
"HUA!!!"
Tangisan anak kecil itu menggema dengan kuat, mata bulat nya terus berair dan melihat panik ke arah sang ibu.
"Mommy! Mommy! Huhu..."
Gadis kecil itu bingung, harus nya ia pikir sang ibu tetap akan baik-baik saja karna bagi nya perut besar itu ada lah penyimpanan terpisah.
Mata sayu itu menoleh segaris ke arah putri kecil nya yang sekarang mulai menangis di dekat nya sembari terus menarik tangan nya.
Namun ia tak bisa bersuara atau pun bangun, darah nya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.
Cairan bening yang juga seperti nya ikut keluar bercampur dengan cairan merah yang kental itu.
Gadis kecil itu menarik napas nya yang sudah cegukan, ia pun mulai bangun dan berjalan dengan sendiri nya untuk keluar.
"HUA!!!"
"Bantuin Mommy!!!"
Teriak nya dengan kencang saat ia membuka pintu kamar ibu nya dan kali tentu mengundang seseorang untuk datang.
"Astaga! Nona? Anda baik-baik saja?"
Suara salah satu pelayan yang langsung datang mendekat melihat ke arah anak kecil yang menangis namun berlumuran darah itu.
"Mommy!"
"Mommy!"
"Huhu!"
Tangis nya yang langsung menunjuk ke arah ibu nya yang berada di atas lantai itu.
"Ya Ampun! Nyonya!"
Pelayan itu memekik terkejut, ia pun langsung memanggil penjaga mansion itu agar segera membawa nyonya ke rumah sakit terdekat.
Berbeda dengan mansion lama nya yang hampir 24 jam memiliki bawahan yang berprofesi sebagai dokter dan tangan kanan yang sering berada di sana.
Mansion baru nya sama seperti mansion lain nya yang hanya sebatas rumah biasa tanpa ada nya pusat dari kegiatan gelap itu.
Mengantar sendiri lebih cepat di bandingkan menunggu ambulance, dan saat ini mobil yang tengah melaju cepat itu sedang menuju ke ruang sakit yang paling dekat.
......................
Rumah sakit.
Derap langkah yang cepat itu berlari di koridor, ia langsung pergi menyusul ketika mendengar kabar tentang istri nya.
"Apa yang terjadi?"
Suara yang terdengar terengah-engah karna berlari itu berhenti di ujung lorong ketika ia melihat seseorang yang ia kenali.
"Maafkan kelalaian kami, sebelum nya nyonya tidur di kamar dan kemudian nona Bianca menangis setelah itu kondisi nya seperti ini." ucap salah satu penjaga yang hanya menceritakan hal yang ia ketahui.
James menangguk kecil, ia pun memberi kan isyarat pada penjaga nya jika sudah boleh kembali.
Sedangkan ekor mata nya melirik ke arah putri kecil nya yang tampak masih menangis tersedu hingga cegukan dengan tangan yang mengepal serta wajah yang menunduk dengan tangan dan pakaian yang masih berlumuran darah.
"Bianca? Kau tau ini ada apa?" tanya nya yang kali ini melihat ke arah putri nya yang menangis.
Harus nya putri kecil nya langsung memeluk nya ketika ia datang dan memang biasa nya seperti itu.
"Daddy..."
Suara serak karna tangis itu memanggil lirih sang ayah, mata bengkak karna tangisan menengandah melihat seseorang yang berdiri di depan nya.
James berjongkok dengan satu lutut nya agar bisa melihat wajah putri nya tanpa harus makhluk mungil itu menengandah.
"Mommy ga mati kan?" tanya nya dengan suara serak menggemaskan nya itu dengan wajah yang takut.
Pria itu diam tak mengatakan apapun, namun mata nya melihat tanpa berkedip atau pun memberikan pelukan nya pada anak nya yang menangis itu.
"Bi.. Bian cuma mau adik ba.. bayi nya aja yang ma.. mati..." ucap nya yang tersendat-sendat karna cegukan.
"Ta.. tapi Mommy... Mo.. Mommy ke.. kenapa juga sa.. sakit..." sambung nya dengan takut pada sang ayah.
