(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Tidak salah pilih?


__ADS_3

Mansion Dachinko


Mata bulat yang coklat itu tampak memiliki wajah yang lesu, ia melihat ke arah sang ibu dan tampak ingin berbicara.


"Bian? Kenapa?" tanya Louise yang melihat wajah cemberut putri nya sedangkan pria yang tadi kabur masih belum siap dengan urusan nya.


"Tadi kan Myy masa Bian di malahin Miss gala-gala gunting lambut temen Bian," ucap nya yang mengadu pada sang ibu.


"Gunting? Bian dapat dari mana gunting nya?" tanya Louise mengernyit.


"Dali meja Miss," jawab nya dengan wajah yang polos.


"Bian ambil nya tanpa izin?" tanya Louise pada putri kecil nya.


"Udah kok, kata Miss iya waktu dia telponan," ucap nya dengan jujur pada sang ibu.


Louise menarik napas nya, ia melihat ke arah gadis kecil yang tampak lesu dengan menyandarkan kepala kecil nya ke ke meja.


"Terus kenapa rambut temen nya di gunting?" tanya nya yang kembali ke pembicaraan awal.


"Dia yang minta di guntingin, telus Bian gunting, eh waktu botak Bian malah di malahin!" ucap nya yang tampak kesal dengan sikap temen nya, "Telus waktu Miss datang malah tambah di malahin!" sambung nya.


"Siapa nama temen nya?" tanya Louise pada putri nya.


"Cecil, padahal balu aja mau Bian jadiin temen tapi malah bikin kesel! Bian main sama Syl aja deh nanti!" ucap nya dengan kesal pada sang ibu.


"Terus Bian ga kenapa-kenapa kan? Tangan nya ga luka kan?" tanya nya Louise yang kini sudah tau apa bagaimana masalah nya.


Bianca menggeleng, "Liat aja besok! Pasti bakal Bian gunting juga sekalian mata sama hidung nya!" sambung nya dengan kesal.


Louise mengernyit, namun ia tetap berpikir jika hal tersebut hanya kemarahan dari anak kecil yang masih berusia 4 tahun itu.


"Bian? Ga boleh begitu, dia kan ganguiin Bian atau mukul Bian, kalau ada temen Bian yang jahat bilang sama Mommy biar Mommy aja yang marahin." ucap nya yang juga tau jika teman putri nya masih anak-anak.


"Sama lain kali Bian ga boleh pegang benda tajam ya," sambung pada putri cantik nya.


Bianca mengernyit, biasa nya jika ia bercerita pada sang ayah maka ayah nya akan mendukung apa yang ia inginkan.


Bukan pembentukan untuk membenarkan prilaku salah nya.


"Mommy ga sayang Bian?" tanya nya yang tampak tak setuju dengan ibu nya.


"Sayang, kenapa Bian bilang ga sayang?" tanya nya yang mengernyit dan bingung dengan putri nya.


"Iya! Soal nya Mommy ga malah sama Miss sama temen Bian! Halus nya Mommy tuh malahin meleka! Sekalian gunting aja tuh kepala nya!" ucap nya yang kesal dan tampak tengah merajuk.


"Bian?" panggil Louise yang terkejut melihat putri nya yang baru pertama kali mengalami gejolak emosi.


Tangan nya mendekat dan memindahkan tubuh mungil itu ke dalam pangkuan nya, "Bian? Bian ga boleh begitu, Mommy bukan nya ga sayang Bian, malah kalau ada yang jahat sama Bian Mommy yang belain pertama, Mommy kan mau nya Bian jadi anak baik, Okey?"


Gadis kecil itu mengerucut, ia kesal namun pelukan sang ibu membuat nya diam dan sedikit tenang karna ia memang bukan anak yang mudah atau sering mengalami tantrum.


Louise memeluk dan mengusap kepala kecil itu sampai sang ayah kembali.


"Bian nya aja yang di peluk? Daddy nya tidak?"


Mata bulat yang cerah itu langsung menoleh dan menatap ke arah sang ayah.


"Sudah ga marah sama Mommy lagi?" tanya Louise saat melihat putri nya yang terlihat menatap sang ayah.


