(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Cracks


__ADS_3

Kecepatan yang semakin tinggi dengan gas yabg semakin di pijak oleh sepatu hitam yang kilap yang tampak mahal itu.


Ting!


Nick yang sedari tadi pusing karna tak dapat melacak ponsel tuan nya untuk mengetahui gadis yang membawa kabur ponsel beserta mobil tuan nya.


Pesan baru yang di kirimkan dari nomor yang tak ia simpan namun ia tau karna ia dulu sempat menyelidiki nya atas perintah tuan nya.


"Tuan Louis mengirim pesan," ucap nya pada pria yang terlihat dengan wajah tegang sembari mengemudi itu.


Ia pun membuka pesan dan mendapatkan pesan lokasi, "Dia mengirim lokasi tentang keberadaan nona!" jawab nya yang membuat pria itu langsung mengacuhkan nya.


"Di mana?" tanya James singkat dengan mata yang tajam lurus melihat ke arah jalan.


"Belok kanan di persimpangan depan," jawab Nick yang membuat pria itu langsung membanting stir nya dengan tikungan yang patah karna baru saja melaju kencang.


...


Sementara itu.


Gadis itu melepas stir nya, untung nya mobil nya tak terbalik ketika ban mobil nya pecah dan membuat mobil mewah itu tak terkendali lagi.


"Yang di dalam mobil wanita," ucap salah satu penjaga di airphone yang menempel di telinga nya.


"Bawa dia,"


Suara yang terdengar memerintah itu membuat 4 pria yang membawa senjata api itu mendekat ke arah mobil dan mencari keberadaan anak kecil yang tadi nya mereka cari.


"Kau cari siapa?"


Wajah yang tampak datar itu saat senjata api itu di todongkan pada nya dari kaca jendela mobil.


Ia memejam, tangan nya memegang stir yang bulat dan tak bergerak itu lagi.


Rasa nya lelah terus menghadapi situasi bahaya semenjak ia mengenal satu pria yang terus membuat nya mengalami hal-hal yang tak pernah terjadi pada nya.


"Keluar!"


Sentak pria yang menodongkan pistol ke arah nya.


"Bukan nya ga mau keluar, tapi pintu nya rusak, buka pintu nya baru aku bisa keluar." ucap nya pada yang menodongkan pisau.


Di culik?


Ia sudah berulang kali mengalami nya dari penculikan, penyanderaan, percobaan pembunuhan, pernah hampir di jual, mengalami pencab*lan, percobaan pemerk*s*an bahkan pemerk*sa*n itu sendiri walaupun yang berhasil melakukan adalah cinta pertama nya sendiri.


Penjaga tersebut mengernyit namun ia segera menjebol pintu mobil mewah itu dan membawa gadis itu keluar seperti seorang tahanan.


...


Mansion Alex


Louise menunggu di tempat yang sama, begitu ia di bawa keluar mata nya langsung di tutup dan di bawa entah kemana lagi.


Dan kini? Tangan dan kaki nya di ikat, mata nya di tutup namun ia bisa merasakan di dalam ruangan yang cukup bagus.


Karena ia bisa merasakan duduk di kursi yang empuk, udara yang dingin dan wangi seperti di beri pengharum ruangan dan filter udara yang segar.


Klek


Suara pintu terdengar, gadis itu langsung mengarahkan wajah nya ke arah sumber suara.


"Kau datang sendiri? Menjemput putri mu?"


Suara yang ia kenali terdengar tak asing masuk ke dalam telinga nya.


"Aku tanya, bukan bicara pada dinding." ucap nya yang mulai mengangkat tangan nya dan menyentuh pipi gadis itu.


Louise langsung menghindari tangan yang menyentuh wajah nya, walaupun mata nya di tutup namun terlihat dengan jelas jika ia memiliki raut yang tak suka.


"Kau penasaran?"


Suara serak dan bulat khas pria itu bertanya lagi pada nya dan ia pun masih sama untuk tidak menjawab nya.


