
Mata coklat yang terlihat sedih itu terus murung, tak ingin mengatakan apapun dan bahkan belum makan apapun.
James menarik napas nya ia pun beranjak dan memesan beberapa cake cantik untuk putri nya.
Bianca bahkan tak bergeming sedikit pun, ia tak bertanya ayah nya mau kemana dan membiarkan nya duduk sendiri.
"Bian mau cake? Yang coklat atau stroberi?" tanya nya lagi memberi pilihan.
Gadis itu menggeleng dengan lirih dan wajah cemberut saat mata dan pipi nya masih memerah.
"Bian? Nanti Bian mau main sama Daddy tidak?" tanya nya lagi pada putri kecil nya yang terlihat sedih itu.
Lagi-lagi kepala bulat dengan rambut kecoklatan itu menggeleng mendengar ajakan sang ayah.
"Tapi hari ini Daddy mau main di hutan, yang di belakang mansion." ucap nya lagi dan kali ini berhasil membuat putri nya tertarik.
"Boleh?" Bianca langsung menoleh dan kali ini bisa menghentikan tangisan nya.
"Boleh, khusus hari ini." jawab pria itu sembari mengelus rambut halus putri nya dengan lembut.
"Boleh piuw! piuw! juga?" tanya nya mengulang dengan mata yang mulai tertarik.
James sedikit bingung dengan maksud putri nya namun ia mengangguk dan mengiyakan nya karna ia tau gadis kecil itu nanti akan memilih dengan sediri apa yang di maksud 'piuw! piuw!'
"Sekarang Bian makan cake nya, ini dari Mommy tadi." ucap James yang memberikan kebohongan manis pada putrinya.
"Mommy? Mommy mana?" tanya Bianca yang mulai celingak-celinguk mencari keberadaan sang ibu.
"Mommy lagi sibuk, tadi dia telpon Daddy terus minta biar beliin Bian cake. Terus Mommy juga minta maaf karena tidak bisa datang lagi ke sini." jawab nya pada putri nya.
"Benelan?" tanya Bianca mengulang.
James memberikan senyuman tipis dan mengangguk.
Walaupun tak sering namun sekarang ia mulai memberikan senyuman tipis pada putri nya sesekali.
Netra coklat itu tak lagi memiliki kaca di balik nya, pipi dan wajah yang memerah itu pun perlahan mulai tertarik dengan makanan di depan nya.
"Mau Daddy suapi?" tanya nya pada putri nya sekali lagi.
Bianca mengangguk dan melihat sang ayah perlahan memberikan potongan yang kecil agar mudah masuk kedalam mulut nya dan di kunyah.
......................
Zayn menatap ke arah gadis terlihat diam tanpa mengatakan apapun saat mereka memulai perjalanan.
__ADS_1
Tanpa angin dan tanpa hujan, tiba-tiba tunangan nya itu meminta untuk bepergian ke tempat wisata yang sedikit jauh.
"Kau mau kita istirahat di sana?" tanya nya membuka suara sembari menunjuk ke arah maps yang memberikan penginapan.
Cukup sulit untuk mencari hotel berbintang yang biasa mereka gunakan maka dari itu ia pun mulai mencari tempat lain yang memiliki fasilitas yang sama.
"Yang mana saja bisa," jawab Louise tersenyum tipis dan kembali menatap laut biru yang di kelilingi tebing itu.
...
Kaki nya turun dari mobil dan menatap ke arah bangunan bergaya adat ketimuran yang memang seperti menjadi tempat yang cocok dengan ikon di sana.
"Tidak apa-apa kalau di sini?" tanya Zayn menatap ke arah gadis itu.
"Tidak apa-apa," jawab nya sembari beranjak masuk.
Tempat yang lumayan di sukai oleh gadis itu terlihat cukup untuk nya.
"Kau mau tidur di mana?" tanya nya mengernyit saat melihat pria di depan nya memindahkan barang-barang ke tempat yang berbeda.
"Di kamar sebelah," jawab Zayn sembari menunjuk pintu mana yang akan menjadi tempat tidur nya.
"Kenapa tidak tidur dengan ku saja, lagi pula aku juga pasangan mu kan?" tanya Louise mengernyit, karna mereka datang dengan status pasangan dan bukan nya teman maka wajah untuk tidur ruangan yang sama.
"Tidak apa-apa?" tanya Zayn dengan wajah yang bingung, tentu nya ia sangat mau namun ia takut gadis itu lah yang tak mau.
