
Kejadian malam itu tidak begitu berarti bagi Hanifah, nyatanya Hanifah tetap bersikap seperti biasa, Hanifah tetap bekerja seperti biasa begitu juga Lancelot mereka kembali seperti semula, tidak terasa satu minggu sudah dari kejadian malam itu, malam ini Ang dan istrinya datang ke rumah untuk menikmati hidangan makan malam sambil ngobrol ringan. Hanifah dan nona An, bergabung dengan mereka karena tidak mungkin Hanifah membiarkan nona An tanpa pendampingan.
Hanifah malam ini tampil sangat sederhana seperti biasanya tidak ada yang special maupun berubah, nyonya Ang mengajak Hanifah ngobrol sambil momong nona An, malam ini nyonya Ang sengaja tidak mengajak kedua putranya agar bisa pulang larut malam karena Ang ada pekerjaan dengan Lancelot. Hari sudah sedikit larut Hanifah membawa nona An untuk tidur, sedangkan Lancelot nyonya Ang dan Ang berada di ruang kerja Lancelot, mereka bertiga membahas pekerjaan dan tentunya juga membahas tentabg keadaan hati Lancelot.
"Lanc, aku lihat Hani, biasa saja." ucap nyonya Ang.
"Kalau gak biasa kenapa, memang dia begitu?" sahut Lancelot santai.
"Artinya kamu harus berjuang lebih keras lagi." tambah Ang.
"Ya, memang harusnya begitu, biasanya aku yang cuek ini malah aku yang di cuekin." keluh Lancelot.
"Terlalu." tambah Ang.
"Sudah, soal Hani jangan di bahas dulu yang penting sekarang dia baik-baik saja, oh ya soal A ling bagaimana?" tanya Lancelot.
"A ling belum sembuh karena tulangnya retak lumayan, menurut dokter butuh satu tahun untuk memulihkan seperti sediaa kala, kamu harus tetap hati-hati, A ling memiliki banyak canel kejahatan ," sahut Ang.
"Aku tahu itu, yang penting untuk saat ini Hani, aman dulu ya memang salahku melibatkan Hani dalam urusanku dengan A ling." ucap Lancelot.
"Ya, semua sudah terlanjur, lagian cepat atau lambat A ling juga harus tahu jika kamu sangat mencintai Hanifah." jelas Ang.
"Namun, dia sama sekali tidak mencintaiku." ucap Lancelot.
"Itu, artinya kamu harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati Hani, seperti yang diucapkan oleh suamiku tadi." tambah nyonya Ang.
"Benar katamu, menurut kalian apa aku pantas memperjuangkan cinta dari Hani?" tanya Lancelot ragu.
__ADS_1
"Perjuangkan." nyonya Ang dan Ang mendukung Lancelot untuk mendapatkan Hanifah.
"Aku akan memperjuangkan demi An, dan tentu untuk diriku sendiri." ucap Lancelot.
"Aku sangat bahagia sekali kamu bisa menemukan wanita yang tepat, kamu bisa jatuh cinta lagi, genggam dan jangan sampai kamu lepaskan." nasehat Ang.
"Minggu depan aku akan meninjau pembangunan hotel di Indonesia, aku akan menyempatkan waktu untuk menyelidiki langsung keluarga dan tempat tinggal Hani, aku ingin tahu bagaimana caranya agar aku bisa masuk dalam kehidupan Hani, lusa papa dan mama kembali dari London, mereka juga sudah tahu tentang rencanaku, jaga dan lindungi Hani serra An selama aku tidak ada." jelas Lancelot.
"Aku akan membantumu, lagian nyonya dan tuan besar juga sudah kembali semua akan baik-baik saja." ucap Ang.
.
Ang dan istrinya kembali pulang karena hari sudah larut sekali, sedangkan penghuni di rumah Lancelot sebagian sudah tidur termasuk Hanifah dah nona An, setelah Ang dan istrinya pulang Lancelot sebelum masuk ke kamarnya dia masuk ke kamar nona An, Lancelot tersenyum ssnang memandangi dua wanita yang sudah tertidur lelap menikmati mimpinya.