"Muach! Udah kok!" ucap nya yang melihat ke arah sang ayah namun tak beranjak mendekat.


"Daddy ga di kiss juga?" tanya James pada putri nya yang baru saja kembali dari sekolah itu.


"Daddy kan abis pup! Nanti bau!" ucap nya yang mengira sang ayah langsung lari dengan cepat dan wajah yang berbeda karna ia ingin segera mengeluarkan sesuatu yang mendesak.


"Apa? Siapa yang..." ucap James yang memiringkan kepala nya dan melirik ke arah gadis yang menahan tawa nya saat memangku putri nya.


"Bian lapar? Daddy masakin makanan ya?" ucap James yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Iya!" jawab Bianca dengan semangat, ia tak masalah sang ibu tak mendukung keinginan nya asalkan sang ayah tetap memberikan nya dukungan.


30 menit kemudian


Sup yang hangat dan panas dengan aroma yang membuat seseorang ingin menyantap nya kini sudah di siapkan di atas meja dengan makanan pendamping lain nya.


"Bian mau makan woltel nya aja," ucap Bianca yang menyisihkan dan menyingkirkan daging di sup nya.


Louise hanya menggeleng, mungkin bisa di katakan jika di meja makan itu hanya ia yang tak menyukai wortel.


Bianca meminum air mineral yang di gelas nya dan turun dari kursi nya.


"Bian mau main dulu," ucap nya yang tak sabar segera pergi untuk kembali melanjutkan permainan boneka nya yang sudah ia susun sejak tadi malam.


Louise tak mencegah dan membiarkan putri nya itu yang langsung berjalan ke kamar nya walaupun meninggalkan makanan yang belum habis.


James pun sama, dan tetap melanjutkan makan nya.


"Kau suka?" tanya James membuka pembicaraan.


"Tadi kenapa lama sekali di kamar mandi?" ucap Louise yang tak menjawab tentang rasa masakan pria itu dan malah meledek nya dengan senyuman kecil.


"Louise?" panggil James yang tak bisa berkata-kata lagi.


Gadis itu tersenyum, ia melihat kembali ke makanan nya dan membuang napas nya lirih.


"James?" panggil nya sembari menoleh ke arah pria itu.


James menoleh, ia menatap ke arah mata hijau yang tampak ingin mengatakan sesuatu itu.


"Bianca seperti nya sedikit berbeda dari anak-anak lain? Sebelum nya dia membunuh kucing ku dan tadi dia bicara sesuatu yang tidak seperti anak seusia nya." ucap nya yang sedikit menyebutkan dengan sikap putri nya.


"Mungkin karna dia masih anak-anak, jangan terlalu di pikirkan." jawab pria itu yang tentu tak akan mengatakan apapun tentang sikap putri nya atau bagaimana ia merespon dari perilaku yang salah itu.


"Benarkah? Apa nanti itu akan berubah?" tanya nya lirih yang tampak ragu.


"Jangan terlalu khawatir, dia masih anak-anak jadi wajar kalau buat kesalahan." ucap pria itu yang membela putri nya dan berusaha menyakinkan jika tak akan terjadi apapun.

__ADS_1


"Kalau anak orang lain yang buat kesalahan sama seperti anak mu kau akan mengatakan hal yang sama?" tanya Louise pada pria itu.


James menarik napas nya, tentu ia memaafkan dan mewajarkan sikap nakal bayi empat tahun itu karna merupakan putri kandung nya dan akan beda cerita jika bukan putri nya.


"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dan kau makan lebih banyak lagi," ucap nya yang menutup pembicaraan dan mengalihkan dengan yang lain nya.


"Berat badan ku bisa bertambah," ucap Louise pada pria itu.


"Aku padahal ingin kau menyimpan banyak tenaga mu sampai hari pernikahan kita," ucap nya yang tersenyum tipis.


"Pernikahan kita?" tanya Louise mengernyit.


"Tentu saja, aku akan balas sikap mu yang tadi." jawab James tersenyum dengan mata yang menginginkan pembalasan atas perbuatan yang tak tuntas dan membuat nya uring-uringan itu.


