Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 100


__ADS_3

"Bukankah sekarang saya sudah mengingatkan Tuan, saya tidak tahu seberapa sibuknya Tuan, dengan pekerjaan Tuan, namun anak jangan sampai terlupakan, anak itu masa depan kita, anak itu berlian yang harus kita rawat, kita jaga dan juga kita perhatian." cerocos Hanifah sedikit kesal.


"Aku, rasa lama-lama kamu bukan mirip sebagai pengasuh putriku, Han, tapi lebih cocok sebagai istriku, cerewet seperti mama." sahut Lancelot santai.


"Baiklah, mulai sekarang saya tidak akan mengingatkan Tuan, jika Tuan tidak menginginkan nona An, nona An biar saya bawa pulang ke Indonesia saja, buat apa nona An tetap berada di sini jika ayahnya saja lebih cinta pada pekerjaannya," sahut Hanifah kesal.


"Silakan, kamu bawa pulang An, dengan begitu sangat mudah bagiku untuk mengikatmu." ucap Lancelot santai dengan senyum yang menyimpan arti.


"Maksud Tuan?" tanya Hanifah tambah kesal.


"Maksudku, aku akan ke kantor sekarang sebab sudah telat." ujar Lancelot sambil melihat jam tangannya lalu melangkah pergi meninggalkan Hanifah yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, baru beberapa langkah Lancelot berbalik badan "Oh ya, Han... ehm... gak jadi, selamat pagi... em... nanti siang aku akan pulang cepat bilang An, papanya sangat menyayanginya, termasuk mamanya An" ucap Lancelot dengan sebuah senyuman yang sulit untuk di artikan.


Hanifah tidak menjawab dia hanya geleng-geleng kepala, sebab mendengar ucapan seperti itu sudah biasa bagai makanan sehari-hari, Hanifah melangkahkan kakinya, namun berbeda tujuan Hanifah keluar dari kamar hanya ingin menghirup udara segar yang ada di rooftop yang berada di sebelah kamarnya.


"Pagi, Ma," sapa Lancelot saat menemui nyonya yang sudah duduk santai di sofa.


"Pagi, sudah mau berangkat lagi?" tanya nyonya Bisseling dengan mimik wajah ingin mengintimidasi Lancelot.


"Jangan bilang tentang, An barusan Han sudah mengingatkannya, lama-lama, Hani itu cerewet seperti mama, kalau dia istriku sudah aku cium dia, menggemaskan seperti An," cerocos Lancelot tanpa ia sadari.


"Ehm... ehm...." dehem nyonya Bisseling.


"Kelihatannya memang Hani, itu satu pabrik dengan mamamu, cuma beda kulit beda umur, isi otaknya mirip dan sejalan makanya mamamu, semakin betah tinggal di rumah." sahut tuan Bisseling yang baru turun dari lantai dua.


"Anak sama bapak sama saja, siang ini kamu Lanc, cepat pulang , bukankah besok kamu sudah terbang ke Harbin, dan setelah itu ke Macau dan ke Taiwan, kapan waktumu untuk An, baguslah jika Hani, sudah mengingatkanmu, untuk selanjutnya tugas mama bisa berkurang, mama tidak akan capek memikirkanmu dan An." nyonya Bisseling tetap mengingatkannya.


"Siap, Ma, selamat pagi, aku berangkat dulu Pa, Ma nanti aku sarapan di kantor saja, tapi nanti siang aku mau makan siang di rumah." Lancelot langsung berlalu pergi meninggalkan tuan dan nyonya Bisseling yang masih bersantai di sofa.

__ADS_1


"Papa, kok masih santai katanya kemarin mau berangkat pagi?" tanya nyonya Bisseling.


"Hari ini papa tidak ke kantor, mau di rumah saja menemani cucuku," sahut tuan Bisseling.


"Sekarang kita sarapan dulu, Hani sama An sudah sarapan belum?" tanya tuan Bisseling.


"Hani, biasanya sarapan di jam delapan atau sembilan setelah suster datang," sahut nyonya Bisseling.


Tuan dan nyonya Bisseling sarapan berdua, di saat mereka berdua sarapan Hanifah datang sambil menggendong nona An.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa Hanifah sopan.