Otak nya tentu merekam sesuatu setiap kali ia membuat seseorang terluka.
Mata sayu, wajah pucat dan bibir yang terbuka sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu.
Ia mengingat nya, seakan sedang menunggu tarikan nyawa untuk keluar. Namun kali ini ia melihat sesuatu yang sama pada ibu nya.
Ia tak mengerti kematian itu seperti apa, namun yang ia pahami kematian adalah suatu hal yang membuat nya bisa membuat seseorang tertidur dan tak menganggu nya lagi.
__ADS_1
"Bian buat apa sama adik bayi nya?" pria itu bertanya dengan nada rendah.
Tak membentak ataupun menarik kasar tangan putri nya agar mengaku.
"Bi.. Bian pukul pakai bunga hiasan di kamal Daddy Mommy..." jawab nya lirih pada sang ayah.
Ia mudah mengaku pada sang ayah, tak ada kilahan kebohongan saat ia berbicara pada pria yang mengajari nya semua hal yang ia lakukan.
"Bian pukul Mommy?" tanya James memperjelas.
Bianca langsung menggeleng dengan cepat, ia hanya merasa memukul adik bayi nya bukan ibu nya.
"Bian ga pukul Mommy! Bian kan sayang Mommy! Hua!!!" tangis nya pada sang ayah.
"Bian? Bianca? Berhenti menangis, bicara dengan Daddy dulu." ucap nya yang tetap menjaga nada suara nya dan tetap tenang agar bisa menghadapi putri nya.
Bianca kembali menoleh, nada bicara yang teratur itu tak membentak nya sama sekali. Ia kembali melihat ke arah sang ayah namun air mata nya menetes dengan deras mengalir di pipi nya yang bulat itu.
"Apa yang Bian pukul?" tanya nya pada putri nya sekali lagi saat melihat wajah imut itu kini sudah kembali menatap nya.
"Pe.. pelut Mommy... A.. adik kan ada di pelut Mommy..." jawab nya tersendat-sendat.
"Kenapa?" pria itu menatap ke arah putri nya tanpa memberikan jeda untuk menenangkan gadis cilik kesayangan nya itu.
"Mo.. Mommy la.. lagi tidul... te.. telus adik bayi nya gelak telus di pelut Mo.. Mommy, Bi.. Bian udah suluh buat diem tapi adik bayi nya ga mau... ja.. jadi Bian pukul bial adik bayi nya mati..."
"A.. adik bayi nya na.. nakal..." tangis nya pada sang ayah yang kali ini sudah menceritakan semua nya.
"Bianca?" suara yang memanggil itu menatap ke arah putri nya.
Gadis kecil itu melihat ke arah sang ayah yang kali ini tak menunjukkan emosi yang kuat. Seperti marah namun tak ada amarah yang keluar.
"Daddy kan sudah pernah bilang untuk bicara setelah adik Bian lahir," ucap nya pada putri nya.
Bianca menutup bibir nya dengan rapat dan tak bisa mengatakan apapun.
"Bian? Mau lihat Mommy ga sama kita lagi? Adik bayi nya kan masih ada di perut Mommy, Bian ga bisa pikir kalau Mommy bakalan sakit juga?" tanya nya pada putri nya.
"Tapi Mommy sakit kalna adik bayi nya!" ucap nya yang menangis pada sang ayah.
"Itu Bian tau? Mommy sakit karna adik bayi nya masih di perut Mommy terus Bian pukul adik bayi nya," ucap pria itu yang masih menjaga nada suara nya pada putri nya.
Mata coklat itu mulai bergetar, ia menunduk dan menatap ke lantai. Walau sang ayah tak mengatakan apapun yang memarahi nya namun terkesan seperti kali ini menyalahkan nya.
"Kali ini yang nakal bukan adik bayi, tapi Bianca." ucap nya yang bahkan tak memanggil dengan nama yang di singkat atau panggilan.
"Bi.. Bian bukan anak nakal!" ucap nya yang meraih tangan sang ayah.