"Ck! Dasar pendendam!" ucap Louise yang berdecak.


"Itu kan memang sifat ku," jawab James tersenyum, "Oh ya, setelah kita menikah pengikut mu harus tau juga." ucap nya yang membicarakan tentang pengikut gadis itu di sosial media.


"Kenapa?" tanya Louise yang bingung.


"Kau tidak lihat DM mu? Banyak sekali yang mengirim mu pesan," jawab pria yang kesal setiap kali mengingat nya.


"Aku kan ga pernah bal- Tunggu! Dari mana kau tau?" tanya nya yang mengulang dan bingung bagaimana pria itu tau.


James tersenyum kecil, ia mengusap rambut halus gadis itu dan melihat nya.


"Aku tau semua tentang mu, jadi aku tidak suka ada lalat yang mengerubungi mu atau harus aku saja yang mengusir nya?" jawab nya tanpa memberi tau bagaimana ia bisa tau.


Louise langsung menggeleng, "Tidak usah, aku saja yang nanti membuat keterangan di sosial media ku kalau kita sudah menikah."


"Baik," ucap James yang tersenyum pada gadis itu.


Siapa yang suka jika wanita yang akan di nikahi terus di goda dengan orang lain walau hanya sebatas pesan pribadi di media sosial.


......................


Dua bulan kemudian.


Kediaman Rai


Persiapan pernikahan yang semakin dekat kini mulai terasa sibuk.


Gadis itu mendekat ke arah sang kakak yang tampak begitu berseri menjelang pernikahan nya.


"Kau mau bulan madu sampai dua Minggu? Lalu rumah sakit?" tanya Louise duduk di samping sang kakak sembari membawa jus apel nya.


"Kan ada kau," jawab Louis enteng yang tentu akan melimpahkan pekerjaan nya untuk beberapa waktu sampai ia selesai menikmati liburan dengan istri nya nanti.


Louise tertawa kecil mendengar nya saat sang kakak dengan mudah melempar pekerjaan nya.


"Nanti kalau kalian menikah aku boleh tinggal sendiri?" tanya Louise pada sang kakak.


"Tinggal sendiri? Tidak! Kau pasti mau bawa dia kan?" jawab Louis yang langsung menolak dengan jelas.


"Memang nya Clara bakal betah kalau juga tinggal sama aku?" tanya nya pada sang kakak.


"Bukan sih, tapi kan dalam satu rumah ga bisa dua keluarga Louis..." ucap nya lirih pada sang kakak.


"Ini alasan karna kau mau bawa dia kan? Kau lupa kalau aku tidak kasih izin kalian untuk tidur bersama lagi? Sebelum pernikahan?" tanya nya pada adik nya.


"Ck! Kenapa tiba-tiba jadi orang suci?" ucap nya berdecak pada sang kakak.


"Biarin," jawab pria itu yang tampak tak begitu memperdulikan rasa kesal adik nya.


"Dia juga bukan orang yang suka langgar janji kok!" sahut Louise pada sang kakak tiba-tiba hingga membuat nya terkejut.


Tak!


Louis tersentak, ia langsung menjentik kepala adik nya yang membuat nya terkejut.


"Jangan teriak tiba-tiba Louise! Lagi pula semnagat kali belain dia!" decak nya pada saudari nya.


"Kan cuma bilang, biar kau tau!" jawab Louise sembari mengusap kepala nya.


"Perkembangan anak nya bagaimana?" tanya Louis yang ingat jika adik nya masih berbohong tentang kehamilan yang tidak ada.


Louise tersentak, ia memang sekarang sering memakai pakaian longgar seperti saran dari James.


"Itu..." ucap nya lirih yang bingung bagaimana mengatakan nya.


"Hasil nya buruk setelah pemeriksaan terakhir kali..." jawab nya lirih yang tampak mengatakan alasan nya.


"Kenapa? Kandungan nya lemah? Atau karna obat mu? Tapi kan sudah di buat agar tidak bahaya untuk janin." ucap Louis yang ingat tentang obat adik nya.