Nona An dengan gaya khas bayinya berceloteh, ingin mengucapkan selamat pagi pada tuan dan nyonya Bisseling.


" Pagi An, ayo Han, Cucu Oma, sini sayang!" seru nyonya Bisseling girang menyambut nona An yang berada di dalam dekapan nona An.


"Pagi, Han." sahut Tuan Bisseling.


Hari ini nyonya Bisseling sangat senang karena Lancelot dan tuan mau makan siang di rumah maka nyonya Bisseling ingin menyiapkan makan siang sendiri.


"Kalian, main saja aku mau ke dapur, untuk menyiapkan makan siang nanti." ucap nyonya Bisseling.


"Ma, biarkan para pekerja yang menyiapkannya, kita nikmati kebersamaan kita kali ini." ucap tuan Bisseling.


"Papa temani saja An, biar mama bekerja di dapur," nyonya Bisseling tetap ngeyel pada ke-inginannya.


"Kalau begitu papa temani, Mama," ucap tuan Bisseling "Han, kamu temani An, seperti biasa," perintah tuan Bisseling.

__ADS_1


"Baik tuan," sahut Hanifah sopan.


Hanifah selesai sarapan melakukan aktifitasnya seperti biasa, sedangkan tuan dan nyonya Bisseling sudah mulai masuk ke dapur. Setiap kali Lancelot makan di rumah Bisseling nyonya Bisseling selalu masak sendiri untuk Lancelot.


"Mau masak apa Ma?" tanya tuan Bisseling.


"Lancelot, suka sekali stim ikan, kita masak ikan, dan beberapa menu yang tidak ada kandungan babinya, mama ingin Hanifah bisa makan bersama kita, dengan menu yang sama," sahut nyonya Bisseling.


"Papa, akan bantu, tapi ini sebenarnya masih sangat pagi lo, Ma," ucap tuan Bisseling.


"Iya, mama tahu, mama-kan mau ngecek stok bahan makanan, kalau gak ada yang mana inginkan kita bisa segera beli," sahut nyonya Bisseling yang sudah mulai mengecek bahan makanan yang ada di dalam kulkas.


Nyonya Bisseling mengeluarkan beberapa bahan makanan dadi dalam kulkas, karena kulkasnya ada tiga setiap daging berada di kulkas masing-maisng, satu kulkas khusus menaruh daging babi, satunya untuk menaruh daging selain babi, dan satunya khusus untuk buah dan sayur.


Selesai mengecek semua bahan, nyonya Bisseling meminta pekerjanya untuk segera memesan ikan segar untuk di stim. Di usianya yang sudah senja nyonya Bisseling masih bisa menggunakan alat dapur dengan baik.


Nyonya Bisseling mulai menyiapkan bahan yang di perlukan, seperti mengupas bawang putih, mencuci sayuran sendiri, sedang tuan Bisseling bagian memotong beberapa bahan makanan yang dibutuhkan.


Jam setengah satu mobil Lancelot sudah terparkir rapi di parkiran rumah keluarga Bisseling, Lancelot pulang dengan senyum penuh kebahagiaan, sebegitu masuk rumah Lancelot sudah mencium harumya bau masakan nyonya Bisseling.


"Siang, Ma, Pa," sapa Lancelot yang sudah berada di dapur.


"Untung kamu cepat pulang, dari tadi mamamu sudah ngomel-ngomel saja." adu tuan Bisseling.


"Bagus sudah pulang, tadinya mama mau telpon kamu sudah sampai mana?" ucap nyonya Bisseling senang.


"Tentu aku ingat Ma," sahut Lancelot"An sama Hani mana?" tanya Lancelot.

__ADS_1


"Mungkin lagi main di kamar, kamu segera ganti baju cuci tangan dan ajak anakmu serta Hani segera turun, kita makan bersama." perintah nyonya Bisseling.


"Baik, Ma." sahut Lancelot lalu meninggalkan nyonya Bisseling yang sedang asyik dengan masakannya, sedang tuan Bisseling di bantu pekerjanya menata makanan di atas meja makan.


__ADS_2