Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 184


__ADS_3

Jam setengah sembilan Hanifah dan Lancelot berangkat menjemput nona An di kediaman keluarga Bisseling karena Lancelot sudah memberi kabar jika keduanya bakal jemput sedikit telat dari waktu yang telah di janjkan, tuan dan nyonya nyonya Bisseling sebenarnya menyarankan agar Hanifah dan Lancelot tetap menginap di hotel dan soal An nyonya dan tuan Bisseling akan menjaganya, namun Hanifah yang menolak keras, mengingat hanifsh belum sekalipun berpisah dengan nona An dalam waktu yang agak lama.


Jam sembilan malam mobil yang di kendarai Lancelot sudah terparkir di halaman rumah keluarga Bisseling. Lancelot dan Hanifah segera turun, Lancelot dan Hanifah masuk ke kediaman keluarga Bisseling dengan tangan yang bergandengan sangat erat, keduanya juga terlihat semakin mesra.


"Ma, pa." sapa Hanifah dan Lancelot pada tuan dan nyonya Bisseling yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi, sedangkan An, sedang di mandikan oleh pekerja keluarga Bisseling.


"Kalian sudah pulang," sahut tuan dan nyonya Bisseling bersamaan.


Hanifah dan Lancelot tidak lupa bersalaman dan mencium tangan tuan dan nyonya Bisseling penuh hormat.


"An, mana ma?" tanya Hanifah.


"Iya, An mana kok sepi?" ganti Lancelot yang bertanya.


"Lagi mandi sama kakak di kamar mandi, sebenarnya kalian nginep lagi di hotel gak apa-apa, biar An, di sini." ucap nyonya Bisseling.


"Takut An, malam gak bisa tidur ma, soalnya selama ini An, tidurnya selalu dengan saya, dan sekalipun belum pernah berpisah di malam hari." jelas Hanifah.


"Ya aku paham itu, tadi aja Han, tidur cuma tiga puluh menit saja kok, memang tidak mudah bagi seorang ibu untuk bisa berpisah dengan anaknya, An benar-benar sangat beruntung memiliki mama seperti kamh Han," u Ap nyonya Bisseling.


"Kelihatannya kalian sangat capek, tidur saja di sini, tidak usah pulang, soal seragam An, besok suruh sopir ngantar ke sini atau pagi-pagi sekali kalian pulang untuk ganti seragam An." usul tuan Bisseling.


"Kami memang sangat capek sekali, baru kali ini bekerja badan sampai pegal semua." jelas Lancelot.

__ADS_1


"Mama!" seru nona An, begitu melihat Hanifah, nona An langsung memeluk Hanifah seprti biasa,"Mama jangan tinggalin An," rengek nona An manja.


"Iya, mama janji, mama tidak akan meninggalkan An, tadi mama kan harus kerja, jadi jika mama sedang kerja An, tidak boleh ikut." nasehat Hanifah lembut sambil membelai lembut kepala An yang sudah duduk di pangkuan Hanifah.


"An, kangen mama, gak ada mama An gak bisa tidul." celoteh nona An.


"Sekarang mau tidur sama mama, anak mama mau tidur di mana?" tanya Hanifah.


"Tidul, di lumah opa, oma." pinta nona An.


"Sekarang anak mama bilang kevoaoa peluk dan cium papa juga dong." perintah Hanifah pada nona An.


"Pa, tidul di lumah oma opa ya?" tanya nona An, setelah memeluk dan mencium Lancelot.


"Pa, boleh ya." rengek nona An.


"Sudah bilang mama?" tanya Lancelot pada nona An.


"Sudah dan mama boleh." jawab nona aan sekenanya.


"Baiklah, kita tidur di sini lagi sekarang, sudah malam ayo pamit ke oma dan opa ucapkan selamat tidur, lalu kita tidur soalnya papa dan mama capek sekali ingin segera tidur." ucap Lancelot.


"Oma, opa selamat malam, selamat tidul, beldoa." pamit nona An, pads tuan dan nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Pa, Ma kita pamit ke atas." pamit Lancelot.


"Kalau capek istirahat Lanc, jangan buat Hanifah kecapek an, karena jika terlalu capek bisa membuat kandungan tidak bagus." nasehat nyonya Bisseling pada Lancelot.


"Iya ma." sahut Lancelot.


"Ma, pa kami ke atas dulu selamat malam," pamit Hanifah sopan.


"Segera tidur, Lanc besok kamu masih cuti kan?" tanya tuan Bisseling.


"Iya pa, lusa baru masuk kerja." ucap Lancelot.


"Baiklah, tidak apa-apa." sahut tuan Bisseling.


Hanifah, Lancelot dan nona An, menuju kamar Lancelot yang paling atas, Lancelot menggendong nona An sambil menggandeng jemari Hanifah.


"Melihat mereka bertiga, hati mama rasanya adem dan bahagia sekali," ucap nyonya Bisseling.


"Papa juga lega, Ma, Syukurlah mereka sekarang bahagia sekali, An susah memiliki kekuarga yang lengkap, Lanc punya sandaran hati," ucap tuan Bisseling "Tadi mama lihat jalannya Han, gak?" tanya tuan Bisseling.


"Iya, lihat, biarkan mereka-kan sudah menikah, dan biarkan mereka segera punya bayi, agar hidup kita tambah bahagia, Cucu yang dekat dengan kita tambah banyak, rumah kita juga tambah rame." ucap nyonya Bisseling senang.


"Papa akan semakin rajin bermain dengan cucu-cucu papa." ucap tuan Bisseling tidak kalah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2