Baru kali ini sang ayah mengatakan jika ia melakukan sesuatu yang nakal, ia takut dan gugup.
Ia tak tau rasa nya di marahi, namun walaupun pria di depan nya tak meninggikan suara nya sama sekali atau mengubah ekspresi wajah nya ia tau jika pria itu sedang marah.
"Da.. Daddy..."
Tangis nya lirih pada sang ayah yang kini memanggil, wajah nya tampak sendu dan menatap sayu ke arah sang ayah.
"Bian ga sayang Mommy? Bian ga mau Mommy sama kita lagi maka nya Bian buat begitu?" tanya nya pada putri kecil nya.
Gadis kecil itu mulai kembali menangis dengan kencang lagi, ia menggeleng dan menatap sang ayah.
"Bian sayang Mommy! Huhu!" tangisan yang dengan tubuh mungil yang bergetar itu.
Karna memang dari awal yang tak ia inginkan adalah adik bayi nya dan bukan ibu nya.
"Sayang? Kalau sayang Bian ga akan pukul Mommy, karna adik bayi nya? Tapi adik bayi nya kan masih di perut Mommy," ucap nya pada putri nya yang menangis itu tanpa memberikan jeda untuk menenangkan nya.
"Huhu..." tak ada jawaban sama sekali yang terdengar melainkan hanya tangisan lirih yang kembali memenuhi lorong tersebut.
"Bian? Kali ini Bian salah?" tanya nya pada putri nya sembari menarik tangan mungil itu perlahan agar kembali melihat nya.
Dan memang untuk melatih emosi putri kecil nya atau membangun suatu kasih sayang dan hukuman ia harus membuat mata bulat itu melihat ke arah nya.
"Bian salah? Bian kan ga mau Mommy sakit..." ucap nya yang menangis sembari melihat ke arah sang ayah.
"Iya, kali ini Bian yang salah." ucap nya pada putri cantik nya yang menangis tersedu itu.
Mata coklat itu tampak tersentak, sang ayah tak pernah menyalahkan nya untuk apapun dan jika sekarang ia di salahkan bukan kah kali ini ayah nya sudah benar-benar marah?
"Maaf Daddy..." tangis nua yang gemetar.
"Minta maaf nya ke siapa? Bukan ke Daddy," ucap pria itu dengan nada yang terdengar sama namun membuat putri kecil nya merasa gugup.
"Bi.. Bian nanti mi.. minta maaf ke Mommy juga..." ucap nya lirih pada sang ayah.
Pria itu menarik napas nya, terlihat jelas jika anak kecil itu tak tau yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.
__ADS_1
"Bian? Dengar Daddy," ucap nya yang kali ini memegang kedua sisi bahu mungil itu dan membuat mata bulat yang sembab itu melihat nya.
"Kalau Bian mau Mommy tetap sama kita Bian juga harus sayang sama adik bayi nya, dan yang bisa hukum atau tentukan siapa yang nakal itu cuma Daddy, bukan Bianca." ucap nya yang menekan setiap kata nya pada gadis kecil itu.
Bianca menangis, kata-kata yang terdengar dengan nada yang rendah itu seperti memasuki kepala nya.
Seakan mengatakan jika ia tak punya kuasa apapun sampai sang ayah memberi nya izin lebih dulu.
Penanaman pikiran untuk patuh pada seseorang yang mungkin tak bisa ia sadari untuk saat ini.
"Bianca mengerti?" ucap nya sekali lagi pada putri nya.
Ia tau bagaimana menekan ataupun memarahi gadis kecil itu, ia tau bagaimana cara nya agar membuat putri kecil nya tunduk tanpa harus mengejutkan nya dengan suara yang besar karna ia lah yang membesarkan nya.
Gadis kecil itu mengangguk, nada halus itu seperti perintah tersirat pada nya.
James menghela napas nya kali ini, ia kalut dan takut jika sesuatu akan terjadi pada wanita yang sangat ia cintai begitu juga dengan kedua putra yang ia nantikan.
Ia kini menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan nya, mengusap punggung kecil yang gemetar itu dengan lembut.