"Baik, karna sudah seperti ini akan ku tunjukan wajah ku," ucap nya yang tersenyum sembari mulai memegang penutup mata gadis itu dan membuka nya.


Perlahan kain hitam yang menutup mata nya di buka, cahaya yang masuk membuat nya silau dan sulit untuk menyesuaikan pandangan nya karena sebelum nya hanya melihat gelap.


Mata nya mengernyit menatap ke arah pria yang duduk di depan nya, masih samar sebelum ia dapat melihat dengan jernih.


Deg!


Iris hijau itu membulat, ia masih membatu tak menyangka siapa yang ada di depan nya.


"Sekarang sudah tau?" tanya Alex dengan senyuman yang merasa ia sudah menang.


"Memang ya? Sesuatu yang mudah di dapat juga mudah hilang," ucap nya seakan mengatakan tentang anak kecil yang sempat ia tahan di mansion nya.


Kedatangan anak kecil itu adalah sesuatu yang tidak ia sangka dan ia pun juga kehilangan nya dalam situasi yang tak bisa ia angka juga.


"Tapi tidak apa-apa, aku punya kartu yang lebih besar." sambung nya menatap ke arah gadis itu.


Ia kehilangan sandera kecil nya yang merepotkan namun tak apa karna kini ia mendapatkan sandera yang lebih bisa ia 'apa-apain' jika ia inginkan.


"Kenapa?" tanya nya mengernyit tak mengerti pada pria itu.


Seharus nya jika ingin balas dendam pada pria itu, ia lakukan sejak dulu.


Kenapa harus menunggu sampai pria itu memiliki wanita dan ia mengincar wanita nya?


"Kenapa? Kau tanya kenapa aku berbuat seperti ini?" tanya Alex mengulang.


"Ya, kau seperti waria." jawab Louise dengan wajah tak suka.


"Apa? Kau tidak takut mati?" tanya nya yang heran dengan gadis itu.


Ia menarik napas nya dan mengangguk kecil ketika mengingat bagaimana dulu ia pernah menculik gadis itu juga.


Tak seperti gadis lain pada umum nya, gadis itu sedikit sulit di jinakkan seperti singa betina yang ingin berburu.


"Aku bersikap baik atau tidak kau juga akan membunuh ku, kan?" tanya nya mengulang pada pria itu.


Alex tersenyum saat mendengar pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Jadi katakan kenapa aku juga di ikut sertakan? Kau hanya berani pada wanita saja? Banci!" ucap nya dengan ujung kata umpatan yang membuat pria itu tersenyum kesal.


"Aku bisa memukul mu kalau kau mengatakan itu lagi," ucap nya yang mulai jengkel.


"Lalu? Yang ku katakan tadi salah? Kalau kau membenci nya, kenapa bukan dia yang kau culik, sandera? Atau bukan dia yang di siksa? Kau dendam nya dengan dia kan?" tanya nya mengulang.


Pria itu membuang napas kasar dengan senyuman yang terlihat ingin meledak mendengar gadis itu.


"Karna dengan seperti itu dia akan tau rasa nya, aku tidak membunuh nya tapi dia akan seperti mati kalau melihat orang yang ingin dia lindungi dan dia sayangi di rusak." ucap nya dengan senyuman pahit yang menyimpan amarah dan dendam.


"Siapa?" tanya Louise saat melihat raut wajah dan mata pria itu yang berubah.


"Kau mau tau? Baik, aku akan beri tau semua nya." ucap nya yang menyandarkan punggung nya pada sofa dan menghilangkan kaki nya.


"Lagi pula kali ini aku berencana membunuh dia juga," ucap nya dengan senyuman yang sulit di artikan sembari menatap ke arah gadis itu.


"Waktu dia masih sekolah, dia memperk*sa satu siswi yang masih adik kelas nya, padahal siswi itu sangat menyukai dia dan kau tau apa yang terjadi?" tanya nya yang mulai mendekat dengan suara berbisik.


Louise tak menjawab, ia hanya melihat ke arah pria yang tampak terselimuti dengan awan hitam yang lebat.