"Iya, tapi kan ga semua nya cocok. Mungkin yang ini kurang cocok sama aku jadi nya dia lemah mungkin juga dia ga bisa bertahan..." ucap nya lirih yang harus membuat alasan lebih awal agar sang kakak nanti tak terkejut saat anak yang di bicarakan itu tak pernah lahir.


"Benarkah? Mau ku ganti dokter kandungan nya?" tanya Louis pada saudari nya.


"Tidak perlu, aku bisa mengurus nya sendiri." jawab Louise dengan senyuman kecil yang canggung pada sang kakak.


Louis tak lagi mengatakan apapun karna adik nya tampak tak ingin menginginkan perawatan yang ia bicarakan sama sekali dan ia juga percaya jika adik nya tak mungkin akan melakukan sesuatu yang berbahaya untuk anak nya.


......................


1 Bulan kemudian.


Balutan dress putih yang tampak anggun serta aroma ruangan yang harum dengan bunga yang hidup dan juga suasana cerah yang penuh dengan senyuman.


"Senyum," ucap Louise yang menggerakkan bibir nya tanpa suara pada wanita yang terlihat akan di foto dengan teman-teman nya yang datang ke pernikahan kedua nya.


Tak seperti pernikahan pertama yang yang di lakukan secara privat.


"Ya ampun Cla! Cantik banget!" seru teman wanita itu yang berkilau melihat ke arah pengantin wanita yang tampak cantik saat ini.


Louise tersenyum, ia senang karna saat ini bisa datang di pesta pernikahan sang kakak tak seperti sebelum nya saat ia di culik sehingga tak dapat hadir.


"Cla? Aku keluar sebentar ya," ucap nya yang membiarkan wanita itu bersenang-senang dengan teman nya.

__ADS_1


Clara tersenyum dengan cerah, ia mengangguk dan membiarkan Louise keluar.


Sementara itu, terlihat seorang pria yang tengah merapikan dasi dan kemeja nya karna sebentar lagi akan mengucapkan ikrar.


"Paman dan Bibi datang," ucap nya yang melihat ke arah sang kakak.


"Tentu saja, mereka bukan orang yang akan memutuskan hubungan karna anak nya tidak jadi menikah dengan mu," jawab Louis yang tampak tengah memperdulikan penampilan nya.


Louise terdiam sejenak dan kemudian tersenyum, ia mendekat dan menyuruh seseorang yang membantu sang kakak untuk merapikan penampilan nya keluar.


"Kali ini perlakukan dia dengan baik, jangan sampai bercerai dua kali." ucap nya pada saudara nya yang akan menikah.


Louis tersenyum, ia menunduk agar menyamai tinggi mata nya dengan saudari nya.


"Apa kita sekarang sudah benar-benar dewasa?" tanya nya dengan tersenyum.


Di tinggalkan ibu yang sangat di cintai nya saat masih remaja dan tak lama kemudian sang ayah pun menyusul.


Proses tumbuh yang tak mudah karna menjadi dewasa ternyata begitu sulit.


"Mungkin? Sayang sekali Mama sama Papa ga bisa lihat." ucap Louise tersenyum.


Ia bahkan tak tau kedewasaan itu seperti apa?


Tidur dengan lawan jenis?


Mengurus perusahaan?


Apa itu cukup untuk menjadi dewasa?


"Ya," jawab Louis lirih, "Tapi setidak nya sekarang kau melihat pernikahan ku kan?" sambung nya yang sekarang pun sudah cukup bahagia karena adik yang sangat ia sayangi melihat pernikahan nya.


Louise tersenyum, ia tak mengatakan apapun namun ia turut berbahagia dengan pernikahan kakak nya.


Aula pernikahan di sebuah hotel mewah itu kini mulai hening, tak ada suara sorak kecuali pembacaan ikrar untuk sumpah pengantin.


Suasana hikmat mengelilingi aula mewah itu sebelum tepuk tangan dan sorak ceria dari tamu terdengar.


...


Louise tersenyum, sedangkan sang kakak dengan wanita yang sudah menjadi kakak ipar nya kini tengah melayani tamu yang berdatangan.


"Louise? Hati-hati," ucap Larescha yang langsung mengambil cake yang hampir jatuh ke gaun putri dari mendiang sahabat nya.


