengkhianati ku, dan aku tidak mempercayai pengkhianat. Dan..." sambung nya yang menarik napas nya.
Bella menggeleng, "Aku dulu terpaksa! Aku juga ga mau! Aku..."
"Kau punya banyak waktu untuk mengatakan nya, kalau kau mengatakan nya lebih dulu kita tidak akan seperti sekarang." ucap James yang mulai mendekat ke arah wanita itu.
"Dia kan? Dia yang menyuruh mu melakukan ini kan?" tanya nya pada pria itu.
James diam tak mengatakan apapun, "Kau juga mempengaruhi Al untuk membenci adik nya, kau berusaha mencari rencana untuk membunuh Louise." ucap nya yang mengatakan dengan nada yang berat.
Bella tak mengatakan apapun, ia diam tanpa menjawab ataupun membela diri nya.
"Bella? Aku ingin mengingat mu sama seperti waktu pertama kali kita berkenalan." ucap nya yang perlahan memeluk wanita itu dan mengeluarkan sesuatu dari saku nya.
Bella diam, ia merasakan kembali pelukan pria itu setelah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan.
"Terimakasih untuk waktu yang kita habiskan, aku harap di kehidupan yang lain kau mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai mu walaupun kau mengkhianati nya." ucap nya yang mulai mendekatkan pistol ke kepala wanita yang ia peluk itu.
Bella tersentak, sesuatu yang keras dan dingin menyentuh bagian kepala nya.
Mata nya berair, ia tau jika mungkin yang berada di belakang kepala nya itu adalah senjata.
Siapa yang salah?
Pria yang tak mau menerima nya kembali setelah pengkhianatan?
Atau diri nya yang tak bisa keluar dari masa lalu nya dan mencoba kembali ke waktu di mana ia di jadikan ratu oleh seseorang?
Sampai dengan bodoh menjadi alat seseorang untuk membalas dendam dan ia yang terpengaruh?
"James? Aku tidak menyesal, apapun yang ku lakukan aku tidak menyesal sama sekali." ucap nya yang tak merasa bersalah atas semua kolusi yang ia lakukan bersama dengan Alex.
Ataupun semua perbuatan nya pada putra kecil nya dan kesalahan tak langsung pada putri pria itu karna ia yang menghasut putra nya untuk membenci putri kandung pria nya.
"Katakan pada Al kalau aku minta maaf dan aku..."
"Aku mencintai-"
DOR!
Timah panas itu menembus kepala nya tepat sebelum ia menyelesaikan kalimat nya dengan benar.
Suara yang keras dengan darah yang langsung memuncrat mengotori segala arah.
Pria itu melepaskan pelukan nya, tubuh wanita itu lunglai tak lagi bernyawa.
Ia tak pernah berpikir untuk membunuh cinta pertama nya yang telah menghabiskan banyak waktu untuk nya bahkan setelah ia di khianati. Ia membiarkan nya.
Membiarkan satu persatu kesalahan yang terus menumpuk sampai akhirnya tak bisa ia lakukan lagi.
Pria itu melihat ke arah wajah wanita yang penuh dengan darah itu, salah satu pengawal nya mendekat dan memberikan sapu tangan untuk mengusap darah di tangan nya.
__ADS_1
Namun ia tak menggunakan nya, dan menutup wajah yang penuh darah itu dengan sapu tangan yang di berikan pada nya.
"Cintai pria lain di kehidupan mu selanjutnya, dan perlakuan dia dengan baik juga." ucap nya yang menatap dengan mata yang tak dingin dan tak berekspresi.