"Dia dan pacar nya yang jal*ng itu menindas siswi itu, lalu? Saat dia masuk penjara karna perbuatan nya dia mengatakan masih kata-kata yang menyakitkan untuk siswi itu, selanjutnya kau bisa menebak nya?" tanya nya dengan senyuman yang tampak semakin mengerikan.


"Siswi itu bunuh diri, dia meminum racun serangga." sambung nya dengan mata yang tampak berubah gemetar sejenak.


"Padahal dia anak yang baik dan ceria sebelum nya, dia suka tersenyum, dia cerewet, dia sedikit nakal, dia suka makanan pedas, dia..." sambung nya yang menarik napas nya saat terbawa akan cerita nya sejenak.


Louise diam tak mengatakan apapun, ia tak tau apa yang di katakan pria itu benar atau tidak yang ia tau pasti gadis yang di ceritakan saat ini merupakan seseorang yang sangat berharga untuk nya.


"Dia adik ku..." sambung Alex yang membuat pertanyaan gadis itu terjawab sudah.


"Lalu kau mau balas dendam untuk adik mu?" tanya nya yang bersuara tanpa sadar.


"Kau tau pacar kep*rat itu sebelum nya? Aku membuat nya mengkhianati dia dan kau tau apa yang lebih menyenangkan?" tanya nya yang tiba-tiba tersenyum seperti seseorang yang bahagia.


"Aku membuat anak kep*rat yang masih di dalam perut itu mati, padahal aku cuma pukul beberapa kali saja." ucap nya dengan senyuman, "Oh iya aku lupa, aku memukul nya dengan barbel." ucap nya tersenyum.


Ia memang yang membuat mantan kekasih pria itu keguguran sebelum nya, sudah ia lakukan tindakan asusila pada wanita itu dan setelah itu pun ia membuat anak tak bersalah yang masih dalam kandungan itu ikut lenyap.


Louise mengernyit mendengar nya, bukan nya ada satu anak yang masih hidup.


"Anak nya tidak mati," ucap nya menyanggah pernyataan pria itu.


"Anak nya? Kau yakin itu anak nya? Wanita yang sudah kehilangan segala nya akan mencari cara untuk mendapatkan apa yang menjadi milik nya dulu, jadi akan ku katakan kalau itu bukan anak nya." ucap nya tersenyum.


"Sekarang kau sudah tau kan? Kenapa aku melakukan ini?" sambung nya pada gadis itu.


Louise tak mengatakan apapun namun pria itu beranjak bangun dan berdiri.


Kotak yang tak jauh dari nakas tempat di mana gadis itu duduk pun ia ambil, berisi satu ampul dengan satu spuit berserta jarum nya.


"Kita akan cepat ketahuan, maka nya harus pindah, jadi kau tidur dulu." ucap nya yang mulai menarik rambut gadis itu menyuntikkan bius di tubuh gadis yang di ikat itu.


Ukh!


"Lepas!" tentu ia memberontak namun tangan dan kaki yang di ikat membuat nya tak bisa bergerak dengan bebas.


"Sstt, tidur..." ucap nya yang mengusap rambut yang ia tarik sempai obat bius itu bekerja.


Pandangan nya perlahan menggelap dan kini Louise pun mulai tak sadar.


Alex menunduk melihat ke arah gadis itu, wajah yang cantik, tubuh yang bagus dan miliki aroma yang harum.


"Kau adalah senjata ku," ucap nya dengan senyuman yang ingin membuat gadis itu sebagai senjata pembunuh nya untuk seseorang yang sangat ia benci.


Karna ia tau James tak akan menyakiti wanita itu seperti mantan kekasih nya sebelum nya yang tak bisa ia bunuh walau sudah menghianatinya, apa lagi gadis yang sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun?


Ia perlahan membawa gadis yang tak sadar itu dalam gendongan nya dan membawa nya ke roof top mansion nya.


"Kalian sudah siapkan heli nya?" tanya nya pada bawahan nya.


"Sudah tuan," jawab pengawal pria itu.


"Ledakkan mansion dan mobil yang tadi dia bawa," perintah nya yang membawa gadis itu pergi.


