Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 154


__ADS_3

Lancelot menginap di rumah orang tua Hanifah, karena nona An tidak mau ikut Lancelot ke villa dan juga tisak mau teepisah dengan Lancelot dan Hanifah. Tuan dan nyonya Bisseling beserta rombongan sudah kembali ke villa, untuk beristirahat karena seharian penuh tuan dan nyonya Bisseling menghabiskan waktunya berada di pekarangan dekat rumah orang tua Hanifah.


Setelah mereka sampai di villa tuan dan nyonya Bisseling beserta yang lainnya segera membersihkan diri karena waktu juga sudah mulai mengelap, sang Surya sudah mulai tenggelam sembunyi di dalam peraduannya.


Selesai membersihkan diri dan menyantap makan malam Dandruff sudah mulai sibuk ngecek dokumen pernikahan untuk Lancelot, sedangkan tuan dan nyonya Bisseling lebih ke persiapan acara pesta pernikahan Hanifah dan Lancelot. Tuan dan nyonya Bisseling segera memilih lokasi yang tepat untuk pesta pernikahan Lancelot, tentu dengan melibatkan Garnier. Ketiga orang tersebut sibuk membahas tentang persiapan pernikahan Lancelot dan Hanifah lewat panggilan video call.


Setalah hampir tiga jam mereka membahas tentang konsep yang di usung dalam pernikahan Lancelot dan Hanifah namun ketiganya bekum menemukan titik temu yang sesuai, karena capek mereka mengakiri panggilan video call-nya.


"Mama rasanya seperti mimpi pa, tadinya mama sudah tidak ada Harapan untuk melihat Lancelot, menikah, Tuhan memberikan keajaibannya pada kita semua, mubgjj dulu jika Lancelot tidak membutuhkan pengasuh untuk An, dan kalau bukan karena An yang manja mama rasa hal seperti ini sulit untuk di percaya." ucap nyonya.

__ADS_1


"Papa, juga merasa sangat lega sekali Ma, sekarang tinggal kita menunggu kelahiran anak dari Lancelot." ucap tuan Bisseling bahagia.


Kedua orang tua itu sangat bahagianya, karena, putranya, apalagi sekarang semua sudah jelas tinggal menunggu, hari yang pas untuk menikah.


Di kediaman orang tua Hanifah, nona An, sangat menikmatinya, apalagi ada beberapa anak yang sebaya dengan nona An, dengan bahagianya mereka saling bermain bersama. sekarang lantai di rumah orang tua Hanifah, penuh di kasih tikar, beberapa tetangga dan kerabat Hanifah, datang silih berganti untuk mendoakan kesehatan dam keselamatan Hanifah.


Pemandangan seperti ini merupakan pemandangan yang langaka buat Lancelot lihat, karena selama ini Lancelot tidak pernah kenal tetangga dekat rumahnya. Para tamu yang datang silih berganti hingga jam sembilan malam, baru usai setelah semua tamu pulang semua orang tua Hanifah segera mebutup dan mengunci pintu rumah, dan segera beristirahat.


"Tuan, sebaiknya tuan tidur di kamar bersama dengan Nona An." perintah Hanifah pada Lancelot.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kamu dan An?" tanya Lancelot.


"Tuan, tidur dersama dengan nona, sedang saya tidur bersama dengan ibu saja." ucap Hanifah.


"Bagaimana jika An, bangun dan mencarimu?" tanya Lancelot.


"Saya tidur di kamar sebelah pasti saya bisa dengar jika nona An, mencari saya." sahut Hanifah.


"Benar apa yang di katakan Hani, tuan anda tidur-lah dengan nona An." tambah Legi.

__ADS_1


Lancelot akhirnya mengalah, Hanifah tidur dengan ibunya Lancelot tidur dengan nona An. Begitu sampai di dalam kamar Lancelot segera membarinfkan diri atas ranjang di sebelah nona An. Sayangnya Lancelot tidak bisa langsung tidur, pikiran Lancelot malah mejalar ke mana-mana. Lancelot melihat wajah mungil anaknya yang terbuai di alam mimpinya.


"Sayang, maafin papa, karena kebodohan papa kamu tidak bisa mengenali ibu kandungnya." ucap Lancelot sambil membelai lembut kepala nona An "Sayang berjanji sama papa, sayangi dan cintai nama Hani, kalian bedua nafas kehidupan papa sayang," bisik Lancelot di telinga nona An.


__ADS_2