Lancelot membelai lembut dan mencium pipi nona An, Lancelot sangat bahagia memiliki nona An dan Hanifah berada dalam hidupnya sekarang. "Han entah magnet apa yang ada dalam dirimu, aku bisa menepis semua rasa pada semua wanita sebelumnya, namun hatiku tidak bisa menepis rasa cinta ini untukmu, sekarang aku sadar jika hatiku benar-benar memilihmu, hingga pada puncaknya aku memutuskan untuk menyewa rahim agar aku memiliki keturunan, aku kira setelah setelah memiliki anak dari rahim kontrak aku bisa menjalani hidup tanpa wanita, malah sebaliknya dengan hadirnya An dalam hidupku hadir pula kamu, sampai bisa mengobrak-ngabrik benteng pertahanan dalam hatiku, kamu benar-benar hebat Han." ungkap dalam hati.
"Tuan." sapa Hanifah saat membuka matanya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam pada anakku." sahut Lancelot santai.
"Oh." Hanifah kembali memejamkan matanya lagi tanpa menghiraukan Lancelot yang masih duduk di sebelah nona An, toh hari-hari sebelumnya juga begitu.
Setelah puas memandangi dua wajah wanitanya Lancelot meninggalkan dua wanitanya yang masih terlelap dalam mimpinya, senyum kebahagiaan tidak pernah lepas dari bibir Lancelot.
Nyonya dan tuan Bisseling hari ini kembali dari London, sebenarnya nyonya dan tuan Bisseling akan tinggal di London lebih lama, sebab permintaan Lancelot maka tuan dan nyonya Bisseling kembali lebih cepat dari yang di jadwalkan. Lancelot mengajak Hanifah dan nona An ke bandara untuk menjemput tuan dan nyonya Bisseling tentu dengan membawa Dandruff, interaksi mereka tetap normal tidak ada yang berubah, walau Lancelot sering mencuri pandang pada Hanifah nyatanya Hanifah tetap cuek.
Mereka berempat berdiri di tempat kedatangan penumpang, dari dalam sudah terlihat tuan dan nyonya Bisseling sudah melambaikan tangannya, Lancelot melambaikan tangannya juga, begitu juga Hanifah dengan menuntun tangan nona An ikut melambaikan tangannya. Dari kejauhan senyum kebahagiaan sudah terpancar dari bibir tuan dan nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Selamat datang ma, pa." sapa Lancelot memeluk mereka berdua.
"Kalau bukan karena cucuku aku tidak akan pulang secepat ini." sahut nyonya Bisseling bergurau.
"Nyonya, tuan." sapa Hanifah sopan.
"Bagaimana, anakku bisa menjaga kaliam apa tidak?" tanya nyonya Bisseling.
"Semua aman nyonya." jawan Hanifah.
"Cucu pma sudah tambah cantik dan pintar"
"Ma ma ma ma." oceh nona An polos.
"Ayo gendong opa," Tuan Bisseling meraih nona An dari gendongan Hanifah.
"Kenapa bukan kamu yang gendong An, Lanc?" tanya nyonya Bisseling.
"Bukan tuan yang risk mau menhgendong nyonya, tapi memang nona An yang menangis tadi saat di fending tuan." sahut Hanifah jujur.
"Sudah aku duga, pasti putraku sibuk dengan kantor, apa kamu gak kasihan melihat Hanifah menggendong An ." cerocos nyonya Bisseling.
"Seperti yang Han, bilang An lebih memilih Hani dari pada aku papa kandungnya." Lancelot membela diri.
"Sudah sekarang masuk mobil dan pulang, yang penting sekarang anakmu sudah mulai waras, siapa tahu tahun depan kita bisa punya cucu lagi." oceh tuan Bisseling asal.
Dandruff sebagai pendengar hanya bisa geleng-geleng kepala, sebab percakapan mereka asal dan tidak ter-arah. Hanifah seperti biasa tidak banyak bicara dengan Lancelot paling hanya bergurau dengan nona An. Nona An semakin pintar berceloteh walau tidak ada yang jelas, semua yang di dal mobil sangat antusias menanggapi kelucuan tingkah dan celoteh nona An.
__ADS_1