Ia tau jika ia akan segera ketahuan jika tetap berada di tempat itu dan otomatis ia harus membawa nya pindah dan kemudian menghilangkan jejak nya.


Sedikit kerugian tak masalah untuk nya karna ia juga tak akan bertahan lama dan akan meninggalkan semua uang yang sudah ia cari sampai membuat nya seperti saat ini.


...


Hu...


Hiks...


"Mommy jahat..."


"Mommy gak sayang Bian..."


Tangisan lirih itu masih terdengar, bagi gadis kecil yang masih belum bisa mencerna situasi tentu ia menganggap wanita yang melempar dan meninggalkan nya dari mobil adalah orang yang jahat dan tak menyayangi nya.


"Bianca?"


Suara yang memanggil nya kini terdengar nyata, bukan suara yang berada di sambungan telpon namun suara yang berada di dekat nya.


"Hum?"


Mata yang memerah itu melihat dan mencari suara yang memanggil nya, dan ia sangat tau jika itu bukanlah suara sang ayah.


"Paman?"


Gadis itu keluar dari semak-semak yang sangat sensitif di kulit halus dan lembut nya.


"Paman Uwis?" panggil nya melihat seseorang yang pernah membawa nya itu selama satu hari sampai ia tak bisa bertemu ayah kesayangan nya.


"Hua!!!" tangis nya terdengar.


Langkah kaki nya yang tertatih otomatis mendekat ke arah seseorang yang sebelum nya sudah ia kenal.


Greb!


Tubuh mungil yang kecil dan sudah tampak dekil itu di tarik masuk ke dalam pelukan pria itu.


"Sstt..."

__ADS_1


"Sekarang kita pulang ya..."


Bisik nya lirih pada anak kecil yang menangis sampai tubuh ny gemetar itu. Ia mengarahkan mata dan tangan nya untuk mencari ke sekeliling tempat tersebut.


"Mau Daddy huhu..." tangis Bianca yang meminta sang ayah.


"Iya, sebentar lagi Daddy datang..." jawab Louis pada keponakan kecil nya itu.


"Aku sudah minta mereka untuk bawa heli ke sini, lebih mudah mencari dari atas." ucap Zayn dengan suara berbisik pada pria yang tengah mengendong anak kecil itu.


"Hm, suruh mereka mengikuti arah jalan juga." ucap nya pada pria itu.


Suara mobil mendekat tak lama kemudian, Bianca menoleh ia menatap ke arah seseorang yang turun.


"Daddy? Daddy!"


Gadis kecil itu menggeliat ingin turun dari gendongan paman nya dan memilih untuk mendekat ke arah seseorang yang sudah ia cari beberapa hari ini.


Louis menurunkan nya dan membiarkan kaki kecil itu langsung berlari menghampiri pria itu.


Greb!


Berbeda dengan pelukan yang sebelum nya, kini tangan mungil itu begitu erat memeluk pria yang menggendong nya.


"Daddy..."


"Huhu..."


Tangis nya yang hanya memeluk sang ayah, sedangkan mata pria yang melihat dari jauh itu tampak sangat tajam.


Ia tak membenci keponakan kecil nya yang memilih langsung memeluk sang ayah walaupun ia juga berkontribusi untuk mencari.


Yang membuat nya benci dan marah adalah karna pria itu mengeluarkan adik nya dengan cara menerobos kediaman nya dan pada akhirnya membuat saudari nya pergi entah kemana.


"Cari terus," ucap nya yang berbalik dan menyenggol ke arah Zayn untuk pergi.


Ia tak bisa dengan terang-terangan marah atau memukul wajah pria itu karna saat ini keponakan nya itu sedang berada di sana dan bahkan dalam gendongan.


James membuang napas nya, ia tau tatapan yang sangat marah dan membenci nya itu.


"Daddy? Mommy gak sayang Bian..." adu nya pada sang ayah dengan suara serak.


"Mommy sayang Bian..." ucap nya sembari mengecup dahi putri yang saat ini masih kotor karna blusukan.


