
7 Hari kemudian.
Mansion Alex
Pria itu kini kembali mencari dan menyelidiki tentang kembali nya gadis yang rumor nya sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
Dan benar saja dugaan itu, ia mendapatkan hasil yang ia cari. Pria itu menaikkan smirk nya.
Sebelumnya ia mulai menyukai gadis itu dan mendapatkan kabar jika gadis itu sudah meninggal.
"Kali ini aku akan membuat mu jadi milik ku, jika tidak maka..." gumam nya lirih.
Ia memastikan gadis itu sudah tak berhubungan lagi dengan pria yang ia benci, namun tentu nya info nya bukan lah info yang valid karna sudah banyak gadis itu menemui pria itu.
......................
Louise membuang wajah nya ke arah lain, ia tak menatap ke arah pria yang berada di depan nya sembari melirik sesekali.
"Kau mau apa?" tanya nya dengan ketus.
"Ini kan pertama kali aku memakai kesempatan pertama ku," jawab James sembari melihat ke arah gadis itu.
Ia memilih makanan yang dengan tepat masuk dalam selera gadis di depan nya, tentu ia tau apa yang begitu di sukai gadis nya.
"Seharusnya kita makan malam, tapi karna kau tidak bisa aku ingin kita kencan?" ucap pria itu dengan senyuman tipis.
"Kencan? Aku sudah punya tunangan!" ucap Louise langsung.
Pria itu menarik napas nya, ia tau jika gadis di depan nya sudah memiliki tunangan tapi bukankah gadis itu juga sudah berjanji pada nya?
"Hanya kencan kecil, kau tidak akan menyesali nya." ucap nya sembari berusaha meyakinkan gadis itu.
Louise sedikit ragu namun ia pada akhirnya mengiyakan apa yang di katakan oleh pria itu.
...
Summit
"Wah..." gadis itu tak bisa menyembunyikan wajah dan mata nya yang berbinar.
Walaupun ia memiliki banyak uang sejak kecil namun bukan berarti ia bisa melakukan segala nya.
Banyak yang di batasi karna orang-orang di sekeliling nya terlalu menyayangi nya takut ia terluka sehingga begitu banyak hal yang belum ia coba.
"Kau suka kan?" pria itu tersenyum melihat reaksi yang berbinar itu.
Louise tersentak, ia menjaga wajah nya lagi agar tetap tenang.
__ADS_1
"Dari mana kau tau tempat seperti ini?" tanya nya sembari melirik ke arah pria yang berada di samping nya.
"Entahlah, ku rasa aku tau apapun..." bisik pria itu yang membuat hidung mancung nya menyentuh daun telinga gadis yang bersama nya.
"Astaga!" Louise tersentak, tangan nya langsung memegang dan menarik tangan pria di samping nya secara refleks.
Walaupun ia kagum namun sudut tempat ia berdiri saat ini begitu tembus pandang di atas 1200 ft ke atas.
"Kau tidak akan jatuh," ucap James dengan senyuman nya dan memegang tangan gadis itu.
Sebuah kesempatan yang datang di waktu yang tepat membuat nya bisa menggenggam tangan gadis itu. Louise yang masih tak sadar juga memegang tangan pria itu.
"Balon," ucap Louise sembari menunjuk sesuatu yang mengambang di udara dan dan juga yang berada di lantai berserakan itu.
Louise tanpa sadar tersenyum, ia belum pernah ke tempat seperti itu ataupun bermain di tempat seperti itu.
Langkah nya berjalan ke arah lantai yang terlihat memantulkan nya seperti kaca, berdiri di depan jendela kaca yang luar biasa besar dan menampilkan seluruh kota.
Gaun berwarna oranye dengan tas yang masih di gandeng itu terlihat membelakangi pria yang berdiri memandangi nya.
Langkah nya perlahan mendekat, hingga ia sampai dan berdiri tepat di belakang gadis itu. Tangan nya tak menyentuh pinggang sama sekali melainkan menyentuh pundak nya.
James menurunkan tubuh nya sedikit dan mulai berbisik, "Kau suka kan?" tanya nya yang memang selalu tau apa yang di sukai gadis itu.