Pria itu tersenyum, ia pun langsung memindahkan beberapa barang yang ia bawa ke kamar gadis itu.
......................
Mansion Dachinko
Hutan belakang mansion merupakan tempat yang ia larang untuk di masuki, bukan nya tak boleh namun bisa saja berbahaya.
Beberapa tempat di sudut tanah yang ia lindungi itu memiliki bunga dan daun yang tubuh dengan terlarang namun dapat membuat kecanduan.
Tak hanya itu ia juga melepaskan beberapa hewan buas di dalam nya seperti serigala pemburu yang hanya mengenal tuan nya.
Dan yang paling utama adalah perdagangan manusia yang ia simpan serta beberapa penelitian terlarang juga berada di tempat tersebut.
Keheningan serta kegelapan yang dapat menelan siapa saja, cahaya dari lampu yang menyinari keluar untuk memberikan bayangan.
DOR!
Satu tembakan yang terdengar cukup keras, aliran cairan merah kental yang merembes keluar dan dapat di hisap oleh tanah dan rumput yang berada di bawah nya.
__ADS_1
"Hihi," tawa yang terdengar riang dan bukan nya takut.
Suara keras yang sering ia dengar, benda yang tak boleh ia sentuh, serta tempat yang tak boleh ia masuki kini sedang ia jajah.
Sepatu kets yang mungil dan berwarna putih itu terlihat kotor, coklat dan merah yang menyatu saat ia menginjak nya dengan darah.
"Kau senang?" tanya pria itu tersenyum tipis sembari kembali menyimpan pistol nya.
Melihat ke arah serigala yang mati karna tembakan tersebut.
"Kok seligala nya tidul?" tanya nya dengan polos setelah tawa nya.
James tak mengatakan apapun lagi, putri nya tak memiliki rasa takut dengan aroma darah ataupun suara yang terdengar keras. Sesuatu yang biasa nya di takuti oleh anak kecil.
Mungkin karna sejak bayi ia mulai menggendong putri nya saat kembali dari tempat yang tidak seharusnya, saat tubuh nya masih kotor dengan aroma anyir ketika ia baru saja meniadakan orang lain.
Memang terdengar tak wajar namun ia dulu juga tak begitu memperhatikan nya saat ia juga sedang berada dalam kesedihan karna kehilangan gadis nya.
"Daddy?" panggil Bianca sembari menyentuh jemari sang ayah yang cukup di genggaman mungil nya.
James menoleh, menatap mata yang terlihat senang namun masih menginginkan sesuatu.
"Lite boleh di piuw! piuw! juga?" tanya nya dengan senyuman polos.
"Tidak, White itu kesayangan Mommy kamu." tolak nya langsung, ia kini sudah tau maksud piuw! piuw! yang sering di dengar nya dan walaupun pengucapan nama masih salah namun ia tau putri nya ingin hewan peliharaan nya.
"Mommy suka Lite?" tanya nya dengan bingung.
"Iya, Mommy suka." jawab nya pada putri nya.
Hewan besar berbulu putih dan tebal itu masih hidup walaupun sudah memiliki umur yang cukup tua.
Bianca menoleh ke arah anjing serigala berbulu putih itu, ia beranjak memeluk nya seperti boneka hantu cantik yang memeluk hewan buas.
"Bianca juga sayang Lite..." ucap nya sembari mengusap bulu putih itu dan tanpa sadar mengotori nya dengan cairan merah kental yang masih berada di tubuh nya.
James mendekat, mengangkat tubuh mungil itu dan menggendong nya.
"Sudah malam, kita pulang dan kau juga harus mandi." ucap nya sembari menggendong gadis kecil itu.
Bianca mengangguk dengan patuh karena ia sudah cukup bermain dan walaupun ia awal nya marah pada sang ibu namun dengan kebohongan manis yang di buat sang ayah membuat hati nya lulus.
Gadis kecil yang masih tak tau apapun tentang tipuan atau tindakan yang benar atau salah, ia tak bisa membedakan nya sama sekali.
Jika sang ayah tak memarahi ataupun melarang nya maka yang ada di pikiran nya jika hal itu adalah hal yang wajar dan benar.
__ADS_1
Kertas putih yang kosong dan tergantung bagaimana seseorang ingin melukis dan membentuk nya, sesuatu yang sama seperti gadis kecil dengan paras yang mungil dan menggemaskan itu.
"Bian sayang Daddy!" ucap nya sembari mengecup pipi sang ayah karna ia senang bisa bermain.