"Sekarang Bian tau kan harus apa? Kali ini jangan Daddy harus melihat hal seperti ini dua kali, mengerti?" bisik nya di telinga mungil yang menangis itu.
Gadis kecil itu mengangguk dalam pelukan sang ayah, ia tak memberontak ataupun menunjukkan kembali amarah nya.
Namun ia merasa takut!
Tak ada kata makian, tak ada juga suara tinggi yang memekakkan telinga nya, tak ada pukulan dari tangan yang melayang dan menyakiti permukaan kulit nya sedikit pun.
Tapi kenapa ia merasa sangat takut?
Ia merasa tak bisa berkilah, ia tak bisa berbohong atau pun membantah, seluruh tubuh mungil seakan membeku dan mengakui kesalahan nya.
Selain ketakutan akan masa yang mungkin datang tanpa ibu yang baru bersama nya, ia juga merasakan rasa takut yang harus membuat nya tunduk.
3 Jam kemudian.
Pria itu masih menunggu di tempat yang sama, putri kecil nya yang kelelahan pun tertidur di gendongan nya dan ia pun masih belum memberi tau hal ini pada saudara kembar istri nya.
"Kenapa lama sekali..."
Gumam nya yang terus merasa gelisah, dan hanya melihat ke arah pintu kabur tempat di mana sang istri masuk ke dalam sana.
Ia merasa takut dan merasa bersalah, harus nya ia terus bersama sang istri sampai menjelang kelahiran dan kali ini pun adalah operasi melahirkan pertama saat ia tak bisa mendampingi wanita nya. Tidak seperti anak pertama dan anak kedua nya.
Suara pintu geser itu terdengar, mata nya menengadah dan langsung mendekat.
Pria yang masih mengenakan baju bedah itu namun tentu jubah nya yang berdarah sudah di lepas.
"Bagaimana kondisi mereka? Dia selamat? Anak-anak ku?" tanya nya yang langsung mencerca dengan pertanyaan.
Sang dokter terdiam sesaat, ia melihat pria yang berbeda dari yang sebelum nya mengantar ibu hamil yang mengalami perdarahan itu.
"Anda wali nya?" tanya nya yang lebih dulu untuk memastikan sebelum bicara tentang kondisi pasien nya.
"Ya, saya suami nya." jawab James dengan cepat.
"Semua nya selamat tapi ada kondisi bayi-bayi nya perlu di perhatikan sehingga kami memindahkan nya ke dalam inkubator, dan ada beberapa hal yang harus saya katakan sebagai efek dari benturan keras yang terjadi pada pasien." ucap nya yang kali ini mengatakan tentang kondisi nya.
....
Pria itu menghela napas nya, ia menatap ke arah sang istri yang masih belum tersadar.
Wajah cantik itu masih pucat, mata hijau itu tak tampak karna di tutup oleh kelopak mata nya yang memiliki bulu mata yang melengkung ke atas.
"Maaf..."
"Aku tidak ada di samping mu waktu itu..."
Ia bergumam lirih sembari mengusap pipi wanita itu.
James menarik napas nya, ia sudah memulangkan putri nya saat memanggil supir untuk menjemput.
Ia pun sudah berbicara tentang kondisi bayi-bayi nya dan kondisi wanita itu.
Karna wanita itu memiliki kondisi penyakit yang berbeda dari orang pada umum nya dan tentu tak semua orang tau bahkan jika ia dokter sekali pun.
Maka dari itu dokter yang membatu proses persalinan wanita itu merasa ada yang berbeda, dari mulai golongan darah yang langka dan kondisi tubuh yang tak umum sehingga di ambil kesimpulan jika wanita itu tak boleh hamil lagi karna akan mengancam keselamatan nya.
Bukan nya memiliki masalah rahim atau tak bisa hamil lagi namun di sarankan untuk tidak hamil kembali di karna beberapa alasan yang akan mengancam nyawa si ibu.
"Istirahatlah dan setelah bangun..."
"Kita harus lihat anak kita bersama kan?"
Ucap pria itu sembari mengecup dahi wanita nya dengan lembut.
__ADS_1