"Tapi Mommy buang Bian..."


"Huhu..."


Tangis nya mengadu pada sang ayah, "Mommy pergi naik mobil sendiri?" tanya nua pada putri nya.


Bianca mengangguk dengan wajah nya yang masih memerah karna tangis itu, "Abis lempal Bian, Mommy pelgi..." tangis nya pada sang ayah.


"Bian lihat ada yang ikutin Mommy? Mobil juga atau yang lain?" tanya nya yang sembari menggendong putri nya.


Bianca mengangguk, "Ada blum blum yang kenceng kayak Mommy juga..." tangis nya yang mendeskripsikan mobil yang ia lihat melaju kencang tak lama setelah sang ibu melempar nya keluar.


James tak mengatakan apapun lagi, ia hanya memeluk tubuh mungil putri nya yang sudah kembali.


"Suruh mereka untuk cari ke sini, kau bawa Bianca lebih dulu." ucap nya yang ingin menyerahkan putri kecil nya.


"Hua!!!"


"Bian mau sama Daddy..."


Suara melengking putri kecil nya yang tak ingin di gendong orang lain memeluk erat leher sang ayah.


Yang mau saat ini hanyalah ayah nya yang sudah lama tak ia temui dan gadis kecil itu pun tak tau apapun tentang situasi yang di hadapi saat ini.


"Tuan? Sebaik nya anda bawa nona Bianca saja. Saya yang akan mencari di sini dan memberi tau tentang keadaan nya." ucap Nick ketika melihat nona muda yang histeris tak ingin di pisahkan oleh sang ayah.


James melihat ke arah putri nya, ia menarik napas nya. Situasi yang bagi nya tak bisa di pilih.


Putri kecil kesayangan nya yang takut dan tak mau di tinggalkan serta ingin mencari gadis nya yang hilang tak berjejak.


"Aku akan pulang lebih dulu, cari dan temukan sesuatu." ucap nya yang memeluk putri kecil nya yang menangis histeris itu, "Dan juga jika di perlukan lakukan pencarian dengan drone atau heli." sambung nya memberi perintah.


"Baik tuan," jawab Nick pada atasan nya itu.


...


Setelah pencarian di lakukan, kepulan asap terlihat lebih dulu melalui helikopter dan drone yang bertebaran.


Pria itu berdiri di depan mobil yang terbakar di pinggir jalan itu.


"Seperti nya ini mobil tuan..." gumam Nick yang melihat dan langsung mengenali mobil yang siang tadi ia bawa.


Sementara itu di tempat lain Louis melihat ke arah bangunan megah yang hancur lebur terbakar, lebih tepat nya seperti baru saja di berikan bom atom yang membuat nya langsung hancur.


"Pasti di sini tempat nya," suara yang membuat nya menoleh.


"Peternakan nya juga ikut terbakar, seperti nya tempat ini di hancurkan dengan isi nya." ucap Zayn yang mengatakan berdasarkan dari apa yang sudah ia temukan.


...


Mansion Dachinko.


Tubuh kecil itu sudah lunglai tertidur di dalam dekapan sang ayah, ia tak mau pria itu pergi lagi sampai mandi dan makan nya harus dengan sang ayah begitu juga dengan luka-luka di tubuh nya yang juga harus di obati sang ayah.


Tangan pria itu mengusap punggung kecil yang kini sudah tertidur nyenyak, mata nya tampak tajam.


Ia melihat ke arah iPad yang melaporkan segala sesuatu yang terjadi.


Perasaan marah yang menggebu dan gelisah bercampur takut yang tak tertahankan meluap di hati nya.


Ia sudah pernah kehilangan semua orang yang ia cintai dan kini ia juga seperti akan kehilangan nya lagi, rasa sakit dan luka dari masa lalu nya saja belum pulih.


Mana mungkin ia bisa kehilangan untuk ke sekian kali nya lagi.


*Kali ini aku akan membunuh nya...


Siapapun...


Siapapun yang terlibat kali ini*...

__ADS_1


__ADS_2