"Eh? Iya?" ucap Louise yang tersentak dan melihat ke arah wanita paruh baya di depan nya yang masih tampak cantik.


"Hati-hati nanti kena gaun nya, acara nya kan masih belum selesai." ucap nya yang masih tetap menyayangi gadis itu seperti sebelum nya.


"Iya, Bibi Uda coba macaron nya?" tanya Louise yang mencoba berusaha tak terlihat canggung karna perasaan bersalah atas apa yang ia lakukan pada putra wanita yang selalu baik pada nya itu.


"Sudah, tapi paman mu larang makan nya banyak-banyak." ucap nya yang tersenyum.


"Kau harus jaga gula darah mu," sambung Rian yang datang karna mendengar sang istri membicarakan nya dari belakang.


Sebagai suami yang mencintai istri nya tentu ia ingin wanita itu terus sehat dan menjaga pola hidup nya agar dapat bersama nya sampai memiliki umur yang panjang.


"Kau cantik dengan gaun mu," ucap Rian pada gadis itu yang juga bersikap seperti biasa seperti tak terjadi apapun.


"Terimaksih," jawab Louise singkat dengan senyuman.


Pembicaraan mengalir dengan sendiri nya tanpa membicarakan tentang seseorang yang tak hadir di pesta pernikahan itu.


"Louise?"


Gadis itu tersentak, seseorang memegang pinggang ramping nya dari belakang dan membuat nya menoleh.


"Kau sudah di sini?" tanya nya yang melihat ke arah pria yang mendatangi nya.


Larescha terdiam beberapa saat, ia melihat ke arah tangan pria yang berada di pinggang gadis yang hampir menjadi menantu nya.


"Se.. seperti nya ada teman mu yang datang." ucap nya yang tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah nya yang tak nyaman.


Semantara itu Rian tak mengatakan apapun, ia tau siapa pria yang berada di dekat gadis itu dan juga tau sedikit dari alasan putusnya hubungan pertunangan itu.


Namun ia tak marah ataupun membenci gadis di depan nya, masalah anak-anak yang tak bisa ia campuri atau ia atur sesuka nya.


"Kami akan pergi lebih dulu," ucap nya yang membuka suara dan menarik sang istri untuk ke tempat yang berbeda.


Louise tersenyum dengan canggung saat pria itu datang, dan James yang hanya menundukkan kepala nya sekilas untuk memberikan setidak nya rasa hormat.


"Kau mau keluar sebentar?" bisik James di telinga gadis itu.


Louise mengangguk dan kemudian berjalan menuju balkon hotel yang berada di aula tersebut.


"Ku kira kau tidak akan datang," ucap nya sembari melihat ke arah pria yang berdiri tepat di samping nya.


"Aku kan bilang sedikit terlambat bukan nya tidak akan datang." jawab James pada gadis itu.


"Mereka orang tua nya?" tanya nya yang melihat ke arah wajah yang tampak sedikit tak nyaman itu.


Louise mengangguk, "Dia tidak datang, dia cuma kirim hadiah pernikahan dengan Louis saja." ucap nya lirih.


"Kau masih berhubungan dengan nya?" tanya James sembari melirik ke arah gadis itu.


Louise menggeleng, nomor nya saja sudah di blokir.


"Aku tidak akan membuat mu menyesal karna memilih ku," ucap pria itu dengan senyuman sembari memegang pipi gadis itu.


"Benarkah? Kalau begitu kau harus bekerja lebih keras," Ucap Louise tersenyum kecil pada pria yang terlihat berbicara dengan sungguh-sungguh itu.


James tertawa kecil, ia perlahan mendekat dan mengecup bibir gadis itu.


Suara musik yang terdengar di dalam aula, tempat yang cukup terasing membuat tak akan ada yang menganggu ciuman nya.


"Love you," bisik nya lirih di telinga gadis itu saat melepaskan ciuman nya.


Louise tak mematahkan apapun namun ia tersenyum kecil mendengar nya, dan melihat ke arah mata coklat yang masih menatap nya dengan lekat.

__ADS_1


__ADS_2