Tak!
Ia menepis tangan pria tampan itu, dan menatap dengan sinis sembari menoleh.
"Iya, tapi aku tidak suka kau." balas nya sembari berjalan ke sisi yang lain nya.
James diam dan tak menjawab apapun, ia melihat gadis itu yang menjauh namun ia tak langsung mengejar nya karna hanya berjarak beberapa langkah dari ia berdiri saat ini.
"Aku akan bawa Zayn ke sini nanti," ucap Louise yang tentu dapat di dengar oleh pria yang bersama nya.
Rasa nya terdapat kepuasan tersendiri jika pria itu cemburu, atau mungkin ini yang di rasakan oleh pria itu maka nya dulu ia di sakiti dengan cara yang sama?
"Ku dengar..." ucap Louise lirih dan menggantung, ia melangkah mendekat kali ini.
Pria itu tak memundur sama sekali, namun ia melihat ke arah wajah gadis di depan nya dengan lurus.
"Ku dengar lantai teratas itu kamar kan? Aku..."
"Jadi tidak sabar mau bawa Zayn ke sini," sambung nya dengan senyuman tipis.
Pria itu diam tak mengatakan apapun, tidak marah ataupun menunjukkan emosi di wajah nya, namun tangan nya mengepal dengan kuat.
__ADS_1
Louise menurunkan pandangan nya, menatap tangan yang gemetar saat di kepal dengan kuat.
Gadis itu tersenyum tipis melihat nya, ia mengalihkan pandangan nya lagi dan berjalan ke arah lain.
"Kau sudah tidur dengan nya?" tanya pria itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Bukan nya itu pertanyaan yang tidak sopan?" tanya Louise sembari berbalik dan mengernyit menatap ke arah pria itu.
"Entah lah, aku tidak yakin kalau kau melakukan hal itu dengan pria lain..." bisik nya yang tanpa sadar memberikan provokasi pada gadis di depan nya.
Louise menepis tangan pria itu dan menatap nya dengan sinis, "Kalau aku tidur dengan mu lebih aneh lagi kan? Memang nya..."
"Kau itu siapa?" sambung nya yang begitu terkena sasaran.
......................
Gadis kecil itu tak mengetahui apapun, ia hanya mengikuti sang kakak yang menggandeng tangan nya.
"Kak? Kita mau kemana?" tanya Bianca menatap ke arah anak laki-laki berumur 8 tahun itu.
"Toko mainan, Bian mau beli boneka baru kan?" tanya nya sembari melihat ke arah sang adik.
Bianca mengangguk sembari melihat dengan senyuman dan tatapan cerah. Ia menatap dengan mata yang tak curiga sama sekali.
Tangan Arnold merogoh saku nya, mengeluarkan sebatang coklat dan di berikan oleh gadis kecil itu.
"Bianca nunggu di sini yah? Kakak beliin Bian permen kapas, Bian mau kan?" tanya pada adik angkat nya itu.
Bianca langsung mengangguk semangat mendengar makanan yang begitu manis itu.
Arnold pun beranjak pergi, ia langsung berlari berbalik meninggalkan gadis kecil itu di tempat yang tak terlalu ramai atau pun terlalu sunyi itu.
Semua salah Bian! Kalau Bian gak ada Daddy bakal sayang aku!
Anak lelaki itu, tak berbalik sama sekali melihat mata jernih sang adik yang dengan polos dan ceria menunggu serta mempercayai nya.
Matahari mulai turun, senja mulai datang dan gadis kecil itu tak melihat ke arah sang kakak. Ia memang selalu di berikan ponsel ataupun jam tangan agar keberadaannya bisa di ketahui namun itupun sudah diambil oleh sang kakak sehingga tidak ada apapun di tubuh nya kecuali pakaian sepatu dan juga coklat di tangan nya.
"Kak?"
"Kakak?"
Panggil nya yang berjalan ke sana kemari dengan dengan bingung namun tak beranjak berjalan jauh dari tempat ia tinggalkan karna takut sang kakak akan datang dan ia tak tampak.
"Kakak dimana?"
"Kak?"
__ADS_1